I, Isaac, take Thee Rebekah
Sama seperti kekuatan adalah daya tarik pria, demikianlah daya tarik adalah kekuatan wanita.
Buku ini saya beli sewaktu saya masih di Bandung. Waktu itu sehabis ibadah minggu di GII Hok Im Tong, saya mampir ke toko buku yang ada di gereja itu. Tadinya saya hanya berniat membeli renungan harian, tetapi tiba-tiba saya melihat buku ini dan judulnya menarik, jadi saya putuskan untuk membeli buku ini. Kalau diingat-ingat lagi (ah sudah lupa sebenarnya) dengan isi buku ini. Maklumlah, sudah lama sekali saya membacanya. Namun karena sudah dua bulan ini saya BDR jadi saya punya banyak waktu luang. Kadang-kadang bosan juga berkutat dengan tugas-tugas mahasiswa. Karena itu sesekali saya bereskan buku-buku dan tumpukan kertas di kamar saya yang letaknya sudah tidak beraturan. Ketemulah lagi saya dengan buku ini. Entah kenapa jadi timbul lagi niat untuk membaca buku ini. Beneran nih cuman karena ini alasannya? Hehehe. Ehm sebenarnya saya sedang memikirkan tentang menjalani hubungan yang serius sih jadi saya baca lagi buku ini. Cuma saya pikir lebih baik kalau saya tuliskan kembali kalimat-kalimat menarik (quotes) yang ada di buku ini. Fyi, Bapak Ravi Zacharias baru saja dipanggil oleh Bapa di surga bulan Mei lalu. Beliau pasti akan tersenyum dari surga ketika apa yang beliau tanam berbuah manis karena semua yang beliau ajarkan dan tuliskan telah menjadi penyejuk rohani bagi setiap pembacanya. Rasanya akan lebih baik ya kalau bahasanya tidak saya tambahi atau kurangi. Berikut quotes menarik dari buku ini:
Allah telah menciptakan setiap kita dengan kebutuhan tertentu, yang adalah bagian terdalam manusia, yang hanya dapat dipenuhi oleh sesama manusia.
Allah telah merancangkan pernikahan untuk memisahkan hubungan manusia, berbeda dari yang lainnya. Itulah hal pertama yang perlu diingat dari penciptaan manusia.
Dalam diri-Nya, Allah adalah semua dalam semua. Tidak ada kekurangan di dalam kesempurnaan-Nya. Ia sepenuhnya cukup untuk semua kebutuhan kita, namun Ia memilih untuk membentuk sebuah hubungan yang dirancang begitu istimewa di mana hanya seorang perempuan yang dapat menyempurnakan ketidaksempurnaan seorang laki-laki.
Anak muda, berhati-hatilah ketika Anda mengikrarkan hidup Anda kepada seseorang jika orang tua Anda tidak simpati dengan keputusan Anda - khususnya jika orang tua Anda mengasihi Allah.
Jika Anda menikahi seseorang dan melawan kehendak orang tua Anda, Anda bermain dengan taruhan besar ketika Anda memasuki masa depan Anda. Setiap kali Anda mencemari otoritas yang telah ditempatkan oleh Allah, Anda harus merasa yakin sekali Anda sedang melakukan hal yang benar.
Setahun sebelum menikah, saya duduk di kelas pendidikan Kristen ketika sang dosen dengan dramatis memulai dengan berfilsafat tentang hidup. Ia berkata, “Saya ingin kalian tahu bahwa cinta itu adalah kerja keras.” Saya berdiri dan berkata, “Maaf, Pak, saya tidak terlalu setuju dengan pernyataan Anda bahwa cinta adalah ‘kerja keras’. Dosen itu menatap saya, “Zacharias, apakah Anda sudah menikah?” Sewaktu saya berkata, “Belum, Pak,” ia berkata, “Lalu mengapa Anda tidak diam dan duduk saja? Anda tidak mengerti apa yang Anda bicarakan.” Saya duduk. Satu tahun kemudian saya menikah, saya dapat berkata tanpa malu, beliau benar. Cinta adalah kerja keras. Inilah pekerjaan terberat yang saya tahu, pekerjaan di mana Anda tidak mendapat jatah cuti. Anda memikul beban dan kesusahan. Anda dihibahi masalah. Anda harus merasa melampaui kapasitas diri Anda.
Jangan membuat suatu keputusan dari diri sendiri hanya karena Anda memiliki perasaan romantis. Carilah hikmat dari pendeta, orang tua, dan teman-teman Anda dan sadarlah romantisme harus berada di bawah keinginan yang kuat dan tingkat komitmen kepada dan oleh Anda sendiri. Anda harus bersedia mati terhadap diri sendiri sebelum Anda memutuskan berjalan menuju altar. Apakah orang ini yang baginya Anda bersedia mati setiap hari? Apakah dia orang yang Anda akan katakan, “Saya bersedia” juga orang yang baginya Anda akan katakan, “Tidak” kepada yang lain? Yakinlah bahwa pernikahan akan membuat Anda banyak berkorban.
Tuhan mengingatkan kita bahwa meskipun tindakan seksual adalah tindakan fisik, ranjang pernikahan tetap tidak tercemar karena kehadiran Allah menguduskan tindakan itu. Itulah hak istimewa laki-laki dan perempuan yang datang bersama dalam menikmati aspek fisik dari cinta, mewakili ikatan rohani antara keduanya. Untuk Ishak dan Ribka, itulah perjanjian yang layak untuk dipertahankan.
Marilah kita meminta Allah agar Ia memberikan kita pandangan mulia akan kedatangan Tuhan kita. Ia adalah Mempelai Laki-laki yang akan datang untuk Mempelai Perempuan dan Ia akan datang saat Mempelai Perempuan sudah siap untuk-Nya. Jika pernikahan seagung seperti yang Alkitab maksudkan, maka pantaslah untuk Anda menunggu sampai Anda siap akan waktu yang tepat dengan orang yang tepat.
Pernikahan berarti menyerahkan keseluruhan diri Anda, tubuh, jiwa, kebahagiaan, masa depan kepada orang yang Anda cintai. Tindakan iman yang luar biasa ini adalah sesuatu yang dapat membuka dalam diri masing-masing pasangan, kekuatan belas kasihan, ketabahan, kemurahan hati, sukacita, gairah, kesetiaan dan pengharapan yang tidak seorang pun menyangka ada di situ. Itu sebabnya keyakinan diri pasangan muda tidak arogan atau bodoh tetapi suatu ekspresi dari kenyataan mendasar mengenai natur manusia: suatu kenyataan bahwa pemberian terbesar manusia siap berkarya hanya waktu orang siap meresikokan segala sesuatu. Tetapi resiko seperti itu diambil hanya setelah Anda telah meresikokan segala sesuatu untuk Allah.
Menerima pasangan sebagai pemberian dari Allah adalah komitmen di mana seseorang seharusnya mulai. Satu orang sendirian di perjalanan cinta tanpa syarat akan menjadi perjalanan yang sangat melelahkan.
Menikah dengan orang di luar iman dan kebudayaannya merupakan suatu beban berat bagi pernikahan.
Pernikahan yang berdasarkan pada Kristus indah untuk dipandang dan indah untuk dinikmati. Romantisme yang sesuai dengan rencana Allah dapat bertahan seumur hidup.