Lelap yang Menyimpan Namamu
Ada senja yang tak berani jatuh, menahan cahaya di ujung langit — seperti aku, menahan namamu di ujung doa, agar tak terdengar oleh waktu.
Kita berjalan di dua musim berbeda, namun angin yang sama masih membawa kabar lembutmu. Aku pura-pura lupa arah, padahal setiap detak tahu, ke mana rinduku pulang.
Tak ada yang salah, hanya takdir yang rapi menata jarak, menyembunyikan kemungkinan di balik etika dan janji. Maka kucintai kau dalam diam, seperti rahasia yang takut disapa.
Jika suatu hari kau merasa hangat di dada tanpa sebab, barangkali itu aku — menitipkan doa yang tak berani mengetuk, pada langit yang kita pandangi dari dua kehidupan yang berbeda.










