
roma★
Misplaced Lens Cap
Show & Tell

No title available
Cosmic Funnies

Love Begins
hello vonnie
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
styofa doing anything
Peter Solarz

tannertan36
Jules of Nature
Keni

Discoholic 🪩

Kiana Khansmith
No title available
$LAYYYTER
Game of Thrones Daily
NASA
he wasn't even looking at me and he found me

seen from India
seen from United States
seen from Romania
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from Indonesia
seen from Finland

seen from South Africa
seen from United States
seen from Estonia
seen from Malaysia
seen from Australia

seen from Singapore
seen from Italy
seen from United States
seen from United States
@carraalkindi
Aku dan bunga bunga yang diberikannya ✨
Menikah itu pada dasarnya disatu sisi memang menyelesaikan sebagian masalah namun juga menambah masalah baru, makanya penting untuk bisa menyelesaikan masalah sendiri sebelum memutuskan menikah, karena membantu meminimalkan konflik, berlaku untuk keduanya.
sedang menjalani hidup yang aku semogakan sejak dulu 🥹✨ suatu hari kalau punya hp bagus, pengen lebih serius bikin konten estetik. Alhamdulillah sekarang udah kesampaian.
Relax, you will be okay.
Inspired by @lightheartedsuggestion
Ternyata aku sudah ada di titik ini 🥹
Jika membuka instagram & tiktok terasa riuh, saatnya scroll pinterest dan install ulang tumblr 🫶🏻
barangkali hari hari itu tidak pernah hadir
barangkali siap itu tidak pernah ada
Pernikahan hari ke 382
Aku : mas, menurutmu definisi romantis itu yang seperti apa?
Dia : nggak tau
Aku : 😂 sama aku juga nggak tau
nikah sama kamu tuh kayak temen akrab yang jarang kontakan, tapi sekali ketemu akrab banget seperti baru kemarin sore bertemu. Kadang aku ngerasa aneh kalau manggil kamu suami, karena rasanya lebih seperti teman, teman meromantisasi hidup. 🤍
Thankyou for being you and thankyou for being mine 🤍
Uninstall 2 mental ini, kalau mau Growth:
1. Mental instan: Nggak mau effort, amati-tiru-plek, copas, plagiat, banyak protes, maunya gratisan, dan melupakan proses saat ini.
2. Mental Korban: fokus pada hambatan, mencari kambing hitam, menyalahkan orang lain dan keadaan, tidak bertanggungjawab atas nasib diri sendiri.
🔥🔥🔥
Ekspetasi Pernikahan
Sekitar usia 20-an aku memiliki ekspetasi yang tinggi soal pernikahan. Membayangkan betapa indahnya diantar-jemput suami, ke pengajian bareng suami, menikmati pacaran halal berdua, menyambut suami pulang dari bekerja, dan semua hayalan hayalan idealisme pernikahan surgawi.
Memasuki usia 23 keatas sampai detik detik menjelang menikah, ekspetasiku makin turun. Menyadari kalau ternyata menuju jenjang pernikahan yang perlu disiapkan banyak sekali. Terutama dari segi kestabilan emosi, tanggung jawab diri serta kesiapan finansial. Tanpa memandang apa gendermu.
Aku mulai melihat realitas dunia pernikahan. idealnya memang suami menafkahi istri, namun kebanyakan yang terjadi sebenarnya dilapangan adalah : nafkahnya kurang, istri berkorban membantu perekonomian suami & split bill biaya sehari hari. Hal ini tidak menutup kemungkinan bisa saja terjadi di hidupku.
Belum lagi kasus perselingkuhan, konflik dengan mertua, repotnya mengurus anak, tetangga yang rese dan masih banyak lagi. Begitu banyak faktor diluar kendali yang membuat pernikahan terasa "sedikit" atau "sangat" menyeramkan.
Hingga aku menginjak usia 26 dan merasakan sendiri bagaima kehidupan pernikahan itu. Walaupun usia pernikahanku masih dibilang sangat muda, tapi aku sangat menikmati fase ini. yup, aku menganggap pernikahan itu memiliki banyak fase. fase honeymoon, fase parenthood, fase 5 tahun, fase 10 tahun, fase anak masuk sekolah, fase anak kuliah, dan seterusnya.
Fase honeymoon adalah fase emas yang tidak ingin kusia siakan. Untuk pertama kalinya merasakan bagaimana "dinafkahi" secara batin maupun finansial. aku memang se "excited" itu karena aku tidak mendapat figur itu dari orang tua sendiri. Aku tidak sedang menjelekkan orangtuaku, karena setiap pengalaman pernikahan itu unik dan berbeda tantangannya.
Singkatnya, ibu memang tulang punggung keluarga dan aku melihat betapa melelahkannya seorang perempuan menjadi tulang punggung keluarga. Sehingga ketika menikah dengan seorang laki laki yang "ternyata" bertanggung jawab tidak hanya memberi aku makan, tapi juga tempat berteduh, uang skincare dan juga modal usaha, aku merasa sangat sangat bahagia dengan kehidupan yang aku jalani sekarang.
Saking rendahnya ekspetasiku, aku berpikir setelah menikah akan "split bill" biaya rumah tangga, karena masalah ekonomi bisa menimpa siapa saja kan? aku membeli 3 botol besar body lotion, 3 sunscreen, 3 eyecream karena saking takutnya setelah menikah ada keharusan "berkorban" demi keluarga yang sedang aku bangun. Setidaknya kebutuhan skincare ku tidak berdampak karena sudah "restock" menjelang menikah.
Beruntung, aku menikah dengan seorang laki laki yang tidak membuatku repot dalam menjalani peranku sebagai istri rumah tangga. Aku tidak pernah mencucikan bajunya, karena baju dicuci sendiri sendiri. Tidak stress mau makan apa, kalau mau masak belanja keperluan dapur bersama & memasak bersama. Kalau bingung, tinggal beli diluar.
Tidak satu atap dengan mertua maupun orangtua sendiri. Tidak dibebankan tugas reproduksi alias "harus cepet punya anak" dan tidak juga dibebankan tugas kontrasepsi alias mau terlibat tanggung jawab pengasuhan berdua. Masih bisa males malesan, killing time, checkout keranjang shopee dan tidur siang.
Kupikir setelah menikah mungkin kita akan terlibat cekcok adaptasi sifat. Rupanya tidak, dia begitu cepat memahami respon emosiku saat mulai tidak stabil, tidak tinggi ego, mau minta maaf dan introspeksi diri. Ini memudahkanku dalam mengkomunikasikan kebutuhanku ketika mood sedang naik turun.
Tentu saja semua ini tidak mungkin mulus tanpa keterlibatan "kesiapan finansial" dan "kestabilan emosi". Sebelum hidup senyaman ini pun perjuangannya berdarah darah. Dibayar dengan kesabaran, air mata dan sakit kepala.
Aku pribadi tidak menganggap kenyamanan ini akan ada sepanjang umur pernikahanku. Jika hubungan mengalami kenaikan level, contohnya : dari perkenalan ke pertunangan, dari pertunangan ke pernikahan, dari berdua menjadi orang tua, adanya ketegangan hubungan adalah hal yang sangat normal. Tidak bisa dihilangkan namun bisa diminimalkan.
Terakhir, aku tidak berfikir akan bersama selamanya dengan suamiku. Sangat mungkin kita dipisahkan oleh ketidakcocokan, orang ketiga maupun kematian. Segala ketidakpastian di masa depan membuat ekspetasiku tetap rendah namun tidak membuatku putus asa. Dengan ekspetasi yang rendah, aku bisa tetap hidup nyaman dan penuh rasa syukur atas apa yang aku miliki serta mampu berdamai tantangan yang sedang kuhadapi saat ini.
Tidak semua kejadian bisa direkam menggunakan kamera, namun setiap momen tetap bisa diabadikan dalam bentuk tulisan. Tidak menyesal rasanya dulu rajin menulis walaupun iseng dan hasilnya acak acakan.
Seperti membuka lembaran sejarah versi diri sendiri. Terkadang memalukan membaca ulang apa yang kupikirkan saat itu, tapi justru aku berlatih untuk tidak menghakimi diriku sendiri.
Waktu itu aku sudah berada di versi terbaik, begitupun dengan hari ini. 🌷✨
11.03.2020 | Hari ini, tidak seperti biasanya, diluar cerah sekali. Aku bangun pagi, mandi dan menyiapkan baju yang akan kupakai nanti. Khimar hitam, dan gamis polos. Bisa saja aku memilih khimar warna warni, ah tapi nanti justru akan terlihat mencolok dan tidak menyukainya.
Aku melangkah perlahan, sambil memasang headset di telinga, kuputar musik keras-keras, untuk mendistraksi agar jantungku tak berdebar terlalu keras.
Pesan darimu masuk, tapi aku tak melihatmu di depan. Rupanya aku salah melihat lokasi, aku berbalik arah, melangkah cepat, dan berusaha mengatur ritme jantung, aku benci kalau tanganku harus dingin karena gugup.
Jalannya sedang diperbaiki, sembari mengucap permisi pada bapak-bapak yang sedang bekerja, aku berjalan agak merunduk, truk besar menghadang di depan gapura gang. Kutengok ke sebelah kiri, ada sosokmu disana.
Aku berjalan ke arahmu dan sengaja tidak mengucapkan salam, tiba-tiba senyummu mengembang begitu saja, senyum secerah matahari pagi ini. Setelah sekian tahun, bahkan aku hampir lupa kau siapa.
Musik di telingaku keras sekali, aku tidak mendengar suaramu dengan jelas, tidak masalah, untung saja aku berhasil mengucapkan kalimat yang sudah kurencanakan sebelum buku yang kau pinjamkan berada di tanganku.
“Terimakasih ya, aku pinjam seminggu, hati-hati”
aku melambai kecil, dan berbalik arah, merasa orang-orang disekitar memperhatikanku.
Pertemuan itu cepat sekali, sampai akhirnya aku sadar bagaimana detail senyummu tadi.
“astagfirullah, positif thinking, orang indonesia memang suka tersenyum”
sambil memukul kepala, akupun berlalu dan menyalahkan jantung
“kenapa sih harus deg degan, kayak nggak pernah ketemu orang aja”
Pertemuan kedua setelah 5 tahun tidak berjumpa. Carra (23 tahun) tidak tau, kalau laki laki yang ditemuinya kala itu kelak akan jadi suaminya dikemudian hari.
Walaupun gelombang dan cuaca diluar bahtera rumah tangga tidak menentu, ada hasrat untuk mempertahankan perahu kecil ini agar tidak tenggelam.
Bersama seorang nahkoda dengan tingkat kewaspadaan paling tinggi, mudah mudahan pelayaran tanpa batas ini tiba selamat sampai ke dermaga 🤍
Aku hanya ingin jadi teman baik yang selalu mendukungmu sampai kapanpun, sampai kita bertemu di pelaminan, entah sebagai pasangan atau mungkin sebagai tamu undangan.
Tak ada yang berubah dariku
Aku akan tetap menjadi carra yang sama
Yang sesekali mengkhawatirkanmu
Yang kadang memperdengarkan ocehan kita kepada orang tuaku
Yang masih tertawa sendiri menyimak cerita cerita recehmu
Sampai kapanpun
Aku masih
Dan akan tetap
menjadi teman baikmu
2023 💐📝
Satu waktu akhirnya kita bertemu di pelaminan, kali ini aku ingin jadi teman hidupmu sampai kita berpindah ke dimensi yang berbeda. Bolehkan?
Konsisten
Bicara soal konsisten, selagi masih banyak konten kreator yang membagikan tips dan trik konsisten, menurut penelitian ini itu, menggunakan metode ini itu, menurut buku ini itu.
Artinya, konsisten kenyataannya memang sulit dan berat untuk dilakukan. Kalau kamu sulit atau berat untuk bisa konsisten tidak perlu merasa bersalah, temanmu banyak.
Tulisan ini tidak akan memberimu cara untuk bisa konsisten. Manusia tidak akan berubah hanya dengan dinasehati atau diberitahu. Manusia cenderung memutuskan sesuatu kalau sudah terpojok atau kepepet.
Jika konsekuensinya belum begitu dirasakan, ya tetap saja membenamkan diri ke dalam pola yang terus berulang.
Intinya, kalau kamu benar benar mau kamu akan mencari cara. Kalau kamu tidak mau, kamu akan mencari alasan.
#RandomTalk
Mengingat momen saat kuliah dulu, masa masa dimana aku banyak menyimpan kecemasan. salah satu kecemasan yang paling melekat adalah penampilan dan berat badan.
Karena sudah membawa bekal "insecure" sejak SMA, lingkungan yang positif sangat membantu mengurangi rasa minder soal penampilan, ditambah akhirnya menemukan gaya berpakaian yang "aku banget" sudah otomatis membuatku lepas dari segala macam trend fashion kekinian, melompat ke niche spesifik : gamis polos + khimar. Beres dan anti ribet.
Masalahnya adalah, gamis akan terlihat bagus jika yang menggunakan badannya ramping atau kurus. walaupun nggak ada yang ngatain aku gendutan saat pakai gamis, tapi tetep aja ngerasa kecewa sama diri sendiri kalau BB naik.
Mulai terobsesi dengan diet ekstrim berkedok pola makan sehat. kalau diingat ingat, aku sangat berusaha hepi tapi nggak hepi sama sekali. terjebak di lingkaran perasaan bersalah.
Stress kuliah >> cemas >> makan dan nyemil banyak >> cemas karena makan banyak >> diet >> BB turun sebentar >> stress lagi >> makan banyak >> begitu seterusnya.
Blackpink baru saja debut waktu itu, figur orang kurus itu cantik mulai merasuk ke pikiran. saat liburan semester, kusempatkan ikut katering diet, oh tentu saja berat badan turun tapi cuman sebentar wkwkw. Untuk mengerem kebiasaan ngemil, kucoba puasa daud yang cuman bertahan 3 bulan. Kuliah sambil puasa daud itu berat bangeet asli.
Mendekati semester akhir ikut program dietnya herbalif* sekaligus zumba, kadar lemak berhasil turun beberapa waktu, tapi aku semakin stress kalau nggak ngemil, kuputuskan menghilang dan nggak melanjutkan program itu lagi
Ada yang salah dengan diriku.
Singkat cerita, aku ada disebuah ruangan bersama terapisku. menceritakan salah satu kecemasanku tentang berat badan dan pola makan yang kacau. Beliau memberitahu yang intinya berat badanku akan turun sendiri nanti, kalau sudah sehat mentalnya.
Itu perkataan beliau sekitar 4 tahun yang lalu. sesuatu yang baru kusadari, saat ini adalah fase ternyaman antara aku dan tubuhku sendiri. kalau diakumulasi kurang lebih turun 10kg, dari 65kg-55kg tanpa diet. ternyata saat aku tidak merasa stress dan mencoba cemilan/minuman manis agak banyak, rasanya sangat aneh bahkan eneg, tidak seenak ketika sedang cemas atau stress.
Pola defisit kalori jangka panjang yang tanpa kusadari membuat berat badanku turun sebanyak itu. bertepatan dengan acara pernikahan sepupu, aku makan beberapa porsi dari hidangan prasmanan, dan dipuji budhe budhe katanya "enak ya, makan banyak tapi tetep kurus"
Waah siapa yang nggak seneng dipuji sedemikian rupa hahaha, dulu setiap lebaran takut banget dikatain/di jduge gendutan sama budhe budhe. Sampai berusaha menghindar kalau ada kumpul keluarga besar.
Sama seperti kesehatan fisik, kesehatan mental yang bermasalah jika diupayakan untuk sembuh, dampaknya sangat signifikan ke kualitas hidupku, ke pola makanku, ke cara pandangku terhadap diriku sendiri.
Seperti ini ya rasanya, hidup nyaman dengan tubuh sendiri, lepas dari rasa cemas dan bersalah yang berlebihan. benar benar perasaan senang yang intens, bukan senang sesaat seperti makan cemilan ketika stress.