Catatan Liar #5
Novaturient
Hari-hari ini, gue banyak mendengar pembahasan kesehatan mental dan kesehatan emosional. Semakin banyaknya buku, artikel, podcast, talkshow, konten media sosial bahkan pelatihan yang gue temukan mengenai hal ini menjadi bukti buat diri gue sendiri bahwa topik ini merupakan pembahasan umum. Tidak jarang pembahasan tersebut dimulai atau diakhiri dengan pengenalan diri sendiri.
Gue pribadi sepakat, karena menurut gue, kondisi kesehatan mental dan kesehatan emosional seseorang tidak lepas dari seberapa kenal kita terhadap diri kita sendiri. Proses mengenal diri kita akan membantu kita untuk lebih mudah mengidentifikasi kondisi yang sedang kita rasakan, hal yang kita butuhkan dan termasuk situasi yang seharusnya kita hindari .
Pada salah satu bukunya Oprah Winfrey pernah menulis, “As you become more clear about who you really are, you’ll be better able to decide what is best for you – the first time around”. Semakin kita mengenal diri kita, maka kita akan semakin mudah untuk menjaga kesehatan mental dan kesehatan emosional kita.
Pengenalan diri kita tidak hanya sampai pada nama kita, tanggal lahir kita, warna favorit kita atau gerakan olahraga yang paling kita sukai. Tapi diharapkan kita dapat mengenal hal yang membuat kita bersemangat, hal yang menyenangkan buat kita hingga pet peeve yang kita miliki. Gue meyakini bahwa tiap-tiap kita merupakan individu yang unik, karena tiap-tiap kita memiliki perjalanannya masing-masing.
Perjalanan yang dimulai sejak kita dilahirkan dan akan terus berlanjut hingga hari kita meninggalkan dunia ini. Perjalanan yang mengizinkan tiap-tiap kita memiliki pengalaman emosi yang sangat subyektif, unik dan berwarna-warni. Perjalanan yang melibatkan pengalaman emosi dan membuat tiap-tiap kita memiliki respon spesifik terhadap sebuah kejadian. Perjalanan yang mungkin membuat kita tidak ingin disamakan oleh orang lain. Perjalanan yang bersifat begitu pribadi yang tanpa kita sadari membentuk siapa kita saat ini.
Sama seperti proses perjalanan pembentukan diri, ternyata untuk mengenal diri sendiri pun membutuhkan sebuah perjalanan, setidaknya ini menurut pendapat gue.
Menurut gue, perjalanan untuk mengenal diri sendiri bukanlah sebuah proses perjalanan singkat melainkan sebuah marathon yang hingga saat ini masih terus berlangsung.
Perjalanan yang dipicu dari pertanyaan-pertanyaan unik yang muncul dipikirian, pertanyaan-pertanyan yang sebenarnya mempertanyakan latar belakang atas keputusan-keputusan yang diambil, pertanyaan yang muncul dalam proses upaya mengidentifikasi hal yang dirasakan dan pemicunya, termasuk pertanyaan mengenai penyebab perasaan stagnansi didalam hidup.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mendorong untuk menjelajah dan tidak jarang secara sengaja memilih meninggalkan rutinitas sehari-hari untuk merenung atau mencari literatur yang dapat membantu mengenal hal baru dan yang paling penting untuk makin mengenal diri sendiri!
















