menulis adalah pekerjaan paling sepi,
tapi, justru itu yang membuatku merasa hidup dan ramai
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
will byers stan first human second
NASA
styofa doing anything
cherry valley forever

titsay
Misplaced Lens Cap

祝日 / Permanent Vacation
Cosmic Funnies

Kiana Khansmith
almost home
I'd rather be in outer space 🛸
🪼

⁂
Cosimo Galluzzi

Product Placement

❣ Chile in a Photography ❣
Claire Keane
occasionally subtle

izzy's playlists!

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Germany
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Saudi Arabia
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United Kingdom
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United States
seen from United Kingdom

seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from United States

seen from United States
@ceritairmafitria
menulis adalah pekerjaan paling sepi,
tapi, justru itu yang membuatku merasa hidup dan ramai
Bagiku, cerita adalah teman yang bisa memberiku perlindungan,
"Bagaimana kabarmu?"
Setelah sekian purnama berlalu, sejumput tanya masuk melalui pesan singkat. Awalnya kupikir, 'ah, haruskan kujawab baik-baik saja?'
Padahal, mungkin saja pertanyaan darinya sebuah ketulusan yang dia rangkai sesederhana mungkin.
Lalu, haruskah aku berkata jujur tentang segala resah dan gundah yang membuatku terjaga dan menerawang langit-langit gelap dalam kamar sepetak ini?
banyak hal yang terjadi di luar prasangka dan perkiraan kita sebagi manusia,
kadang berakhir seru, meski kita memulainya dengan ragu
tapi tak sedikit yang melebur menjadi sedu, padahal persiapan kita lebih dari seribu
karena pada akhirnya tetap misteri, sampai kita menemukan garis akhir sendiri, titik tanpa adanya koma lagi.
hal yang terlihat sederhana, bisa menjadi kemustahilan bagi penderita depresi. -they said.
aku selalu merasa kalau aku baik-baik saja. tapi jam tidurku berantakan, makan pun enggan. kemarin aku terjaga semalaman, dari pagi bertemu pagi. lalu kemudian, tak jarang aku tidur nyaris 20 jam sehari, sisanya untuk sholat dan kamar mandi.
aku juga tidak tahu kenapa aku bisa seperti itu, kukira hanya akan sehari dua hari, atau paling lama seminggu. ternyata menyentuh sebulan lebih.
aku tidak tahu kenapa dan bagaimana awal mulanya tidurku nyaris tidak ada bangunnya. enggan keluar kamar, enggan bertukar pikiran, karena memang tidak ada kepala dan telinga yang bisa kuajak berbagi dan mencari, perihal diri yang mulai tidak terkendali. awalnya masih bisa bangun untuk sholat lima kali sehari. tapi semakin panjang jam tidur yang berantakan, beberapa kali dzuhur digandeng asyar di waktu menjelang terbenam matahari.
sedih dengan keadaan yang tidak kunjung membaik, perlahan kupasang alarm tiga kali lebih banyak dari biasanya, dengan harapan setidaknya tidak ada yang rakaat yang digandeng lagi.
aku yang jatuh cinta, aku juga yang nyembuhin luka. lucu ya, hihiii
hei, ada satu yang terlupa. kamu tidak cukup hanya dengan mencintainya, kamu juga harus tahu bagaimana cara menunjukannya... 🤍
dulu, berusaha untuk bercerita supaya sedikit lega. namun sekarang lebih sering memendam dan diam supaya tidak semakin gaduh dan runyam_
_meskipun pincang, aku tetap berusaha untuk pulang, dan kembali dengan bekal luka yang semakin berlubang,
missing someone that I've never met, Chai.F
He called me Piket, because I'm younger and small
ketika dia kembali lagi, kamu mengira bahwa kamu menjadi rumahnya, padahal kamu tahu kalau dia selalu datang dan pergi sesuka hati. berhentilah menipu diri, bukan kamu tujuannya. dia kembali hanya karena kamu tidak pernah menolaknya.
dari banyaknya anak di dunia ini Tuhan, kenapa aku harus berteman dengan kemalangan? seperti burung yang berusaha terbang dengan satu sayap di tengah badai yang semakin gelap dan kelam warna awan di luasnya langit dan lautan?
-hujan, akhir pekan
sempurna dengan demam sedari kemarin tak kunjung menunjukkan pertemanan
aku ingin bilang, tapi enggan dan sungkan, hanya ada kesepian
aku dan aku, di sepetak kamar lembab sendirian di kota yang jauh dari jaungakuan rengkuhan tangan ibu yang dulu menghangatkan
-katanya, waktu akan menyembuhkan luka
tapi, kurasa waktu hanya menjadi jeda sementara, karena semua luka hanya menjadi emosi terpendam yang menunggu waktu untuk kembali, jika tidak dihadapi~
Seharusnya kita tidak dinilai
Hidup ini tidak dinilai apakah kita lulusan terbaik, tidak dinilai apakah pekerjaan kita memiliki gaji yang tinggi, pun tidak dinilai apakah sudah menikah atau belum, tidak dinilai sudah memiliki anak atau belum. Apakah sudah memiliki rumah ataukah masih mengontrak.
Penilaian-penilaian sosial memang seringkali muncul ke permukaan, yang seharusnya bukanlah menjadi penilaian mutlak terhadap hidup seseorang.
Seharusnya. Kita tidak dinilai.
Kalaupun dari kita mungkin ada yang terlambat, sedikit tertinggal. Tidak apa-apa. Teruslah melangkah untuk berjuang. Karena seharusnya kita tidak perlu dinilai kecuali dari derajat ketaqwaan kita.
_setiap jeda yang kuambil untuk pulih, bukan sembuh yang kutemui namun tatapan kosong dan ucapan lirih. mereka bersahut-sahutan di telinga, seakan keluar masuk dari telinga kanan-telinga kiri, bergantian memantul seperti bola bekel yang dulu sering kumainkan hasil dari pinjaman setelah pemiliknya bosan
inginnya bertambah energi, namun justru rasa ingin mengakhiri tumbuh kian meninggi daripada hasrat untuk bangkit kembali
lalu kudengarkan satu kalimat yang paling bisa kuterima, yakni
"istirahatlah lebih lama lagi, aku masih dini."
-dari jutaan wanita yang ada di dunia, kenapa aku bukan salah satu dari yang diusahakan? berulang kali merajut kembali hati yang remuk, tapi berulang kali juga hancur tak berbentuk.
mungkin tangki cintaku kurang, mungkin rupaku kurang menemtramkan mata ketika dia memandang,
lalu kembali tenggelam dalam pertanyaan yang tidak akan pernah menemukan jawaban, selain merelakan, juga memaafkan diri yang gampang gamang_