“Apa keluhannya Ibu?” Ibu bidan bertanya dengan logat medan yang tak bisa disembunyikan. Aku menceritakan semuanya termasuk belum adanya tanda-tanda kontraksi, meski sudah genap 40 minggu.
“HPL nya besok ya?” Keningnya berkerut sebentar, mengambil selembar kertas, menulis sesuatu, kemudian mengulurkannya padaku.
“Coba dicek dulu urinenya ya, nanti kesini lagi.” Tanpa banyak tanya aku dan suami langsung pergi ke bagian labor. Suami ambil izin setengah hari untuk mengantarku ke Puskesmas Talang Bakung.
Setengah jam kemudian, aku kembali ke Ruangan Pemeriksaan Ibu Hamil. Menyerahkan hasil tes labor kepada Ibu bidan yang hasilnya negatif semua.
“Semuanya normal ya?” Keningnya mengerut kembali, menekuri kertas yang dipegangnya. Aku tersenyum kecut, berharap segera diberi surat rujukan. Prolonged pregnancy atau kehamilan lewat waktu, diagnosis itulah yang tertulis pada surat rujukanku. Esoknya, kami langsung meluncur ke Rumah Sakit Baiturrahim.
“Ibu Chandri, kehamilannya sudah masuk 41 minggu ya, dan ini lingkar kepala bayinya lumayan besar ya bu, 9,8 cm.” Dokter menjelaskan sambil mengamati hasil usg terbaru.
“Maksudnya Dok? Ada kelainan?” Aku dan suami mendadak khawatir.
“Oh, nggak, maksudnya tipe kepala bayinya memang lebih besar dari bayi kebanyakan. Biasanya lingkar kepala bayi 9,6 cm bayinya ibu 9,8 cm. Bisa jadi karena genetik dari ibunya.” Dokter lanjut menjelaskan sembari tersenyum mengamati bentuk kepalaku. Memang iya sih, kepalaku bentuknya bulat kalau suami agak lonjongan.
“Jadi, baiknya gimana Dok, kira-kira kalau mau nunggu kontraksi batas waktunya sampai kapan?”
“Kalau mau ditunggu masih bisa sampai tiga hari kedepan, karena volume air ketubannya Ibu sudah mulai berkurang. Tapi, postur dan berat badan bayi kemungkinan akan bertambah Bu. Sekarang aja berat bayinya sekitar 3,3 kg.
“Kalau disegerakan baiknya gimana Dok?”
“Pilihannya ada dua, normal dengan induksi atau caesar.”
“Sore ini Dok?” Aku merasa kayak mau ujian mendadak.
Aku melirik suami. Suami menyerahkan semuanya padaku.
Setelah berpikir sepersekian detik akhirnya aku memilih untuk melahirkan normal dengan induksi, dan aku yakin setiap Ibu pastinya memilih untuk melahirkan secara normal. Meskipun dari beberapa referensi yang kubaca bahwa kontraksi dengan diinduksi lebih sakit daripada kontraksi alami, setidaknya aku sudah berusaha untuk melahirkan secara normal, dan caesar menjadi pilihan terakhir.
Menjelang siang, suami mulai mengurus semua kelengkapan administrasi untuk rawat inap. Tapi, karena kamar bersalin penuh kami diminta menunggu hingga sore hari. Setelah ashar aku pun diminta untuk masuk ke kamar bersalin.
Bidan yang bertugas sore itu memintaku untuk mengganti pakaian dan menyiapkan pakaian untuk si bayi. Karena rencana awalnya hanya untuk kontrol, jadi kami tidak membawa perlengkapan kelahiran. Akhirnya suami minta adik ipar untuk mengantarkannya ke rumah sakit.
“Ibu Chandri silahkan makan dulu, biar ada tenaganya. Nanti kalau sudah kontraksi nggak bisa makan lagi lo Bu.” Aku menuruti saran bidan tanpa banyak komentar. Sementara bidan yang lain sibuk menyiapkan peralatan infus dan mulai memasukkan cairan oksitosin ke dalam cairan infusku. Cairan oksitosin ini memiliki fungsi serupa dengan hormon oksitosin alami yang diproduksi tubuh, yakni berfungsi untuk memicu atau memperkuat kontraksi pada rahim.
“Dosisnya 20 tetes ya Bu.” Bidan bertanya untuk memastikan. Aku mengangguk mengiyakan.
“Kalau boleh tahu kenapa diinduksi Ibu?” Aku menjelaskan secara singkat, termasuk masalah tulang sendi paha kanan yang sakit. Ketika mengetahui hal itu, bidan meminta aku mempraktekkan posisi melahirkan secara litotomi. Mau tak mau terpaksalah aku mengangkat kedua kakiku, dan ketika belum pada posisi sempurna aku sudah nyerah duluan.
“Susah ya Bu, nanti gimana pas lahirannya Bu?”
“Nggak tahulah Mbak, lihat aja nanti.” Aku menjawab pasrah sambil nahan air mata yang mau tumpah. Sakitnya persendianku itu hanya Allah saja yang tahu.
Menjelang magrib, aku mulai merasakan sakit kontraksi. Ternyata, seperti ini rasanya tanda-tanda si buah hati mau hadir batinku waktu itu. Kontraksi mulai terasa per 15 menit sekali. Mendekati magrib, kontraksi terasa semakin cepat. Akhirnya aku memutuskan untuk sholat dengan duduk di atas ranjang. Emak yang menggantikan suami yang sedang sholat, mengambilkan air untuk berwudhu. Selesai sholat aku sedikit lebih lega.
Dua orang bidan yang berjaga siang itu digantikan dengan bidan shift malam. Satu orang memakai jibab, dan satunya lagi tidak. Dari panggilan si mbak yang berjilbab ternyata mbak yang tidak berjilbab ini lebih senior darinya.
Tak lama kemudian seorang pasien baru masuk. Aku yang semulanya sendirian jadi merasa punya kawan untuk berjuang. Dari percakapan antara pasien baru dan bidan aku jadi tahu bahwa profesi pasien yang mau melahirkan ini adalah bidan. Jarak antara kami hanya dipisahkan oleh gorden tebal sebagai pembatasnya. Si Ibu bidan sudah sampai pada bukaan empat, sementara aku baru bukaan satu. Si Ibu bidan sudah mulai istighfar dengan jahr;bersuara keras buat menahan sakit, sementara aku masih istighfar dengan sirr;suara rendah.
Menuju isya gelombang kontraksiku semakin menjadi, kali ini bukan hanya sakit tapi juga disertai keinginan untuk mengejan seperti mau buang air. Sayangnya, keinginan itu harus ditahan tidak boleh diturutkan, kalau diturutkan akibatnya bisa fatal. Aku pun mulai mencoba berbagai macam posisi untuk meringankan rasa sakit. Dan menurutku posisi yang paling mendingan itu dengan miring ke kiri. Selanjutnya tanpa kusadari zikir yang semulanya sirr;rendah tiba-tiba menjadi jahr;keras. Akhirnya aku paham kenapa si Ibu bidan zikirnya keras-keras. Zikir kami terdengar bersahut-sahutan, dengan tempo dan irama yang berbeda. Terkadang kami juga khilaf sambil merintih “aduuh aduuh, Ya Allah sakitnya”. Yaa, Ibu yang melahirkan juga manusia biasa, yang susah untuk tidak bilang sakit.
Mendengar aku merintih sakit si Mbak bidan langsung menghampiri. “Ibu nggak boleh gitu, Ibu ini dosisnya cuma 20 tetes, ada loh Bu yang dosisnya nyampe 30 sampai 40 tetes.” Bidan yang nggak berjilbab berkata tegas sambil membenarkan posisi infus yang agak molor akibat tanganku yang susah diam. MasyaAllah, 30 tetes itu gimana rasanya ya? Untuk mengalihkan rasa sakit, Mbak bidan menyuruhku untuk menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan.
Secara teori aku sudah tahu dengan saran ini, tapi secara praktek susah sekali untuk dilakukan. Akhirnya setiap kontraksi datang, suami membantuku untuk mengatur nafas. Tapi, Allah memang maha adil. Seiring bertambahnya rasa sakit itu, bertambah pula pembukaan untuk jalan lahir. Malam terus beranjak, jam dinding kamar bersalin menunjukkan pukul 11.00 mlam lewat. Pembukaan sudah lengkap di angka sepuluh. Kali ini aku sudah boleh mengejan ketika kontraksi datang. Sayangnya menurut mbak-mbak bidan cara mengejanku itu salah.
Beberapa kali mengejan tenagaku rasanya mulai menipis. Bidan menyuruh untuk istirahat sejenak. Suami menawarkan minum dan memaksa aku untuk makan kurma. Dengan susah payah akhirnya sebutir kurma dan beberapa teguk air berhasil masuk mengisi lambungku. Dalam hati tak putus-putusnya aku berdoa’ “Ya Allah izinkanlah hamba melahirkan sebelum lewat jam 12 malam ini.”
Sementara itu, ibu bidan yang di sebelah terdengar menyebut-nyebut kata operasi. Oya, ibu bidan dan aku ini sama-sama mau melahirkan anak pertama, jadi bisa dibilang kami berdua belum ada pengalaman sama sekali. Tampaknya ibu bidan mulai lelah hingga kata operasi keluar dari mulutnya. Pasalnya pembukaannya stagnant akibat jalan lahir yang bengkak (edema). Itulah alasan kenapa ibu-ibu yang mau melahirkan tidak boleh mengejan ketika pembukaan belum lengkap di angka sepuluh. Nah, kalau proses bersalinnya kelamaan bayi akan kekurangan oksigen dan stress, dan tentu saja ini sangat membahayakan bagi si bayi.
Mbak-mbak bidan sibuk bolak-balik antara aku dan bu bidan. Sayup-sayup terdengar percakapan mbak bidan dengan dokter kandungan yang menangani bu bidan. Aku kembali berkonsentrasi penuh ketika kontraksi datang. Mendengarkan aba-aba mbak bidan dengan seksama. Entah ejanan yang keberapa, tiba-tiba mbak bidan menyuruhku menahan ejanan. Selanjutnya tangisan bayi menyeruak memecah kesunyian malam persis ketika jarum jam pendek dan panjang berada diangka yang sama, angka 12. Masya Allah, Alhamdduilllah, Tabarakallahu, rasa-rasa tak percaya sudah melahirkan seorang bayi. Kalau mau jujur dengan postur yang bisa dikatakan kecil ini sebenarnya aku tu agak kurang yakin bisa melahirkan normal. Benarlah kata Bu Bidan Mugi Rahayu-Penulis Buku Persalinan Maryam, tidak masalah si calon ibu kecil atau pendek karena salah satu tugas mulia wanita adalah untuk melahirkan, maka sudah pasti Allah menciptakan wanita dengan anatomi yang mendukung untuk tugas mulia itu. Termasuklah kemampuan menahan sakit kontraksi yang syahdu nan mendayu itu ;)
Oh ya, kembali ke ibu bidan, mendengar suara tangis anakku bu bidan jadi tambah pengen buat operasi.
“Kalau mau operasi harus nunggu dokter anastesi sama dokter bedah dulu, kasian anak kamu kelamaan di dalam.” Bu dokter tetap gigih memaksa pasiennya untuk normal. Kalau dipikir-pikir benar juga perkataannya, dan pastinya bu dokter ini punya keyakinan bahwa pasiennya bisa melahirkan secara normal. Selanjutnya, yang terdengar adalah percakapan antara bu dokter, mbak bidan, dan ibu bidan. Sesekali ditingkahi oleh erangan sakit bu bidan. Aku yang menyimak sambil IMD jadi ikut deg-degan mendengarkannya. Sekitar jam duaan dinihari Ibu bidan sudah diperbolehkan untuk mengejan.
Tak lama kemudian terdengar suara-suara bernada cemas.
“Nak, ayo Nak nangis Nak.”
Sepertinya si bayi sudah lahir, tapi tanpa jeritan tangis seperti bayiku tadi. Aku bisa menangkap suasana cemas bercampur tegang dari tirai sebelah. Selang beberapa menit kemudian suara tangis bayi perempuan memecah ketegangan.
“Alhamdulillah Ya Allah.” Aku yang mendengar di sebelah tirai ikut bernapas lega. Akhirnya, kami sama-sama bisa berjuang untuk satu kehidupan manusia yang sudah lama kami tunggu. Dan, dari tiga anak bayi yang lahir malam itu, Farzan satu-satunya yang berjenis kelamin laki-laki.