Genggam tanganku saat tubuhku terasa linu. Kupeluk erat tubuhmu saat dingin menyerangmu. Kita lawan bersama, dingin dan panas dunia. Saat kaki tlah lemah kita saling menopang. Hingga nanti di suatu pagi salah satu dari kita mati. Sampai jumpa di kehidupan yang lain.
Kamu, sosok yang masih disembunyikan Sang Maha Cinta, yang namanya telah tertulis di Lauhul Mahfudz, yang tulang rusuknya hilang satu. Suatu saat nanti, jika kita dibersamakan, bisakah kita tumbuh seperti yang tertulis di lagu ini? Aku selalu menjadi sepasang telinga untuk segala keluh kesahmu, dan kamu selalu menjadi bahu ternyaman tempatku bersandar. Akankah kita berada di satu meja yang sama? Minimal di setiap pagi dan malamnya, menikmati hidangan karyaku yang ala kadarnya, tak mewah. Bisa jadi hanya sepiring nasi goreng atau sepiring nasi putih berteman sayur dan lauk sederhana. Yakinkah kau kepadaku, bahwa selelah apapun aku akan menyuguhkan senyuman terhangat untukmu? Berteman secangkir kopi atau teh untuk merelaksasi persendianmu, jika itu tak cukup, jemariku siap mengambil alih tugas untuk menghilangkan efek timbunan asam laktat yang mengganggu tubuhmu. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, saat lelah mendera, kau cukup memenuhi celah kosong di antara jemariku, lalu kau rengkuh aku dalam pelukan ternyamanmu, sudah cukup membuat penatku bertransformasi menjadi nyaman tanpa sanggah. Wahai, Tuan yang entah berada di mana, bisakah kau tetap tersenyum maklum melihat keanehanku? Bisakah kita saling tertawa renyah melihat kekonyolan satu sama lain? Saling melempar senyum memesona, saat kaki-kaki kita tak lagi tegak berdiri, dan uluran tangan untuk saling menopang menjadi tongkat yang sangat berharga. Kita akan terus berjalan beriringan, memapah langkah satu demi satu, tanpa ada yang berlari meninggalkan. Bisakah kita terus bercengkerama dari fajar hingga senja, bahkan hingga malam datang. Bernyanyi di kala hujan, menarikan aksara indah perjalanan skenario yang kita mainkan dari pagi hingga petang, dilanjutkan dengan pujian singkat terbungkus canda, berakhir pada fase saling meyakinkan bahwa dalam kondisi seperti apapun aku adalah satu-satunya untukmu, dan kau adalah yang tak akan terduakan olehku. Nanti, ketika usiaku tak lagi muda, saat ragaku mulai renta, sudikah kau selalu menemaniku berbagi cerita tentang hari hingga salah satu dari kita ada yang tertidur lebih dulu. Pun jika ada yang harus pergi terlebih dahulu, sanggupkah kita saling menunggu sang waktu membersamakan kita kembali? Merawat cinta tanpa jeda, menziarahi lembar-lembar episode yang telah dilalui, tanpa alpa, tanpa hitungan, hingga kita kembali bersama dalam tempat terindah yang abadi, yang disediakan Sang Maha untuk makhluk-Nya merajut cinta tanpa menemui kata akhir.