Pernah satu kali Mba Iin dan aku silang pendapat tentang defaultnya manusia. Menurut Mba In, defaultnya manusia diciptakan Allah itu yaa happy. Pokonya anyting can be happen in our life, tapi kita tetap akan happy.
Duh waktu itu aku ga setuju dan getol banget; masak iya happy, darimaneee?? Soalnya kata Allah kan; “Apakah manusia mengira bahwa mereka dibiarkan hanya dengan mengatakan ‘kami beriman’ dan tidak diuji?” (29:2). Dalam bayanganku, seakan Allah sedang ngasi tau kalau dunia nih emang ga semudah itu loh:”) Jadi kaya, masa iyaa happy kalau tabiat dunia aja ujian. Masa kita happy happy aja kalau dapat ujian??? hehe
Lepas itu Mba In bilang: Kita diciptain tu happy, tapi diuji. Kelar ujian, ya happy lagi. Kalau defaultnya sedih, kita malah di dunia ni nyari-nyari sumber kebahagiaan. Begitu katanya. Tapi itu juga belum cukup menenangkan hati dan pikiranku yang ngarep bgt jawaban logis ini, haha. Terus, setelah kami coba elaborate bersama, ketemulah satu ayat yang deep sekali seakan mau menjawab pertanyaan-pertanyaan kami tadi. Allah bilang, dengan indahnya:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram” (13:28)
Kalian nangkep ga betapa heartwarming nya ayat ini?
Gini, kalau kita flashback dan ingat-ingat jauuh sekali ke belakang tentang tujuan penciptaan kita sebagai manusia di bumi ini tuh, untuk beribadah kepada Allah kan? So, that’s the clue! Ibadah✨ Allah simply minta kita di dunia ini untuk ibadah. Dan Allah dengan indahnya bilang di Ar-Ra’d(13) tadi bahwa dengan mengingat Allah, maka hati menjadi tenteram. Jadi kalau kita ibadah, kita ingat Allah, maka kita akan dapat ketenangan hati. Kita akan tenteram. Gitu algoritmanya.
Oke, kita gunakan analogi lain agar semua ini kembali logis. Misal kita suka banget nih makan bakso. Istirahat kantor kita beli tuh bakso di kantin, yang walaupun harganya amatlah pricey tapi tetep aja kita beli, soalnya kita suka! Dan kalau makan bakso tuh happy gitu loh kitanya😁 Lalu, waktu semangkok bakso itu udah datang di depan kita, semakin makinnya kita jadi bahagia. Eh tapi tiba-tiba belum juga kita seruput kuah bakso itu, ada telfon masuk minta kita segera balik ke kantor; “Dicariin bos lu, balik, sekarang!” begitu bunyinya. Naah, kira-kira apa bakso yang ada di depan kita tadi, tetap akan tampak membahagiakan buat kita?
Begitu lah kiranya. Kita bisa makan makanan apapun dengan nikmat dan bahagia, bila diri kita tenang. Tapi kalau kita nda tenang, makanan seenak dan semahal apapun nda akan juga bikin kita bahagia. Sudah bisa dapat logicnya kan?
Jadi akhirnya gengs, yang paling penting dalam hidup ini bukan menjadi bahagia, tapi menjadi tenang. Sebagaimana default tujuan hidup kita untuk beribadah, maka dengan itu kita akan mendapatkan ketenteraman yang akhirnya membahagiakan diri kita. Mau ujian yang datang sebagaimanapun, mau materi yang kita punya sesedikit apapun, kalau hati kita tenang, maka itu nda akan bikin kita cemas dan gundah gulana:“)
Kita tenang, karena kita yakin Allah telah jaminkan rezeki kita bahkan sebelum kita lahir di dunia ini. Bahasa kerennya, takwa. Kita percaya kalau ada Allah yang akan bantu kita, nda akan ninggalin kita, dan akan menjawab doa-doa kita. Dan indeed, takwa akan mudah kita dapatkan kalau kita ingat Allah terus, kalau kita ibadah. See? Se logic itu ternyata semua hal dalam hidup ini bisa kita kaitkan satu sama lainnya untuk membantu diri kita percaya kalau ternyata, Islam memang sebaik-baik jawaban atas segala persoalan apapun dalam hidup kita.
Soo, selamat memperbaiki ibadah-ibadah kita good people! Selamat merangkai takwa dalam bingkai iman yang semoga selalu terjaga, sampai nanti Allah karuniakan rasa tenteram dan tenang, di setiap apapun manuver takdir yang kita dapatkan. Mari berbahagia dan membahagiakan gengs, and no need to worries. Karena kita, cuman tinggal takwa✨