Bulan kemarin ke Psikiater lagi kan, soalnya anxietynya menurutku udah naik level. Awalnya langsung kutembak aja beliau dengan pertanyaan:
"Obat yang cocok apa ya dok?"
Tapi beliau malah tidak meresepkan obat dengan alasan "Masih bisa loh dikendalikan, kan kamu tau sebenernya penyebabnya apa". Jadi sedikit menyesal mengaku kalau aku juga dokter. Tapi kutau sih konsultasi jiwa tidak bisa rahasia-rahasiaan, dan obat memang pilihan terakhir. Jadi yaaaa..... hufty._.
Terus minggu-minggu ini mulai muncul lagi anxietynya. Masih tetap dalam pikiran doang dan ga gitu ganggu memang. Dan ternyata beliau bener; aku lebih dari sekedar tau penyebabnya apa. Lumayan lah ya defense mechanismnya sekarang ga avoidance lagi. Berulang kali disaranin untuk journaling (lagi) biar lebih mindful cenah, tapi akunya terlalu perfeksionis untuk memulai (bilang aja malez sih buk). Jadi yaa, blabberingnya disini dulu, haha.
Beberapa hal yang kusadari menjadi pencetus kecemasan akhir-akhir ini ternyata simpel banget, lebih ke kocak sih; I haven't found a friend who can responds to me the way I do. Kaya, beberapa hari ini aku ngerasa lebih kesepian dari biasanya, padahal biasanya juga sendiri wkwk. Sampe mikir: enak ya kalau punya temen kaya aku:) #sombonggila. Karena selama ini aku merasa selalu berusaha mati-matian buat diterima dalam pertemanan, tapi kupikir effortku ternyata berlebihan. Dan baru kusadari itu setelah kerja yang mana pertemanannya udah macam simbiosis aja; sesuai kebutuhan.
Mindsetku dulu: kalau nolong temen itu ya harus totalitas, gabisa setengah-setengah. Misal dia butuh info apa, kalau bisa beri info sejelas-jelasnya atau malah bantu dia sampe dapatin itu. Dan komentar teman kerjaku: emang dia se spesial apa bu, ngoyo banget sampe segitunya:) Yaaaaa juga yaa. Kalau difikir, aku gaperna ya dpt treat yg sama waktu butuh pertolongan, huhu why?! Jadi lama-lama rasanya capek. Apalagi waktu kita mulai berharap kalau orang lain bakal melakukan hal dg kadar yang sama seperti kita. Jatuhnya itu kaya hmmm apaya, agak nyakitin ternyata wkwkwkwk.
Sekarang aku selalu berusaha untuk menolong sekenanya aja. Gausah sampe dipikir, gausah sampe bikin migrain, gausa sampe harus kamu yang lakuin. Because no matter how much you help others, sometimes you're still nobody. Terima fakta aja, semua orang egois:)
BUKAN BERARTI aku tidak mau bantu orang lagi ya, bukan begitu, jangan diselewengkan tulisan ini! Tapi, sepertinya kita perlu menolong dengan lebih ✨️realistis✨️ Kalau memang lagi kerepotan dengan diri sendiri, kamu bisa nolak untuk bantu orang lain Khou. Kalau lagi butuh waktu buat diri sendiri, kamu ga harus keluar buat ketemu orang lain. Maybe you're still nobody to others, but you're still a home for yourself.
Nanonano banget dah apaansi nih._. Ya gitu pokonya. Thanks tumblr udah jadi tempat comeback tiap kali merasa 'kangen pulang, tapi udah di rumah'. Semoga kita tetap ingat afirmasi positif di konseling sekian waktu itu; You're truly a good friend. So don't forget to be a good friend for yourself Khou🤍








