Sungguh dan Tak Sekedar Singgah
Aku pernah tak sengaja membaca kalimat, "Singgah tak berarti sungguh."
Dan tanpa sadar aku mengangguk, lalu menyahut, "Karena sungguh, tak mungkin hanya sekedar singgah."
occasionally subtle

⁂
NASA
cherry valley forever
Today's Document
Mike Driver

❣ Chile in a Photography ❣
we're not kids anymore.
No title available
Xuebing Du
Lint Roller? I Barely Know Her

JVL
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
Claire Keane
will byers stan first human second
styofa doing anything
tumblr dot com

titsay
Monterey Bay Aquarium

PR's Tumblrdome

seen from Malaysia
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Malaysia

seen from United States

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United Kingdom
seen from Germany
seen from United States

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from Italy
@cloudsofyours
Sungguh dan Tak Sekedar Singgah
Aku pernah tak sengaja membaca kalimat, "Singgah tak berarti sungguh."
Dan tanpa sadar aku mengangguk, lalu menyahut, "Karena sungguh, tak mungkin hanya sekedar singgah."
Gunung atau pantai ? Aku memilih pantai. Pantai atau rumah ? Aku memilih rumah. Aku si anak rumahan yang sukanya rebahan, tapi sesekali rindu dengan aroma lautan. 📍 Pantai Gunung Payung (Pantai Gunung Payung, Kutuh, Kec. Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali)
Kesal
Ada kalanya aku kesal dengan diri sendiri, kesal dengan isi kepala yang terlalu ikut campur, kesal dengan ucapan yang keluar tanpa permisi, dan kesal dengan hati yang enggan membaur. Aku ingin melangkah, tapi terlalu banyak "jikalau" menghantui isi kepala. "bagaimana jikalau dia menjauh ?" atau "bagaimana jikalau hanya harapan sia -sia ?" Aku ingin mencari peluang, tapi ragu seolah menjadi teman baik isi hati, ragu tentang kepercayaan, ragu tentang menjalin hubungan kembali. Ucapan yang berkata "aku ingin" seolah hanya bualan, tidak ada langkah selanjutnya, tidak ada tindakan, dari kata "aku ingin", menjadi "tidak yakin" lebih tepatnya. Sulit, satu kata untuk saat ini, bukan tentang mengambil keputusan kembali, tapi tentang konsekuensi harga diri, dan berani jikalau terluka lagi.
Masih menjadi suatu fenomena, titik temu yang tak jarang hanya wacana, sering terjadi jika sudah jauh hari berencana, hingga pilihan bertemu jatuh pada waktu yang semena-mena. 📍 Torst Coffee by Volken (Jl. Raya Tumbakbayuh, Tumbak Bayuh, Kec. Mengwi, Bali, 80351)
Menerima
Suatu hari seorang lelaki hadir untuk mencari peluang, tapi hadirnya sering diselingi hilang. Hari ini datang, esok atau lusa tak berkabar, hal ini terus berulang, hingga wanita tersebut tersadar. Kalau hadirnya lekaki itu hanya untuk singgah, Ia hanya penasaran sesaat bukan mencari rumah, karna tarik ulur sudah menjadi hal biasa untuknya, hingga Ia sulit membedakan hal yang dirasakannya. "Curang" satu kata yang tersirat dipikiran wanita, karna terlanjur jatuh hati, dan meminjam nama lelaki itu untuk dilangitkan. "Terlalu sulit" batinnya, karna hatinya baru kembali tertata, hingga satu-satunya cara yang dilakukan adalah penerimaan. Ternyata menerima bukan tentang penantian, tapi tentang jawaban dari rasa sendirian. Kini wanita tersebut telah melalui masa sulitnya, dan sedang menunggu kekasih hatinya. Mungkin kekasih hatinya belum tiba, karna Tuhan ingin dirinya menunggu sedikit lagi, dan Tuhan tahu menunggu salah satu keahliannya, selain mencintai dalam diam seolah tak tertarik jatuh hati kembali.
Alhamdulillah, hal yang menguras perasaan dan pikiran beberapa tahun terakhir ini akhirnya selesai. Aku mengerti dan paham bahwa start setiap orang berbeda-beda, begitupun aku dengan teman terdekatku. Mungkin, ini baru awal dari karirku. Mungkin juga, ini jalan terbuka untuk karirku. Semoga setiap hal yang telah terjadi, setiap doa yang dilangitkan oleh orang tuaku, akan membumi untukku. Aamiin Allahumma Aamiin.
Selesai.
Mengakhiri tanpa memulai, melepas hati karena keadaan. Aku pamit, untuk selesai. Selesai berhati-hati dengan kekeliruan. Aku sendiri yang salah menafsirkan, aku juga yang merasa sendirian. Aku kira rasa ini bisa hilang seperti yang lainnya, tapi aku sadar ini bukan rasa yang semestinya. Rasa yang tumbuh setelah trauma sembuh, ternyata sesulit ini. Tak ada petunjuk untuk aku, yang ingin bersama, tapi dituntut untuk selesai. Lagi-lagi logika dan perasaan beradu, tapi lagi-lagi aku tak bisa memihak salah satunya. Aku yang hanya bisa berdiam untuk menunggu, aku juga yang tak pandai berucap, dan tak pandai mengambil hatinya. Perasaan ini begitu lekat, dan terkesan terlalu cepat. tapi jika bicara waktu, aku sendiri tak menyadari kapan aku jatuh hati. Memang salahku memilih untuk tak terlihat. Menutup semua perhatian dengan sikap yang berhati-hati. Aku yang meragukannya, aku yang bimbang dengan sikapnya, karena datang dan pergi tanpa permisi. Tapi percakapan kita tadi pagi seolah menjelaskan semuanya, menjelaskan tentang menuntun untuk selesai.
Kamu.
Kamu, salah satu yang terpenting saat ini, Salah satu orang yang aku sebut didalam sujudku. Dan juga yang menjadi alasanku untuk cinta dalam diam. Entah kapan, dimana dan saat apa perasaan ini ada. Mungkin, tahun lalu disaat tak sengaja kita bertemu, atau disaat kita sempat menjauh, atau bahkan disaat kamu bilang jika dulu benar-benar ingin mencoba dekat. Kamu, yang saat ini jauh. Aku memiliki perasaan yang aku kira hanya perasaan biasa, Tapi, ternyata berbeda. Insyaa Allah semuanya karena Allah. Aku memang bukan penulis yang pandai berbahasa apalagi menata kata. Aku hanya seorang wanita biasa, yang menulis untuk menggantikan ungkapan dengan barisan kata. Semoga jika suatu saat kamu membaca, kamu akan merasa.
Dunia Hening
Dunia yang aku anggap tak pernah hening, kini berulah, semacam sengaja untuk rehat dari bising. Bukan hanya sehari, seminggu atau sebulan. Tapi setahun sudah ini berjalan. Hal asing yang dulunya menjadi rasa yang menakutkan. Perlahan menjadi hal yang biasa dan menjemukkan. Dunia, Bukannya lelah menjadi hening ? Bukannya rindu dengan bising ? Dunia, Kembali yaa... Sudah saatnya rasa menjemukkan disingkirkan. Sudah saatnya bising yang mengambil alih. Meski keadaan berbeda, Meski penjaga nafas masih menyelimuti wajah. Meski berjabat tangan kini hanya angan. Meski pertemuan kini berjarak. Biarlah bising yang bergerak.
Hi,
Aku kembali lagi, dengan usiaku yang bertambah.
Aku sekarang adalah diriku di usia 27 tahun.
Sudah dua tahun sejak aku berkenalan dengan dunia.
Bercerita tentang aku, yang masih belajar perihal mencintai diri sendiri.
Kini aku kembali, lagi-lagi untuk bercerita tentang diri.
Aku masih sangat menyukai novel, masih juga sering kuselingi dengan membaca webtoon.
Aku masih sangat menyukai kopi, masih juga menyukai aroma cocholate.
Aku masih sangat menyukai kepiting dan tuna, masih juga menjadi penggemar setia tiramisu.
Aku masih diriku di usiaku yang bertambah.
Ada beberapa hal yang belum aku ceritakan.
Misalnya, tentang aku yang menyukai kucing, disaat aku alergi dengan bulunya.
Tentang aku yang menyukai sunrise dan senja.
Tentang aku yang menyukai angin laut dan bisingnya ombak.
Tentang aku yang menyukai tulisan puitis dan makna dibaliknya.
Tentang aku yang menyukai percakapan pada dua arah.
Tentang aku yang menyukai lantunan lagu melow dan jazz.
Tentang aku yang menyukai film dan drama.
Tentang aku yang menyukai mawar putih dan arti ketulusannya.
Tentang aku yang menyukai genggaman antar jemari.
Tentang aku yang menyukai pelukan pereda gelisah.
Tentang aku yang lebih menyukai menunggu, dibanding mengejar.
Tentang aku yang sangat menyukai rumah, tapi sesaat rindu akan dunia luar.
Aku masih diriku di usiaku yang bertambah.
Aku masih menjadi pengantar rasa dari hati untuk kata.
Hanya saja yang berbeda adalah bukan hanya mengantar rasa yang aku punya.
Tapi rasa yang aku dengar dari kamu atau mereka.
Arti Percakapan
Malam itu sekali lagi kamu kembali, Membawa lagi pertanyaan yang telah berulang kali kamu tanyakan. Pertanyaan perihal kita dimasa nanti, Pertanyaan yang kamu sudah tahu jawabannya. Malam itu kutemukan arti dari sebuah percakapan. Tentang aku, kamu dan semesta yang sedang bercanda. Kita hanya terlalu yakin, tapi patah akan keyakinan. Doa kita memang sama, tapi cara meminta kita yang berbeda. Sudah ya ? Bolehkan ? Sampai sini ya... Semoga kamu bertemu dengan wanita dikeyakinan yang sama, Dan aku bertemu dengan dia yang memiliki iman yang sama.
Nyaman bukan hanya perihal rasa, tempat juga bisa menjadi zonanya. Selain makanan yang disuka, Disana juga ada percakapan ringan, Nyaman bukan hanya tentang kita, tawa yang dibuat juga bisa menjadi faktornya. 📍Kim Soo Home (Jl. Kayu Aya No.21, Kerobokan Kelod, Kec. Kuta Utara, Kabupaten Badung, Bali 80361)
Untuk Pembaca
Terkadang, mereka yang membaca tulisan-tulisan ini, tanpa pikir panjang, tapi langsung menyimpulkan, bahwa penulis sedang patah hatinya, sedang kalut pikirannya. Kenyataannya, Rantaian kata tertulis begitu saja, memang benar dari hati, memang benar dari pikiran, tapi bukan apa yang penulis rasa. Jadi, setiap kata yang ada, setiap kalimat yang terbaca, Jangan ambil pusing beripikir penulis sedang jatuh, sedang gelisah. Penulis hanya butuh dihargai bahwa tulisannya sampai ke hati pembaca.
Semoga
Setelah harapan, Setelah doa yang tiap harinya dipanjatkan. Suatu hari nanti, inginku bisa menjadi kenyataan. Ada kamu yang hadir dengan beribu kejutan, yaitu kamu yang dengan senang hatinya menahan marah karna egoku, Kamu yang bersedia menerima keluhanku tentang kisah lalu, Kamu yang berani menggenggam tanganku, yang masih takut dengan kisah baru. Semoga.
Sekilas Mengingat
Sekilas mengingat lalu, aku tahu itu masa dimana kita berada pada pelukan yang salah. Masa dimana aku tak ingin mengulang salah. Salah menjalin hubungan terlalu lama, yang ternyata hanya rasa yang terbiasa. Masa dimana aku mencoba menutup semua cerita itu. Walaupun bingkisan sedu masih tersimpan rapi. Tapi itu cukup menjadi alasan aku pamit. Aku tau, sekarang rasanya pun masih sulit memulai kembali. Tapi ini masa dimana aku mencoba mengikhlaskan kamu, dan cerita itu.
Setiap waktu yang pergi, ada jejak yang tertinggal. Untuk kali ini, jejak itu tentang secangkir kopi. Kopi hangat yang mengantarkan pada satu kenangan, kenangan tentang awal pertemuan kita. 📍Stuja Bali (Jl. Merta Agung 56, Kerobokan Bali)