Saya mengenal supernova sejak saya belum mengerti apa isi dunia yang ia tawarkan, SMP kelas 1 kalau tidak salah waktu itu, tahun 2006. Bagi seorang bocah yang bacaannya Kongfu Boy dan Naruto, menemukan Supernova adalah berkah, akhirnya saya punya bacaan yang bisa lama selesainya. Dan secara tak resmi, saya pun tergabung dalam keanggotaan mistis tarekat AdDEEction. Mungkin yang paling muda waktu itu.
Setelah itu, tahun tahun berikutnya, Dee selalu menarik saya ke dalam dunia dunia yang dia lahirkan, sebut saja, Perahu Kertas, Rectoverso, dan dua favorit saya, Filosofi Kopi dan Madre.
Mungkin seperti kebanyaan anggota tarekat yang lain, penantian Supernova bisa membunuh saya secara perlahan.
Bagi saya ia layaknya sebuah bintang, penuh cahaya menyilaukan, tapi, ia juga hampir habis masanya, siap menjadi lubang hitang yang tak jelas ujung pangkalnya. Menikmati satu demi satu Supernova selalu memberikan kelegaan yang menenangkan, tapi sekaligus menimbulkan kehawatiran dan pertanyaan pertanyaan baru setiap sebuah bukunya selesai. Seakan, kuil tempat Dee Lestari membangun dunia Supernova tak bisa tersentuh oleh siapapun, kami -para pembacanya- tekpernah dapat celah untuk bisa mengintip apa yang akan terjadi selanjutnya, meski kami sudah pernah hidup bersama dengan tiga buku sebelumnya.
Saya pernah hampir putus asa, saat kuil tempat Dee lestari membangun supernova tak pernah terbuka lagi. Mungkin, Bong dan Elektra memang tak punya kesempatan untuk bertemu. Gio mungkin akan terus bertanya-tanya tetang semua misteri yang tiba tiba datang kepadanya. Kunci satu satunya waktu itu hanya kepingan yang berseliweran diakhir setiap buku. Selain itu, semuanya berkabut.
Kabar baik tiba tiba datang, kuil itu terbuka dengan anak baru bernama Zarah, dunianya bernama partikel. Sebelum Zarah bener benar bisa jalan dan bermain dengan kami para anggota tarekat AdDEEction, saya yang waktu itu sudah di Jogja dengan kalap membeli 3 buku sebelumnya, saya tak mau jika masih harus pulang dulu untuk mengambil buku yang ada di rumah, yang mungkin sudah berwarna kuning kertasnya karna saking lamanya buku itu diam di rak. Saya maraton baca 3 buku itu, saya mau bermain dengan dunia Zarah dengan maksaimal, tekat saya waktu itu.
Tak selama Zahar, Alfa pun lahir di dua tahun setelahnya, Gelombang suka cita begitu terasa, ia begitu di nantikan oleh para pengagumnya, bahkan sebelum kelahirannya sekalipun. Tapi lagi lagi, si Ibu Suri berulah, Kami di hadiahi teka teki di akhir buku Gelombang. Kell hidup lagi. Dan Yeps, saya lagi lagi harus menikmati perasaan penasaran hingga Intelegensi Embun Pagi Lahir.
Meloncat ke dua tahun berikutnya, Ada rasa lega yang begitu bisa terasa, akhirnya saya bisa menikmati Supernova secara utuh. Penantian panjang selama ini terobati saat saya bisa memegang buku tebal bersampul putih berkilau itu. Akhirnya, saya bisa main bersama semua anak anak Supernova di Kuil tempat mereka terlahir bersama dengan para Anggota AdDEEction yang lain. Kami terlebur dan mengambang disana. Menikmati segala misteri dan jawaban secara bersamaan, hingga akhirnya menerika dan pasrah pada semuanya.
Kini, saat Kepingan Supernova lahir, saya siap kembali ke lubang hitam, kembali ke awal permulaan waktu saat semuanya bermula, mengenang satiap hitungan waktu yang telah dilalui untuk mengurai setiap jeratan misteri hingga akhirnya sampai pada titik ini.
"Tersesatlah saya disana selamanya, itu tak mengapa."