Batoh, menjelang magrib
Hari itu kamu berpuasa, dalam keadaan tidak fit kamu tetap menjalankan yang sudah diniatkan sedari malam. Pagi itu kamu menyadari kita ada undangan takziah yang tentu disertai dengan makan siang. Kamu tetap saja mempertahankan puasamu dalam kondisi badan yang tidak begitu bugar, sisa kegiatan selasa yang padat.
Pagi itu kita masih saling diam sisa ulahku malamnya. Aku yang tiba-tiba berulah tentang kita, kaget dengan responmu yang tak kuduga. Bukan respon yang aku harapkan. Sesungguhnya aku hanya meminta waktu ditengah kesibukanmu. Namun kau merespon seakan aku lelah. Aku tak lelah, aku tak akan lelah. Kamu adalah sosok yang tak pernah ku duga hadir ditengah kekalutanku tentang cinta dan perempuan. Bagaimana mungkin aku kan mudah lelah, mudah menyerah dengan sosok sepertimu yang mengingatkanku tentang makna sembuh. Tawamu, senyummu, ceriamu, luwesmu, yang memang tak selalu buatku adalah dambaan sempurna tentang sosok yang aku rindukan. Kau tiba-tiba mewarnai auraku yang suram. Kau berhasil meramaikan hari-hariku yang sering erat dengan sepi. Kau bukan hanya masuk ke duniaku, kau mengisi setiap pojoknya, menghiasnya, mewarnainya, dan meramaikannya. Aku tak lelah, tak pernah lelah tentangmu. Sampai saatnya tiba, aku akan berjuang untukmu. Kali ini aku tak akan mengalah bahkan kepada kelemahanku sendiri. Kali ini aku kan berjuang hingga benar-benar titik terakhir. Kali ini aku memiliki perasaan tak ingin kalah yang paling besar sepanjang sejarahku yang dapatku ingat. Jadi tentangmu aku tak akan lelah, aku tak akan menyerah.
Sialnya aku menemui respon yang tak aku duga seperti itu. Mungkin kau juga lelah dengan semua kepadatan aktifitasmu hingga keliru memaknai keluhku. Ternyata benar kau sedang tidak enak badan hingga pagi ini. Sialnya aku tak tahu tentang kondisimu malam hingga pagi ini. Yang aku tahu kau hanya belum membalas teks dariku yang berjajar panjang. Tak sepatahpun ada notifikasi favoritku masuk dari malam hingga siang ini, dan tetap saja aku tak mengetahui kondisimu.
Kita berada di titik yang sama, dalam radius kita hanya terpisah 20 meter namun dipisah susunan bata yang dilapisi semen dan cat. Namun aku tak sekalipun melihatmu hari itu sedari pagi. Tak pula aku mencarimu, aku masih saja menghargai keputusan kita untuk profesional saat di tempat ini. Bahkan disaat kegalutan seperti ini aku tetap menghargai itu. Aku menahan semua pertanyaan dan semua perasaanku tuk menunggu kabarmu sembari menitipkan beberapa pertanyaan penegas kegalutan dan kerinduan tentangmu dalam kolom chat kita.
Hingga kamu memberi kabar menjelang kita pergi takziah bahwa aku tidak salah, hanya saja kamu tidak tahu harus membalas apa, kamu menceritakan juga kondisimu yang sedang tidak baik-baik saja hingga tidak mood untuk membalas aku yang berulah sedari malam. Kamu menitipkan emoticon favoritku, saat itu aku percaya kita telah baik-baik saja. Seketika aku teriak tertahan karena sedang berada di dalam kelas. Mereka sadar sesuatu sedang terjadi padaku yang tak lagi mampu menahan senyum. Mereka berbisik tentang kondisiku yang sangat nyata secara visual sedang berbunga-bunga. Aku bisa mendengar mereka berbicara. Chat kita kembali penuh emot yang menghangatkan jiwaku. Aku berterimakasih kamu telah menerima kembali aku dalam harmoni frekuensi yang kita punya selama ini.
Akhirnya aku melihatmu untuk pertama kali di hari ini di teras rumah bu Ainal sedang mengikuti doa. Aku terlambat hadir dengan beberapa teman. Yang lain mencari kursi, aku mencarimu. Disana kamu duduk di teras sembari memegang gawaimu. Seketika aku membuka gawaiku, ya, ada notifikasi favoritku darimu. Aku senang melihatmu siang ini. Lebih senang dari sebelumnya, meski kau sibuk dengan gawaimu aku tetap memandangmu dari kursiku. Aku senang kita telah kembali pada simphoni yang sama seperti hari-hari sebelumnya.
Kita bubar, kau tetap tidak membatalkan puasamu, kau mempertahankannya, aku yang kagum. Siang itu kekagumanku terus bertumbuh tentangmu. Aku bisa melihat kelelahan diwajahmu saat kita menuju parkiran. Di parkiran, kamu berpamitan denganku dengan gestur gerak bibir sembari tersenyum, kau begitu menjaga profesionalitas kita di tempat ini, diantara mereka. Hatiku menjadi hangat dan penuh melihat gestur dan senyuman itu.
Kita kembali ke rumah masing-masing. Kamu mengantar temanmu terlebih dahulu yang sama sekali tak searah denganmu. Hal-hal kecil yang membuat aku semakin kagum dengan apa yang ada pada dirimu. Di rumah, kamu berkata ingin tidur karena ada jadwal mengajar lagi malam ini. Kamu begitu padat dengan jawal yang positif dan produktif. Muasal aku meminta waktu yang berujung perselisihan kita tadi malam. Padahal aku tahu akan kesibukanmu, namun tetap meminta waktu, dasar tidak tahu diri.
Aku menawarkan mengantar takjil untuk menemani buka puasamu. Kamu lagi-lagi menolak, kamu terlalu mandiri dalam masa pendekatan kita ini. Aku ingin sekali kau libatkan, kau minta tolong, bahkan kau repotkan sekalipun. Aku memaksa kali ini, dengan dalih kondisimu yang hari ini tidak fit, kali ini izinkan aku terlibat sedikit dalam aktivitasmu. Kau menyetujuinya, kau bilang kau ingin sop buah untuk bukaan sore ini. Hanya saja kau tidak lagi di rumah menjelang magrib. Kau sudah berada di tempat mengajar di jam segitu. Kita sepakat aku kan mengantarkan sop buah itu ke tempatmu mengajar. Sekali lagi kau menginginkan profesional kita di tempatmu mengajar. Aku mengamininya. Kau meminta aku menunggu di kedai kebab sebelah geungmu. Aku menolaknya, kali ini aku yang mengatur skema yang akan terjadi. Aku menjawab, “No. Biar aku yang atur kemana angin senja ini akan membawaku menunggumu”
Hingga aku mencari beberapa referensi dari mesin pintar itu tentang lokasimu dan lokasi sop buah terdekat yang memungkinkannya tetap dingin saat kau minum saat berbuka nanti. Aku menemukan satu kedai sop buah yang sangat dekat dengan tempatmu. Aku bergegas secepat mungkin menuju tempat itu berharap kita punya waktu tuk bertemu menjelang magrib. Hingga ini bukan hanya tentang aku mengantarkan takjil berbuka buatmu, namun aku ingin menikmati waktu yang ada denganmu. Kau seperti biasa tetap ingin profesional dengan menolah ajakanku untuk duduk. Namun setelah aku share lokasinya, dan jaraknya, kau pun setuju tuk mendatangiku.
Tempat ini tepat ditepi jalan, lebih dalam dari trotoar dibelakang sebuah halte trans kota ini. Jalan sore ini begitu ramai, mereka bergegas pulang dari kesibukannya. Sementara aku masih menunggu kehadiranmu dengan camera gawai yang selalu on. Motor berlalu lalang, tak juga motormu terlihat. Aku tak tahu kau hadir dari sisi mana, kau tiba-tiba muncul di parkiran. Aku tak ingiin mengabaikan momen ini. Momen bersamamu selalu aku nantikan, percayalah aku tak berlebihan.
Kau duduk di depanku. Tak seperti pasangan lain yang duduk bersebelahan aku lebih senang kau duduk di depanku, dengan itu aku bisa melihat seluruh raut dalam tiap tuturmu. Sore ini kita membahas kejadian semalam dari sisi lucunya, kita menertawakan apa yang sudah kita lewati, aku menceritakan penderitaanku dan apa yang aku lalui hari ini saat menunggu notifikasi darimu. Kita jarang sekali bertatap mata, kau tak begitu nyaman berbicara denganku sambil bertatapan mata. Kau sering melemparkan pandangan ke sisi kananmu, tempat abang abang sop buah melayani pembeli yang lain. Tak mengapa, kemanapun matamu saat kita ngobrol, mataku tetap ke arahmu.
Hingga akhirnya senja mengantakan kita pada magrib yang kau nanti tuk berbuka. Kau mengangkat kedua tanganmu berdoa. Disana aku semakin jatuh hati. Dalam doa keanggunanmu menjadi berlipat-lipat. Tangan mungilmu seakan menyerap energi semesta tuk masuk ke dalam aamiinmu. Kita menyantap sop buah dengan anggun. Sembari itu kita tetap ngobrol diiringi Adzan magrib yang seharusnya kita khidmat mendengarnya karena itu panggilan tuk menghadap-Nya. Sialnya aku lalai dan malah terus mengajakmu berbicara. Hingga diakhir adzan, kita sama-sama hening, kau kembali mengangkat tangan dan berdoa. Aku kembali tertegun melihat gestur itu. Aku pun berdoa.
Surya mulai bersembunyi setelahnya, membuat jalanan dekat kita semakin temaram. Aku selipkan sebuah pertanyaan yang selama ini tertahan, yang tak nyaman sama sekali jika kita bahas melalui kolom chat. Pertanyaan itu terjawab, kita berdiskusi sangat tenang dan dewasa. Kita sama-sama paham dan mengerti tentang apa yang sedang dijalani dan cara kerjanya. Hal ini membuatku tak lagi gundah tentang kita. Pertanyaan-pertanyaanku selama ini terjawab dengan sederhana dan jelas. Lagi—lagi aku kagum dengan sosokmu. Lagi-lagi aku mengingat-ingat sepanjang sejarahku belum pernah bertemu dengan wanita yang memiliki kepribadian dan pemikiran sepertimu. Nyatanya aku semakin nyaman bersamamu, yang membuatku tak akan menyerah tuk bersamamu. Kau adalah sosok yang akan aku perjuangkan hingga akhir ceirta bagaimanapun nanti. Jangan pernah lagi memintaku untuk menyerah, kecuali atas tiga hal yang memang menjadi prinsipku.
Akhirnya magrib tidak memberikan kita waktu berlama-lama disana. Kau memiliki agenda malam ini dan bergegas kembali ke gedungmu, sementara aku menuju mesjid terdekat mengikuti arahanmu yang lebih menguasai daerah ini. Aku tak berlama-lama melaksanakan shalat magrib dan bergeas pulang, aku pun telah dinantikan oleh temanku. Dalam perjalanan pulang aku mengulang-ulang dialog kita barusan.
“Sebenarnya, apa sih kita ini? Kamu selalu saja bilang profesional, takut mereka tahu. Emang kamu anggap kita apa?” tanyaku.
“bukannya laki-laki yang harusnya menentukan?” jawabmu
“Iya, nah itu yang aku juga bertanya-tanya, sebenarnya kita apa ya? Kita sudah sama-sama tahu, kamu tahu perasaanku. Kita sudah seintens ini dalam komunikasi. Tapi kadang kala aa pertanyaan apa memang seperti ini sistemnya hubungan orang dewasa? Gimana menurutmu?”
Kau menangkap kegagapanku dalam bertanya dan menyampaikan maksud.
“Kalau menurutku, aku ya, aku ga mau tuh pacaran-pacaran. Yaudah kita dekat sama-sama tahu, kita komunikasi saling kenal. Dari situ kita ngobrol nentuin arah kemana nanti. Kalau sudah sama-sama cocok dan siap ya bisa langsung menuju ke yang lebih serius. Di usia kita ga lagi lah untuk main-main, lebih ke yang serius aja. Jadi misal beberapa bulan kedepan kita lihat bagaimana kita, kita tahu apakan kita cocok dan lanjut atau ada perubahan perasaan” jawabmu
“tapi gimana dengan ikatannya? Apakah harus dipatenkan?” tanyaku.
“kita sama-sama tahu, sama-sama kita jaga dan kita jalani, ga perlu itu pacaran-pacaran”
“aku sepakat tentang itu. Bahkan benar-benar itu yang ada di kepalaku. Aku sangat nyaman mendengar kalimat ini darimu ternyata kita memiliki kesamaan fikiran tentang hubungan yang sekarang sedang kita jalani ini”
Begitulah kira-kira ringkasan obrolan kami sembari menikmati sop buah selepas adzan madrib tadi.
Kota panas yang menjelma sejuk dikala malam ini mengantarkan aku ke rumah dengan hati yang penuh dan hangat. Aku seperti menemukan tujuanku dan perjuanganku. Percayalah wanita ini tak akan aku sia-siakan. Akan aku perjuangkan dengan kapasitas terbaikku. Aku telah benar-benar jatuh pada sosoknya, dialah yang akan menjadi tujuan halalku. Dia telah merajai salah satu list doaku.
Batoh, menjelang magrib.
Rabu, 24 Juli 2024
















