Senin Pagi di Bulan September
Hai, apa kabar?
Semoga semua dalam keadaan sehat dan semua hal buruk segera usai. Hari ini, Senin pagi di bulan September, pekan terakhir, beberapa hari sebelum Oktober di tahun 2020. Saya kembali membuka blog di sini, aplikasi yang tidak terpikirkan untuk saya hapus meski sudah berbulan-bulan tidak dibuka.
Rasanya sudah sangat lama. Sudah hampir pula 1 tahun semenjak pandemi ini dimulai dan kita semua terkungkung rasa takut. Ada juga yang memilih untuk tidak percaya. Jika itu memberi rasa aman, why not? Tapi, saya sangat menyayangkan jika sudah tidak percaya dan tak mau mematuhi protokol. Kasihan, kasihan orang lain yang dirugikan di sini. Terkena imbas.
Mari kita hentikan, merutuki semua hal pro dan kontra juga tidak akan memberi dampak apa pun selama manusia tidak sepakat untuk bersatu dan mematuhinya. Bagaimanapun, insting saat manusia merasa terjepit dan terjebak akan memusnahkan kewarasan yang ada. Jadi, lebih baik berhenti memperdebatkannya.
Hari ini saya punya kewajiban mengedit sebuah naskah, tapi rasanya terlalu penat mengurusinya. (Psst...Alasan lain kenapa saya bisa sampai di sini dan mengetik sebuah posting tulisan hari ini.)
Ah, benar juga. Sudah banyak yang terjadi sepanjang tahun ini. Ada dua buku juga yang saya punya tahun ini, meski sudah berjanji tidak akan ikutan event berbayar. Dan sepertinya, saya akan menguat diri untuk mencari modal menerbitkan karya di penerbit indie. Jika kalian menemukan tulisan ini, doakan, semoga saat itu, buku solo saya sudah terbit.
Terakhir, semua semua hal buruk segera berubah menjadi baik. Mungkin juga, hal yang terjadi saat ini adalah bahan renungan kita semua.
Bukankah manusia sudah semakin kelewat egois akhir-akhir ini?
—Crescent
[Kota Mati_20September28_05:32_Crescent]
















