Hening malam saat itu. Aku sedang duduk berdiam diri setelah penat melakukan segala aktivitas. Sesekali kumainkan handpone hanya untuk mengecek hal-hal yang tak penting. Berharap mendapat notifikasi dari sebuah nama, namun yang ku dapat hanya ketiadaan. Kembali ku tarik nafas “yaaa.. Aku merindukannya” ucapku dalam hati
Pintu kamarku saat itu sedikit terbuka. Tiba-tiba seseorang dengan sangat lancang masuk ke kamarku. Lelaki itu memakai jeans hitam, jaket hitam, helm fullface berwarna hitam yang menutup penuh wajahnya hingga tak terlihat sama sekali. Kemudian duduk didepanku dan melebarkan tangannya sebagai bentuk agar segera ku peluk
Sejenak aku terdiam, kaget, dan penuh tanya. Ku pandang sorot matanya, lalu ku lihat sepatunya. Seketika hatiku berdebar, aku tau siapa dia. Dan untuk pertama kalinya, hening malam saat itu membawaku pada kebahagiaan
“Kenapa nggak bilang-bilang mau kesini” tanyaku girang sambil tak sabar melepaskan helmnya. Setelah terlepas, dia menatap penuh pada mataku sambil tersenyum dan berkata “Sengaja aku nggak bilang kamu, biar kamu kaget” lalu tertawa dengan polosnya.
Yaaa.. Dia adalah senyum manis dengan lesung pipi dan gigi gingsulnya yang khas, dia adalah sebuah nama pada notifikasi yang selalu ku harapkan, dia adalah apa yang selalu ku ingat. Sikapnya selalu menjengkelkan. Tapi itu sungguh ku rindukan.
Ku cubit lengan kanannya, dan ku bilang “kesal”. Ku salami tangannya kemudian ku genggam. Ku tatap kembali dengan penuh rasa bahagia. “Aku kangeeennnnnn” merengek dengan nada manja. Dia melepas tanganku dan langsung membelai rambut “Aku juga kangen sama kamu, makannya aku nemuin kamu”.
Dia memeluk erat. Saat itu aku ingin menangis. Terharu bahagia. Sayangnya aku tak bisa, mungkin karna terlalu bahagia. Jadi yang ku ingin saat itu hanya menikmati pelukan rindunya.
Peluknya adalah dekap paling nyaman yang selalu ku rindukan. Dalam dekapnya malam itu, aku dapat mendengar lagi debar jantungnya, aku dapat mencium lagi aroma tubuhnya, aku dapat merasakan lagi sentuhan hangat dari kedua tangannya. Dan pada malam itu, aku merasa aku menjadi yang terbaik karna menjadi tempat pulang yang ia tuju saat ia merasa lelah
Terlalu cukup lama berada dalam dekapnya. Kuangkat kepalaku dan kupandang wajahnya. Kulihat mata sayu nya merah dan sedikit membengkak. “Matamu kenapa?” Tanyaku sedikit khawatir. “Iyaa… gatau udah beberapa hari sakit mata” jawabnya. Tak banyak perbincangan kita tentang mata. Aku hanya menyuruh agar besok matanya segera diobati. Dia hanya meng-iyakan apa yang ku ucap sambil tersenyum.
Ku sentuh bajunya yang basah oleh keringat. Maklum saja, mungkin ia kecapean karna pulang kerja langsung melakukan perjalanan yang cukup jauh menuju kesini. Ditambah kondisi badannya yang mungkin kurang sehat. Ku suruh dia mandi dan segera ganti baju.
Selesai mandi ia langsung menemuiku lagi. Masih menggunakan jeans hitam, hanya T'shirt nya yang diganti. Kali ini ia memakai T'shirt polos berwarna putih. Sekarang ia terlihat lebih segar, apalagi rambutnya yang masih basah.
Ku pandangi dia yang sedang membereskan rambutnya didepan cermin. “Kamu kok jadi kurusan?” Tanyaku agak sedih. Dia duduk disampingku dan menjawab “Sekarang aku sibuk.. Jadi jarang makan. Kerjaan disana nggak kaya disini. Kalo disini bisa nyantai disana mah engga. Kadang aku suka lupa makan”
Sebenarnya tanpa perlu dijelaskan aku juga sudah cukup mengerti bagaimana kesibukannya disana. Aku berpesan “sesibuk apapun kamu disana, jangan lupa makan, jangan ngebiarin telat makan. Aku gak mau kamu jadi kurusan” dengan sedih dan kusandarkan kepala di bahunya.
Dia menggenggam tanganku dengan sesekali mengusap punggung tanganku. Dia bertanya “Udah berapa lama kita ngga ketemu, aku kangen banget sama kamu.
Kita saling mengucap rindu. Kerinduan pada malam itu adalah milik kita yang pernah saling melupa. Milik kita yang pernah saling menjauh. Milik kita yang pernah pura-pura tidak peduli sama sekali.
Rindu malam itu, rindu paling istimewa yang telah mampu mengalahkan masing-masing ego dan juga rasa canggung yang sempat ada ditengah jarak yang kita buat.
Malam itu, aku ingin menghabiskan rinduku hanya bersamanya. Tanpa dia tinggalkan sedetikpun. Tanpa kulepas dia sedikitpun.
Genggamannya tetap menghangatkan. Yaaa… Aku membutuhkannya setelah dingin diantara kita saling membekukan hati masing-masing dan membuatnya menggigil kesepian. Aku membutuhkannya untuk menguatkan semangat dan harapanku di esok hari.
Tanganku masih berada dalam genggaman tangannya. “Kukunya udah mulai panjang, aku potongin ya. Mana gunting kukunya?” tanyanya.
Seolah dia pun sudah tau sendiri letaknya tanpa harus ku tunjukan. Dia mencari-cari diatas meja dikamarku. Tak lama mencari, gunting kuku itu ia temukan dan langsung memotong kuku ku yang mulai memanjang. “Kuku kamu pada bulet kependekan, kamu kalo motong kuku jangan dibiasain terlalu pendek, nanti ujung kuku kamu itu sakit.” “Nggak sakit ko, mana sini giliran tanganmu” kataku. “Awas hati-hati jangan kependekan ! Gak boleh sembarangan kalo motongin kuku pemain gitar, bahaya…” selalu dengan senyum dan tawa kecilnya. “Aaaaaahhh ogoannnn !!!” Ku balas dengan bahasa sunda yang artinya ‘sedikit manja’.
“Gimana kerja nya hari ini? Lancar? Cape?” Tanyanya lagi dengan senyum manis yang tak hentinya pada malam itu.
Entah kenapa aku memang merasa malam itu ia begitu berbeda. Sikapnya memang sudah lembut dari dulu. Tapi kelembutannya malam itu sangat berbeda dari waktu-waktu yang pernah kita lalui bersama sebelumnya. Aku merasa kebaikannya sangat sempurna pada malam itu. Sekali lagi ku ucapkan. Dia telah berhasil membuatku jatuh hati untuk kesekian kalinya.
Malam itu dia juga ucapkan, bahwa seutuhnya malam itu dia adalah untukku, dan seluruh rindu adalah milikku. Hingga kuhabiskan malam dengan bersandar nyaman pada peluknya. Ku bilang “Kamu besok-besok jangan pergi lagi”. Sempat dia tanyakan “kenapa?” Ku bilang “Karna aku gak pernah mau kehilangan kamu lagi”. Kembali dengan senyumnya waktu itu. Meski senyum pada saat itu adalah sebuah teka-teki yang tak bisa ku baca. Entah senyum persetujuan atau sebuah penolakan pada ‘kehilangan’ yang tidak pernah aku inginkan.
Esok paginya aku membuka mata dengan kehadirannya. Aku menemukannya dalam tatapan pertama mataku pada pagi itu. Kuangkat kepala yang bersandar nyaman diatas dadanya. Kupindahkan tangannya yang masih merangkul erat pundakku dengan jemari yang berada diantara helaian rambutku.
Kutatap ia yang masuh tertidur pulas pagi itu. Kulitnya yang putih dengan T'shirt polos berwarna putih, dan rambut pirangnya yang sedikit berponi, terlihat sangat manis dan mendamaikan.
Dia selalu terlihat lebih dan lebih indah dari semua yang pernah ku pandang. Mungkin karna aku telah menggilainya segila ini.
“Hey, bangun !!!” Ku tepuk-tepuk pipinya. Dia membuka mata. Membalikan badan ke samping dan menghadap ke arahku. Mengangkat tangannya dan kembali membelai lembut lagi rambutku, kemudian memejamkan mata lagi. Kembali ku tepuk-tepuk, kali ini pada punggungnya. “Bangunn, ini udah siang. Katanya harus berangkat pagi-pagi”. Dia segera bangun mengangkat tubuhnya kemudian duduk, mengambil jam tangan disampingnya dan melihat jam. Dia menatapku, “Aku siap-siap dulu ya..” “Iya” ku jawab.
Dia membereskan semua barang-barangnya dan kemudian bersiap-siap. Sejenak aku terdiam “Yaaa… kali ini aku harus siap ditinggalkannya lagi. Bisakah ia kembali? Temui rinduku lagi? Atau setelah hari ini, aku akan benar-benar kehilangannya? Bisakah aku abadi dalam hari ini saja? Aku tak mau ia pergi lagi” ku ucap berkali-kali dalam pikirku.
Tak lama ia kembali dengan pakaian yang sudah siap lengkap dengan jaketnya. Menghampiriku dan duduk dihadapanku. “Mau sarapan dulu?” Ucapku memecah keheningan. “Gausah nanti aja kalo udah sampe sana aku pasti langsung makan” jawabnya.
Masih dengan tatapan yang mendalam. Rasanya lebih menyakitkan dari perpisahan sebelumnya. Aku tak ingin melepaskannya pada hari itu. Membiarkan ia pergi, aku takut pada kehilangan. Aku takut akhirnya ia melupa. Tak ada yang bisa kulakukan. Dia punya jalan hidupnya sendiri.
"Hati-hati dijalan nya ya. Gausah ngebut. Jangan seredeg juga. Selamat sampai tujuan. Mamahnya cepet sembuh ya ! Terus nanti kamu harus janji bakalan sering-sering kesini. Bakalan sering-sering nyamperin aku. Gak boleh lupa sama aku. Kuliahnya yang rajin. Jangan nakal-nakal lagi." Pintaku dengan panjang lebar. "Iya, kamu juga sehat terus disini ya" jawabnya. "Iya pasti." "Aku berangkat dulu ya" dia menyodorkan tangan untuk bersalaman. Ku salami tangannya dan kucium punggung tangannya. Perlahan ku lepaskan. Ia hanya memandang. "Gak ada Goodbye Kiss dulu?" Tanyaku dengan malu-malu. Diapun langsung mengerti. Yaa.. dia sudah tau bahwa aku sabgat menyukai ciuman di kening. Entah merasa aku selalu merasa terjaga saat ia mencium keningku. Lebih dari apapun aku merasa sangat bahagia dan disayangi. Dia mendekat padaku, membungkuk dan mencium keningku lembut dengan tangannya yang merangkul mesra kepala dan membelai rambutku "Aku pergi ya" ucapnya.
Dengan sangat terpaksa akupun harus melepas kepergiannya. Saat itu, aku merasa ragu, "Akankah ia kembali lagi?" Aku merasa aku memang akan kehilangannya. Padahal saat saat itu, adalah bahagia terbesar yang kurasakan saat bersamanya. Dan ciuman itu, adalah ciuman terakhir yang membuatku sangat terjaga.
Dia pun beranjak keluar dan mengambil tas nya lalu turun ke bawah dan mengeluarkan motor. Akupun menemaninya didepan sampai ia berangkat. Masih teringat jelas bagaimana senyum perpisahan pada saat itu. Ia kembali menoleh dan melambaikan tangan. Akupun melihat kepergiannya sampai ia menghilang dan tak terlihat jangkauan mata. Ini adalah perpisahan hangat untuk kedua kalinya. Aku kembali ke kamar dengan berjalan sangat hampa tanpa hadirnya. Mengingat betapa indah waktu-waktu bersamanya. Bagiku, semua tentangnya akan selalu indah. Dan akan selalu tumbuh dengan hangat dalam hati dan ingatan.