Lemantun : Aku adalah Ibu
Menjadi Ibu dari kelima anak yang dititipkan Tuhan dikehidupanku saat ini adalah hal yang sangat aku syukuri. Anak - anak yang kubesarkan dengan cinta dan kasih sayang, kini telah berhasil dalam hidupnya, segala daya dan upaya sudah aku dan suamiku lakukan demi kesuksesan mereka.
Hari ini mereka berkumpul karena ada hal yang hendak aku berikan untuk mereka. Sebuah warisan, bukan tanah, bukan juga rumah, tetapi lemari. Ya lemari, aku dan suamiku membeli satu lemari setiap kelahiran anak kami, dan lemari ini yang menjadi kenangan akan mereka bawa ke rumah mereka masing-masing.
Dari kelima anakku, satu anak yang selalu mendampingiku semenjak berpulangnya suamiku, tidak pernah sedetikpun Tri meninggalkanku sendirian, dia selalu siaga kapanpun dibutuhkan. Tri, anak tengahku, walaupun dia tidak kuliah sampai jenjang pendidikan tertinggi seperti kakak dan adiknya, namun dia memiliki perilaku yang sangat baik. Dia selalu hadir untuk memberikan bantuan kepada siapapun apalagi saudara kandungnya sendiri.
Ketika aku meminta mereka membawa lemari itu sekarang juga, sebenarnya itu bukan hal yang benar-benar aku inginkan, entah kapan setelah lemari itu dibawa, mereka akan kembali berkumpul seperti hari ini.
Denda yang kulontarkan ternyata membuat mereka takut, padahal aku hanya ingin melihat sampai seberapa ketulusan mereka, namun mereka enggan untuk membayar denda, sehingga mereka terburu-buru membawa semua lemari tersebut.
Hanya tinggal Tri dan lemari kepunyaannya yang menemaniku saat ini, ketika Tri hendak membawa keluar lemari itu, aku melarangnya, Tri tidak mempunyai rumah seperti saudara - saudarinya, aku membiarkan lemari itu tetap ada di rumah ini, untuk dipergunakan oleh Tri.
Tri, terimakasih nak, kamu rela mengorbankan kebahagiaan kamu, cita-citamu hanya untuk menemani ibu.