Pohon Anggur
"Uti, anggurnya sudah berbuah," kata Nana pagi ini.
Beberapa bulan lalu di tahun ini, ibuku menanam bibit anggur di halaman belakang. Pagi tadi, "bayi anggur" (kata Nana) sudah muncul! Semoga dia bisa berbuah dengan baik.
RMH
Misplaced Lens Cap
trying on a metaphor

izzy's playlists!
NASA
h

JBB: An Artblog!
"I'm Dorothy Gale from Kansas"

Andulka
hello vonnie
Show & Tell

No title available

No title available
YOU ARE THE REASON

祝日 / Permanent Vacation
Alisa U Zemlji Chuda

⁂
noise dept.
Sade Olutola

Discoholic 🪩

seen from United States

seen from United States

seen from United Arab Emirates
seen from Australia
seen from Mexico

seen from Singapore
seen from India

seen from Türkiye
seen from Brazil

seen from United States
seen from United States
seen from Austria
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United Kingdom

seen from Germany

seen from Germany
seen from Kyrgyzstan
seen from Malaysia
@dailychaty
Pohon Anggur
"Uti, anggurnya sudah berbuah," kata Nana pagi ini.
Beberapa bulan lalu di tahun ini, ibuku menanam bibit anggur di halaman belakang. Pagi tadi, "bayi anggur" (kata Nana) sudah muncul! Semoga dia bisa berbuah dengan baik.
Setting Up for Online Class
This is what my *tiny* desk usually looks like everytime I became MC/Moderator for online classes/webinars.
Today, I'm co-moderatoring a class about building a Landing Page. This class is a part of Full-Stack Digital Marketing Bootcamp by Belajarlagi.
My thronmax mic is at the ready, with a wired headset attached, a laptop, two big books to support the laptop (haha!), a tumbler of water, and a mouse.
I am always excited everytime I become a moderator, because anything can happen during live class. There is always new insight and additional perspective everytime.
Blog Project
Yesterday, I submitted my two blog projects (including this one!) to the Domestika course that I bought.
I found myself constantly worrying over what I have to write on the blog. I wanted it to be extraordinary for a long time. I wanted the reader to have impressions and showcase my so-called "persona" on the web, and hopefully land a job as content writer or becoming an influencer.
That is, until recently, I started to write freely. I started to write as myself, telling stories to a good friend.
I remember my first blog (it was called chatygirl.blogspot.com): it was fun, no formula, purely by heart, and yet it was satisfying and I can recall some of its contents actually brought up conversations and discussions along the way.
It all started to go into different direction when I focused too much on the "online image" that I'm trying to create. I focused more on applying the theory to "give the best value to your customer" but the purpose is solely to gain more exposure and, yeah, money. I went from being that friend who told stories to share excitement and life experience with my friend, into an expert of something who told people this is the ideal way to do anything.
Not the entire time, though.
Sometimes I was back becoming "that friend", sometimes I became that expert again.
But I will commit to show more of that friend side of me into whatever work I'm doing. What I write doesn't have to be perfect (it might be full of flaws and people are welcomed to give comments and criticize). It just have to be done with the spirit of sharing something valuable to a good friend. Aaanyway, please pay a visit to my other blog: ceritachaty.com
Thank you :)
Les Journaling kemarin!
Meskipun aku ga yakin bisa stand by dari awal sampai akhir di Les Journaling terakhir bulan ini, ternyata aku bisa! Nana tidur lebih awal, dan 30 menit sebelum ruang zoom dibuka, aku sudah bisa menyiapkan HP, headset bluetooth dan tentunya buku journal.
Materi kali ini adalah tentang meningkatkan fokus dengan journaling. Whew, much needed, huh?
Kak Gris menyebutkan kuadran atau tipe distraksi: annoying & fun x no control & have control (maybe I should draw this one?) buat bantu kita sorting apa aja hal yang bikin lost focus -- dan in the end ngebantu kita buat tahu mana aja hal yang perlu kita fokusin.
What do you think?
Firman drove into a fancy restaurant near Borobudur Temple. We decided to visit this local diner last weekend. It was, well, quite fancy for us but certainly had the best plants and furniture for the customers. We sat at the outside corner and work. It was fun.
Puisi Lama
View On WordPress
Aku duduk selonjor di teras. Azka memandang kosong ke depan, dengan kaki-kaki terselip di antara sekat pagar. Boni bersila di kursi. Firman dan Om Bai sudah tiba di penginapan kami jam 9.
Mereka meminta maaf karena bangun terlambat hingga tidak bisa datang pagi sekali seperti yang dijanjikan semalam. Kami buru-buru berkata bahwa hal itu bukanlah jadi masalah. Morinda memberikan kami sambutan meriah di pagi hari.
Sebenarnya, pagi itu aku pertama terbangun oleh cicit burung liar. Saat itu, aku adalah pekerja 8-to-5 yang hidup sendiri, sehingga tubuhku sudah terbiasa mengatur dirinya bangun jam setengah-5 untuk salat subuh. Di luar masih gelap ketika aku beranjak dari tempat tidur, tersandung sudut meja kecil di bawah sakelar, meraba-raba tembok untuk menyalakan lampu kamar mandi dan berwudhu. Perlu waktu cukup lama untuk mengatur posisi salat dan sedikit berdoa.
Aku tak bisa tidur lagi setelah salat, aneh, dan memutuskan menunggu sampai ada tanda-tanda matahari naik sedikit, lalu keluar duduk di teras. Kamar kami ternyata menempel di lereng bukit dengan jendela dan pintu teras membelakangi jalan utama.
Sesaat aku terenyak melihat pemandangan di depanku, mengucek mata sedikit untuk membersihkan sisa kotoran di sana, dan duduk di lantai kayu. Indah sekali! Matahari masih dalam perjalanan naik, kabut masih bergerak lambat dari bukit di sebelah kiriku. Tepat di bawah depan kamar kami adalah sungai yang kanan-kirinya rumput hijau. Sungai itu berkelok malas jauh dari penginapan kami. Samar-samar, dari jauh bawah, aku mendengar suara sapi (“Moo!”) dan ayam-ayam beserta rentetan percakapan Bahasa Sumba.
“Wow,” aku berkali-kali mendesah dan tersenyum. Mengambil napas panjang, aku tambah tersenyum dan mengeluarkannya pelan-pelan, seolah sulit melepas segarnya udara yang kuhirup pagi itu.
Aku bangunkan kedua temanku, yang rupanya sudah terbangun sendiri, dan kami bertiga sejenak hilang dalam kebisuan di teras. Malam yang penuh bintang, sangat gelap, rupanya menyembunyikan keelokan pemandangan di sini! Karena itulah kami betah berlama-lama, sekalipun tetap menggerundel kelaparan ketika sarapan belum tersaji. Villa Morinda dikelilingi bentangalam yang indah.
Kurasa, kami bangun terlalu pagi.
Photo: ©Azka Sumba, 4 Maret 2017
Morinda di Sumba Timur Aku duduk selonjor di teras. Azka memandang kosong ke depan, dengan kaki-kaki terselip di antara sekat pagar.
Another notable difference between these fables and their Muggle counterparts is that Beedle’s witches are much more active in seeking their fortunes than our fairy-tale heroines. Asha, Altheda, Amata and Babbitty Rabbitty are all witches who take their fate into their own hands, rather than taking a prolonged nap or waiting for someone to return a lost shoe.
J.K. Rowling on the introduction of The Tales of Beedle The Bard; comparing the content of Beedle’s stories with our childhood princess fairytales.
Hear Kids' Honest Opinions on Being a Boy or Girl Around the World | Nat...
(via What we wouldn’t have without Slytherins - Pottermore)
“A world without Slytherins would be a very empty place indeed.“
Yes, I am still a Harry Potter girl in the weekend and beyond!
To everyone who has made it through the hard times.. Remember that you are not alone.
Tulisan 7: Bahasa
Suatu hari, saya membuka instastory Azka dan menemukan video yang ia rekam ketika makan siang di kantin dekat kantornya: ketiga temannya menatap hape masing-masing dan tulisan “Kids jaman now” muncul di bagian tengah-bawah video. Itulah pertama kalinya saya mengenal istilah ini.
Ternyata, istilah itu cukup populer (membuktikan kalau saya lumayan gaul juga!) digunakan dalam percakapan sehari-hari, baik sebagai pujian maupun sindiran saat seseorang merujuk pada tingkah laku anak-anak zaman sekarang. Seperti main hape sendiri saat berkumpul bersama orang-orang lain, memajang foto dengan “tampilan” lebih dewasa daripada umur asli, dan sejenisnya.
Kids jaman now, secara tersirat juga mengisahkan suatu istilah populer yang dihasilkan dari budaya populer saat ini, yaitu mencampur-campur bahasa saat bicara. Suatu kebiasaan yang makin sering kita lakukan tanpa sadar nowadays, tapi actually dia nggak benar dan nggak salah, sih. Sounds wasis bianget ya? Hahaha.
Dua hari lalu, saya menghadiri acara keluarga di luar kota. Saat waktunya makan, saya duduk di ruang depan bersama dua nenek di sebelah kiri. Datanglah dua anak laki-laki, si kakak berumur sekitar 5 tahun dan adiknya berumur sekitar 1 tahun. Ia berlari ke arah Sang Nenek untuk minta rambutan. Saya memperhatikannya berinteraksi, dan, tebaklah, saya terkejut. Mereka berinteraksi menggunakan bahasa Inggris! We-o-we. Wow. He even argued with his grandmother using English. I kept watching and to another surprise, his grandma spoke to his little brother in English, too! To some point, I’m pretty certain they could not speak Bahasa Indonesia at all. Kenapa jadi keterusan pakai bahasa Inggris -_-’
Ibu mereka rupanya sedang belajar di salah satu universitas di benua Australia, tinggal di sana bersama sang ayah, dan anak-anaknya diasuh grandma.
Hmm. Entah kenapa ada perasaan menggelitik di diri saya. Eh, apa ya istilahnya, perasaan gimana gitu, hmm, saya juga bingung.
Sayapun bertanya kepada diri saya sendiri, “Ada yang salah, Chat?”
Tidak, tidak. Tidak ada yang salah samasekali dengan anak Indonesia yang berinteraksi dengan bahasa Inggris sedari kecil. Tidak, bukan itu. Bukan.
Bukan? Yakin?
Tidak, memang tidak ada yang salah. Saya hanya merasa ada yang mengganjal. Maklum saya termasuk generasi 90-an, yang secara kebetulan menghabiskan masa kecil di desa, di SD inpres yang temboknya lumutan dan dihuni pengidap skizofrenia, dimana baru dapat pelajaran Bahasa Inggris kelas 5 SD (atau kelas 6 ya?) sebatas ABC, fruits and vegetables. Jauh sekali dengan anak SD jaman sekarang yang sudah dikenalkan bahasa internasional itu sejak dini, seiring dengan majunya teknologi untuk memperoleh informasi dari berbagai belahan dunia. Dan juga jauh sekali dari anak yang belum SD yang lebih lancar berkomunikasi dengan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia.
Tetapi, dalam hati terdalam dalam dalam dalam, saya berharap anak saya kelak fasih berbahasa Indonesia lebih dulu daripada bahasa-bahasa lainnya (yang tidak kalah penting untuk dipelajari juga).
Sumber: https://www.kompasiana.com/thobi-ora/aku-cinta-bahasa-indonesia_54f5d761a333112b1f8b4698
Baiklah, cukup sekian. Besok disambung lagi.
Random Note #3 : Wrong
I was thinking, what is wrong with me. I was thinking about that over and over, I cannot sleep comfortably for weeks and hardly smile during the day. I was isolating myself, pushing myself to work harder, and keep telling that I could do better than this.
It turns out, there is nothing wrong with me. There is nothing wrong with being wrong. The wrong thing is thinking that we should not do anything wrong. Hey, we’re humans, not angels.
So now I can just sleep peacefully *yawn.
TEDxOrangeCoast - Daniel Amen - Change Your Brain, Change Your Life
Tulisan 6 - Carpe Diem
“Rugi, Mam, rugi, hidup satu kali kok lekas-lekas dewasa. Carpe diem, begitu orang Romawi antik bilang. Ini bukan bahasa Belanda tetapi bahasa Latin, jadi diizinkan Darma Perempuan, artinya, petiklah hari, nhoooooh, puitis, bukan? Petiklah hari! Nikmatilah saat! Jangan pikir hari esok! Kemarin ataupun esok punya soal sendiri-sendiri dan penyelesaiannya sendiri-sendiri juga, maka petiklah hari, carpe diem. Hidup bisa awet muda, Mam.”*)
Begitu kata Neti, tokoh perempuan dalam novel Burung-burung Rantau, kepada ibunya, yang seperti ibu-ibu lainnya (dan mungkin kelak saya dan kamu, kita juga akan begini) selalu khawatir akan pilihan yang dibuat sang anak.
Di ujung hari, kadang saya mengira waktu begitu cepat berlalu, setelah bertemu teman-teman yang lama tidak berjumpa, berbincang tentang hal-hal yang menyenangkan. Saya mengira waktu begitu cepat berlalu, ketika saya kembali pulang setelah bekerja. Saya mengira waktu begitu cepat berlalu, ketika saya menyaksikan matahari terbenam di gunung atau laut atau bahkan kota yang bising. Saya mengira waktu sangat cepat berlalu, saat saya menulis tulisan ini dan teringat perjalanan-perjalanan yang dulu, yang muncul lagi di pikiran saya tanpa bisa ditolak.
Saat dimana saya merasa waktu begitu cepat berlalu adalah ketika hari saya jalani dengan nyaman. Bukan berarti semua serba nyaman, tetapi nyaman dalam arti saya berada di sana, pada momen itu. Istilah Inggris-nya, being present. Seperti ketika satu waktu saya menjalani apa yang saya kerjakan tanpa khawatir dengan dering-dering notifikasi dari HP. Sebenarnya saya tidak senang-senang amat, apalagi mengerjakan tugas kuliah yang kadang revisi revisi revisi terus itu. Tetapi saya jalani tanpa ada keluh kesah berarti, suatu waktu, dan semua baik-baik saja.
Di ujung hari...dimana saya di ujung hari-hari lainnya ya? Di sebelah sini, di sebelah situ, di gunung, di laut, di kantor, di kampus, di kos, di dalam air, di daratan, di rumah, di rumah sakit, di rumah orang, di jalan, di angkot, di kereta, di warung makan. Sehat, sakit, marah, sedih, bahagia, bingung, lelah, bersemangat. Lalu semua itu membuat saya tersenyum dan bersyukur, ah, rupanya Tuhan sungguh baik membiarkan semua berlalu sehingga saya masih hidup sampai hari ini. Rupanya, Tuhan mencoba memberi tahu saya, bahwa saya berharga, makanya saya masih hidup. Yang sudah pergi pun tak kalah berharganya, ketika mereka sudah pernah hidup dan menghidupi dunia.
Jadi ingat untuk sayang sama diri sendiri.
Dah, hari-hari lalu! Jadilah kenang-kenangan yang manis untuk hidup saya, ya. Ada penyesalan dan ada kepuasan, itu wajar, semua saya terima. Sementara, masa depan masih misteri, jadi saya hanya bisa melakukan yang terbaik sesuai kemampuan jasmani dan rohani, mental dan fisik. Good things come with time.
Lalu saya mengerti di ujung hari, apa itu carpe diem, setelah mengamini dan menghayati kata-kata Master Oogway di Kungfu Panda: “Tomorrow is a mystery, yesterday is a history, and today is a gift. That’s why it is called present.”
Nikmati momen, melamunlah sekali-sekali, tertawai diri sendiri sering-sering.
*) dikutip dari novel Burung-burung Rantau karya Y.B. Mangunwijaya
Tulisan 5 - 20 Jam
Saya membuka youtube, dan tiba-tiba ada saran untuk melihat video ini.
Wah, menarik sepertinya! Meluangkan waktu sekitar 40-45 menit sehari dalam sebulan bisa membantu kita mempelajari hal baru, seperti bermain ukulele (kayak Mas Josh di video itu), bahasa Rusia, Yoga, dan...menulis. Mungkin itu gunanya challenge yang ada di luar sana ya.
Dan mengingatkan untuk mengurangi tidur larut malam, melembur tugas-tugas atau pekerjaan bagi para pekerja dimanapun kalian berada. Kesehatan dan kebahagiaan kita penting :-D
Tulisan 4 - Berenang
Akhirnya saya berolahraga pagi!
Hari Sabtu kemarin, saya berenang di kolam renang kecamatan sebelah bersama Danik. Kami bertemu di parkiran jam 7 pagi. Ternyata, ramainya minta ampun! Parkiran padat sekali. Masih ada ruang yang kosong buat sepeda motor di bagian dalaaam parkiran, tapi motor-motor di jalan masuk menghalangi pendatang baru untuk mencapainya. Sayapun harus menumpang parkir di sebelah warung sop senerek (kacang merah).
Dengan sopan, saya meminta izin kepada bapak tukang parkir untuk menitipkan sepeda motor untuk kemudian berenang. Si Bapak tersenyum dan membolehkan saya parkir. Yes! Boleh dikunci stang, Pak? Tanya saya.
“Dikunci stang aja, Mbak. Kuncinya dibawa aja,”
Saya pause sebentar untuk mencerna kalimatnya. Kemudian tertawa, “Oke Pak, terima kasih!” dan bergegas ke pintu masuk kolam renang untuk bersatu bersama Danik, karena bersatu kita teguh! (Dan tidak lupa membawa kunci motor saya. Hahaha)
Kolam renang hari itu dipenuhi murid-murid SMP, SD dan TK yang memang sedang ada pelajaran berenang. Anak-anak TK beserta orang tua mereka memenuhi kolam superdangkal yang letaknya agak lebih tinggi dari kolam renang utama. Kolam renang utama terdiri atas dua bagian yang sebenarnya tidak terpisah, hanya dibatasi perbedaan kedalaman: 1 meter dan 3 meter (atau 4 meter ya?). Kolam dalam lebih panjang daripada kolam dangkal, dan biasanya sepi peminat. Tetapi hari itu, setiap pinggirnya penuh.
Air kolam renang ini dingiiiiin sekali. Di to the ngin. Seperti air mata air pegunungan, tapi bedanya ini di kota, berkaporit, dan bau karena kaporit sudah bercampur dengan amonia (uhuk). Saya dan Danik mencelupkan diri selama beberapa saat sebelum menendang tembok kolam dan wus, kami berenang gaya katak.
Saya bergerak santai melintas lebar kolam untuk pemanasan. Tiba-tiba, jdak! Satu perenang yang bergerak cepat dari arah kanan saya menabrak saya. Dia melintas dengan kecepatan Michael Phelps, makanya mungkin tidak melihat ada perenang di depannya. Saya berhenti sebentar dan melanjutkan gaya katak bangun tidur sampai ke ujung.
Menyadari bahaya tabrakan yang lainnya, yang bisa-bisa berujung kenalan, saya dan Danik menunggu saat yang tepat untuk bergerak. Sungguh, penuh!
Setelah beberapa lama, saya bersandar di sisi kolam renang yang tidak penuh. Seorang perempuan bertanya kepada saya, sekarang jam berapa? Saya tidak tahu karena tidak bisa melihat jam besar yang bergantung di atas tembok ruang ganti di ujung sana. “Wah maaf Bu, saya rabun jauh.”
Sayapun bertanya kepada seorang perempuan yang sudah berumur, yang duduk di atas tempat orang biasa lompat sebelum lomba berenang.
“Sekarang jam berapa ya Bu?”
Ia menggulung lengan bajunya, “Wah, saya tidak bawa jam tangan. Tapi jam di sana sih jam 9. Kenapa? Kamu sudah dinilai belum?”
Saya bingung, tapi tetap berterima kasih atas jawabannya. Seorang laki-laki datang ke arah Ibu itu, “Bu, saya habis ini ya!”
Dan mengertilah saya. Ibu itu mengira saya muridnya. Murid SMP. Woaow hahaha. Ketika ia bertanya lagi, saya menjelaskan bahwa saya tidak ikut penilaian. Entahlah ibu itu menganggap saya murid SMP lain atau saya pengunjung biasa seperti perempuan di sebelah saya.
Selesai berenang, biasanya ada warung soto yang buka di dalam kolam renang. Sayangnya, ibu soto belum siap melayani pelanggan saat kami selesai berbilas. Jadi kamipun keluar komplek kolam renang, dan makan sop senerek di tempat saya menitip sepeda motor. Hanya saya sih, yang makan, karena Danik puasa. Curang ya. Iya.
Hari yang indah. Setelah sekian lama, saya olahraga di pagi hari untuk pertama kali. Melihat dan menghidup udara pagi, terasa menyenangkan. Untuk pertama kali setelah sekian lama, saya merasa lebih hidup. Tidak perlu jauh-jauh ke gunung, cukup keluar rumah.
And above all, watch with glittering eyes the whole world around you because the greatest secrets are always hidden in the most unlikely places. Those who don't believe in magic will never find it. -- Road Dahl
Sekian cerita kali ini. Semoga bisa menghibur hari kalian!