The Worst Day Ever
As a Mom and Daughter.
Hari ini hari Sabtu.
Sejak Sabtu lalu, anakku sakit. Batuk pilek dan demam, yang pasti semua Ibu tau kalau anak sakit, Ibu sudah dipastikan tidak punya waktu istirahat.
Setiap jam cuma periksa Thermometer, cek suhu. Gendong sana, gendong sini. Menenangkan saat rewel. Membersihkan muntahannya. Repeat sampai hari Jumat, -total 6 hari-. Alhamdulillah, hari Sabtu ini, anakku sudah bisa ceria dan sedikit normal kembali.
Menghadapi hari-hari yang melelahkan, Sabtu ini ku putuskan untuk rehat sejenak.
Me Time ala aku.
Kami pergi ke Kopi Merapi. Aku Pesan semua yang ku mau, dan ku makan selagi hangat. Betul-betul aku rencanakan untuk menghilangkan segala emosi, penat yang memuncak seminggu terakhir.
Ya. Pemicunya adalah bapakku.
Sulit untuk tidak menyalahkan beliau karena anakku sakit disebabkan salah satunya adalah karena beliau. Karena ia sulit sekali menjaga kontak dengan anakku, padahal sudah tau diri sedang sakit, -selalu mendekati anakku-. Hal ini sudah berulang-ulang kali. Di bulan-bulan sebelumnya. Seperti tidak belajar dari pengalaman.
Memakai masker saja harus ku ingatkan. Bahkan saat ku ingatkan, ku dengar dengan jelas bapak bilang “Alah ribet”. Betapa tega bicara seperti itu padahal saat anakku sakit aku SENDIRIAN yang pontang-panting. Aku Tidak makan, susah istirahat. Rasanya ingin mengumpat tapi kuputuskan untuk istigfar berkali-kali, karena aku sedang hamil.
Di jalan pulang aku senang sekali… aku memutuskan untuk, baiklah. Hari ini aku akan memaafkan bapak, -padahal beliau tidak pernah sudi mengucap maaf kepadaku saat jelas-jelas berbuat salah-. Karena aku ingin memulai minggu yang baru. Aku merasa refreshed. Merasa baik. Terima kasih suamiku…
Aku merasa anakku jadi lebih kurus, entah kurus betulan atau karena 2 hari kebelakang aku tau ia menolak makan dan minum susu. Semua Ibu pasti setuju, yang dipikirkanku berarti anakku harus banyak makan!
Anakku sudah melewatkan jam makannya, karena kami sampai di rumah pukul 14. Ternyata saat proses makan, anakku sedang mengeluarkan kemampuan “egoisme”nya. Ia tidak mau duduk, dan ingin mengganti acara TV.
Aku ingin mendidiknya bahwa ia harus duduk saat makan. Aku juga ingin anakku mengerti jika tak semua yang ia inginkan bisa ia dapatkan jika hal itu tidak baik, -makan tidak mau, berdiri di kursi, dan ingin mengganti2 acara TV sesuka hatinya-. Di kejadian ini, anakku sambil tantrum dan menangis. Karena memang seperti aku dan anakku sedang berdebat. Tiba-tiba bapak keluar dari kamar dan ingin menggendong anakku sambil berkata, “sini-sini mau apa?”.
Aku murka. Sangat murka.
Di saat aku sedang mendidik anakku tiba-tiba ada interupsi yang tanpa izin tanpa aba-aba malah mendidik anakku jadi anak yang membantah orang tuanya.
“Apa pak? Mau apa?” Ku bilang.
“Anak kamu itu nanti stress. Diangkat dulu nanti… bla bla” (aku sudah tidak mendengarkan karena ini sudah kesekian kali bapak ikut campu pengasuhanku). Aku sangat marah.
“Kalau anak kamu gak ada kamu akan menyesal!” Beliau bilang.
Aku… perutku kencang, dadaku panas, tenggorokanku akhirnya menbuatku berteriak
“STRESSS? AKU YANG STRESS!!!! BERULANG KALI SELALU BAPAK IKUT CAMPUR! AKU LAGI DIDIK ANAKKU!!!” Mungkin tetanggaku mendengar suaraku yang sambil menangis, tp aku sudah tidak peduli. Hatiku sakit.
“CARA KAMU ITU SALAH! MENDIDIK BUKAN KAYA GITU!”.
Anakku jadi menangis karena takut. Suamiku menggendong anakku dan berusaha menenangkan kami.
Reflek, aku melempar kursi, melempar kacamata, melempar sendok. Aku ingin bapakku DIAM. Aku muak!!!!
Fyi, dulu saat aku bersikap tidak sesuai seperti keinginan bapak. Beliau juga pernah memukulku dengan sajadah, menendang meja, membanting es batu, menendang bokongku. Inner childku yang terluka, menjadi terbuka dan entah mengapa aku ingin bapak tua itu tau, ia pun tak sempurna. Ia pun pernah melukai ku.
Aku menangis kencang. Aku masuk kamar. Pintu kamar ku tutup dengan bantingan. Dititik ini, aku sadar aku durhaka. Tapi hatiku sakit. Badanku gemetar. Kepalaku pusing. Aku sulit bernafas. Perutku kram (padahal ada anakku di perut). Aku menghujam badanku ke kasur. Ku tutup kepalaku dengan bantal. AKU TERIAK. Benar-benar teriak. Biasanya aku berteriak tanpa suara. Tapi siang tadi aku teriak, seperti adegan orang depresi di sebuah film. Seperti memang rasanya harus ada yang dikeluarkan. Karena jika tidak berteriak, rasanya mau mati.
Aku menangis kencang, berteriak lagi. Sampai bapak membahas lagi dengan suamiku di luar kamar. Membuat emosiku tersulut lagi. Karena kali ini, ia anggap aku salah jadi ibu.
“SAYA ITU UDAH PERNAH PUNYA ANAK! SAYA ITU LEBIH TAU DARIPADA KAMU”, kata bapak tua itu. Selalu. Saat ada sesuatu yang ku lakukan yang tidak sesuai dengannya, selalu kalimat ini yang terlontar. Selalu aku dibilang tidak tahu apa-apa. Membuat muak.
“EMANG BAPAK DULU SEMPURNA? BAPAK KIRA AKU GA SAYANG ANAKKU MEMANGNYA SIAPA YANG SUAPIN, CEBOKIN ANAKKU SELAMA INI?? KALAU MAU BANTU YA BANTU LAH YANG KAMI MINTA, BUKAN IKUT CAMPUR!!!”
“ANAKKU SAKIT JUGA GARA2 BAPAK!!”
Lalu dia memotong
“DOKTER MATI, DUKUN MATI, SEMUA MATI” (padahal ga ada sangkut-pautnya sama sekali).
“DARI AKU SAKIT, ANAKMU SEHAT SEHAT SAJA SAMPAI KAMU SEMUA SAKIT BARU ANAKMU IKUT SAKIT”. Langsung masuk kamar.
“YA KARENA VIRUSNYA BARU MUNCUL DI ANAKKU!!!!!”
Aku lanjut..
“EMANG AKU NYUBIT ANAKKU? EMANG AKU MUKUL? BAPAK KIRA DULU BAPAK DIDIK AKU DENGAN PUKUL PAKAI SAJADAH, NENDANG AKU, APA AKU SENENG???!!!!”
“SELAMA INI AKU NGEREPOTIN APA SIH? MINTA UANG? ENGGAK KAN!!!! DARI ANAKKU LAHIR AKU JUGA JAGAIN SENDIRI!!! AKU CAPEKKKKK!!!!”
Sembari ku siapkan mandi anakku, sambil nangis dan membersihkan sendok yang td aku lempar.
Dititik ini aku betul-betul butuh Ibu. Bapak jadi liar karena tidak ada Ibu. Setiap hari ada saja sesuatu yang buatku kecewa, bahkan aku juga tidak percaya betapa aku benci beliau padahal dulu beliau adalah orang yang ku rindukan. Betapa saat ini orang yang paling mengerti aku ternyata bukan orang tuaku, melainkan suamiku.
“Nanti baikan ya sama bapak..” kata suamiku.
“Terserah dia. Aku lebih baik diam karena kalau bapak bicara pasti ada saja yg melukai hatiku. Aku juga capek digitukan sama orang tua sendiri”. ku bilang ke suamiku sambil menangis lagi karena kejadian tadi siang terlalu menyakitkan. Bahkan kram di perutku tak kunjung reda. Semoga adik baik-baik saja di rahimku.
#WorstDayDadIssueDaisyI








