Catatan Akhir Tahun 2016: Kembali ke Sekolah
Jadi, catatan akhir tahun 2016 saya agak unik. Unik karena baru diposting setelah masuk 2017 dan sedikit ada catatan tahun 2015 yang lupa saya buat tahun lalu. Singkat saja untuk 2015, saya tidak banyak berbeda dengan tahun 2014. Saya masih bekerja, sebagai editor. Hanya saja saya mendapat kesempatan di 2 perusahaan besar penerbitan. Hal yang sangat sangat sangat saya syukuri. Tapi saya memutuskan untuk berhenti total sebagai editor purna-waktu karena satu angan yang saya lakukan di 2016.
2016 bisa dibilang menjadi salah satu tahun terbaik saya. 2016 ini saya memutuskan untuk kuliah lagi. Sekolah lagi. Melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi: strata-2 atau magister. Bukan hal aneh sih buat saya atau buat orang yang kenal saya, karena lanjut studi adalah salah satu cita saya dari dulu. Yang bikin HUWOW AHSVGVABAI adalah saya melanjutkan studi dengan beasiswa dari salah satu instansi pemerintah pusat, dengan bumbu-bumbu kenekatan. Kenapa? Jadi, bulan-bulan akhir menjelang akhir 2015 saya pernah mencoba beasiswa ini, tapi gagal. Kegagalan ini bikin sedih, pastilah ya, tapi tidak berlarut karena saya langsung move-on dengan bekerja lagi (duh kurang kece apa coba saya ini). Niatnya, saya ingin menyimpan satu sisa kesempatan ikut beasiswa yang sama di akhir 2016, yang berarti memendam sebentar keinginan kuliah lagi. Tapi pada suatu hari di Januari 2016, saya diajak teman saya ikut seminar beasiswa dari pemerintah Australia di Jakarta. Setelah acara itu, di perjalanan pulang hingga akhirnya di rumah, perasaan ingin kuliah lagi memuncah manjah (eaaak). Saya coba tengok jadwal beasiswa yang saya ikuti tahun lalu itu, ternyata deadline pendaftaran batch pertama adalah 4 hari lagi! Cukup bimbang karena di satu sisi, beasiswa ini adalah salah satu beasiswa bergengsi dan saya pengin banget mendapatkannya. Bukan karena prestise, tapi lebih karena kemudahan syarat pendaftaran. Namun, di sisi lain, kegagalan yang pernah saya dapatkan juga cukup menghantui. Bagaimana jika saya gagal lagi? Pupus kesempatan untuk mendapatkan beasiswa ini. Makanya, esok harinya saya coba diskusikan dengan orangtua, dan mereka setuju-setuju saja, tinggal kembali ke saya. Siapkah saya dengan menuliskan esai rencana studi yang matang dalam 3 hari tersisa?
Ternyata saya bisa. Bisa karena, setelah melalui pemikiran dan diskusi panjang dengan diri saya sendiri, saya memilih jurusan yang sama dengan program sarjana saya, yakni Kesehatan Masyarakat (yang S2 ini ditambahkan kata “Ilmu” saja di depannya), dengan tetap memilih di universitas dalam negeri. Tapi, minat/konsentrasi yang saya ambil berbeda. S2 ini saya memilih minat Promosi Kesehatan, oleh karena setelah dipikir-pikir, saya ini anaknya lebih ke ilmu sosial-budaya sebenarnya. Pas SMA maunya IPS (tapi disuruh IPA), saat S-1 maunya masuk FISIP (tapi disuruh FKM), lulus S-1 memutuskan berkarier di dunia buku dan literasi sosial-budaya. Kurang apa coba? Kurang berpendirian mungkin iya hahaha (Tapi segala hal pendekatan personal bahwa “saya yang akan memutuskan saya menjadi apa nanti” ke orangtua saya berhasil, mereka tidak terlalu “otoriter” lagi ke diri saya. Saya bebas #intermezzo). Penulisan esai rencana studi saya berjalan mulus, dan setelah syarat-syarat lain lengkap, saya dengan pasti apply lagi untuk beasiswa itu. Dan singkat cerita, SAYA LULUS! Syukur kepada Yang Esa. Masih teringat di pikiran saya, saya merinding. Gila, ini gila. Thanks God!
Selanjutnya, awalnya saya berniat jika keterima beasiswa ini, saya akan pindah dari universitas DN ke LN (luar negeri). Tapi ternyata mulai 2016 ini, perpindahan kampus DN ke LN sudah tidak boleh, padahal tahun 2015 terakhir masih boleh. TAPI TIDAK APA-APA. Masih syukur bisa kuliah lagi, iya atau tidak? Iya dong. Akhirnya, dengan langkah pasti nan manjah, saya melanjutkan ke step berikutnya, diterima di kampus yang saya pilih, Universitas Indonesia. Singkat cerita (lagi), saya lolos! Puji syukur yang tak henti-hentinya lagi. Selanjutnya, saya harus ikut acara pembekalan dari instansi dari penyelenggaran beasiswa (LPDP) yang bernama Persiapan Keberangkatan (PK). Yang patut disyukuri lagi, saya mendapat teman-teman PK yang surprisingly kok ya luvu-lucu, keren-keren. PK-71 Cikal Nagari akan selalu dan mendapat tempat khusus di hati saya *jhijhique gak sih hahaha
Dan akhirnya, perkuliahan pun dimulai. Cukup berat ternyata perkuliahan pascasarjana, tidak seperti yang saya bayangkan (saya pikir agak santai). Tapi so far so good. Tidak ada halangan berarti, karena manajemen stres dan manajemen waktu cukup saya terapkan. Dan TIDUR harus tetap diutamakan. Btw, perkuliahan S2 ini seru karena saya dikelilingi oleh 34 orang-orang yang bisa membuat S2 IKM-Promosi Kesehatan FKM UI ini begitu hidup dan tidak membosankan. Satu hal lagi yang patut disyukuri.
Untuk 2017, resolusi atau hal yang ingin saya lakukan itu tidak neko-neko. Karena saya kuliah lagi, ya yang pasti semoga bisa lebih tabah menghadapi perkuliahan dan sehat walafiat (semester kemarin bisa dibilang satu bulan sekali saya kena flu berat+demam), kuliah lancar dan hasilnya memuaskan, dan cepat lulus! Sederhana, tapi tidak mudah juga hahaha. But, amen for all of that.
Love,
D











