Cara-cara untuk Menghilangkan Suka Tidak Berbalas
Mungkin, kamu hanya butuh salah satu dari cara-cara ini.
Mungkin, kamu butuh mencoba semua, mencari satu-persatu hingga menemukan satu yang tepat.
Mungkin, kamu tidak butuh satu pun cara-cara ini karena rasamu selalu dibalas. Saat ini kamu hanya butuh hiburan saja, rupanya ada orang-orang yang setengah mati berusaha melupakan sesuatu yang tidak pernah dimulai.
Mungkin, kamu bisa menambahkan dan mengusulkan cara lain. Di lain waktu, mungkin penulis akan membutuhkannya.
Kamu ingat sebuah kotak yang telah kamu siapkan jauh-jauh hari? Tepat sebelum rasa suka menyebar menjalar, sebelum ekspektasi memekar mengakar? Matang juga persiapanmu untuk ditinggalkan.
Sekarang, kita mulai langkah yang dibutuhkan untuk menghilangkannya: Ambil kotak sialan itu, sebuah cangkul, dan peledak serta pemicunya.
Langkah pertama, pergi ke sebuah tempat yang belum pernah kamu kunjungi. Sebuah tempat yang jauh dari apa yang familiar untukmu. Setelah sampai, ambil cangkulmu dan gali sebuah lubang. Ukuran lubang itu tergantung dari besar kotak berisi rasamu. Penulis turut berharap kamu tidak perlu capek-capek menggali.
Sampai sini, penulis yakin kamu tahu apa yang harus dilakukan kepada kotak tersebut, dan sebelum kamu tutup kembali lubang tersebut, taruh peledak ke dalamnya. Sudah? Mulai kubur kedua hal yang sama merusaknya itu.
Untuk langkah selanjutnya, kamu perlu berjalan agak jauh dahulu. Jangan tengok ke arahnya lagi. Hening setelah ledakan seharusnya cukup untuk mengabarkanmu bahwa semua ingatan, rasa, dan mungkin beserta sentuhan sudah hangus menjadi debu. Sekarang, ledakanlah.
Perlu penulis ingatkan. kekurangan dari cara ini adalah abu yang terbentuk suatu hari masih bisa menyentuh pundakmu, jatuh tepat di ujung hidungmu, atau tergeletak di layar ponselmu. Angin tiba-tiba bertindak usil dan kumpulan abu tersebut mereka-ulang adegan yang mudah sekali membuat ingatanmu luluh. Sebelum hal itu terjadi, penulis akan percaya kepadamu untuk tidak memercayai kelakar semacam itu. Bahwa abu tersebut akan tetap menjadi abu. Ia tidak akan kembali. Tunggu beberapa waktu lagi, ia akan pergi lagi. Kalau kamu masih mau repot, tiup ia menjauh.
Apa kamu masih ingat dengan kotak yang diukir oleh usahamu untuk melindungi diri? Yang kamu buat dengan bersenandung kecil, dengan harap ia tidak pernah menemui akhir buruk; tidak perlu dikubur, diinjak, dan diledakkan. Namun sangat disayangkan, waktunya telah tiba.
Sekarang, lipat rasamu rapi, letakkan ia lembut di dalam kotak indahmu. Secara perlahan, yakinkan dirimu untuk melepaskan genggamanmu itu. Yang membiru beradu dengan permukaan kotak. Yang masih kering karena usaha luar biasamu menahan tangis sebab kamu pernah bersumpah tidak menyia-nyiakan air matamu hanya untuk hiburan bagi orang-orang dengan rasa yang berbalas. Butuh waktu yang lebih lama memang, tapi penulis akan menunggu.
Sudah siap? Kita berangkat menuju halaman rumahmu. Ambil cangkulmu lagi. Yang sudah kamu bersihkan setengah mati. Sekali lagi, aku minta maaf, ia harus dipakai lagi.
Kali ini, sebelum tanah membentuk gundukan sempurna, letakkan sebuah bibit pohon favoritmu. Yang kamu percaya akan tumbuh besar dan rimbun, megah dan asri. Memang penulis paham, ada beberapa rasa yang memutuskan untuk tetap cantik, walau sudah dicurangi. Bukan untuk mengingat sesosok kecewa maupun rasa yang dipermalukan. Namun, biarkan perkaranganmu menjadi pengingat akan awal dari keajaiban yang ia bawa kepadamu. Memori hangat yang membuatmu percaya dengan harapan, dengan lugu untuk mulai berharap lagi, membuat bagian dua dari tulisan ini lagi. Hingga pohon tersebut tumbuh tinggi, kamu merasa penuh. Dan cukup.
Setidaknya untuk tulisan ini, kan?
Mungkin yang terakhir ini merupakan cara paling payah. Tapi dengar penulis dulu, sehabis itu sepenuhnya terserah kepadamu. Aku harap kamu terhibur, orang-orang yang kini mengajak rasanya untuk ikut menertawai tulisan ini.
Cara terakhir ini dimulai dengan melupakan sebuah benda serupa ruang kecil yang berfungsi untuk menyimpan entah apa ke dalamnya. Seingatmu, benda itu beserta yang seharusnya menjadi isinya tidak pernah ada.
Suatu hari, isi benda tersebut berkata terima kasih dan pamit dengan cara yang sama ketika ia dulu datang. Kamu percaya saat itulah Si Tidak Pernah Ada menguap, tapi tidak benar-benar menghilang. Sesak yang dirasa mungkin disebabkan oleh ia yang minta diartikan dan dibuatkan ruang kecil, untuknya menuju tujuan akhirnya. Tetapi, kamu diam-diam bertahan dari rengekan itu.
Harap. Ia tumbuh dan menusuk, menyelimuti dan merasuk. Kamu membuat pengecualian kecil. Ada kebetulan-kebetulan yang membuat khayalanmu seakaan nyata. Yang tidak membalas kamu anggap hanya sedang dikalahkan oleh waktu, dan satu-dua kali waktu pernah berbaik hati menyempatkan. Kamu berharap dapat mengibuli ruang, bahwa kamu berhasil menghilangkan. Dan saat ia lengah, kamu berencana mengambil alih waktu dan memutarkan kembali letak di mana kamu membuat kesalahan. Berpikir untuk memperbaikinya dan berharap ada yang sadar.
Maka, suka yang tidak berbalas pun, hilang.