kalau aku berharap hari itu hujan tidak pernah reda
dan para pengemudi angkot rupanya sudah pulang semua,
mungkin yang tersisa hanya ada kami yang meneduh di antara jarak.
dan ia tidak suka bagaimana jaketnya membasah
kemudian perjanjian dibatalkan,
sehingga pertemuan ditiadakan.
dan aku tidak perlu dipenuhi harap agar si terburu-buru akhirnya menengok ke belakang
aku telah berhenti berusaha mengejarnya,
yang entah bergerak terlalu cepat
atau mungkin sedang memilih untuk kabur saja.
aku telah menyerah berusaha mengerti,
satu-satunya atau kasual,
berprinsip atau memilih malu.
lalu kami tidak berakhir seperti ini.
kalau aku berharap hari itu aku tahu apa yang terjadi esok hari,
aku tahu peraturan apa yang akan diterapkan di negara kami,
aku tahu apa yang ratusan bahkan ribuan seperti kami akan rasakan: ditiadakannya pertemuan; lantas komunikasi mereda, mengering; datang lagi untuk pergi lagi.
mungkin di saat ia memutuskan untuk mengakhir hari, aku tidak hanya akan memberitahunya jika ia merupakan pendengar yang baik,
tetapi juga merupakan pendengar paling baik yang aku punya.
di saat hidup sedang seperti ini
di saat hidup berulah seperti kemarin
di saat hidup entah jadi apa besok.
bahwa sebesar apapun aku menghargai pertemuan,
aku belum terbiasa hidup di dalam cerita fiksi-historis yang kami sukai.
kami seharusnya sadar, ada jalan lain.
tapi rasanya sudah hilang dari pilihannya
dan aku hanya berharap aku kembali ditemukan.
tapi mungkin harapan hanya mau datang kalau aku sudah kehilangannya
dan percayalah, sekarang segalanya jadi tidak mudah.
aku masih berharap jika hujan di hari itu tidak mereda dan menderas saja dan menyapu harapan-harapan. mungkin segalanya tidak akan semenyiksa ini.
selamat 4 bulan, pertemuan terakhir.