Bagaimana hidup?
Biasanya dimulai dari sana, kan?
Ingin sekali menjawab, "Tidak ada yang beres, Bing. Rasanya semua hal runtuh satu persatu, tergelincir satu sama lain."
Rasanya cuma aku yang tahu pasti kalau sebuah akhir akan datang, sementara yang lain baru sadar kalau rupanya aku ada bagian yang tidak beresnya.
Baru-baru saja ada yang menegurku. Katanya, "Kalau butuh sesuatu, bilang."
Bagaimana caranya aku memberitahukan kakakku sendiri kalau yang aku butuhkan adalah sebuah akhir?
Sehari (atau dua?) setelah menulis tulisan ini, keambil buku dengan prolog ini. Sempat merinding sedikit. Lalu, seperti biasa, difoto.
Akhir-akhir ini, isi perutku ingin keluar saat mengingat suatu hal, Bing.
Dadaku melesak saat melihat yang lain melesat cepat, kepalaku makin nyeri luar biasa saat memandang layar lagi. Tapi betulan tidak ada yang lain, yang mampu mengajak isinya kabur ke tempat yang lebih tenang.
Bagaimana hidup?
Sepertinya aku tidak ingin tanya hal itu ke kamu, Bing.
Aku, yang pusat hidupnya hanya di dirinya sendiri, takut terperosok lebih dalam ketika kamu memulai cerita tentang yang lain.
Bagaimana hidup? Aku hanya nyaris
belum sepenuhnya
hanya nyaris
nyaris saja. Masih perlu diakhiri dengan bersyukur, kah, Bing?












