Dan tiadalah kehidupan dunia ini, kecuali main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya kampung akhirat lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa (Q.S. Al An 'am : 32)
Era modernisasi mengisahkan manusia dan robot. Era globalisasi melahirkan manusia materealistik, hedonistik, dan egoistik, yang mengarah pada tindakan menghalalkan segala cara asal tujuan tercapai. Sebagian orang menganggap bahwa kematian adalah akhir kehidupan.Lalu mereka menjalani kehidupan ini dengan foya-foya, bersenang-senang, memperturutkan hawa nafsu.
Kehidupan seperti ini, persis seperti kehidupan binatang, yang mengira bahwa hidup itu hanyalah proses menunggu kematian. Mereka menjalani kehidupan sesuka hati, karena setelah dipakai selesai pula fungsinya. Mereka beranggapan bahwa hidup ibarat botol, dan benda lainnya.
Sebagian yang lain beranggapan, bahwa hidup ini merupakan sarana untuk meraih kehidupan yang mulia dan bahagia di sisi yang Maha Hidup. Hidup ini merupakan jembatan emas untuk mempersiapkan bekal yang cukup untuk perjumpaannya dengan yang Maha Kuasa di dalam alam keabadian.
"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya. (QS. Al Kahfi: 110)’’
Islam tidak pernah melarang manusia memburu harta sebanyak banyaknya. Islam tidak alergi dengan kekayaan duniawi. Islam bukanlah agama yang semata-mata mengajarkan bagaimana meraih tujuan hidup di akhirat saja dan mengenyampingkan ikhtiar duniawi. Islam tidak semata mata berbicara tentang indahnya kehidupan di surga dengan segala kenikmatan yang ada di dalamnya, dan ngerinya siksaan di dalam neraka bagi yang tidak taat kepada Tuhannya.
Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Islam mengajarkan keseimbangan hidup dunia akhirat. Islam menjadikan kerja keras, keringat dan banting tulang sebagai simbol dan citra mulia umat yang aktif, kreatif, dan inovatif. Islam mengajarkan upaya-upaya dan cara yang baik untuk meraih kehidupan dunia yang aman dan sejahtera. Dan islam senantiasa memberi petunjuk hidup yang positif demi tercapainya tujuan mulia dan terhormat disisi Nya.
Sebab apabila tidak disadari, bisa jadi kenikmatan hidup di dunia akan menjadi racun yang akan meninabobokan setiap insan, yang akhimya akan terperdaya dan terseret jauh kedalam lembah kebinasaan dunia akhirat Bila lengah menyikapi berbagai bunga-bunga dunia dengan segala kenikmatannya, maka kita akan terjeremus kedasar kehidupan yang hina dan memilukan.
‘’Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (QS. Ali Imran : 185)’’’
Bila tidak disadari boleh jadi kekayaan akan menjadi hantu yang menakutkan bagi pemiliknya. Pagi, siang, dan malam fikiran dihantui kekhawatiran akan lenyapnya harta yang dengan susah payah ditumpuknya. Bila tidak diimbangi dengan keimanan yang kuat, pemilik harta akan mudah dihinggapi sikap ria', sombong, takabbur, dan kufur akan nikmat Allah swt.
" Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahai orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka dihari kiamat "(Q.S. AI Baqarah : 212) ‘‘
‘’ Dunia diliputi kenikmatan semu, dan Akhirat diliputi kenikmatan hakiki. Waspadalah dengan bunga-bunga duniawi yang menipu ’‘