Ingatanku berputar kembali pada Desember tahun lalu, saat aku mencoba kembali ke Ibukota untuk kesekian kalinya. Aku mencoba mencari peruntungan disana. Ada lowongan menjadi asisten penelitian di salah satu rumah sakit yang cukup tersohor, dan aku memenuhi undangan untuk interview. Batinku, aku akan berusaha semaksimal mungkin karena kukira aku memiliki passion yang lumayan di research.
Kembali ke Jakarta menurutku adalah nostalgia. Hampir 4 tahun totalnya aku menginjakkan kaki ke daerah pinggiran Ibukota untuk mencari ilmu, menambah teman, sesekali mencari uang, dan mungkin juga mengukir kenangan. Haishhh
Sesampainya disana, aku memutuskan untuk menginap bersama junior ku dulu. Lalu esoknya langsung mendatangi interview. Kembali menjadi commuter. Ah, aku benar-benar rindu ternyata. Belum lagi kampus yang selalu kulewati saat pulang pergi menuju Jakarta. Ia tetap sama. Selalu ada hangat disana.
Pagi itu, aku ingat Hari Jumat. TGIF! Saking semangatnya, aku datang beberapa waktu lebih awal dan mempersiapkan kira-kira apa saja yang akan ditanyakan. Aku cukup percaya diri kali ini. Pertama kali sampai, ternyata aku bertemu dengan alumnus yang sama, yang juga menyebarkan info lowongan pada grup kelas.
Setelah beberapa penjelasan, jelas aku sedikit kecewa dengan pekerjaan yang sebenarnya. Posisi yang ditawarkan sebenarnya adalah tenaga magang. Tak apa, pikirku sambil menghibur diri sendiri. Paling tidak, aku bisa bekerja sambil mengerjakan hobiku: menulis. Selanjutnya, aku diwawancarai oleh kepala bagian yang akan aku tempati. Dan dari sinilah permulaannya..
"Apa pengalaman kamu dalam penelitian?"
"Saya sudah punya 2 penelitian yang sudah dipublikasikan, dok. Kemarin juga sudah pernah ikut symposium ke Jog..."
"Saya nggak perlu pengalaman jalan-jalan kamu ke Jogja" katanya sambil meninggikan suara. Aku terkejut. Benar-benar terkejut.
"Iya pak, eh dok, saya sudah terbiasa dengan jurnal ilmiah". meski gugup, aku mencoba untuk membuat pembelaan.
"Kuanti(tatif) apa kuali(tatif)?" tanyanya
"Kualitatif, dok" jawabku
"Ya nggak sesuailah sama kita" nadanya hampir membentak. Aku benar-benar gugup. I though that the worst interview for me.
Aku masih mencoba senyum, kemudian mencoba untuk membela diri (lagi).
"Saya juga pernah kuantitatif, dok. Penelitian akhir saya ketika diploma basisnya kuantitatif. Jadi paling tidak, saya sudah punya bekalnya. Saya akan berus..."
"Kita tuh butuh yang sudah jadi. Yang langsung mengerti, bukan yang usahakan usahakan, belajar belajar". Beliau kembali memotong jawabanku. Seketika aku tidak mau lagi ada dihadapannya. Tidak akan mau.
Dan bisa ditebak, dipertanyaan lainnya aku benar-benar di skakmat! Aku yakin sekali jika saja aku tidak menguatkan diri, air mataku akan tumpah saat itu juga. Aku tidak main-main pada kesempatan kali ini. Aku bahkan bela-belain dari Semarang di akhir tahun hanya untuk ini.
Setelah interview berlalu, aku merasa sangat bersyukur. Rasanya aku tidak akan maju ke tahap selanjutnya mengingat interview-ku sekacau itu. Tapi yang Aku takutkan jika takdirnya aku bekerja dibawah pimpinan beliau, rasanya lebih tidak sanggup lagi.
Pukul dua siang aku sudah keluar rumah sakit, menuju pulang. Ingin rasanya bercerita dengan teman karibku saat itu juga tapi ku ingat, saat itu masih jam kerja. Aku mengurungkan niat. Pulang sepertinya pilihan terbaik. Apalagi siang begini krl tidak akan penuh.
Sampai di Stasiun Juanda, aku langsung menuju kereta ke Bogor. Tidak lama aku menunggu. Aku memilih gerbong tengah. Ada bangku kosong dan aku langsung menuju tempat itu. Duduk lalu tenggelam dalam pikiranku. Dengan wajah yang masih tertutup masker, yang juga menyembunyikan kesedihanku.
Tidak beberapa lama, aku mencoba menghubungi rumah. Ada ibu yang setia mendengarku. Tapi rasanya aku terlalu cengeng untuk menceritakan kembali. Telepon terhubung.
"Gimana, mbak?" tanya ibu.
"Aku nggak tau bu, aku nyesel" kataku. Air mataku sudah makin banyak. Aku menelpon sambil menunduk. Menceritakan semuanya. Lalu menangis.
"Gapapa udah. Kamu udah berusaha. Allah udah liatin usaha kamu. Mungkin dokternya lagi PMS" ibu mencoba menghiburku. Tak sadar, aku membuka masker sedikit untuk mencari angin. Sesak rasanya. Kereta tak pernah sesesak itu meskipun aku pernah ada di jam pergi kerja. Aku mengipaskan tangan. Agar sedikit lega. Tapi sama saja. Aku menoleh sekitarku. Tidak ada yang peduli sepertinya. Lalu melihat ke sampingku. Ada lelaki seumuranku sepertinya, sepertinya memperhatikanku sedari tadi. Name tag khas dokter dan jas putih dokter ada dipangkuannya. Damn! Kupikir tidak ada yang mendengarku bicara tentang jurnal, rumah sakit, kesehatan dan lainnya. Dia pasti telah membatin banyak hal, curigaku. Aku menutup masker kembali. Aku masih disambungan telepon dengan ibu. Lalu mencoba berbasa-basi bahwa aku sudah tidak apa-apa. Mencoba melucu, lalu pamit dari telepon. Klik. Rasanya aneh saja menangis di samping laki-laki yang tidak aku kenal. Aku mencuri pandang. Dia masih bertindak seolah tidak mendengar percakapanku. Tapi senyumnya tetap saja...
Di stasiun selanjutnya, ada bapak-bapak paruh baya yang naik lalu sepertinya kebingungan hendak mencari tempat duduk. Saat itu aku masih riweuh dan tidak ngeh kedatangan bapak itu. Mas-mas sebelahku mempersilakan bapak tua duduk dan sekarang dia berdiri tepat di depanku. Alamaaaak. Kenapa harus di depanku sih, pikirku.
Beberapa stasiun kemudian, aku mempersilakan duduk pada bapak tua lain yang masuk ke gerbong. Aku lalu berdiri. Pas disamping mas-mas tadi. Tidak lama, salah satu bapak tua turun, menyisakan bangku kosong. Lelaki sebelahku menyilakan duduk kepadaku, tanpa kata. Ia memandangku, lalu melirik ke bangku kosong itu. Aku menggeleng. Stasiun universitasku tak lama lagi. Dia masih saja menyilakan agar ku duduk. Aku menggeleng. Hingga akhirnya adegan sila-menyilakan itu berakhir saat ada mas-mas lain duduk. Aku tersenyum, tapi tetap saja tertutup oleh masker wajahku.
Akhirnya peringatan kereta sebentar lagi akan sampai telah berbunyi. Jujur, aku masih tak karuan karena moodku benar-benar rusak karena interview hari itu. Setelah turun kereta, aku berjalan menuju kos adik kelasku, sambil melihat makanan yang dijual sekeliling stasiun. Moodku biasanya membaik dengan makanan, tidak dengan hari itu. Suasana hatiku makin buruk. Ingin menangis! Allah ternyata sangat lembut mengingatkanku. Di perjalanan menuju kos, seorang anak kecil, yang mungkin usianya 9 - 10 tahun, sedang menggendong adiknya, sekitar 4 tahun usianya. Pakaian mereka lusuh. Kalau tidak salah ingat, ditangannya ada karung kecil dan botol air kemasan.
Astagfirullah ya Allah, maafkan aku yang cuma kau beri ujian begini saja sudah mengeluh. Maafkan..
Aku menangis lagi. Untung saja masker masih menutupi dan jilbabku menyamarkan airmataku yang berkali-kali jatuh. Allah jauh lebih sayang padaku. Aku bahkan jauhblebih lemah dibanding adik-adik yang ku temui di sekitaran stasiun. Aku merutuki diriku yang terlalu cengeng. Sekalipun begitu. Air mataku tidak langsung kering.
Aku mengurungkan niatku menuju mall yang sekarang sudah di hadapanku. Tadinya aku ingin me time. Tapi aku bisa mengira wajahku sudah lebam karena terlalu banyak menangis. Too much
.
.
.
.
Dan ingin hanya pulang..
Semarang, 20 Februari 2020










