Berulang kali kuperiksa daftar penonton story Instagram-ku, berharap menemukan namamu di sana. Namun, aku hanya bisa tersenyum getir setiap kali mendapati namamu tak kunjung muncul. Empat jam kemudian, aku melakukan hal yang sama. Menghela napas, berharap, lalu kembali kecewa. Siklus itu terus berulang. Aku bahkan berpikir, mungkin aku akan jauh lebih kecewa dan sedih jika nanti kamu akhirnya melihat story-ku, tetapi tetap memilih untuk tidak menghubungiku. Kenyataannya, aku hanya merindukan kehadiranmu di daftar penonton itu, berharap itu menjadi pemantik bagimu untuk memulai percakapan. Beberapa temanku menyarankan agar aku menjadi 'cegil' saja—maju duluan, mengirim pesan lebih dulu, dan berjuang jika memang aku menginginkannya menjadi suamiku. Namun, akal sehatku menolak keras. Andai saja dia tidak aktif di media sosial hari ini, mungkin aku masih bisa mencari pembenaran dan memberanikan diri untuk menyapanya duluan. Namun, ada satu fakta pahit yang membuatku tersenyum getir: dia sempat merepost unggahan temannya, tetapi tidak sempat mengirimkan pesan maaf atas batalnya pertemuan kami hari ini. Dari fakta itu, lobus frontalku menarik sebuah kesimpulan yang mutlak. Aku tidak cukup penting baginya. Aku tidak cukup menarik hingga bisa membuat tangannya bergerak untuk menghubungiku. Aku... hanya tidak semenarik itu di matanya.
Berulang kali aku mengulang kata tersebut. Aku hanya tidak semenarik itu di matanya.
terima kasih.















