Anda Sudah Sampai, Silakan Berbenah!
Weekend. Nggak seperti orang lain yang memuja datangnya weekend, entah kenapa saya sendiri malah nggak suka dengan hari nanggung sedunia ini. Apalagi Sabtu. Nanggung buat gangguin orang, tapi nanggung juga buat liburan. Rasa-rasanya setahun belakangan ketika sempat kerja sama orang, hari Sabtu tuh indah banget. Ngerasa nggak bersalah untuk nggak menerima telpon atau membaca pesan seputar kerjaan. Padahal kayaknya untuk start-up, weekend ya tetap melek. Oke, ini hanya curcol karena sesungguhnya saya lagi susah banget ngontak orang disaat lagi butuh-butuhnya, hahaha.
Sudah 6 bulan semenjak saya memutuskan kembali ke habitat. Menikmati hidup yang super unpredictable, serem, tapi ngangenin abis-abisan. Terlebih, ini adalah kepulangan pertama saya setelah menghindar dengan cukup menyedihkan lebih dari setahun kebelakang.
Saya sempet berbicara tentang personal branding sama seorang sahabat. Dia bilang, "lo nggak keliatan karena sekarang pindah dunia aja, Geld. Kayaknya dulu branding lo termasuk yang kuat kok, orang jelas tau lo apa" Pembicaraan itu adalah hasil dari beberapa waktu lalu saya disuruh bikin connecting dots dari sejak saya kecil sampe saya ada di titik sekarang sama seorang mentor. Pas dibikin, baru lah saya ingat betapa saya harus berbelok, belok, belok, hingga sempet nyasar ke "zona aman" yang nggak nyaman dan bikin gapunya identitas, sampai akhirnya sadar saya harus segera sampai pada tempat di mana saya ingin berdiri, sebelum saya kehabisan tenaga. Tapi saya sadar juga bahwa setiap belokan yang saya ambil, ternyata berpusar pada keinginan yang paling besar. Beloknya nggak jauh-jauh, memang, sambil belok sambil matanya terus ngelirik ke tempat idaman. Tapi, belok terus kan ngabisin waktu! (sekarang kebayang kan kenapa saya suka sama Perahu Kertas?)
Sekarang, saya berdiri pada tempat dimana saya sudah sangat lama ingin berdiri. Tapi tempat ini masih kosong. Masih harus dibangun, dibagusin, dan dihidupkan biar yang datang berkunjung betah berlama-lama singgah dan ingin selalu kembali. Terutama, bikin saya betah nggak pindah-pindah, hehe.
Saya masih menerka kekuatan dan keberanian darimana yang membuat saya memutuskan ini sekarang. Meskipun memang sudah direncanakan, tapi saya masih kaget bahwa saya benar-benar menapakkan kaki saya di sini, sekarang. Di saat saya sedang ada dalam zona aman yang disenangi orang tua (haha). Mungkin buat sebagian orang, ini hal biasa. Tapi buat yang tau gimana saya harus menciptakan perdamaian dan “berkompromi” dengan ibu negara, hal ini jadi tantangan terbesar di hidup saya wkwk.
Saya tau betul 2 hal yang paling bisa memotivasi saya. Satu, ketika saya menyukai seseorang; Dua, ketika saya sangat ingin mengalahkan seseorang. Dan bagusnya, saya memiliki keduanya, namun entah mana yang paling kuat memengaruhi. Jelek ya, semangatnya bergantung ke orang lain? Tapi setiap orang punya senjata masing-masing, kan? Dan kalau diingat-ingat, setiap momen terbaik saya, selalu karena saya mendedikasikan pekerjaan saya untuk orang lain, nggak pernah untuk diri sendiri, hehe. Kayaknya saya kurang mencintai diri sendiri, deh. -__-
Di tempat ini, saya masih hijau, dan masih kaget dengan kebiasan orang-orangnya. Saya harus beradaptasi dengan pola pikir dan cara kerja mereka yang jauh berbeda. Masih harus mempelajari apa dan bagaimana mereka berekspresi. Terlebih, saya harus dihadapi oleh banyak manusia yang gemar meremehkan. Untungnya didikan Daddy911 sukses membentuk saya jadi sangat tidak pedulian dengan kalimat-kalimat destruktif dari orang lain. Dan di sini, saya masih jadi one man show. Berat sih, tapi kok saya rela yah. Nggak tau apa saya udah gila, atau saya beneran jatuh cinta. Dari yang tadinya mikir sendirian, deket-deketin orang nggak dikenal sampe bisa ketemu orang-orang baik yang ngesupport dengan caranya masing-masing. Sumpah, kalau hidup ini adalah film, akan saya taruh nama mereka besar-besar di credit tittle. Nggak serta merta “membantu” sih, tapi punya tempat sharing yang bisa digangguin kalo lagi pusing bener-bener ngejaga saya untuk sadar bahwa "masalah itu datang karena saya emang beneran lagi "napak", nggak lagi ngawang-ngawang."
Mewujudkan cita-cita itu emang berat, dan saya bukan perempuan yang spesial hanya karena sedang melakukannya. Banyak perempuan hebat lain melakukan hal yang sama. Tapi buat saya, lebih berat ngurusin hidup saya sendiri. Ini nih yang bikin saya paling iri: perempuan yang bisa ngurus diri hahaha. Saya tuh suka ekstrim kalo ngambil keputusan, suka terlalu kemakan idealisme yang seringkali bikin saya susah sendiri. Seringkali lupa sama hierarchy of needsnya manusia yang paling mendasar. Otak saya lebih mudeng ngurusin pementasan ketimbang ngurusin tempat tinggal, kesehatan, mau makan apa, mandi kapan, kartu atm gue dimana, jadwal laundry sepatu, duit pada lenyap kemana, masuk kelas jam berapa, tugas minggu ini apa, gimana cara baikan sama temen yang ngambek, dan intrik makhluk sosial lainnya.
Entah ke-clumsy-an dan kerandoman hidup saya ini akan membawa ke titik mana lagi. Keputusan-keputusan bodoh dan brilian apa lagi kah yang akan saya buat? Siapa lagi orang-orang yang akan hadir dalam kehidupan saya? Dan seberapa kuat saya menjalani ini semua baik fisik maupun mental juga saya penasaran banget. Dengan segala target, harapan, kekhawatiran, dan orang-orang baru yang saya temui setiap harinya saat ini, apa yang akan terjadi di 2018 bener-bener jadi nggak terbayangkan!
we'll see ~







