Tiga perempuan berdiam di ruang tengah. Bunda yang tenang, kakak yang masam, adik yang ceria. Ada satu kejutan yang baru saja dibebankan di pundak mereka. Tanggapan mereka sama sekali tak sama, cuaca juga tak bersahabat bagi mereka berbincang
Makin malam gemuruh hujan makin bergandeng dingin menggigil. Kusen dan jendela beradu berdenting dihantam angin. Listrik sudah mati dari, lilin tak cukup punya nyali. Gempita sang badai terlalu dominan menguasai.
Adik kecil menangis saat petir menggelegar. Bunda segera berbisik lembut mengusir gelisah. Si kakak meringis getir mendengar dialog mereka.
âIni menyeramkan,â tangis Adik.
âSabar, ini akan berlalu tanpa kamu sadar,â ucap Bunda.
Kakak berdiri, bergumam sendiri, âHati ini juga pasti akan sembuh tapi bukan berarti sekarang tak sakit kan.â
âMengapa badai mesti menjadi bagian semesta,â kata Adik menuntut serba-serbi dunia.
âIni cara semesta beradaptasi menghadapi iklim yang tak lagi sama,â rangkul Bunda.
Kakak mendengus, âGemuruh di dadaku apa juga cara tubuhku beradaptasi. Dia yang kukasihi tanpa tapi, pada nyatanya adalah pejalan yang berlalu tanpa pamit.â
Adik sudah berhenti menangis, âAku tak lagi percaya badai ada untuk mendatangkan pelangi.â
Bunda tersenyum, âTapi tetap benar kan. Setelah hujan berakhir langit akan jernih mendatangkan damai.â
âNarasi semesta menyimpan kemudahan di balik kesulitan bukankah sudah digunakan berlebihan,â gumam Kakak menatap potret keluarga sambil masih bermonolog sendiri, âSemua orang adalah kanak-kanak yang masih melanjutkan hidup dengan iming-iming harapan esok akan menjadi baik.â
âAku tetap takut,â ucap Adik separuh tertidur.
âTidak apa merasa takut,â Bunda menoleh pada Kakak, âJuga tidak apa merasa marah Kak.â
Kakak menangkupkan pigura foto mereka berempat dan membalikkan tubuh, âJuga tidak apa bersedih dan menangis Bun.â