EVERLUST PART 129 - NOMIN AU by @cupkissezst
Ini bukan pertama kalinya ada sebuah mobil yang terparkir di depan kos Sadra untuk menjemputnya. Tapi ini pertama kalinya Sadra merasa sangat spesial ketika sebuah mobil Lamborghini Urus berwarna putih terparkir di depan kos Sadra. Sadra yang tahu siapa pemilik mobil itu langsung berlari dari kamar kosnya dan bergegas mengenakan sepatunya. Dengan langkah seribu ia segera menuju mobil itu karena ia tidak mau laki-laki di dalam mobil itu menunggunya terlalu lama.
“Hai?” sapa Zealand begitu Sadra duduk di sebelah Zealandd yang memegang kemudi.
“Hai, Kak!” sahut Sadra sambil memasang sabuk pengaman pada tubuhnya.
Wow! Degup jantung Sadra seketika tidak bisa dikendalikan menyadari takdir yang dengan mudah membawanya berada dalam satu mobil bersama idola kesayangannya. Ini memang bukan mimpi, namun Sadra cukup ketakutan jika semua ini segera berakhir. Seandainya tadi ia dengan cepat memutuskan untuk memilih panggilan kerja dari KT Group, sekarang ia tidak akan merasakan grogi dan canggung karena duduk bersebelahan dengan Zealand.
Sebenarnya Sadra sangat ingin melihat penampilan Zealand dengan puas. Namun ia sudah sangat menahan dirinya agar hal itu tidak teralu kentara. Ia akan sangat malu jika Zealand memergokinya sedang menatapnya. Jadi, sebisa mungkin Sadar beberapa kali mencuri-curi pandang dengan melirik Zealand.
Jantung Sadra semakin tidak terkendali saat menyadari penampilan Zealand terasa tidak jauh beda dengan sosok Jaekyung dari manhwa yang beberapa saat lalu mau tidak mau ia baca itu. Celana pendek yang bahkan memperlihatkan sebagian pahanya dan juga hoodie hitam. Mungkin itu penampilan biasa bagi sosok Zealand atau bahkan orang-orang di luar sana. Namun entah kenapa di otak Sadra terlintas sosok Jaekyung. Ya, Sadra mulai terbawa suasana.
“Diem aja?” tanya Zealand berhasil membuyarkan lamunan Sadra yang tiba-tiba teringat adegan di mana Kim Dan yang mengenakan vibrator getar – Sadra menyebutnya konttol bergetar – dan Jaekyung bermain-main dengan alat itu di dalam mobilnya. Untungnya Zealand segera menyadarkan Sadra.
“Eh? Haha. Gak tahu mau ngomong apa.” Jawab Sadra.
“Biasa aja. Ilangin deh canggungnya. Jangan ngerasa lagi jalan sama idol gitu.” Kata Zealand.
“Ya mana bisa, Kak?”
“Bisa kok bisa... Santai aja. Kalau gak gittu, kapan kita bisa deket? Ya kan?” balas Zealand sambil menoleh sebentar dan tersenyum pada Sadra lalu kembali menatap ke depan kemudinya. Sadra hanya tersenyum. Sungguh tidak tahu apa yang harus ia katakan dan lakukan.
“Mau mampir dulu gak?” tanya Zealand.
“Ke Kafe Kejora, boleh? Dekat kok dari sini.” Pinta Sadra.
“Boleh. Di mana?”
“Akak pelan aja. Nanti ada pertigaan lampu merah belok kiri, ga jauh dari situ kok. Nanti ada palangnya.” Kata Sadra menunjukkan jalannya. Zealand hanya mengangguk lalu keduanya diam sampai tiba di Kafe Kejora dalam waktu kurang dari 5 menit.
“Akak mau strawberry milkshake gak?” tanya Sadra sebelum ia turun.
“Boleh. Lu tahu kesukaan Gue.” Jawab Zealand dengan tersenyum menatap Sadra. Sadra langsung mengalihkan pandangannya, menyibukkan dirinya dengan melepaskan sabuk pengaman dan segera turun dari mobil itu.
Anehnya adalah, padahal ini bukan sekali dua kalinya Sadra bertemu bahkan bertatapan langsung dengan Zealand. Namun rasnya keadaan pagi itu sangat berbeda. Ia tidak pernah secanggung ini sebelumnya. Bahkan untuk menatap kedua mata Zealand pun ia ragu. Padahal sebelumnya saat fanmeet, ia cukup berani untuk menatap Zealand bahkan meminta untuk foto berdampingan. Ah, Sadra benar-benar sudah terbawa suasana.
“Cepet bikinin strawberry milkshake satu yang gede, Yen!” seru Sadra dengan terburu-buru begitu menghampiri Ryan di meja bar.
“Hah?” seru Ryan yang membeku sejenak namun tatapannya menelisik ke luar kafe, mencari tahu sahabatnya itu kenapa tiba-tiba berada di kafe.
“Buruan ih! Gue sama Zealand!” bisik Sadra yang sontak membuat Ryan mendelikkan matanya.
“Sumpah, Lu?” seru Ryan tanpa bersuara. Sadra mengangguk dan kembali meminta Ryan untuk segera membuatkan pesanannya.
Suasana kafe pagi itu belum terlalu ramai karena memang baru buka. Sadra beberapa kali melihat ke luar kafe takut jika ada orang yang menyadari keberadaan mobil Zealand di sana. Kedua kakinya juga tidak bisa diam, berharap Ryan bisa mempercepat pekerjaannya.
“Nih! Satu americano 3 shot juga buat Lu biar lebih tenang!” kata Ryan menyerahkan pesanan Sadra.
“Makasih!” kata Sadra sambil mengambil dua minumannya dan segera kembali ke mobil dengan langkah panjang, cenderung terburu-buru. Ryan terus melihat sahabatnya itu berjalan keluar kafe dan memasuki sebuah mobil hingga mobil itu meninggalkan kafe.
“Lu gapapa pagi-pagi minum kopi gitu? Udah sarapan kah?” tanya Zealand sambil menyeruput minumannya lalu menaruhnya di tempat khusus yang sudah di sediakan.
“Sudah biasa. Biar lebih tenang aja sih, hehe.” Jawab Sadra yang juga meneguk kopinya.
“Lu punya medsos?” tanya Zealand.
Aha! Sadra baru ingat bahwa ia sudah menghapus akunnya karena saran dari Ryan. Sangat di sayangkan. Seandainya akunnya masih ada, mungkin ia bisa menunjukkan pada Zealand bahwa ia adalah fans nomor satunya. Ada banyak bukti di sana yang menunjukkan bahwa ia lah fans yang selalu menghadiri fanmeet Zealand. Siapa tahu dengan begitu Zealand bisa mengingatnya.
“Ada sih, Kak.” Jawab Sadra yang akhirnya harus mengorbankan salah satu akun lainnya.
“Itu akun dari tahun berapa?” tanya Zealand lagi.
“2023 kayaknya. Emangnya kenapa?” kini giliran Sadra yang bertanya.
“Mulai sekarang, jadikan itu akun utama lu sebagai Samudra Caspian si aktor baru dari Starium Agensi, ya?” kata Zealand.
“Maksudnya?”
“Gini, kan sebentar lagi Lu bakal jadi aktor nih. Lu tahu kan kalau pasangan dari drama itu akan lebih bagus kalau ngelakuin fan service apalagi yang tidak terduga gitu? Nah, kan Lu bakal jadi Kim Dan, lu bisa tuh isi akun lu sama kegiatan-kegiatan yang biasa Kim Dan lakukan. Bisa dibilang buat kode doang sih. Meskipun gak ada yang tahu akun Lu, tapi nanti begitu Lu di tunjukin sebagai pemeran Kim Dan, akun Lu bakal rame dan netizen bakal mengorek-orek akun Lu.” Jelas Zealand.
“Oh, buat fan service?”
Zealand mengangguk, “Iya. Buat kode-kode juga. Ntar Gue bakal ngasih love di salah satu postingan Lu. Biar netizen nebak-nebak. Kayak poostingan Gue kmarin yang boxing gloves itu. Tau kan?” kata Zealand.
“Iya, tahu kok.” jawab Sadra menganggukkan kepalanya.
“Tapi apa boleh? Soalnya Gue belum dapat perintah apapun dari Bang Abigail, Kak.” Tanya Sadra.
“Tipis-tipis aja boleh lah. Toh Gue juga yang minta dan inisiatif. Tapi nanti Lu tetep tanyain dulu ke Gue apa yang mau Lu posting. Kalau Gue mengiyakan, baru deh Lu bisa posting.” Kata Zealand.
Sadra hanya mengangguk. Ia tahu apa yang dimaksud Zealand. Sadra hanya tidak menyangka akan melakukan hal itu dalam hidupnya. Memposting sesuatu yang bisa menjadi petunjuk untuk netizen.
“Oiya, pastikan itu akun bersih ya... Bukan akun yang Lu pake buat ngirim-ngirim komentar jelek gitu.” Zealand mengingatkan.
“Aman kok.” Jawab Sadra sambil mengingat-ingat bahwa akun yang ia maksud memang tidak pernah ia gunakan untuk mengomentari sesuatu.
“Boxing camp ini udah di sewa private kok. Jadi Lu juga bebas mau ngapain aja. Nanti, Lu sebagai Kim Dan juga harus terbiasa dengan suasana boxing camp.” Kata Zealand, mencoba memberitahu pada Sadra sebagai senior yang sudah membintangi dua judul drama BL itu.





