Bibit dan Benih Dalam Suatu Hubungan
Kalo kriteriamu cantik, putih dan pinter masak yauda nikah aja sama magic com
Buat kalian, khususnya para jomblo mungkin sudah sering mendengar candaan itu. Sebenernya nggak ada yang salah kok kalau kita mematok calon pasangan dengan kriteria tertentu. Kesalahannya adalah, terkadang kriteria yang ditetapkan belum sebanding dengan komitmen kita untuk melakukan perbaikan diri.
Jika jodoh adalah cerminan diri, apa yang ingin kamu perbaiki dari dirimu?
Saat itu aku pernah bercanda dengan adik laki-laki ku, “Aku ingin nikah sama engineer”, begitu ucapku
Adiku pun dengan spontan menjawab, “Biar nggak usah manggil tukang ya mbak kalau barang-barang di rumah rusak?”
Seketika tersadar, apakah motivasi untuk menikah dengan engineer hanya karena perkara remeh sebatas menjadikan pasanganku “tukang” yang kelak bisa memperbaiki atap rumah yang bocor atau listrik yang konslet.
Aku pun teringat pada sosok engineer hebat seperti Bill Gates, Pak Habibie ataupun Mark Zuckerberg. Sosok tangguh itu juga dibersamai dengan pendamping yang tidak kalah hebat dibanding penemuan mereka.
Menuntut krtiteria pada calon pasangan harusnya juga sebanding dengan usaha yang telah kita lakukan untuk memperbaiki diri. Jika ingin bertumbuh bersama maka siapkanlah diri untuk menghadapi tantangan yang sebanding, yang sama besarnya.
Benih dan bibit memiliki tantangannya sendiri saat bertumbuh. Jangan sampai calon pasanganmu sudah menjadi bibit sementara kamu masih sebatas benih.
Dimana letak perbedaannya?
Benih adalah biji tanaman yang telah mengalami perlakuan sehingga dapat dijadikan sarana dalam memperbanyak tanaman sedangkan bibit adalah benih yang telah berkecambah.
Saat ditanam, masalah yang harus ditaklukan benih sebatas pada menembus kegelapan tanah agar bisa menyapa matahari. Mendobrak kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak membawa dampak kebaikan pada hidup agar bisa menjadi pribadi baru yang lebih baik. Berhijrah dari gelap menuju terang.
Setelah berhasil menaklukan dingin dan gelapnya tanah. Tidak jarang setelah berkecambah, benih akan di persiapkan untuk tumbuh di lingkungan yang baru, tempat yang mampu mendukung pertumbuhannya.
Biasanya, setelah muncul empat helai daun, benih dipindahkan ke pot yang lebih besar karena sudah dinilai mampu untuk menjadi “individu” yang baru. Inilah yang akan membedakan benih dengan bibit. Tempat yang baru mengharuskan calon tanaman untuk beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Awalnya hanya berada di satu polybag kecil, setelah berpindah di pot yang berukuran besar masalah pun mulai bertambah. Semula hanya menaklukan gelapnya tanah, namun sekarang sudah berbeda, calon tanaman ini harus berjuang melawan serangan hama, baik yang bersembunyi di bawah tanah maupun yang hinggap pada dedaunan mereka.
Semakin besar tantangan yang dihadapi oleh calon tanaman, akan semakin memperkuat “daya tahan “ mereka untuk beradaptasi dengan hal-hal yang baru. Sekarang coba bayangkan, jika kita menuntut calon pasangan dengan kriteria yang tinggi, apa yang akan terjadi jika akhirnya kita tidak membersamai nya dengan pertumbuhan pada diri kita?
Calon pasangan kita akan menjadi “individu” yang baru untuk memenuhi kriteria ideal yang sudah kita tetapkan. Sementara kita yang tidak berusaha untuk bertumbuh, akan tetap menjadi benih yang bahkan belum mampu “mendobrak” kebiasaan tak berguna.
Bukan tidak mungkin jika dia akan berpindah ke “tempat” yang baru jika kita tidak menuntut perubahan pada diri. Dia akan bertumbuh menjadi individu baru, sementara kita masih harus berkutat dengan kegelapan dan berbagai masalah pribadi yang belum mampu untuk ditaklukan.
Jadi bagaimana? Berani berbuat juga harus berani bertanggung jawab, berani menetapkan kriteria pada calon pasangan seharusnya juga berani untuk menjadikan diri lebih baik dari kriteria yang telah ditetapkan.
Satu hal yang perlu diingat adalah tidak ada biji yang tidak retak agar tunasnya dapat tumbuh dan berkembang.
Tidak ada orang yang sempurna, dalam bertumbuh pasti mereka memiliki satu atau dua kekurangan, melakukan satu atau dua kesalahan dan tugas kita adalah meluaskan penerimaan terhadap kekurangannya. Menyiapkan ruang terbaik untuknya, ibarat hujan yang tak diberi ruang, akan menggenang dan menyebabkan banjir, sama halnya dengan hati seseorang.
Ruang penerimaan, kepedulian dan kebermanfaatan. Kelebihannya menjadi ruang baginya, kekurangannya yang akan menjadi ruang untukmu. Jangan permasalahkan kekurangannya karena itulah ruang bagimu untuk membantu memperbaikinya.
Berilah ruang untuk setiap kekurangan, agar hidupnya tidak hanya menjadi genangan namun meresap dalam kebermanfaatan, sebagaimana meresapnya hujan untuk menumbuhkan benih dan bibit tanaman.