Ramadhan ke-13 : Pasangan
Dalam menyebut pasangan, terkadang Quran menggunakan bahasa "zaujati" (زوجتي) terkadang menggunakan "imro'ati" (امرأتي). Terdapat salah satu doa di dalam Surat Al-Furqan ayat 74.
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyejuk hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa."
Mengapa dalam redaksi doa ini, kata yang digunakan adalah "zaujati" (زوجتي), alih-alih menggunakan "imro'ati" (امرأتي) padahal artinya sama-sama pasangan?
"imro'ati" (امرأتي) seringkali digunakan untuk menggambarkan sepasang manusia yang tidak memiliki kesamaan tujuan dan kesamaan langkah dalam memandang dunia. Contoh nya di Surat At Tahrim ayat 10 saat Allah menggunakan kata "imra'atu Nuh" (إِمْرَأَتُ نُوحٍ) dan "imra'atu Luth" (إِمْرَأَتُ لُوطٍ) untuk menyebut pasangan dari Nabi Nuh serta Nabi Luth, bukan menggunakan "zaujati" (زوجتي).
"zaujati" (زوجتي) merupakan kata yang istimewa. Dimana, hanya diletakan pada pasangan yang selaras dan setujuan. Sehingga tatkala kita sedang berdoa dengan kalimat “Rabbana hablana min azwajina..." kita benar-benar meminta untuk dilekatkan dengan pasangan yang selaras,sevisi, setujuan dengan penciptaan kita sebagai manusia.
Tidak cukup sampai disitu. Kalimat selanjutnya “Qurrata a’yun” itu ibarat bulu mata yang sangat halus yang dimiliki oleh unta yang fungsinya adalah sebagai proteksi dari gemuruh badai pasir di gurun yang tandus. Sehingga, bagaimanapun gemuruh yang terjadi di luar sana saat sudah bertemu dengan pasangan tiada yang dirasakan kecuali : ketenangan.
Prof Dr. Umar bin Abdullah Al- Muqbil bilang terkait ayat ini, bahwa ketenangan yang bersumber dari anak dan pasangan akan punya pengaruh kuat terhadap kepemimpinan yang baik. Sebuah solusi atas isu krisis kepemimpinan.
Satu lagi. Bisa jadi, jawaban atas doa ini justru sebaliknya. Menghindarkan kita dengan pasangan yang tidak selaras dan setujuan. Oleh karena doa itu, kita harus menerima takdir-Nya, meski itu berupa kehilangan seseorang yang kita anggap baik.
Untuk bertemu, mungkin waktunya sedikit agak lama.
Maukah kamu bersabar sebentar lagi?
*Catatan dari kelas bareng ustadz Oemar Mita (Is she/he the one?)
13 Ramadan 1446 H | 13 Maret 2025
*Tulisan ini adalah bagian dari project kecil : 29 hari menulis yang sudah berjalan sejak 8 tahun yang lalu. Tulisan-tulisan sederhana ini akan diterbitkan setiap hari selama Ramadhan 1446 H, bertepatan tahun 2025. Selamat membaca, semoga lingkaran kebaikan ini senantiasa terus bertunas:)