8:08 AM
Jika pada tulisan saya sebelumnya menyebut kata Kampungan! atas berubahnya nama brand T-Cash menjadi LinkAja oleh sebab saya belum mendapatkan kata lainnya yang saya anggap tepat, maka kali ini juga saya merasakan hal yang sama atas kejadian pagi ini. Belum ada kata lain selain “kekhilafan” yang bisa merepresentasikan apa yang terjadi dan baru saya sadari ketika telah berada di kantor.
Di tempat saya bekerja, terdapat 2 jam masuk kantor yaitu jam 8 dan 9 pagi. Tinggal pilih saja mau masuk di jam berapa. Pulangnya tetap berdasarkan perhitungan 8 jam kerja.
Jadi kalau masuknya jam 9, pulangnya ya jam 6 sore. Urusan jam masuk dan pulang ini memang sedikit ketat karena harus absen sidik jari. Jadi, jika sampai telat masuk, siap-siap saja telat untuk pulang juga.
Saya biasanya seringkali berusaha untuk masuk sebelum jam 9 pagi. Waktu terakhir.
Urusan bangun pagi ini sebenarnya masih menjadi hal yang susah untuk saya lakukan karena kebiasaan tidur tengah malam bahkan seringkali jam 2 hingga jam 4 subuh baru bisa tidur.
Tidak heran jika pengaturan alarm di hp saya itu bisa sampai bunyi hingga 6 kali dengan rentang waktu setiap 5 menit dan juga beberapa menit lebih lama.
Setidaknya untuk saat ini, saya belum berkesempatan mendengarkan suara yang membangunkan saya dengan nada;
“Sayang, bangun dong, sudah pagi nih.”
Belum bisa saya mengalami hal itu karena memang belum menikah. So, ucapan “sayang” tersebut justru hanya akan berasal dari alarm yang sudah saya setel malam sebelumnya bahkan berulang-ulang seminggu penuh dan sebenarnya sudah berlangsung hampir setahun.
Kekhilafan saya pagi ini adalah______________
Sering kali bangun karena bunyi alarm, tubuh dan pikiran saya seolah sudah secara otomatis terlatih untuk hal ini. Karena pengaturannya sekitar jam 6 lewat dan jam 7 lewat di pagi hari, masih cukuplah waktu untuk melanjutkan tidur beberapa menit atau meneguk minuman baik kopi maupun air putih sembari bersantai sejenak sebelum mandi dan bersiap-siap ke kantor.
Alarm yang kesekian kali akhirnya berbunyi kembali. Entah yang kelima atau mungkin yang terakhir, saya tidak begitu mengingatnya. Dan waktu itu, saya ternyata ketiduran sejak mendengar alarm sebelumnya.
Entah jam berapa tepatnya dan di menit ke berapa, saya secara buru-buru langsung mandi dan standby menuju kantor menggunakan ojek online.
Suasana luar sudah sangat terang dan juga sedikit panas yang membuat saya berpikir bahwa sepertinya, jam 9 sebentar lagi tinggal menghitung menit. Pikiran saya mengatakan bahwa saya akan terlambat ngantor tanpa memeriksa kembali jam di hp saya.
Saat di perjalanan, bahkan saya malas untuk memulai percakapan dengan bapak driver saking pikiran saya tidak rela jika pagi tadi harus terlambat masuk bekerja.
Beberapa menit berselang, sampailah saya di depan parkiran kantor dimana sebelumnya ada sedikit drama karena kendaraan yang saya tumpangi harus memutar jalan tidak seperti biasanya. Tinggal sekitar seratusan meter menuju kantor, jalan yang bisanya saya lewati ditutup karena ada acara. Entah sedang ada acara apa, tidak penting juga untuk saya ketahui.
Tapi Alhamdulillah, saya pun sampai dengan selamat!
Jika benar bahwa saya sedikit terlambat, hal yang menurut saya aneh justru terjadi. Bukan aneh gimana juga sih. Parkiran motor yang seharusnya sudah hampir penuh, pagi tadi justru hanya ada 3 motor. Juga, ada 2 rekan kerja saya yang masih bersantai di teras depan kantor. Bukannya malah bekerja.
Sambil masih kebingungan, saya perlahan menuju pintu masuk dan bertanya pada salah satu rekan kerja saya mengenai kenapa jam “segini” teman-teman yang lainnya masih belum datang juga?
Tidak ada jawaban yang saya dapatkan. Dan rekan yang saya tanya tersebut mungkin juga kebingungan dengan pertanyaan saya. Karena itu, saya langsung masuk saja ke dalam kantor dan bersiap-siap untuk absen sidik jari.
Dan.... Boooooooommmm.
Alat elektronik untuk absen tersebut memang selalunya menginformasikan jam berapa kita masuk sesaat setelah menempelkan jari.
8.08 AM.
Itu yang tampak di layar absen didepan mata saya.















