25 Tahun Sudah Punya Apa?
Akhir-akhir ini gendang telingga kita semacam akrab dengan pertanyaan yang bisa menghasilkan bias respon, ambiguitas, dan proyeksi jawaban lainnya yang sangat bergantung pada sudut pandang dan sensitivitas seseorang atas pertanyaan: "25 tahun sudah punya apa?". Seolah-olah pertanyaan tersebut ditafsirkan sebagian besar orang mengharapkan kepemilikan barang berharga dan aset, kesuksesan karier, rampungnya pendidikan atau apapun yang melenakan mata sebagai jawaban paling mutlak. Tapi, pertanyaan tetaplah pertanyaan tanpa dijawab pun ia tetap berdiri utuh sebagai pertanyaan. Pertanyaan tetaplah pertanyaan, menjadi koordinat tempat berkiblatnya ragam jawaban.
Kalaulah harus memberikan jawaban dalam satu kata atas pertanyaan tersebut, 25 tahun sudah punya apa? Aku sosok mufrad yang memiliki berat tak jauh beda dengan 60pcs handuk mungkin akan lantang menjawab: 25 tahun sudah punya sebongkah penerimaan.
Mengapa penerimaan, karena jika tanpa kokohnya penerimaan tanpa luasnya lahan penerimaan yang terbuka 25 tahun tak akan mengantarkan aku hidup seperti ini, tak akan ada sosok ku yang lebih karang dibanding karang hingga detik ini.
Usia 25 tahun yang konon menurut kacamata milenial dikategorikan sebagai usia yang rentan dengan life crisis (walau sebetulnya life crisis tidak berpatokan pada usia). Pada usia tersebut aku sedang berjuang menyelesaikan pendidikan strata II, iya aku sedang mengemban gelar pejuang ijazah dan ijabsah. Hanya gadis biasa yang punya segala keterbatasan dengan segunung kewajiban yang harus dituntaskan. Selain sebagai mahasiswa tingkat akhir, sebagian waktuku juga habis dimakan rutinitas kerja, disamping itu sebagian besar waktunya digunakan untuk merawat mamah.
Usia 25 tahun sudah harus mengurai beban hidup dengan kepala dingin, menyelesaikan apa yang telah dimulai, dan tentunya merangkul waras agar tak lepas. Hingga saat ini tidak pernah mengerti energi apa yang membersamai begitu dahsyat di usia 25 tahun. Mengapa bisa tegar dan terus berjalan hingga dimampukan menyelesaikan studi tepat waktu, padahal disela-sela himpitan deadline ada kecemasan dan ketakutan yang tak bisa dijelaskan; begitu banyak air mata jatuh namun selalu berhasil bermukim di bilik persembunyiaannya. Mengapa bisa menyesaikan tesis dalam keadaan sulit, iya gadis berbadan tipis ini mengerjakan tesis kala ibunya 40 hari 40 malam terbaring di RS. Lorong RS, code blue, kesibukan dokter dan perawat menyelamatkan nyawa, teriakan dan tangisan kehilangan tiap hari adalah irama yang tak pernah pudar dari kepala yang menemaniku menulis tesis saat tak tahu kaki berpijak atau tidak.
Jika 25 tahun seseorang dikatakan matang dengan hal-hal surface, mungkin aku bukan orang matang tersebut. Namun, seperti yang dikatakan di awal setiap pertanyaan bisa menghasilkan proyeksi jawaban yang berbeda; 25 tahun aku sudah sangat kaya dengan penerimaan. Menerima bahwa ujian hidup orang heterogen, jalan cerita dan perjuangannya berbeda. Di usia 25 sudah sangat kaya memaknai hidup singkat ini, bahwasanya dalam keadaan sulit dan terhimpit sekalipun kita hanya perlu bergerak menyelesaikan apapun sejauh kaki mampu melangkah. Menerjemahkan cobaan sebagai pecutan, untuk tetap bertahan dalam kebaikan, dalam ketabahan yang berserah. Jika kita diberikan kesempatan memilih cerita hidup, maka cerita hidup lurus dan baik-baik saja tentu akan jadi pemenangnya, sayangnya yang seringkali luput dari ingatan di dunia ini kita bukan Tuhan tugas kita disini hanya memainkan peran yang telah lebih dulu dituliskan.
Bagi kamu, yang sudah melewati usia 25 tapi masih merasa belum memiliki apa-apa jangan lekas merutuki diri, usia bukan parameter yang tepat untuk menyeragamkan pencapaian-pencapaian orang dengan takdir yang heterogen. Mari terus mencintai hidup, melakukan hal-hal yang disuka tanpa perlu khawatir soal angka karena manusia tidak terlahir dengan batas kadaluarsa.













