Hari ini rasanya pikiranku penuuuuh
Mike Driver
styofa doing anything
One Nice Bug Per Day
he wasn't even looking at me and he found me
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Monterey Bay Aquarium

shark vs the universe
almost home

ellievsbear

izzy's playlists!
TVSTRANGERTHINGS
Sweet Seals For You, Always

❣ Chile in a Photography ❣
Game of Thrones Daily
PUT YOUR BEARD IN MY MOUTH
No title available
will byers stan first human second
Cosmic Funnies

祝日 / Permanent Vacation

Andulka

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Ireland
seen from Malaysia
seen from Germany

seen from T1

seen from Netherlands
seen from Australia
seen from United States

seen from Malaysia

seen from T1

seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia

seen from United States
seen from Ireland

seen from Malaysia

seen from Malaysia
seen from United States
@devkas
Hari ini rasanya pikiranku penuuuuh
Percaya deh setiap orang pasti ada kebaikannya, kelebihannya, kekurangannya masing - masing. Gak usah galau mikirin ini itu dia begini dia begitu dari A sampai Z, karena itu udah sepaket Allah yang ciptain, memang itu versi terbaik dirinya. Belajar menerima seperti keinginan kamu untuk diterima. Terus dimana letak usahanya ? Tantangannya ? Seperti tidak memikirkan kemungkinan kemungkinan kandidat lain mungkin. Yang akan menguras pikiran seandainya begini seandainya begitu.
Bundaku memang tidak seperti bunda peri yang selalu berlaku manis, tapi genggaman tangannya bisa menepis semua cemas, pelukannya bisa menyembuhkan sakit, tatapan matanya bisa menguatkan.
Azalea, 25 08 2020
Doa-Doa Mereka
Repost
Tulisan di bawah ini miliki Kak Uti, teman diskusi yang dulu adalah asdos saya sewaktu kuliah tingkat pertama di FSRD ITB. Saya salin dari halaman FBnya karena saya merasa tulisan ini amat baik untuk diteruskan, berikut tautan aslinya (klik di sini)
Beberapa tahun yang lalu sempet merenung, beruntung banget orang-orang yang masih punya ibu apalagi orang tua lengkap. Orang tua gak bisa ngajarin semua hal terhadap anaknya karena kapasitas mereka juga beragam, waktunya terbatas, dan banyak faktor lainnya. Mereka juga gak bisa terus-terusan menjaga dan mengontrol anaknya.
Tapi berkat doa yang gak pernah putus dari mereka, si anak terus terjaga dalam langkah hidupnya. Akalnya terjaga, hatinya terjaga, pikirannya terjaga, jiwanya terjaga, kehormatannya terjaga. Belum lagi segala keberuntungan yang datang berkat doa mereka. Keberuntungan terhindar dari marabahaya, keberuntungan dapat peluang, keberuntungan dapat jodoh yg soleh.
Seseorang lepas dari agama puluhan tahun dan orang tuanya tahu. Tapi orang tuanya “gak bisa” ngapa-ngapain, karena itu udah urusan pribadi anak dengan Tuhannya, dan manusia gak bisa mengubah hati manusia lain. Sampai di momen, orang ini “kembali” pada jalan-Nya dan menyadari “dulu gue lost”. Ada doa orang tua yg akhirnya diijabah oleh Sang Maha pembolak balik hati.
Seseorang kemampuan nalar, matematika, daya tangkapnya kurang. Diajarin apapun lama nangkepnya. Tapi dia selalu selamat dalam segala ritme kehidupan, tumbuh jadi manusia berhati lembut dan bahagia. Meski kurang, jiwanya terjaga. Ada doa ibu dibalik itu. Doa agar anaknya terlindungi, bahagia, dan bisa survive.
Peluang buat gak bener itu banyaaaak banget, ada dimana-mana. Cuma saat mau ngelakuinnya ada aja yang bikin gak jadi. Bahkan kadang-kadang gak minat juga buat milih jalan itu. Kalo diliat ulang kebelakang, berapa banyak hal-hal buruk yang gak jadi diambil? Berapa banyak terselamatkan dari bahaya? Berapa banyak peluang-peluang yang menyesatkan gak jadi dipilih dan malah bersyukur diakhirnya? Berapa banyak terselamatkan dari hal-hal jelek? Berapa banyak hal-hal di luar kendali manusia yang bisa dilewati? Banyak banget pasti itu. Dan selamat. Itu semua bukan semata-mata kemampuan diri aja, ada doa orang tua yang bikin selamat, terhindarkan dari bahaya dan keburukan.
Banyak orang tua yang bijak. Untuk tidak banyak mencekokan pendidikan ini itu kepada anaknya, yang membebaskan anaknya mengenali dirinya sendiri, membebaskan anaknya terhindar dari rasa takut (takut gak disukai/ takut dibenci/ takut salah/ takut gak diterima), membebaskan anaknya untuk belajar, membebaskan anaknya untuk benar-benar punya purpose of life dan goal yang benar-benar peran anaknya, membebaskan anaknya dari persepsi dirinya dengan tidak menurunkan kebencian apapun (semacam ortu benci kaum x, terus cerita-cerita ke anaknya).
Orang tua yang sadar kalau sebaik-baiknya yang bis a dilakukannya dimulai dengan memberi makanan yang halal (makanannya, caranya, hartanya). Sesuatu yang baik tumbuh dari hal sekecil makanan halal, karena itu yang terus tumbuh melekat pada fisik manusia. Dan dalam perjalanan pendidikannya, kehidupannya, mereka terus berdoa untuk keselamatan anaknya dunia akhirat.
Dan semakin kesini, semakin paham cinta orang tua begitu besar dan gak akan tergantikan apapun. Entahlah kalau udah punya anak, bakal lebih bisa merasakan lagi (gak cuma berdasarkan logika, imajinasi, dan empati lagi), merasakan karena terlibat langsung dan berganti peran.
Saat satu orang tua meninggal, hilang satu keberkahan. Saat kedua orang tua meninggal, hilang dua keberkahan. Keberkahan hidup, doa-doa yang menjaga kita hingga akhirnya jadi seperti sekarang, dalam keadaan sekarang.
©Febriani Eka Puteri
Mengajarkan Ibadah yang Menyenangkan pada Anak
Sebuah Catatan Seminar bersama Bunda Elly Risman, Psikolog
Oleh: Yulinda Ashari Bidang Pemuda ASA Indonesia Divisi Riset dan Kajian
Sebagai orang tua Muslim, kita seharusnya sudah memahami bahwa tugas utama kita dalam pengasuhan anak adalah bagaimana menjadikan anak sebaik-baik hamba yang taat beribadah kepada Allah swt. Konsep ibadah dan keimanan ini harus diajarkan sejak anak masih dini, agar kelak ketika beranjak dewasa mereka sudah terbiasa untuk beribadah tanpa harus disuruh lagi. Metode pengajaran beribadah kepada anak tentu berbeda dengan orang dewasa. Ibadah bagi anak-anak harus dibuat menyenangkan. Mengapa ibadah bagi anak harus menyenangkan? Karena targetnya anak-anak, maka metode harus disesuaikan dengan cara kerja otaknya. Bagian sinaps pada otak anak belum menyatu dengan sempurna sehingga ibadah harus dikemas secara menyenangkan. Orang tua tidak bisa memberikan pengasuhan dengan mengabaikan perkembangan otak anak.
Sebelum mengajarkan ibadah kepada anak, orang tua harus mengingat kembali bahwa hal ini merupakan perintah Allah yang harus diperjuangkan dengan bersungguh-sungguh, karena sejatinya tujuan penciptaan manusia di dunia adalah untuk beribadah dan mengagungkan keesaan Allah swt. Mari kita buka kembali QS. Ad-Dzariyat ayat 56-58, yang artinya:
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi Rizki Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”
Salah satu tanggung jawab orang tua dalam hal beribadah ini adalah bagaimana cara membentuk kebiasaan yang baik serta meninggalkan kenangan yang baik pada anak. Ingatkah dahulu kala mungkin ada yang mendapat “ancaman” jika tidak salat? Barangkali hal itu dapat membentuk kebiasaan yang baik, namun kenangan yang tertinggal di ingatan adalah kenangan yang tidak baik, bukan? Kebiasaan baik dan kenangan yang baik. Ibadah harus dibuat menyenangkan agar anak tidak merasa terbebani, tidak menolak, dan tentu saja agar mereka merasa senang dan bahagia ketika beribadah. Jangan pernah tinggalkan kenangan buruk untuk anak ya Ayah Bunda!
“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah berbicara dengan tutur kata yang benar.“ (QS. An-Nisa ayat 9)
Tugas pengasuhan anak apalagi terkait ibadah ini memang bukanlah hal yang mudah. Namun ingatlah bahwa karakter anak apapun yang Allah anugerahkan kepada Ayah Bunda, tidak akan melampaui batas kesanggupan masing-masing orang tua. Selalu ingatlah bahwa anak kita sejatinya bukanlah milik kita. Anak hanyalah titipan Allah yang dapat diambil kapan saja. Anak adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada pemilik-Nya. Mereka adalah kenikmatan, tantangan, sekaligus ujian, yang kemudian proses pengasuhannya membutuhkan perjuangan berupa pikiran, perasaan, jiwa, tenaga, serta biaya yang tidak sedikit. Bayangkan jika kita dititipi anak presiden, mungkinkah kita berani memukul, mencubit, atau berkata kasar padanya? Tentu saja tidak. Lalu bagaimana jika kita dititipi anak langsung oleh Sang Pemilik Kekuasaan? Masih beranikah kita mendidik anak tanpa ilmu dan bersikap sewenang-wenang pada mereka? Kira-kira sudah berapa banyak kita melanggar perintah Allah terkait pengasuhan anak ini?
Didiklah anak karena Allah. Jangan pernah mengharapkan kebaikan dari anak jika orang tua tidak mendidiknya dengan baik. Anak-anak kita bukanlah pilihan kita, mereka adalah takdir pilihan Allah untuk kita. Boleh memasukan anak ke sekolah-sekolah agama, namun bukan berarti kewajiban orang tua dalam mengajarkan agama menjadi gugur begitu saja. Tugas orang tua untuk mengajarkan agama harus dituntaskan terlebih dahulu sebelum memasukan anak ke pesantren. Di akhirat kelak, bukan guru-guru pesantren yang akan ditanya, tapi para orang tua masing-masing. Ayah dan Bunda, sudah siapkah mempertanggungjawabkan tugas pengasuhan ini?
Ada beberapa tantangan yang harus dihadapi para orang tua dalam mengajarkan anak beribadah yang menyenangkan, antara lain: 1. Tantangan dari dalam diri sendiri dan pasangan Tantangan utama dalam hal ini adalah terkait bagaimana masalah agama ini ditanamkan pada diri Ayah dan Bunda sendiri. Selalu lihatlah ke dalam diri sendiri sebelum menyalahkan lingkungan. Seberapa pentingkah agama dalam hati dan kehidupan kita? Mungkinkah berharap anak yang salih saat kitapun tidak berusaha menjadi orang tua yang salih? Mungkinkah menginginkan anak yang rajin salat sedangkan Ayah dan Bunda tidak salat? Jadilah teladan yang terbaik bagi anak-anak kita terkait ibadah ini. Pelajarilah ilmu agama lebih banyak. Tumbuhkan kesadaran bahwa tujuan utama mendidik anak adalah menjadikan mereka penyembah Allah. Bagi yang sedang dalam proses pencarian pasangan, sepakatilah di awal pernikahan dengan pasangan untuk bersama-sama mendidik anak menjadi hamba Allah jika telah terlahir ke dunia kelak.
Tahukah Ayah dan Bunda, dalam proses pengasuhan ini, penanggung jawab utamanya ternyata adalah Ayah! Keterlibatan ayah untuk membentuk kebiasaan beribadah anak SANGAT PENTING! Anak yang mendapat keterlibatan pengasuhan ayahnya yang baik akan tumbuh memiliki harga diri yang tinggi, prestasi akademik di atas rata-rata, lebih pandai bergaul, dan saat dewasa akan menjadi pribadi yang senang menghibur orang lain. Maka wahai para ayah, kembalilah! Tugas ayah bukanlah sekadar mencari nafkah, namun juga sebagai penanggung jawab utama pengasuhan anak. Jika ayah terlalu sibuk bekerja—dengan alasan untuk kebahagiaan istri dan anak—maka tanyakanlah kembali pada diri: apa yang sebenarnya sedang ayah kejar? Apa yang ayah sebut dengan kebahagiaan anak dan istri tersebut? Tidak takutkah kelak dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah mengenai hal ini?
2. Mengasuh generasi Alfa • Gen Y lahir pada rentang tahun 1980 – 1994. • Gen Z lahir pada rentang tahun 1994 – 2009. • Gen Alfa lahir pada rentang tahun 2010 – 2025. - Mereka hidup dengan internet (belajar, bikin PR, makan olahraga, tidur). - Semua serba cepat, instan, menantang dan menyenangkan. - Mereka terbiasa multiswitching (melalui gadget). - Mereka memiliki tata nilai yang berbeda. Generasi yang akan kita didik saat ini adalah para Alfa. Jika generasi Alfa ini tidak dididik dengan metode yang tepat sesuai zamannya, maka akan sulit memasuki dunia mereka, bukan? Karenanya, Ayah dan Bunda tidak boleh abai dengan tantangan dan perkembangan zaman ya!
3. Beban pelajaran yang berat • 70% anak masuk SD sebelum usia 7 tahun. • 46% anak di sekolah 6 – 7 jam sehari. • 25% sekolah masih memberi materi pelajaran formal setelah jam 12 siang. • 52% guru di sekolah masih memberikan 1 – 2 PR. • 18% anak mengikuti les mata pelajaran setelah pulang sekolah. • 25% anak mengikuti les 2 -3 hari dalam seminggu. • Standar kelulusan Indonesia tertinggi di dunia. Dengan beban pelajaran yang berat bagi anak, kegiatan beribadah seringkali menjadi tidak diutamakan. Para orang tua mendidik anak mereka menjadi orang yang pintar secara akademik, namun hampa secara keimanan. Tanamkanlah tekad dalam diri, “Anakku harus salih dulu, baru pintar”. Jangan salahkan pula jika kemudian anak menjadi mudah emosi karena terlalu lelah di sekolah. Jangan pernah abaikan perasaan mereka. Hindari menasihati mereka saat emosinya sedang tidak baik. Orang tua juga perlu menyelesaikan emosi dengan dirinya sendiri, jangan sampai emosi kita kemudian berimbas kepada anak dan pasangan. 4. Peer Pressure 5. Ancaman dari agama dan kepercayaan lain 6. Perubahan nilai dari masyarakat kita
Mulai dari mana?
Selesaikanlan urusan dengan diri sendiri dan pasangan terkait urusan ibadah ini. Semua kebiasaan beribadah ini bermula dari Ayah dan Bundanya, jadilah role model yang baik dan idola bagi anak kita sendiri. Orang tua juga perlu mengenali keunikan serta tahapan perkembangan otak anak, sehingga metode yang disampaikan dapat sesuai dan tepat sasaran. Kenalkan ibadah pada anak dengan cara yang menyenangkan. Biarlah jika pada awalnya mereka suka sekali bermain air saat berwudhu hingga bajunya basah dan haruss diganti berkali-kali. Biarlah jika gerakan salatnya masih semaunya, suka menarik-narik sajadah, atau menganggu ayah bundanya saat sedang salat. Jangan dimarahi. Biarkan anak senang dan bahagia terlebih dahulu dengan praktik ibadah ini. Masukan target “bahagia” dalam proses pengasuhan anak. Mendidik anak memang harus disertai kesabaran yang tanpa batas. Tidak apa-apa, didiklah anak dengan cinta karena Allah semata. Jika anak senang beribadah, ia akan mau beribadah, kemudian menjadi bisa beribadah, dan terakhir menjadi terbiasa beribadah tanpa harus disuruh dan merasa dipaksa.
Untuk mengajari anak ibadah yang menyenangkan diperlukan niat baik, kejujuran, keterbukaan, serta kerjasama yang baik dari kedua orang tuanya, tidak bisa hanya salah satunya saja. Setelahnya, kombinasikan semua tekad itu dengan mengenali kepribadian anak, sesuaikan dengan cara kerja otak, bakat, serta seluruh kemampuan anak. Setiap anak kita adalah unik, otak anak baru berhubungan sempurna ketika berusia 7 tahun, sedangkan hubungan anatara sistem limbik dan corteks cerebri di otak baru sempurna pada usia 19-21 tahun. Butuh sekitar 20 tahun bagi orang tua untuk mendidik anak dengan baik, maka bersabar dan bersungguh-sungguhlah, karena Allah menyukai orang yang bersungguh-sungguh. Jangan menuntut anak untuk dewasa sebelum waktunya. Anak perlu menjadi anak untuk dapat menjadi orang dewasa, hilangnya masa kanak-kanak akan mengakibatkan masyarakat yang kekanak-kanakan. Bantulah anak-anak kita untuki mekar sesuai dengan usia dan kemampuan serta keunikannya. Ayah dan Bunda harus membuat kesepakatan dan kerjasama di awal, siapa pengambil keputusan dalam hal A dan B, buat perencanaan-pelaksanaan-evaluasi, buat target per anak, pembagian kerjasama, kontrol, dan selalu bermusyawarah dalam setiap keputusan yang melibatkan seluruh anggota keluarga, termasuk anak-anak. Ubah paradigma dan cara pandang kita, bahwa anak bukan saja harus bisa beribadah, namun juga suka beribadah.
Landasan Psikologis Anak
Anak Usia 5 – 8 tahun Ibadah untuk anak usia ini bukanlah suatu kewajiban, tapi perkenalan, latihan, dan pembiasaan. Tidak ada kewajiban syar’i bagi anak untuk beribadah, namun ada kewajiban syar’i bagi orang tua untuk membentuk kebiasaan anak dengan cara yang menyenangkan. Didiklah anak dengan modal, misalnya belikan mukena yang disukai anak, membelikan baju koko baru agar anak rajin ke masjid, dan lain sebagainya. Jangan ragu mengeluarkan modal untuk keperluan beribadah kepada Allah swt. Jangan juga hilang kegembiraan anak usia 5 -8 tahun, masuki dunia anak dengan metode 3B: Bercerita/Berkisah, Bermain, dan Bernyanyi. Landasan Psikologis Anak Usia 5 – 8 tahun: • Mudah dibentuk. • Daya ingat yang kuat. • “Dunianya” terbatas. • Meniru: orang tua/ situasi. • Rasa persaudaraan sedunia.
Landasan Psikologis Anak Usia 9 – 14 tahun: • Otak sudah sempurna berhubungan. • Umumnya: Mukallaf. • Emosi sering kacau. • Tugas sekolah semakin berat (ditambah les). • Banyak aktivitas, termasuk bermain internet dan games. • Peer Pressure yang sangat kuat. • Hal yang perlu diperhatikan pada usia ini antara lain: - Fokus pada target tahun ini: tanggung jawab seorang yang sudah baligh. - Perlakuan dan komunikasi sebagai teman. - Bisa menjadi pendamping/ pembimbing adik-adiknya. - Diberi tanggung jawab sosial: mengantar makanan untuk berbuka puasa, membayar zakat, dan kerja sosial yang mudah sesuai usia. - Ajari anak untuk berwirausaha/ berdagang.
Landasan Psikologis Anak Usia 15 – 20 tahun: • Prefontal Corteks hampir sempurna berhubungan. • Dewasa muda. • Semakin banyak aktivitas, games dan internet. • Mulai mengenal pacaran dan pergaulan bebas. • Orientasi semakin di luar rumah. • Hal yang perlu diperhatikan pada usia ini antara lain: - Fokus pada target tahun ini: dewasa muda, ajarkan fiqih pernikahan. - Perlakuan dan komunikasi sebagai sesama orang dewasa. - Bisa menjadi motivator dan pembimbing adik-adiknya. - Jadikan ia penggerak/ koordinator kegiatan anak dan remaja masjid/mushala.
Setelah mengetahui landasan psikologis pada rentang umur anak, maka metode pembiasaan beribadah pada anak dapat disesuaikan dengan perkembangan dan cara kerja otaknya. Ayah dan Bunda harus terus belajar untuk bisa menjelaskan pertanyaan “mengapa?” dari anak, jelaskan apa yang saja yang menjadi perintah dan larangan Allah swt., serta manfaat dan ganjaran dari beribadah. Gunakan pendekatan kognitif secara ringkas serta contoh yang kongkrit pada anak, serta selalu gunakan Al-Qur’an dan Hadis sebagai referensi utama,. Teruslah bersabar dalam mendidik anak karena waktu persiapan setiap anak tidaklah sama, proses pengasuhan harus disesuaikan dengan usia, kemampuan, kondisi fisik, dan karakter anak.
Persiapkanlah diri Ayah dan Bunda untuk mengatasi setiap masalah yang terjadi dengan penuh kasih sayang dan kesabaran. Gunakanlah kata-kata yang memahami perasaan anak, lebih banyak mendengar aktif, hindari kata-kata yang menghambat komunikasi dengan anak, serta biasakanlah memberi kesempatan kepada anak untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan. Jika saat ini anak kita dimanjakan oleh fasilitas: kamar pribadi, rumah yang luas, gadget, serta wifi dan akses internet yang tidak terbatas, jangan lupa ingatkan anak untuk menahan pandangan dan menjaga kemaluannya, ingatkan bahwa meski Ayah dan Bunda tidak berada di rumah atau di sekolah, ada Allah yang tetap mengawasi dimanapun mereka berada. Sampaikan tips sukses pada anak yang tidak hanya berupa kemampuan akademik, namun juga berupa salat tepat waktu, sayang pada ibu, puasa Senin dan Kamis, serta mengaji setiap pagi dan sore.
Akhirnya, selamat berjuang! Miliki kekuatan kehendak, bayangkan, dan doakan anak-anak menjadi penyembah Allah yang taat. Semoga Allah karuniakan kita anak-anak yang salih dan salihah.
Simpan dulu
Saved
TAHAPAN PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN #1
Halo moms and dads. Berjumpa lagi dengan #psycorner. Kali ini kita akan membahas tentang tahap perkembangan kepribadian manusia. Meskipun sebenarnya kepribadian seseorang relatif konstan, namun dalam kenyataannya, perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi, terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik. Seorang pakar psikologi bernama Erikson merumuskan tahapan perkembangan kepribadian yaitu: 1. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi ia tidak mau mempercayai orang yang dianggap asing. Oleh karena itu kadang-kadang kita melihat bayi menangis bila digendong oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing, tempat asing, suara asing, perlakuan asing dan sebagainya. Bayi seringkali menangis ketika menghadapi sesuatu yang asing bagi dirinya 2. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame, doubt. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa melakukan beberapa hal sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, dan lain-lain. Dia juga telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya. Pada masa ini, orang tua haruslah selalu mendorong anak agar tidak ragu, dan hindari melakukan hal-hal yang sekiranya akan membuat ia ditertawakan.
3. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative–guilty. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan yang membuatnya terdorong melakukan beberapa kegiatan. Namun karena kemampuan anak masih terbatas, adakalanya dia mengalami kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat. Maka, orang tua harus senantiasa mendorong anak agar tidak jera jika ternyata yang dia lakukan belum berhasil. Orang tua juga tidak boleh memarahi anak ketika perintah yang ia berikan tidak berhasil dilakukan anak. 4. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini jika tidak disikapi dengan baik oleh lingkungannya, dapat menyebabkan anak merasa rendah diri. Setelah usia anak-anak, tahapan perkembangan kepribadian selanjutnya adalah remaja hingga tua. Tahapan ini inshaAllah akan kita bahas dalam #psycorner edisi selanjutnya. Semoga bermanfaat. (rm) 🇵🇸🇵🇸🇵🇸🇵🇸🇵🇸🇵🇸🇵🇸🇵🇸🇵🇸🇵🇸 Kami masih menanti infak terbaik teman-teman untuk Palestina. Info lebih lanjut silahkan buka http://supermomwannabee.tumblr.com/post/169242009777/peduli-palestina-assalamualaykum-duka atau hubungi CP kami di +6285725105272 🇵🇸🇵🇸🇵🇸🇵🇸🇵🇸🇵🇸🇵🇸🇵🇸🇵🇸🇵🇸 🌐 Sumber: belajarpsikologi(dot)com 🌷SUPERMOM’s NOTE🌷 Edisi #psycorner 08 Januari 2018 🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄 ☘ Email : [email protected] ☘ Fanpage FB : https://web.facebook.com/supermomwannabefanpage/ ☘ Twitter : https://twitter.com/supermom_w ☘ Instagram : https://www.instagram.com/supermom_w/ ☘ Tumblr : http://supermomwannabee.tumblr.com/ ☘ WhatsApp: +6281904714215 ☘ Line: @qxb9368f (use @) Link: http://line.me/ti/p/%40qxb9368f
Hai 24 Desember
Hai dua empat desember, bersyukur sampai pada hari ini untuk yang ke dua puluh lima kalinya. Banyak sekali yang perlu kamu sadari, kamu renungkan, meluruskan kembali niat, merapihkan kembali catatan - catatan yang tercecer. Banyak sekali celah bersyukur yang tak pernah terlirik, karena sibuk melihat dan menghitung yang belum Allah izinkan untuk sampai padamu.
Sadarlah kesempatanmu berbuat baik di dunia ini semakin berkurang. Lakukan kebaikan - kebaikan sekecil apapun yang kamu bisa, semakin taat pada penciptamu dan orang tua yang menyayangimu, jadikan ridho Allah adalah yang utama.
Jangan lupa jadikan sabar dan shalat sebagai penolongmu.
Pojokan kamar, 24 Desember 2017.
Sebenarnya perempuan memiliki kemampuan dalam mengambil keputusan atas banyak hal termasuk perasaannya, hanya saja perempuan terkadang juga memiliki keinginan tidak ingin sendirian melalui banyak hal yang ia putuskan.
lalu jadilah rumit,
Alberta Shendy
Ngerasa kayak drama banget
Jika dihadapkan lagi pada pilihan, seakan ada secerca harapan baru, namun kamu gak tau akan berakhir seperti apa resiko dari pilihan itu.
Devi
How to save your heart?
SHOULD; never expect. never demand. never assume. KNOW; your limits. where to stand. your role. DONT; get affected. get jealous. get paranoid. JUST; go with the flow and stay happy.
Hi overthinker, you should read this. #ntms wkwkwkwk
Vitamin : Fungsi dan Sumbernya ==========================
Vitamin adalah senyawa yang dibutuhkan tubuh dan tidak dapat diproduksi tubuh. Ada dua jenis vitamin, larut air dan larut lemak. Kali ini kita akan membahas jenis pertama, yakni vitamin yang larut dalam air.
Vitamin larut air yang masuk dalam tubuh dan jumlah berlebih, biasanya diekskresikan/dikeluarkan oleh ginjal. Walaupun tubuh kita membutuhkan vitamin jenis ini hanya dalam dosis kecil, namun ia tetap harus dikonsumsi secara teratur.
Vitamin ini tidak seperti vitamin yang larut lemak yang bisa berubah menjadi toksik. Tapi niasin, vitamin B6, folat, kolin, dan vitamin C memiliki batas maksimum penggunaan. Vitamin B6 pada konsentrasi tinggi dalam jangka waktu lama telah terbukti menyebabkan kerusakan saraf ireversibel (permanen, tidak dapet kembali).
Dengan mengonsumsi menu makanan gizi seimbang, sebenarnya kita telah dapat mencukupi kebutuhan vitamin tubuh. Sedangkan untuk orang berusia lebih dari 50 tahun dan beberapa vegetarian mungkin perlu menggunakan suplemen untuk mendapatkan tambahan B12.
Berikut beberapa jenis vitamin yang larut dalam air, sumber dan fungsinya: 1. Tiamin (vitamin B1) Fungsi: Bagian dari enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme energi dan penting untuk fungsi syaraf Sumber: roti dan sereal, kacang polong, kacang-kacangan dan biji-bijian
2. Riboflavin (vitamin B2) Fungsi: Bagian dari enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme energi dan penting untuk penglihatan normal dan kesehatan kulit Sumber: Susu dan olahan susu; sayuran berdaun hijau; roti dan sereal
3. Niacin (vitamin B3) Fungsi: Bagian dari enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme energi dan penting untuk sistem saraf, sistem pencernaan, dan kesehatan kulit Sumber: Daging, unggas, ikan, gandum utuh atau roti dan sereal, sayuran (terutama jamur, asparagus, dan sayuran hijau berdaun hijau), selai kacang
4. Asam pantotenat Fungsi: Bagian dari enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme energi. Sumber: banyak terdapat dalam makanan
5. Biotin Fungsi: Bagian dari enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme energi Sumber: banyak terdapat dalam makanan; juga diproduksi di saluran pencernaan oleh bakteri
6. Pyridoxine (vitamin B6) Fungsi: Bagian dari enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme protein; membantu membuat sel darah merah Sumber: Daging, ikan, unggas, sayuran, buah-buahan
7. Asam folat Fungsi: Bagian dari enzim yang dibutuhkan untuk membuat DNA dan sel baru, terutama sel darah merah. Baik untuk ibu hamil trimester pertama Sumber: Sayuran dan kacang hijau berdaun hijau, biji, jus jeruk, dan hati; sekarang ditambahkan ke sebagian besar biji-bijian olahan
8. Cobalamin (vitamin B12) Fungsi: Bagian dari enzim yang dibutuhkan untuk membuat sel baru; penting untuk fungsi syaraf Sumber: Daging, unggas, ikan, seafood, telur, susu dan produk susu; tidak ditemukan pada makanan nabati
9. Asam askorbat (vitamin C) Fungsi: Antioksidan; bagian dari enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme protein; penting bagi kesehatan sistem kekebalan tubuh; membantu penyerapan zat besi Sumber: Hanya ditemukan pada buah dan sayuran, terutama buah sitrus, sayuran dalam keluarga kubis, blewah, stroberi, paprika, tomat, kentang, selada, pepaya, mangga, buah kiwi.
Sekian supermom’s note kali ini. Semoga bermanfaat moms (ns)😊
📚 Sumber: webmd(dot)com
🌷SUPERMOM’s NOTE🌷 Edisi #selasasehat 19 12 2012
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄 ☘ Email : [email protected] ☘ Fanpage FB : https://web.facebook.com/supermomwannabefanpage/ ☘ Twitter : https://twitter.com/supermom_w ☘ Instagram : https://www.instagram.com/supermom_w/ ☘ Tumblr : http://supermomwannabee.tumblr.com/ ☘ WhatsApp: +6281904714215 ☘ Line: @qxb9368f (use @) Link: http://line.me/ti/p/%40qxb9368f
Lewat.
Jadi gini, beberapa hari lalu ada chat masuk via WA, dari seseorang yang sudah lamaaaaa sekali tidak muncul.
Kita harus percaya, tidak akan ada pertemanan antara dua insan, pria dan wanita tanpa ada kekaguman yang lebih antara mereka berdua. Apalagi kalau ada komunikasi tiap hari, entah itu percakapan penting ataupun tidak penting. Bahaya lagi kalau percakapannya tidak penting. Buat apa, ya kan?
Di sisi lain, kita harus sadar bahwa permainan setan yang diam-diam menghanyutkan. Perlahan menyelipkan perhatian, kemudian harapan. Sayangnya, kebanyakan dari kita terlambat sadar. Errrr, sadar ga sadar atau mungkin malah menikmati perjalanan.
Nah, si teman ini, sebutlah namanya…Pram.
Beliau datang baik-baik, pergi baik-baik, hubungan kami baik-baik. Semuanya baik-baik. Dengan alasan menjaga kebaik-baikan ini, kami beberapa kali bertukar kabar. Sekedar tanya sedang apa, tanya dekat dengan siapa, dan basa basi busuk lainnya.
Beberapa hari lalu beliau mengirim pesan, singkat. “Maaf” katanya.
Seberapa lama pun seseorang menghilang, kalau kita sudah kenal, pasti hafal maksudnya apa.
“Lamaran?”
“Iya.”
“Kapan?”
“Sabtu ini.”
Obrolan terakhir kali saat kami bertemu memang tentang masa depan. Masa depan masing-masing. Beliau dekat dengan siapa, aku dekat dengan siapa. Sambil menimbang-nimbang kenapa bukan kita berdua saja? Kenapa obrolan ini tentang empat orang?
Tapi selalu saja ada satu dan lain hal yang kami sadari memang baiknya begini.
Setelah dipikir-pikir, kenapa pesan kemarin beliau buka dengan kata ‘maaf’ ya?
Oh, mungkin karena janji-janji yang tak sempat ia tepati.
Seperti…“Nanti kalau aku sudah lebih mapan, aku datang.”
Yaaaa…tapi belio gak bilang seh datangnya mo ngapaaaaa.
*sambil minum kopi*
Mba Hanaaa, aku suka gaya tulisanmu mba.. bikin ngakak (read basa basi busuk), terus tetiba berkaca-kaca inget yg lewat jugak, dan ketawa lagi, lalu sadar sm hikmahnya. 😍😍
Semangat ah, minum kopi juga ah.
Bahagia selalu buatmu mba.
Untuk yang belum memahami bagaimana Jerusalem, ibu kota Palestina, dicaplok oleh Israel dan diaku-akui sebagai punya mereka, vidéo singkat ini bisa menjelaskan dengan sangat gamblang. Jerusalem atau Al-Quds adalah tanah umat Islam. Final dan garis merah.
Jika kita tidak bisa melindunginya dengan tangan-tangan kita, setidaknya berikan dukungan kepada pejuang di Palestina untuk menjaga Al-Quds agar tetap menjadi milik kita.
Do you want this video? Drop your email below in reply section (please use (at) rather than @ for your own security) and please reblog this by adding supporting words to the Palestinians.
#savepalestine
Sudut Pandang Orang (Yang Bermental) Miskin?
Jadi sewaktu mengisi sedikit slot waktu di acara Musyawarah Tahunan, saya mengajak agar PPI Istanbul peduli terhadap kondisi bangsa terutama anak-anak di daerah pedalaman (saya tampilkan foto anak-anak Papua tahun 2017 yang sekolah masih tanpa sepatu) yang kesulitan akses perlengkapan sekolah yang baik. Saya bilang kita bisa berbuat sesuatu; paling tidak menggugah orang banyak agar peduli dan berbagi.
Saya sampaikan, kita bisa mengajak masyarakat Indonesia yang ada di Turki untuk menggalang dana. Kita bisa bikin kampanye untuk itu bersama-sama. Lalu, sebagai bentuk kepedulian pribadi, saya memberikan contoh sederhana. Kalau kita sekali makan di Baydoner, misalnya, menu paling murah 17TL atau sekitar 50.000IDR. Dengan uang segitu, kalau ada 100 orang, bisa terkumpul 5 juta IDR dan itu bisa membiayai paling tidak 30 anak untuk seragam, sepatu, tas, buku, dll. Sekali makan kita, bisa membantu anak-anak di pedalaman Papua belajar dengan nyaman.
Rupanya, ada orang konsulat yang bicara tepat sesudah saya, menyanggah seruan saya itu. Dia bilang: 1) audiensnya salah tempat, karena mahasiswa tidak mungkin sanggup untuk sedekah seperti itu, 2) Mahasiswa itu fokusnya belajar saja, cukup itu saja tugasnya, 3) Sambil bilang, “Saya seorang ayah, saya punya anak yang juga sedang sekolah. Saya tidak akan mengizinkan anak saya untuk ikut begitu. Kalau dia punya 50TL untuk makan, lalu 25TL didonasikan lalu tidak makan dan sakit, biaya berobat itu lebih mahal. Perhatikan diri sendiri dulu.”
Saya terkesima dan takjub. Speechlees.
Saya berpikir membatin, bayangkan jika orang seperti ini—dengan kapasitas sebagai representasi pemerintah, seorang ayah, atau pribadi—bicara di depan mahasiswa, lalu mahasiswa-mahasiswa tadi menjadi seperti dia?
Padahal, sepanjang saya mendapatkan pendidikan dasar PMP atau PPKn, utamanya tentang pendidikan kepribadian Pancasila, saya tidak pernah menemukan dogma: “jangan menolong orang lain kalau itu mengurangi kebutuhanmu”, atau “urus dirimu sendiri, sekolah saja yang rajin, tak perlu ikut aksi sosial apalagi sampai mengeluarkan uang”. Apalagi logika si Bapak ini? Tidak ada sama sekali. Yang ada, jiwa Pancasila itu adalah semangat tolong-menolong, gotong-royong, bantu-membantu tanpa prasyarat. Kepribadian Pancasila itu yang menjadikan bangsa Indonesia terkenal keramahannya; suka membantu dan suka menolong. Bukankah ini dibangun susah-payah dari SD? Saya pun bangga mendapatkan dogma kepribadian Pancasila.
Logika si Bapak ini hanya ada di dalam panduan keselamatan pesawat ketika pakai masker oksigen. Yang artinya dalam kondisi terdesak atau darurat. Betul, selamatkan diri dulu, baru bantu orang lain. Tapi ini kasusnya bukan dalam kondisi darurat. Atau mungkin si Bapak ini orang miskin sehingga hidupnya penuh penghematan? Bahkan, orang miskin sekalipun, kadang rela berbagi untuk orang yang kesusahan. Tapi berimajinasi kelaparan—karena separuh uang makannya didonasikan—lalu jatuh sakit dan biayanya lebih mahal, ini semiskin-miskinnya mental.
Ketika dia bicara seperti itu, saya terngiang-ngiang di kepala, wajah anak-anak Papua; kenapa untuk sekadar mendapatkan sepatu yang didapatkan dari kepedulian mahasiswa cobaannya harus sebegitu dangkal? Alih-alih dia empati malah mengajari untuk tak peduli.
Semoga anak-anak muda mampu menghayati Pancasila dengan semangat dan kepribadian saling berbagi. Semoga.
Annual Business Plan Meeting 2017. PT Aristek Highpolymer. 8 - 9 Desember 2017. Dari awal kerja sampai sekarang masih di sini. Dulu ga pernah bercita2 bakal sesetia ini sama Aristek. 😅😅 Antara takdir memang dan atau mager buat kemana mana lagi. Hehehe. Yaaah, namanya hubungan kerja pasti ada aja yg ga sesuai sm harapan kita, ada aja yg dirasa2 ngeganjel eh tp jgn baperan yaa, ada aja yg bikin pengen tetiba pergi. Tapi ya memang begitulah hukumnya, masa adaptasi pendek atau panjang pasti bakal dilewatin sampai dimana km ngerasa oke i'm fine. Dan apapun itu jangan lupa terus bersyukur masih dikelilingi sm orang orang baik, saling menghargai, mau sama sama belajar, dan yg paling penting nganggep kamu ada dg segala potensi, kelebihan dan kekurangan kamu. Thank you bapak bapak ibu ibu 😘😘😍😍 . . . Ga lirik kesempatan lain ? Ya nanti kapan2. (di Royal Tulip Gunung Geulis)
Pendidikan Anak ala Jepang #1
Selamat sabtu malam, moms dads. #Sabtubersamabuku hadir kembali dengan buku baru. Kali ini kita akan sharing satu buku yang berjudul “Pendidikan Anak Ala Jepang”. Buku ini ditulis oleh dua orang ibu dari Indonesia yang sempat menetap di Jepang. Dari buku ini kita bisa belajar nilai-nilai positif dari pendidikan anak di Jepang yang sekiranya bisa menambah masukan untuk pendidikan anak-anak kita.
Nah, yang pertama kita akan mengupas tentang apa saja sih yang diajarkan pada level pendidikan anak usia dini di Jepang. Taman kanak-kanak di Jepang disebut dengan istilah Youchien sedangkan untuk tempat penitipan anak disebut Hoikuen.
Pendidikan TK di Jepang didasari oleh 3 hal berikut ini, yaitu: 1. Anak-anak mendapatkan pengalaman sebanyak mungkin. 2. Anak-anak belajar melalui bermain. 3. Anak-anak berkembang sesuai sifat dan karakter masing-masing.
Melalui pendidikan di TK dan TPA, anak-anak di Jepang dilatih untuk hidup mandiri, disiplin, bertanggung jawab, dan bersosialisasi. Anak-anak juga diajarkan untuk berani. Salah satu contohnya adalah anak tidak boleh ditemani saat belajar di TK oleh orangtua. Orangtua hanya boleh mengantar sampai di gerbang sekolah atau menunggu atau menjemput anak di depan rumah jika berangkat dengan bus sekolah. Sedangkan untuk TPA, orangtua boleh mengantar sampai ke dalam sekolah dan merapikan perlengkapannya namun tetap tidak boleh ditunggu.
Sejak usia 3 tahun, baik di TK maupun TPA, anak-anak dibiasakan untuk menata sendiri perlengkapannya di tempat yang telah disediakan. Misalnya meletakkan tempat minum di rak, mencantolkan jaket di rak baju, dan sebagainya. Anak-anak juga dibiasakan untuk menjaga kesehatannya. Misalkan harus berkumur-kumur dan mencuci tangan sebelum masuk kelas. Selain itu, anak-anak juga dibiasakan untuk selalu menggunakan lap tangannya masing-masing setelah cuci tangan. Di Jepang, lap cuci tangan tidak digunakan bersama-sama untuk menghindari penularan penyakit.
Kemandirian juga dilatih saat makan siang bersama. Anak-anak harus makan sendiri dan membersihkan meja makannya. Jika ada makanan yang terjatuh di lantai atau air yang menetes di meja, mereka juga harus membersihkan sendiri. Mencintai kebersihan adalah hal utama yang diajarkan sejak dini di Jepang sehingga tidak mengherankan jika Jepang menjadi salah satu negara terbersih di dunia.
Selain itu, anak-anak juga diajarkan untuk menggunakan kendaraan umum. Mereka diajarkan tentang adab saat naik, berada dalam kendaraan, dan saat turun. Hal tersebut juga mengajarkan kepada anak untuk memiliki sopan santun dan menghormati lain terutama dalam berkendara.
Anak-anak TK di Jepang tidak diajarkan membaca dan menulis. Orang-orang dewasa hanya mengenalkan buku sebagai bacaan kepada anak dengan membacakannya. Di sekolah, disediakan berbagai macam jenis permainan baik di dalam maupun di luar kelas. Melalui kegiatan bermain di dalam dan di luar kelas, anak-anak dilatih ketrampilan dan motoriknya sekaligus untuk bersosialisasi. Jadi pendidikan anak usia dini di Jepang hanyalah bermain dan bersenang-senang, mengeksplorasi pengalaman dengan berbagai kegiatan dan permainan yang menyenangkan.
Demikian ulasan pertama dari buku ini. Edisi berikutnya kita akan sharing kembali tentang hal-hal yang unik dan menarik dari pendidikan anak di Jepang. Semoga bermanfaat. (ay)
Sumber : Juliandi, S. & Putri, J. 2014. Pendidikan Anak ala Jepang. Jakarta: Pena Nusantara
🌷SUPERMOM’s NOTE🌷 Edisi #sabtubersamabuku 09-12-2017
🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄🍄 ☘ Email : [email protected] ☘ Fanpage FB : https://web.facebook.com/supermomwannabefanpage/ ☘ Twitter : https://twitter.com/supermom_w ☘ Instagram : https://www.instagram.com/supermom_w/ ☘ Tumblr : http://supermomwannabee.tumblr.com/ ☘ WhatsApp: +6281904714215 ☘ Line: @qxb9368f (use @) Link: http://line.me/ti/p/%40qxb9368f