Salah satu yg kusyukuri saat i’tikaf di masjidil haram adalah bisa tahsin sama ustadzah di sini.
Masuk lewat gate 89, biasanya ke sini saat dhuhur atau ashar. Hari ini dapat cokelat dari ustadzah💖
No title available
todays bird
Noah Kahan
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
h

⁂

JVL
untitled
Peter Solarz
ojovivo

Discoholic 🪩

Love Begins
Keni
$LAYYYTER
Three Goblin Art
Mike Driver

Kaledo Art
official daine visual archive
NASA
tumblr dot com

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from Malaysia
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from Jordan

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@ajinurafifah
Salah satu yg kusyukuri saat i’tikaf di masjidil haram adalah bisa tahsin sama ustadzah di sini.
Masuk lewat gate 89, biasanya ke sini saat dhuhur atau ashar. Hari ini dapat cokelat dari ustadzah💖
Temu
Dari berjuta manusia
Berjuta kemungkinan
Itu kamu
Dari degup ke degup
Derap ke derap
Tak ada ragu
Pertemuan kita bukan seperti dua sungai ke muara, tenang, pasti
Tapi lebih kepada ombak yang tiba-tiba sampai ke ujung pantai, tak terduga
Meski begitu, aku tetap bersyukur
Takdir mengantarkanmu di sini
Bolehkah aku meminta satu hal?
Jika sudah datang, menetaplah
Kita bangun rumah,
Hingga pulangmu itu aku
Dan pulangku itu kamu
Edisi sayang istri Alasanku memilih @ajinurafifah sebagai istri : 1. Memiliki pemahaman agama yang baik dan sepandangan denganku baik dalam ibadah amaliyah maupun ruhiyah. 2. Padangannya terhadap hidup yang matang dan luas, khususnya waktu dulu kunikahi saat dia masih umur 22 tahun, kedewasaannya diatas rata-rata. 3. Penerimaannya terhadapku. 4. Tulisannya bagus. Yes! Saya kenal di tumblr duluan sebelum di dunia nyata, hehe. 5. Bisa diajak berpikir dan berdiskusi untuk hal-hal yang berat dan kompleks. 6. Awet muda. Ini kalau sekarang dia bilang anak kuliahan, kayaknya orang percaya, padahal sekarang anaknya dah mau kelas 3 SD. 7. Keibuan, dan terbukti dia mendidik anak-anak TOP banget! .... Terima kasih <3
🥹🥹🥹
Kadang ada kalanya memori tentang Utiku menyeruak, membuat sesak, harusnya dulu aku lebih sering memeluk beliau.
Berduka itu punya cara yang unik menyapa. Kali ini sepulang dari Solo, hanya karena Solo hujan, pulang dari Mall, seperti terakhir kali memori aku menuntun Uti di Solo hujan-hujan, sebasah itu juga pipiku.
Tiba-tiba saja. I miss you, Uti❤️❤️
Dua hal yang anakku harus punya :
Menyederhanakan kebahagiaan
Tahu kapan harus merasa cukup
Tenang
Bagimu aku mudah.
Bagiku kamu tak rumit.
Bagimu aku sederhana.
Bagiku kamu tanpa syarat.
Ringan sekali menjalani hubungan ini denganmu, meskipun nyatanya kita saling menopang.
September, bulan kita bertaut. Bulan kita mengenang cinta.
Tapi takperlu dikenang juga sebenarnya. Toh ia selalu ada di tengah-tengah kita.
Istriku memang pelupa, sering banget dari lupa kunci, lupa kalau lagi masak sampai panci gosong, lupa naruh barang, dan lain-lain. Tapi itu sama sekali tidak mengurangi nilainya dariku sebagai orang yang amat bersyukur ditakdirkan menikah dengannya. Melalui tulisan ini, aku ingin sekali mengabadikan rasa syukurku agar nanti - kalau lagi sebel karena dia lupa lagi - aku tahu, aku selalu punya alasan yang lebih besar untuk tetap mencintainya. Agar tulisan ini juga bisa dibaca siapapun yang sedang dalam perjalanan mencari pasangan hidup, yang dilanda ketakutan "salah pilih pasangan". Karakter itu akan melekat, kita nggak akan bisa mengubah pasangan kita karena cinta, nggak akan bisa mengubahnya sehari semalam. Untuk itu, sejak awal. Sadari bagaimana karakternya. Aku pun sulit mengubah karakter istriku yang sering lupa, akhirnya aku berdamai dengan mengubah kunci-kunci rumahku dengan kunci elektronik. Aku yang menempatkan dan mengatur barang-barang di rumah. Menyiapkan keperluanku dan keperluannya jika bepergian. Dia juga mungkin sulit mengubahku pada hal-hal yang ia kurang berkenan. Tapi, ia mampu menerimaku yang demikian itu bukan hal yang mudah. Bukankah ia luar biasa? Ia berlapang dada menerimaku yang penuh kekurangan. Bukankah ia begitu luas penerimaannya? Sembilan tahun ke belakang, perjalanku dengannya penuh dinamika. Setiap tahun selalu ada. Dan obrolan kami beberapa waktu terakhir menyimpulkan bahwa kami selalu berhasil melewatinya, dan hikmahnya, setiap dinamika itu membangun pondasi keluarga kami semakin kuat. Ibarat kata, mau bikin "rumah tangga" 100 lantai sama 2 lantai, tentu pondasinya berbeda. Kami menyadari bahwa mimpi kami berdua, sejak awal kami membuka pembicaraan sebelum menikah, mimpi kami begitu besar. Kini kami sadar kalau mimpi besar itu konsekuensi-nya mahal sekali untuk bangun pondasinya. Mirip sekali kayak bangun rumah. Di tahun kesembilan ini, ternyata kami masih bangun pondasi. Jadi, kalau kamu punya mimpi - carilah pasangan yang bersedia untuk ikut bersama-sama menanggung risiko dari mimpi itu, tidak hanya bersedia mewujudkannya, tapi juga menanggung risikonya :) Salah satu hal terbaik yang kami miliki saat ini adalah kepercayaan. Aku percaya dia mampu, begitupun sebaliknya. Aku percayakan semua hal kepadanya, begitupun sebaliknya. Belajar untuk saling bergantung, bukan justru merasa harus "independen" - berdiri sendiri-sendiri. Agar rasa cinta, rasa kasih, terus bertumbuh. Karena membangun keluarga membutuhkan kesalingan.
Selama sembilan tahun terakhir pula kami hidup dengan mode freelancer, sebuah pilihan yang membuat kami terbiasa dengan ketidakpastian. Tapi, kepercayaannya padaku saat kondisi finansial lagi naik dan turun adalah hal yang amat berharga. Karena menyadari bahwa keluarga ini adalah satu tim. Bukan masing-masing. Akhirnya keyakinan kita tumbuh, kita nggak menyadarkan diri pada materi. Ketidakpastian telah menempa kami bahwa rezeki akan datang dari banyak arah, dan arah-arah yang tak terduga.
Sembilan tahun dan seterusnya, aku merasa banyak sekali hal yang telah kami pelajari. Apa ditulis jadi buku tersendiri aja ya? (melanjutkan buku Menentukan Arah yang ditulis 9 tahun yang lalu saat kami menikah) Oh ya, sama satu hal lagi. Jangan pernah iri sama keluarga orang lain. Karena, hal yang bisa kita kendalikan adalah keluarga kita sendiri. Fokuslah untuk menjadi apa yang kita impikan. Fokuslah untuk membuka jalan, memulai pembicaraan, mewujudkan keluarga impianmu sendiri. Karena kalau kita hasad/iri sama keluarga orang lain, kita akan menghabiskan banyak energi yang sebenarnya bisa kita pakai untuk memperbaiki keadaan diri dan keluarga. Tugas laki-laki sebagai kepala keluarga itu berat banget (Surah At-Tahrim ayat 6 ), maka kalau kamu mau berkeluarga, siaplah sama tugas itu (kalau kamu cowok), dan bantulah tugas itu (kalau kamu cewek). Pasangan yang baik itu menenangkan, sama-sama belajar bisa menjadi orang yang menenangkan. Karena gejolak kehidupan luar sana, jangan sampai menggoyahkan ketenangan keluargamu :) Semangat!
Wkwkwkwk ❤️❤️❤️❤️
Harapan Baru
Ada banyak yang bisa kita pelajari dari masa yang telah berlalu. Sewaktu menjalaninya mungkin rasanya buntu dan bertanya-tanya, “bisa nggak ya aku?” atau, “sampai kapan sih semua ini harus aku hadapi?”. Tapi ternyata atas izin Allah kita bisa melewatinya.
Tahun demi tahun yang mungkin penuh pelajaran di belakang, sudah membuat kita lebih kuat dari sebelumnya. Kita mungkin pernah gagal, tapi dari situ kita belajar. Kita pernah melewati bulan demi bulan tanpa hasil seperti yang kita harapkan, dan itu semua bagian dari proses.
Ada kalanya kita nggak baik-baik saja, tapi ingatlah apapun yang terjadi pada kita adalah takdir terbaik-Nya. Kita hanya akan dihisab atas apa yang telah kita lakukan, bukan yang belum kita lakukan. Jadi tugas kita adalah terus berupaya, melanjutkan hidup dengan hal-hal yang bisa kita pertanggung jawabkan kelak.
Waktu yang baru ini adalah harapan baru untuk memulai sesuatu yang lebih baik. Dengan langkah yang lebih terarah dan hati yang senantiasa berprasangka baik. Optimisme itu sudah selayaknya kita jaga, karena kalau bukan kita sendiri yang mewujudkan mimpi-mipi kita, siapa lagi?
Allah itu suka hambaNya yang berusaha, suka hambaNya yang berdoa, dan suka hambaNya yang percaya..
Kita percaya kan Allah selalu mencukupi kita dan mengabulkan satu persatu impian terarah kita? Aku percaya kita bisa, atas izin Allah.
Cukuplah Allah sebagai satu-satunya penolong. Kita punya Allah dan itu sudah cukup untuk membuat kita berharap apapun!
Istri Freelancer
Menekuni hadiah peran sebagai ibu-ibu dharmawanita freelancer selama hampir 9 tahun membuatku sudah terbiasa di kondisi nggak tentu secara finansial.
Mungkin nggak cuma freelancer ya, pengusaha juga demikian. Beda sama yang memang terbiasa dapat gaji bulanan.
Hikmahnya, terus memupuk rasa percaya bahwa rezeki sudah Allah jamin. Apalagi buat kita yang berusaha.
Hikmah kedua, terbiasa dengan gaya hidup yang itu-itu aja. Gini-gini aja. Karena selama gaya hidup kita masih bisa kita kontrol, mau naik ataupun turun insyaAllah nggak akan stress. Kami jarang ada melekat banget sama brand. Sering makan di rumah dan bisa dihitung jari dalam setahun makan fancy atau bahkan belum tentu setahun sekali??
Hikmah ketiga, terbiasa punya goals keuangan. Karena project ga tentu, kita usahain ada goals yang mau dicapai supaya tercapai dulu, sisanya kita bisa adjust lebih kurangnya. Kalau lebih bisa buat beli yang lain, kalau kurang sadar diri kudu nambah waktu dan usaha lagi buat mencapainya. Misal mau naik haji tahun sekian, mau beli mobil, mau renov rumah, nabung sekian juta buat pendidikan anak. Sekalian yang gede biar sadar ga boleh banyak boros.
Hikmah keempat apa ya? Wkwkwk.
Mungkin ada yang mau nambahin?🤣
Oh, meski pendapatan ga tentu, kita terbiasa set nominal spending. Misal sebulan sekian juta yaa buat kebutuhan. Kaya...menggaji diri sendiri dan nominalnya sama terus segitu-segitu aja. Sisanya kemana? Masuk tabungan karena kehidupan freelancer banyak makan tabungan juga hahaha
Semangat gaissss, tugas kita sebagai manusia gampang banget, usaha. Tugas tambahan istri : mendukung suami supaya ga ada pikiran buat cari duit ga halal...
Semoga kita dijauhkan dari kemalasan, kekufuran, kefakiran, dan kekafiran. Amin!
Masakan Mama
Shabira : Mama, aku selalu suka masakan mama. Aku suka masakan mama yang manapun!
Aku : makasih yaaa udah mau makan masakan mama. Mama terharu..
Shabira : soto mama yang terenak sedunia! Aku suka makan ini dari aku kecil. Aku tambah boleh? Lihat mama, aku makan dagingnya kan? Ini enak banget soalnya.
🥺🫶🏻
Yara : mama, aku mau makan telur dadar sama apa ituuu sayur yang kuahnya enak dimakan sama telur? Bukan bayam tapi kuahnya bening seperti bayam.
Aku : sayur asem? Adek mau sayur asem sama telur dadar?
Yara : iya, nasinya yang banyak. Kuahnya juga banyak! Aduh itu enak banget.
Aku : tapi mama sudah masak soto. Adek gamau makan soto?
Yara : Mau, aku mau soto. Tapi mau sayur asem juga.
Aku : pilih salah satu dooong...
Yara : enggak bisa, semua enak. Aku pilih dua-duanya ya? Plis plis!
🥺🥺🥺🥺🥺
Mencintai kamu itu di dunia aja nggak cukup. Makanya bimbing aku supaya bisa masuk syurga bareng-bareng. Nggak cukup seumur hidup, maunya seumur syurga juga! Sehidup, sesyurga.
Vice Versa
"Mas, tahun depan aku mau nggak kerja, aku mau di rumah aja, aku capeeekkkk. Aku urusin anak-anak aja, anter jemput mereka, nulis, kumpul sama temen, kayanya enak."
"Boleh, terserah kamu. Aku bagian providing dan support kamu. Yang mana yang kamu seneng."
"Tapi tapi tapi... ah ga jadi ah."
"Kenapa?"
"Enggak, tapi duit bulananku ditambahin setara gajiku ya, hehehehe."
"Doain suamimu ini ya, rezekinya lancar terus! Bismillah aku akan lebih semangat bekerja!!!"
"Aamiiin!"
Wkwkwkwkwkwkwk. Makasih ya!!!
Aku sih beecanda, ga mungkin aku diem aja ya kan. Gatel-gatel aku nanti wkwk. Aku juga mau doooong support kamu full, supaya kamu tenang kerjanya.
Pernikahan itu emang kudu banyak respect-nya. Aku nggak ngerti kita sama-sama belajar dari mana soal ini. Aku hargain kamu, aku dukung kamu, vice versa = rezeki adaaaa aja🥹🫶🏻
Kepiting
Baru hari ini sepanjang umur pernikahan, suamiku mau ikut aku makan kepiting.
"Hmm enak! Aku ternyata bisa makan kepiting, Ma!" Dia berseru bangga. Bangga poooool!! Wkwkwk
Dari cara dia makan, berhasil menghabiskan porsi kepitingnya, nampak sekali kesungguhannya😂
"Kemarin-kemarin aku belajar renang, salah satu kesukaanmu, hari ini aku belajar makan kepiting lho...yg juga kesukaanmu. Besok aku belajar apa lagi yaa yg kamu suka dan aku belum bisa?" doi nyeletuk sambil mikir-mikir.
"Kita tuh anomali ya? Baru tahun-tahun belakangan ini lho, kita manisnya. Pas jadi pengantin baru aku ngerasa kita nggak kaya orang-orang atau selebgram pada umumnya yg loveydovey gitu. Hahaha." Kataku sambil flashback.
"Iya ya, kamu masih kekanak-kanakan sih dulu.."
"Kamu juga masih tinggi egonya!" Kataku menimpali, nggak mau kalah dooong, semuanya punya andil dalam tidak romantisnya tahun-tahun pertama kami. Wkwkwk.
Hari ini dan ke depan, mari lebih ugal-ugalan lagi mencintai satu sama lain🫶🏻 @kurniawan_gunadi
Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepada kami kekuatan untuk terus menjaga komitmen ditengah naik turunnya keadaan, perasaan, dan segala dinamika yang terjadi selama delapan tahun terakhir. Saya mengawali perjalanan ini di umur 26 tahun, rasanya masih sangat muda kalau dilihat dari POV saat ini.
Dipikir-pikir lagi, jika saya melihat kembali ke diri saya di umur itu delapan tahun yang lalu, rasanya terlalu nekat. Banyak hal yang saya rasa belum siap, tapi entah kenapa berani. Mungkin, ada berkah dari ketidaktahuan, yaitu menjadi berani. Allah-lah yang menganugerahkan keberanian.
Rasanya sekarang-sekarang ini, pembahasan terkait pernikahan semakin ke sana ke mari. Marriage is Scary jadi tagline dimana-mana. Sementara yang pernikahannya berjalan baik-baik saja, lebih banyak diam menikmati momen kehidupannya. Jangan salah memilih referensi, itu penting.
Saya di umur itu, dengan segala kekurangannya, sangat terbantu oleh para guru dan mentor yang pernikahannya berjalan dengan sangat baik hingga hari ini. Belajar dari mereka tentang mengapa perlu untuk menikah, apakah menurut mereka sudah cukup siap, dan lain-lain di kala itu. Dengan segala keterbatasan yang kumiliki saat itu, ternyata saya bisa mengambil keputusan tersebut.
Benar juga kata mentor dan guruku saat ini, hampir sebagian besar kebaikan yang akan kita temukan sepanjang hidup misal terkait pekerjaan, finansial, spiritual, dsb. Salah satu cara untuk mencapai sana diawali dengan memilih pasangan hidup yang baik. Bersyukur sekali berjodoh dengan @ajinurafifah, delapan tahun yang lalu dibanding dengan hari ini, pertumbuhan rasanya berlipat eksponensial.
Saya yakin seyakin-yakinnya kalau sebenarnya banyak di antara teman-teman di sekitar saya atau mungkin pembaca di sini yang sudah siap untuk menikah, tapi rasa siap itu tidak bisa diyakinkan oleh diri sendiri karena salah satunya melihat pernikahan ini dari perspektif yang kurang tepat. Tidak mudah untuk yakin bahwa pernikahan membuka pintu rezeki, tidak mudah untuk meyakini bahwa pernikahan itu bernilai separuh agama, dan banyak ketidak mudahan lainnya.
Tapi, apakah tidak mudah itu berarti tidak bisa? :) Terima kasih untuk teman-teman online juga yang turut serta dalam proses bertumbuhku di sini, dari single remaja kuliahan yang galau, bikin suaracerita, buku pertama Hujan Matahari rilis, dan seterusnya hingga hari ini :)
Alhamdulillaaahh, tolong bimbing kami terus Ya Allaah..
Memakai ART Di Rumah Bukanlah Aib
Dulu aku sempat berpikir, memiliki asisten rumah tangga (ART) di rumah adalah sebuah kekurangan sebagai istri. Aku merasa bukan istri yang satset dan telaten. Di berbagai konten sosial media, banyak yang memuji ibu-ibu tanpa ART sebagai ibu yang hebat seakan-akan yang menggunakan ART menjadi berbeda nilainya..
Nasihat Rasulullah pada anaknya, Fatimah menjadi penyemangatku saat benar-benar keteteran.
“Wahai Fatimah, tiada istri yang menggiling tepung untuk suami dan anaknya kecuali Allah mencatatkan kebaikan baginya pada setiap biji dari gandum, meleburkan dosa-nya, dan meninggikan derajat-nya.”
Di tahun-tahun pertama pernikahan aku stress dengan segala beban kerja domestik ditambah aku sedang hamil anak kedua. Sesuatu yang menjadi pengalaman pertama bagiku karena dari aku kecil, ayahku selalu menyediakan ART untuk ibu di rumah.
Baik orangtua maupun mertua menyarankan untuk mempekerjakan ART di rumah. Tapi aku masih keukeuh untuk menggarap semuanya sendiri, karena standar ibu yang keren bagiku masih ibu-ibu yang mengurus rumahnya sendiri tanpa ART. Sebenarnya aku nggak sesendirian itu mengerjakan pekerjaan rumah karena suami selalu terlibat. Suamiku yang mencuci dan menjemur baju, sering juga ikut mencuci piring. Cuma bagiku, semuanya tetap tanggung jawab istri. HAHAHA definisi mempersulit diri sendiri.
Sampai satu ketika aku sudah kewalahan dan berimbas ke emosi yang tidak stabil ke anak maupun suamiku. Kamipun sepakat mempekerjakan ART di rumah, dan berkali-kali suamiku menekankan bahwa ini bukan sebuah dosa, bukan sebuah kekurangan, toh kita juga malah membantu ART untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.
Terlalu lama di stereotype bahwa semua tugas domestik rumah tangga adalah tanggungjawab istri, membentuk pikiranku jadi seperti ini. Padahal yang diajarkan Rasulullah berbeda. Rasulullah sangat suka mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Rasulullah bahkan tidak membebankan pekerjaan rumah tangga kepada istrinya.
Dalam sebuah hadits, Aisyah Ra. pernah ditanya, "Apakah yang dilakukan Rasulullah SAW di rumah?"
"Beliau ialah seorang manusia biasa. Beliau menambal pakaian sendiri, memerah susu, dan melayani diri beliau sendiri," jawab Aisyah Ra. (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
Mayoritas ulama sepakat bahwa mengerjakan pekerjaan rumah termasuk kewajiban suami. Empat mazhab besar termasuk yang berpendapat demikian. Ulama dari empat mazhab besar, yaitu Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy Syafi'iyah, Al-Hanabilah dan ditambah Mazhab Adz-Dzahihiri, semua sepakat mengatakan bahwa para istri sebenarnya tidak punya kewajiban untuk berkhidmat kepada suaminya. Kewajiban istri lebih dibebankan kepada melayani suaminya dalam urusan 'ranjang'.
Jadi, secara umum jumhur ulama cenderung sepakat bahwa tugas istri bukan mengerjakan urusan rumah tangga. Kalau pun ingin dikerjakan sendiri, maka itu menjadi sebuah ibadah sunah yang akan menambah nilai pahala bagi istri.
Sebuah plot twist yang kemudian banyak menyadarkanku. Tapi ini nggak menjadikan kita sebagai istri berhak semena-mena ke suami. Jadi validasi supaya bisa malas-malasan di rumah. Lebih kepada, rumah tangga ini sebaiknya dibangun atas dasar saling menghargai dan saling cinta...
If we love some one, we could do anything for him/her, ya nggak sih? wkwk. Saling bantu membantu, saling backup, akan sangat menambah rasa cinta kita kepada pasangan.
Jadi casenya, buat istri yang disediakan ART oleh suaminya, jadi makin cinta karena suami melakukan kewajibannya..
Istri yang nggak ada ART, tapi suaminya terlibat dalam domestik , dan saling bantu, jadi semakin cinta karena kerja sama tim yang luar biasa.
Suami yang istrinya sanggup mengerjakan kerjaan domestik, jadi makin cinta karena kewajibannya sudah dibantu diringankan oleh istrinya.
Suami yang tidak sanggup menyediakan ART untuk istrinya, secara sadar menunaikan kewajibannya mengurus rumah tangga, dan sangat berterimakasih kepada istrinya karena sudah mau membantu meringankan pundaknya.
Suami yang sibuk bekerja, dan tidak banyak mengerjakan domestik, sangat menyayangi dan menghormati istrinya karena sudah banyak dibantu. Sehingga, dia memuliakan istrinya dengan cara yang lain, yang dia bisa.
Alhamdulillah, alhamdulillaaah..
Islam begitu indah mengaturnya :)
Onde-onde
Jadi waktu aku ulangtahun kemarin, suami lagi dinas ke Surabaya. Sebenernya kemarin udah agak sebel karena dia selalu menerima pekerjaan di hari ultahku, setelah mikir-mikir lagi aku nggak jadi sebel karena ya kan kerjaan itu--aku juga yang menikmati😂
Nah, jadwal dia pulang dinas itu dini hari. Dia minta jemput. Wah pikiranku sudah berkelana kemana-mana, hmmm pasti dia mau kasih kejutan ini☺️☺️. Tapi lagi-lagi aku mencoba berpikir jernih, kayanya sih nggak mungkin ya dia kasih aku kejutan. Secara, dia nggak semanis itu😂
H-2 jam sebelum aku jemput dia, dia tanya nih, capek nggak aku, kalo capek gausah jemput. Oh fix ini emang ga ada kejutan apa-apa🤣 kalau kasih kejutan, pastilah dia keukeuh aku jemput ya kaaan... yaudah aku bilang capek jadi dia naik ojol aja pulangnya.
Besok paginya, dia bangunin aku dengan ucapan "Selamat ya!! udah tiga puluh tahun". Udah🤣 nggak ada kejutan, nggak ada kado, nggak ada apa-apa. Untungnya aku ga berharap apa-apa juga yah...
Terus aku cerita tuh... "aku pikir kamu bakal kasih aku kejutan lho, kan ada kesempatan itu, kamu pulang tengah malam, bisa jadi yg pertama ngucapin, bisa bawa hadiah atau bunga, atau apa gitu..."
Dia bilang, "iya maaf ya, aku nggak pinter beginian, kamu tau sendiri... ajarin aku ya gimana cara nyenengin kamu hari ini."
"Hehe iya nggak papa, aku juga tau diri. Tapi hari ini aku mau beli onde-onde kesukaan aku."
Dijawablah "okee!!! Kamu mau apalagi?"
"Aku mau beli nakas (meja kecil samping dipan) ya!"
"Siap tuan putri!"
Terus malamnya kita mau cari onde-onde, seperti biasa, di keluarga kami ada ritual makan dulu sebelum ke mall supaya ga kalap (ritual yg awalnya bagiku nyebelin karena ORANG GILA MANA YG KE MALL GA MAKAN???!!!) 😅
Singkat cerita, kita makan dan aku bilang ke manajer restonya kalo aku ultah, ada promo ga wkwkwkwk, turns out dikasi kejutan sama restonya🥰
Oke selese makan, kita ke mebel dan aku jadi dibeliin nakas, selese deh hadiah pertama, gas kita mau beli onde-onde. Dan ternyata jeng..jeng!! dia ada meeting😂
Mau nangis tapi masa iya nangis karena ga dibeliin onde-onde???? Mau ga ngambek tapi udah terlanjur ngambekk🤣🤣
Setelah dipikir-pikir, aku udah dibeliin nakas jadi aku ngambeknya cuma semalam aja. Hahaha.
Besok paginya aku sudah seperti mbak-mbak 30 tahun yg mature dan melanjutkan hari dengan gemilang. Aku menyapa suamiku dengan penuh senyum (wkwk), aku bikin sarapan, dan kami cerita-cerita lagi...
Setelah dipikir-pikir (wow aku banyak berpikir ya), aku bersyukur atas hubungan sehat dan dewasa ini.
1. Kami bahkan bisa menyampaikan dan bercerita dengan santai apa adanya perihal aku kecewa dia ga kasi kejutan, bukannya ga semua hubungan bisa?
2. Dia belikan apa yang aku butuh dan aku mau (nakas), meski ada hal yg kelewat, tapi namanya manusia hanya bisa merencana dan aku menerima, meski menerima dengan ngambek dikit wkwk
3. Dia minta maaf
Hehe aku pikir onde-onde cuma bumbu dari inti cerita ini. Aku bersyukur sekali diberi hubungan yang sehat. Hubungan sehat bukan berarti tanpa ngambek, tanpa perdebatan, atau tanpa ada gejolak. Hubungan sehat itu, perlibatan dua orang dalam suatu hubungan, yang dua-duanya terlibat aktif untuk saling menerima dan memberi yang terbaik. Hubungan sehat itu sesimpel nggak saling menyakiti. Kita bisa aja merasa sakit, tapi bukan karena pasangan kita sengaja menyakiti.
Ini cukup buat hadiah di tahun ini. Onde-ondenya besok aku beli sendiri bisa😅
Catatan Adaptasi Masuk SD
Shabira : mama, nangis boleh kan?
Mama : boleh..
Shabira : nangis di sekolah boleh kan?
Mama : boleh, dikit aja, jangan banyak-banyak ya..
Shabira : iya sedikit aja, aku udah belajar tarik nafas kok.
Mama : bagus.. kakak kalau kangen mama, kakak bisa sambil kirim doa buat mama ya. Biar hati kakak hangat.
Shabira : tenang, aku bisa kirim voice note dari HP ustadzah!
Mama : 😭😭😭