âDampak Buruk Gadget, bye-byeâ
Oleh: Devy Kusuma Wati
Perkembangan teknologi dipengaruhi banyak hal, salah satunya adalah sikap masyarakat terhadap perkembangan itu sendiri. Pada abad ke-21 ini, perkembangan teknologi yang terjadi di Indonesia terlihat sangat jelas, salah satunya mengenai gadget. Di era modern seperti sekarang, aktivitas dan kebutuhan manusia dapat lebih mudah terpenuhi dengan adanya gadget. Misalnya, masyarakat urban di Jakarta yang tidak mempunyai kendaraan bermotor tetapi ingin pergi ke suatu tempat yang jauh. Selain dapat memanfaatkan transportasi publik, mereka juga dapat memanfaatkan jasa antar berbasis online, ojek online, melalui aplikasi yang bisa diunduh dari gadgetnya. Bahkan masyarakat juga dapat berbelanja melalui gadget mereka, tanpa harus pergi ke tempat perbelanjaan tersebut.
Antusias masyarakat terhadap gadget yang multifungsi tersebut ditunjukkan dengan semakin banyaknya kalangan masyarakat yang menggunakannya, bahkan anak usia dini. Meskipun sebagian besar masyarakat mengakui gadget sebagai salah satu wujud perkembangan teknologi, namun tidak sedikit yang berpendapat bahwa penggunaan gadget mempunyai dampak buruk bagi anak, apalagi jika penggunaannya berlebihan. Jadi, apa saja dampak buruk gadget terhadap anak?
Pertama, terhadap kesehatan anak. Telah banyak penelitian yang dilakukan terkait hal ini, seperti yang telah dirangkum oleh Kompas.com, bahwa setidaknya terdapat 10 alasan bagi anak untuk terlepas dari gadget karena dampak buruknya. Di antaranya adalah radiasi, pertumbuhan otak yang terlalu cepat, hambatan perkembangan, obesitas, gangguan tidur, penyakit mental, agresif, pikun digital, kecanduan, dan pembelajaran yang tidak berkelanjutan.
Kedua, terhadap psikologis anak. Seperti yang dikatakan Psikolog Tika Bisono, bahwa gadget juga dapat mempengaruhi kehidupan anak secara psikologis. Anak yang sering bermain gadget cenderung lebih soliter atau lebih menyukai kesendiriannya daripada harus bersosialisasi dengan teman-teman di lingkungannya.
Ketiga, terhadap kehidupan sosial anak. Berdasarkan pengamatan saya di Kelurahan Kebonharjo, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten  Klaten, Jawa Tengah, pada tahun yang berbeda yaitu 2015 dan 2017, terdapat banyak perubahan sosial yang terjadi pada anak-anak. Â
Pada 2015, ketika perkembangan teknologi belum marak seperti sekarang, anak-anak menghabiskan waktu luang untuk bermain bersama. Permainan yang dilakukan pun adalah permainan yang nyata. Layaknya wayang orang, mereka sendiri yang menjadi lakon dari permainan tersebut. Sehingga untuk memainkannya perlu tatap muka. Di sinilah terjadinya sosialisasi. Selain itu, permainan yang dilakukan adalah permainan tradisional, misalnya cublak-cublak suweng, dakon, jamuran, brog, tahu putih-tahu ireng, dan permainan lain yang berbasis olahraga. Permainan itu sebagai media berekspresi yang menuntut anak-anak untuk banyak bergerak dan aktif, sehingga tubuh mereka lebih sehat.
Berbeda dengan permainan yang dilakukan anak-anak pada 2015 yaitu permainan tradisonal, pada 2017 anak-anak lebih banyak yang bermain dengan gadget mereka yang artinya lebih modern. Mereka menggunakan gadget untuk mengunduh aplikasi permainan berbasis online dan akan memainkannya ketika waktu luang mereka tiba. Sesuai dengan bentuknya yang dapat digenggam dengan satu tangan serta kepemilikannya yang personal, gadget dimainkan anak-anak secara personal pula. Artinya mereka cenderung lebih individual dan jarang bermain bersama satu sama lain, sehingga sikapnya lebih cuek terhadap keadaan sekitar akibat kurang bersosialisasi. Permainan pada gadget tidak membutuhkan pemainnya bergerak banyak, cukup duduk bahkan tiduran. Hal ini membuat anak-anak menjadi kurang aktif bergerak dan berekspresi.
Namun, apakah dampak buruk tersebut tidak bisa dicegah? Apa yang bisa diupayakan orang tua terhadap anaknya yang sudah terlanjur terpapar gadget? Pepatah mengatakan âlebih baik terlambat daripada tidak sama sekaliâ, sehingga akan lebih baik jika para orang tua mencoba âmenyembuhkanâ anak mereka, daripada tidak melakukan apa-apa karena beranggapan sudah terlanjur.
Para orang tua dapat mencoba memberikan batasan penggunaan gadget terhadap anak mereka. Menurut Asosiasi Dokter Anak Amerika dan Kanada, bahwa seharusnya anak usia 0â2 tahun tidak diperbolehkan terpapar gadget. Mereka juga menyarankan untuk memberikan batasan sebagai berikut: untuk anak usia 3â5 tahun, maksimal 1 jam per hari dan untuk anak usia 6â18 tahun, maksimal 2 jam per hari. Sedangkan Cris Rowan, dokter anak asal Amerika Serikat, dalam tulisannya di Huffington Post memaparkan bahwa diperlukan adanya pelarangan terhadap penggunaan gadget bagi anak yang berusia dibawah 12 tahun.
Jadi, penggunaan gadget yang berlebihan oleh anak mempunyai dampak buruk bagi kesehatan mereka, baik fisik maupun psikis, serta terhadap kehidupan sosialnya. Masyarakat, utamanya para orang tua, seharusnya dapat bersikap dengan bijak. Bahwa memang perlu untuk mengikuti perkembangan teknologi, tetapi perlu juga untuk menyadari bahwa peran mereka sangat diperlukan untuk mencegah atau meminimalisir dampak buruk penggunaan gadget yang berlebihan bagi anak mereka. Salah satunya yaitu dengan memantau dan memberikan batasan waktu penggunaan gadget terhadap anak mereka.
Referensi :
- Aries Setiawan dan Agus Tri Haryanto. âGadget Bisa Mengancam Anak-anakâ. Viva.co.id, 23 November 2014. Diakses pada 12 Oktober 2017. http://www.viva.co.id/indepth/fokus/561294-gadget-bisa-mengancam-anak-anak
- Unoviana Kartika. â10 Alasan Anak Perlu Lepas dari âGadgetââ. Kompas.com, 12 Mei 2014. Diakses pada 12 Oktober 2017. Â http://lifestyle.kompas.com/read/2014/05/12/1640161/10.Alasan.Anak.Perlu.Lepas.dari.Gadget












