What I Want My Child(ren) To Be
I write this at the most emotional time of mine during taking care of my nephew. Phew.
Aku masih 21 tahun, belum pernah pacaran, dan masih ga ada bayangan kapan jodoh akan datang. Kedepannya jelas tidak bisa diprediksi. Kelahiran, jodoh, kematian itu di tangan Tuhan.
Setelah lulus kuliah, aku tinggal bersama kakakku yang sudah berkeluarga dan punya satu anak laki-laki. Saat ini usianya 3,5 tahun. Tingkahnya gimana? Astaghfirullah! Tapi bukan salah anaknya, karena dia dilahirkan suci tanpa tahu apa-apa.
Banyak hal yang tidak mengenakkan terjadi di sini dan banyak hal yang ku temukan salah dari cara orang tuanya mendidik. I do not want to further my explanation, but I want to take note for my future self, if I were lucky enough to be a mother.
1. Parenting is purely the responsibility of the parents (mom and dad)
Anak kamu boleh, Rin, diasuh siapa aja dan dimana aja —kalo misalnya you choose to be a career woman— tapi kamu dan pasangan yang harus menentukan bagaimana anakmu harus diasuh, jangan asal ada yg ngasih makan dan nemenin main. Make a guideline and choose the right nanny that will meet your standards of parenting. Orang tua akan diminta pertanggungjawaban atas caranya membesarkan anaknya, apa yang telah diajarkan, dan kelak menjadi amalan yang tak putus ketika kita sudah di akhirat. Bagaimana kamu mendidik anakmu saat kecil akan berpengaruh besar terhadap masa depannya. Dan kamu, sebagai orang tua tempat pendidikan pertama berlangsung, harus paham betul tanggung jawabmu. Kalo kamu diem aja, ngebiarin anakmu diasuh dengan cara apapun oleh siapapun, kalo tumbuh jadi anak yang tidak sesuai keinginanmu, yang salah dan harus bertanggung jawab tetap kamu —orang tuanya, bukan pengasuhnya.
2. Teach Iman and Islam before anything else
You have to let them know, kalau mereka dilahirkan atas kuasa Allah. Ada kekuatan supranatural yang Maha Agung yang menciptakan alam semesta beserta isinya. Ajarkan untuk berdoa dan bersyukur. Ajak mereka untuk sholat dan mengaji bersama. Ajarkan mereka untuk saling berbagai dan tidak menyia-nyiakan rezeki. Ceritakan kepada mereka kisah-kisah nabi dan rasul. Jadikanlah dirimu sebaik-baiknya contoh dengan taat beribadah dan rajin melakukan amalan-amalan baik. Jangan cuma nyuruh, tapi contohin! When they know nothing, they tend to copy their surroundings. Pastikan kamu adalah sebaik-baiknya contoh bagi mereka.
Aku sedang dalam tahap memperbaiki diri, menjadi sebaik-baiknya hamba Allah, karena aku ingin menyelamatkan kedua orang tuaku dari siksa neraka, dan kelak Inshaa Allah berkumpul bersama di surga. Aku ingin anak-anakku untuk bisa menjadi syafaat bagiku dan bertemu kembali di surga bersama-sama. How you raise your children will pretty much form their characters. Untuk itu, kamu harus pastikan karakter dan tingkah laku anakmu sesuai dengan syariat Islam.
3. Let them know the consequences of the things they do and get them choose for themselves
Jangan memanjakan anakmu dengan menuruti apapun yang mereka mau. Jadilah orang tua yang tegas, disiplin, dan penyayang. Berikanlah mereka pilihan-pilihan untuk bertindak, tapi beri tahu juga konsekuensi apa yang didapat dari masing-masing pilihan itu. Jangan jadikan konsekuensi hanya sebagai gertakan, tapi lakukan. Biarkan anakmu menangis menanggung akibat dari tindakannya tapi jangan tinggalkan dia sendiri. Temani dan ajak untuk tidak mengulangi. Berikan hukuman kalau mereka salah, berikan hadiah kalau mereka melakukan dengan baik.
Aku ingin anakku menjadi anak sholeh, taat beragama, anak yang berkarakter baik, mandiri, berpendirian dan bertanggung jawab.
Jika ketika menjadi ibu kamu mengalami penurunan iman, aku harap kamu kembali ke sini dan baca apa yang kamu tulis. Anak itu titipin Allah, Rin, jaga baik-baik dan ajarkan hal-hal terbaik.
Ayo, Pak, Bu, Cak, Ning, Mas, Nak, kita kumpul di surga :'')