Izinkan aku jadi pelupa. Agar apa-apa tentangmu tak pernah lagi hadir dan menyua.
Interview Vampire Daily
macklin celebrini has autism

ellievsbear
KIROKAZE
Cosimo Galluzzi

No title available
Color Me Curious
Game of Thrones Daily
2025 on Tumblr: Trends That Defined the Year
I'd rather be in outer space 🛸
Sweet Seals For You, Always
RMH

bliss lane

Product Placement
Xuebing Du
let's talk about Bridgerton tea, my ask is open
Monterey Bay Aquarium
h

Andulka
art blog(derogatory)
seen from Canada

seen from France

seen from Malaysia

seen from Türkiye

seen from Russia
seen from Japan

seen from Australia

seen from Singapore
seen from United States
seen from Brazil
seen from United States
seen from United States
seen from Slovakia
seen from Singapore
seen from Italy

seen from Ukraine

seen from Brazil
seen from United States

seen from Canada
seen from United States
@dikifajar-blog
Izinkan aku jadi pelupa. Agar apa-apa tentangmu tak pernah lagi hadir dan menyua.
Aku hanya memberikanmu gambaran perempuan lain di puisiku. Aku tak ingin kau kecewa untuk kedua kalinya.
Aku tak mampu menelan kebohongan, sebab itu aku katakan "aku masih mencintaimu".
Pada gerai rambutmu aku menghamba, Sebab Tuhan menciptakan malam pada tiap helainya.
Setiap cerita mempunyai cara mengucapkan salam untuk selamanya alpa.
Ada-ada Saja
Siang tadi selepas salat jumat, Aku putuskan berdiam di kedai kopi langgananku. Seperti biasa Aku ingin memesan cappucino, tetapi pelayan sekaligus temanku Sarwendogs memberi penawaran dengan ringai senyum penuh isyarat "kenapa tidak kopi hitam saja? Kau kan sudah lama tak minum kopi buatanku". Aku pun memutuskan memesan 1 kopi hitam ala Sarwendogs.
Lepas sekali teguk, seorang berengsek yang tak lain adalah sahabatku Izhhar datang dengan vario hitamnya "Richard". Ngomong-ngomong nama motornya itu lantaran ia suka ketika aku memanggil motorku "Belalang Tempur" dan memutuskan memberi nama Richard pada motornya di parkiran kampus. Ia mengajakku mengambil surat validasi ke kantor jurusan yang berakhir kekesalan. Pasalnya apa yang dia ingin tak dapat ia petik. Maklumlah mahasiswa dengan label semester tua yang ingin buru-buru menyelesaikan skripsinya.
Sekembali dari kampus Aku melanjutkan ritualku. Ngopi sambil memandangi jalan berpaving. Entahlah, ada ketenangan yang tak aku dapatkan di kos, di tempat tidur, di rumah, bahkan di kepalaku, tetapi aku temukan di kedai kopi langgananku itu. It's magic! Menurutku.
Beberapa lama aku bakar ujung batang rokok yang baru ku keluarkan dari bungkusnya. Aku berjalan menuju bangku panjang di bawah pohon murai depan kedai. Burung-burung kecil terbang rendah mengitari langit yang sudah mulai ditinggal matahari pulang kerja. Angin mulai berhembus pelan membelai kulit tubuh dan menggerakkan daun-daun. Aku hisap pelan rokok yang ku bakar tadi sambil mendengarkan playlist lagu favorit, dari Payung Teduh, Fletch, Stars and Rabbit, sampai dengan John Mayer.
Waktu seketika berjalan begitu pelan saat You Gonna Live Forever In Me dari John Mayer menyentuh telingaku. Tiba-tiba saja kau muncul begitu saja di sampingku dengan senyum lugu dan pipi padatmu juga omongan ceplas-ceplos dan kepengertianmu. Anehnya kau tak bersuara, tak bergerak, seperti gambar saja. Yang muncul dari tubuhmu hanya percakapan-percakapan lalu. Genggaman tangan di kedai teh dan hujan ringan di restoran cepat saji. Kepingan-kepingan ingatan baik yang tak berakhir baik. Kemudian lenyap.
Ternyata musik begitu menghipnotis kepalaku. Tak ada yang nyata selain kekesalan dan bara rokok yang menyentuh kulit jariku. Ada-ada saja memang.
Surabaya, 16 Maret
Ada saat-saat aku begitu mengutuk diri sendiri, menjadi pengecut dan lari.
Ketika semua jelas tak ada yang tertinggal. Aku akhirnya pulang.
Percakapan secangkir ingatan
Hujan baru saja meninggalkan pekarangan.
Tanah terlalu cepat kering.
Seorang pria paruh baya menutup pintu percetakan. Berdecit lantang.
Pohon murai berdekatan dengan tiang listrik, dan bangku kayu di bawahnya sudah siap memberikan tubuhnya kepadaku.
"Kemarilah" kata mereka.
Aku memberikan seluruh tubuh dan kepalaku.
Diambilnya sebagian ingatan baik dari sudut mataku lalu di tuangkannya ke dalam cangkir.
"Minumlah" seru pohon dengan senyum dahannya. Belum sempat habis ku minum, tanah kembali basah dan aku hanyut di dalamnya.
Doa Setiap detik harapan-harapan baik diudarakan tubuh menuju tempat tak berbatas. Di jalan-jalan yang sesak atau lengang, di sempit kamar tidur atau di luas savana, di terang lampu-lampu atau gelap ruang matamu, di perasaan-perasaan paling bahagia atau luka, orang-orang tak pernah alpa.
Ulang Tahun
3 hari lalu, kau berulang tahun
Aku harapkan perayaan.
kau tiup lilin pengharapan
Lalu doa bahagia mengudara.
Aku tak membawa apa-apa selain tubuh dan ingatan-ingatan yang tak pernah menyublim.
Tak pernah diserap tanah sebab tubuhku tak mengizinkannya.
Tiba-tiba air mata memenuhi ruang tamumu.
Aku hilang.
Karam.
Tenggelam.
Surabaya, 9 Februari 2018
Buta sesungguhnya bukan dari mata. Tuli sejatinya bukan dari telinga.
Percakapan Siang Hari
Di jalan batas desa, ku temui pohon jati yang sejak tadi murung diri. "Kenapa kau?" tanyaku. Pohon Jati berbisik pelan "Aku rindu pada semak belukar yang tempo hari menemaniku. Ia hilang sekarang". Aku sadar rindu bisa menemui siapa saja. Lalu aku duduk di gubuk dan menanyai matahari saat ia beristirahat digantikan mendung sesaat. Aku tanyakan padanya perihal kabarmu. Selang beberapa detik ia menjawab. "Ia baik-baik saja". Lalu ku hidangkan segelas kopi untuk matahari dan perasaan baik untuk diriku.
Mereka benar memanggilku pengecut. Untuk menanyakan kabarmu saja aku harus sembunyi-sembunyi. Ha...
Tak ada kabar darimu yang tak ku inginkan tak mampir di benakku.
Memang benar yang patah akan tumbuh, yang hilang akan berganti, dan yang jatuh kan berdiri lagi. Yang tak kita lihat adalah prosesnya. Semua rasa yang tercipta di tiap detiknya.
Aku tak menanti tahun baru; luka baru.