Aku hanya ingin tidak mengetahui, bukannya tidak peduli.
Aku hanya ingin hidup saat ini, bukannya sibuk memikirkan nanti.
Biarkan menjadi kejutan, agar aku merasa lebih natural menjalani hidup.
Tak perlu pusing-pusing sampai berat pikiran.
Saat ini ya saat ini, besok ya besok.
Nikmati dulu apa yang ada sekarang, selesaikan apa yang perlu segera dituntaskan.
@midnight-thought-and-daydreaming
“Masa depanku, hingga saking menyilaukannya aku tidak bisa menebak-nebak apa yang ada jauh di depan sana.”
Terkadang, masa depan tidak terungkap seperti yang kau kira.
Masalah terus terjadi, dan semua orang bersikap menyebalkan.
Tak perlu tergesa mengeja masa depan yang masih rahasia.
Sebab, kita akan sampai pada muara segenap upaya—sebaik-baik akhir—meski terkadang kita tak suka.
Tidak ada yang tahu di mana aku kan berdiri di masa akan datang.
Entah di sampingmu atau justru di hadapanmu, mengulurkan tangan dan mengucapkan selamat untuk rumah tanggamu.
Selalulah pelihara hubungan baik. Karena bisa jadi orang-orang yang kita kenal, kita temui, dan yang kita ajak diskusi hari ini adalah orang yang sama yang akan kita temui lagi di masa depan nanti.
Entah sebagai tetangga, rekan kerja, atau sebagai orang yang datang membawa bantuan saat kita benar-benar membutuhkan.
Bahkan mungkin sebagai pasangan hidup.
Maukah engkau memilihku tuk kau jadikan masa depanmu?
Perihal masa depan, aku meminta kepada Sang Pencipta agar pertemuan kita semakin didekatkan.
Semoga rindu yang berdesak-desakan dalam dada masih sanggup untuk bersabar.
Perihal waktu yang akan datang serahkan lalu pasrahkan.
Jalani apa yang sudah dipilih.
Memberi ruang imajinasi, agar tak jenuh dengan situasi.
Toh percuma saja menangisi meminta kembali.
@sitijubaedahputrimanguntur
Boleh aku menyerah? Untuk segala hal yang enggak pernah bisa aku capai.
Aku letih jika harus selalu mengharapkan kamu menjadi masa depanku, namun kamu hanya menempatkanku sebagai bagian dari masa lalu.
Asa berdiri di ujung jalan.
Seolah menampilkan gemerlap.
Bergantung pada cahayanya aku bisa meraba dan merangkak.
Nyatanya, sebab itulah aku sering hilang arah.
Salah bergantung, seharusnya aku berpandu pada-Mu.