Ini kali kedua saya menghadapi krisis yang saya sendiri nggak tahu kapan akan berakhir. Krisis pertama adalah ketika ibu saya didiagnosa Kanker Kolorektal stadium 4, tahun 2017 silam. Teman-teman yang senasib sama saya mungkin memahami bahwa memiliki keluarga yang didiagnosa kanker membuat kita lelah dari sisi fisik, emosi dan finansial. Saat itu, tiap akan tidur, saya akan membuka google dan mencari:
“Harapan hidup Kanker Kolorektal stadium 4”
“Protokol kemoterapi Kanker Kolorektal stadium 4”
Dan yang lain sebagainya.
Bangun tidur, saya langsung kepikiran:
“Apa yang akan terjadi hari ini?”
“Apa ibu baik-baik saja?”
“Apa kami masih punya cukup uang untuk mengusahakan pengobatan ibu?”
Sekitar 7 bulan saya menjalani hari-hari seperti ini. Tidak ada banyak waktu untuk bercerita karena sebagian besar waktu habis dipakai untuk memikirkan ibu. Maka pas ibu berpulang, saya baru menyadari bahwa saya depresi dari sejak awal ibu didiagnosa. Butuh kurang lebih satu tahun bagi saya untuk recovery.
Hari ini, meskipun peristiwa yang dialami berbeda, saya merasakan sensasinya hampir sama. Saya tidur dengan membaca berita tentang perkembangan Covid-19. Saya bangun dengan harap-harap cemas, semoga orang-orang di sekitar saya dalam kondisi aman. Minggu pertama, asam lambung saya sempat naik karena suasana sekitar saya mulai berbeda. Area sekitar kampus mulai sepi. Semua orang berbelanja kebutuhan sehari-hari menggunakan masker dengan wajah tegang. Ibu-ibu penjual penyetan mulai mengeluh dagangan sepi. Teman-teman yang bekerja di sektor informal pun demikian. Saya mulai ketakutan. Sejak ibu sakit, saya punya trauma tersendiri dengan rumah sakit yang penuh. Ditambah dengan berita di luar negeri, sudah mulai ada beberapa minimarket yang kosong karena panic buying.
Saya berusaha waras dengan mengumpulkan list tentang apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan ketika dalam kondisi pandemi.
Use Soap instead of Hand Sanitizer
Setelah membuat guidance versi saya sendiri, saya mulai mendaftar apa saja yang saya butuhkan untuk bertahan hidup setidaknya dua pekan tanpa keluar kost. Saya lalu berbelanja dan mengisolasi diri di kost selama 14 hari. Setelah itu, saya kembali pulang ke rumah.
Hari ini, saya sudah berada di rumah selama dua pekan. Dampak ekonomi dari pandemi ini mulai terasa. Saya seorang muslim yang mengimani bahwa rezeki manusia tidak akan berhenti mengalir sebelum datang hari kematiannya. Namun, manusia selalu takut dengan hal-hal yang tidak diketahui. Dan rasa takut, tidak selamanya bisa diselesaikan dengan kata-kata motivasi.
Twitter membawa saya pada kicauan mbak Paramita Muhammad yang membagikan tulisan tentang rasa duka saat rutinitas berubah. Saya sendiri mulai mengidentifikasikan apa saja yang saya rasakan dan mulai berusaha mengatasinya satu persatu.
Saya memang terkejut dengan segala rutinitas yang berubah. Saya kangen dengan suasana kampus yang ramai. Saya kangen dengan gym. Saya kangen mall dan banyak hal yang biasa saya nikmati di Surabaya. Dibanding berpikir “kapan kembali ke Surabaya?”, saya mulai berpikir untuk memulai rutinitas baru dan menjalaninya dengan penuh kesadaran bahwa hari-hari yang saya alami akan berbeda, dinamis dan tidak akan tertebak. Butuh seminggu lagi untuk terbiasa dengan rutinitas baru.
Saya jadi inget pertanyaan anon di inbox yang belum saya jawab:
“Bagaimana caranya istiqomah?”
Istiqomah itu penuh dinamika dengan kurva yang naik turun. Kita seringkali membayangkan bahwa istiqomahnya manusia seperti istiqomahnya komputer yang ketika diminta menghitung sesuatu, dia tidak akan berhenti sebelum perintah mengatakan selesai. Istiqomahnya kita, kadang mengenal titik jenuh. Kita yang ditantang untuk mengatasi titik jenuh dengan cara-cara baru sesuai dengan kreatifitas kita.
Ketika kondisi menyebabkan rutinitas berhenti, kita belajar pelan-pelan untuk mengatasi semuanya dan kembali dengan kondisi “normal” yang baru.
“Allah menguasai hal yang ghaib dan hal yang terlihat”
“Hal-hal yang tidak bisa kita lihat hari ini”
“Emang cuma hantu sama jin yang nggak bisa kamu lihat? Kamu tahu di mars ada alien nggak? Kamu tahu gimana cara kerja sel kanker? Kamu tahu tepatnya bakteri apa aja yang ada di usus manusia?”
“Yang kita nggak tahu tuh Namanya ghaib. Jadi ghaib tuh ga selalu mistis. Masa depan juga gaib”
“Kalau suatu saat teknologi sudah tinggi, dan manusia berhasil menyingkap banyak hal ghaib, apakah kita masih membutuhkan agama?”
“Ilmu Allah itu seluas lautan, ilmu manusia seperti setitik air yang menempel di jarum. Tersingkapnya tabir tentang satu hal ghaib akan membuat kita menyadari ada kegaiban yang lainnya. Wallahu a’lam”
Wabah yang kita hadapi hari ini adalah hal gaib yang ada di luar kontrol manusia. Kenapa Allah mendatangkan wabah ini kepada kita? Wallahu a’lam. Hanya Allah yang tahu sebabnya. Kembalikan keghaiban ini kepada Allah. Jangan berpikir terlalu jauh tentang apa yang tidak kita ketahui.
Yang perlu kita lakukan hari ini adalah bergotong royong membangun resiliensi. Kita belajar bagaimana melakukan mitigasi dampak. Belajar mengenali gejala alam. Belajar peduli dengan orang-orang di sekitar kita. Kita berikhtiar dengan segala kemampuan kita sebagai manusia. Bantu tetangga atau teman kita yang kesulitan tersebab wabah. Entah itu bantuan moral atau finansial, sekecil apapun akan bermanfaat.
Wabah ini, tidak akan bisa kita hadapi sendiri. Butuh kekompakan bersama. Jangan berbisnis dengan curang. Jangan menaikkan dagangan di atas batas kewajaran. Jangan menyebarkan hoax. Dan berbuatlah kebaikan dimanapun kita berada..
Ketika Umar bin Khatab memerintah, Negara Islam pernah mengalami paceklik dan kelaparan panjang. Saat itu, khalifah membagikan makanan dari Baitul maal. Penduduk mengantri dan saling mendahulukan yang lain. Abdurrahman bin Auf menangis melihat peristiwa ini. Beliau berkata:
“Andai paceklik ini datang di Makkah saat Islam belum datang, niscaya kita akan saling membunuh”
Wabah ini membutuhkan tidakan cepat dan mendesak. Tapi kita juga tidak boleh grusah grusuh sehingga merugikan yang lain.
Bismillah, mari kita tata pelan-pelan perasaan dan isi kepala kita.
Kita boleh bersedih melihat apa yang terjadi hari ini tapi jangan sampai kesedihan kita membuat kita lalai dengan begitu banyak ladang amal yang ada di depan mata.
Semoga Allah menguatkan kita semua.