Guys, Ivan Gunawan baru cerita sesuatu di podcast Aging Talk yang menurut gue menarik
Bukan cerita yang dibuat-buat.
Bukan yang dramatis pake nangis-nangisin dosa.
Tapi justru karena itu ceritanya terasa nyata banget.
Gua tuh dulu salat enggak pernah.
Shalat Jumat enggak pernah.
Puasa enggak pernah sama sekali.
Dan yang paling bikin gue kaget dia bukan orang yang gak kenal Allah karena miskin ilmu.
Dia justru pernah berpikir seperti ini:
Ah, Allah enggak ada Allah gua tetap bintang.
Allah enggak ada gua tetap terkenal.
Allah enggak ada gua tetap punya uang.
Semodernnya pemikiran dia waktu itu.
Sampai teman dekatnya yang beragama Kristen Edrik Chandra justru yang paling khawatir dan sering nyuruh pendeta-pendeta doain Ivan supaya dia punya iman.
Yang bikin Ivan berubah dan ini yang unik:
Allah tidak memanggil Ivan balik di saat dia lagi jatuh. Tidak di saat dia bangkrut.
Tidak di saat putus cinta. Tidak di saat ada masalah besar.
Allah mengajak pulang di saat aku lagi baik-baik aja.
Ivan lagi birthday holiday di New York.
Landing Jakarta besoknya langsung umrah.
Dan umrah itu jadi umrah pertama dalam hidupnya yang dia benar-benar ibadah.
Bukan yang sebelumnya yang dia sendiri akui: umrahnya 2 hari, Paris-nya 6 hari.
Datang foto sama banner Ivan Gunawan terus pergi lagi.
Doa di Ka'bah yang terkabul:
Di umrah itu dia minta satu hal spesifik ke Allah butik di atas tanah 450 m di Jalan Abdul Majid.
Pulang dari umrah tahu-tahu ada uang.
Oh, ternyata Allah ngedengerin ya doa kita.
Kalau mau sesuatu ngapain harus minta ke orang lain?
Puasa 30 hari penuh pertama kali di usia 43:
Seumur hidup baru pertama kali puasa full sebulan.
Dan malam takbiran itu untuk pertama kalinya dia benar-benar merasakan arti Idul Fitri.
Dengar takbiran tuh merinding.
Karena kita benar-benar ngelaksanain suruhan Allah.
Haji yang dia persiapkan seolah tidak akan pulang:
Sebelum berangkat haji Ivan gunting semua kartu kreditnya.
Selesaikan semua urusan bisnis.
Tapi karena dia genuinely takut mati di sana dan mau berangkat dalam kondisi bersih.
Dan ternyata kesendirian itu memperkenalkan siapa diri gue.
Perubahan yang paling konkret:
Ivan memutus kontrak desain botol minuman alkohol yang lagi laris-larisnya minta namanya dihapus dari botol.
Tutup semua kartu kredit.
Di butiknya sekarang ada speaker besar dari Madinah yang bunyi keras pas waktu salat. Satu butik kedengaran. Semua karyawan salat berjamaah.
Kalau lu enggak salat, lu budek berarti.
Tapi kalau suatu hari dipanggil Allah dia mau meninggalkan brand yang stabil, beberapa masjid, ratusan anak yatim yang bisa mendoakannya, dan karya-karya yang pernah dia buat.
Di Islam yang dilihat adalah hasil akhirnya.
Semoga finish di situasi yang baik.
Dan untuk anak muda yang mau jadi seperti Ivan:
Kalau kalian mau jadi saya kalian harus melewati 25 tahun berkarya.
Apa yang kalian lihat hari ini?
Saya bukan orang kemarin.
Saya bukan orang hari ini.
Tapi saya orang yang hadir dari 25 tahun yang lalu.
Yang bikin cerita Ivan ini berbeda dari kisah hijrah kebanyakan adalah dia tidak drama.
Tidak ada mimpi didatangi malaikat.
Tidak ada kejadian supernatural.
Cuma gerakan hati yang pelan-pelan dan dia ikutin.