Pengalaman Semasa Lockdown
Halo teman2, sampe hari ini 16 Maret 2020 dari Italia aku masih memantau kondisi perkembangan persebaran Covid-19 di Indonesia beserta penanganan2nya (berhubung lockdown jadi tiap hari laptopan terus sambil kuliah online hehe). Secara garis besar aku kecewa dengan pola penanganan pemerintah baik dari pusat ke daerah, atau sebaliknya hingga saat ini.
Jadi aku putuskan untuk mencoba menulis kembali. Juga untuk berbagi pandangan aja soal perkembangan pola persebaran di Italia dan di Indonesia semoga membantu ya.
Sumber data tabel: https://statistichecoronavirus.it/coronavirus-italia/
Resiko terpapar tiap individu disini terus nambah (termasuk aku juga krn masih sama2 manusia) dan hampir tiap pagi dengar sirine ambulans, tetangga marah2, atau kadang saling tepuk tangan sapa2an sama tetangga lain dari balkon. Sejauh ini klo ngliat tabel tersebut sudah ada 27.980 kasus positif terinfeksi dari total 60 juta org, artinya peluang individu terinfeksi di Italia naik jd 0,043%. Dengan kematian hari ini total mencapai 2.158 orang, bertambah 349 orang yg meninggal dari kemaren fatality rate di Italy menjadi yang terbesar di dunia mencapai 7,71%, jauh melampaui China yang kini 3,8% (mari kita doakan bersama2 supaya arwahnya diberi tempat terbaik oleh Allah dan diampuni dosa-dosanya).
Sedangkan di Indonesia, sejauh ini tercatat ada 134 kasus dari total 264 juta penduduk. Berdasarkan hal tsb, jadi sejauh ini peluang untuk terinfeksi Covid-19 di Indonesia adalah 0,00005%. Mungkin ini disebut statistik, tapi 1 nyawa hilang akibat meninggal tetap tidak bisa dibandingkan dari sekedar inputan data angka +1 di grafis :(
Dinamika Fatality Rate di Italy (Sumber: dok. Zakky R Dzulfikar)
Mari kita ingat2, kalo luas 1 negara Italia (301.338 km2) bahkan nggak lebih luas dari Pulau Sumatera, atau butuh 30 kali lipat luasnya untuk bisa menyamai China. Indonesia sungguh negara besar, luas, dan jauh lebih padat dibandingkan Eropa, atau bisa dikatakan gabungan dari luas banyak negara2 Eropa. Ini membuat keprihatinanku jadi sangat besar dengan pola dan cara persebaran virus Covid-19, jika koordinasi pemerintah sangat carut-marut, bahkan tidak ada regulasi jelas hanya selalu himbauan. Kemenaker juga tidak bisa klasifikasi tenaga kerja di Indonesia yang dominan sektor informal untuk input regulasi, tumpang tindih aturan, pembatasan transportasi di Jakarta tanpa adanya tekanan regulasi ke perusahaan tempat kita bekerja dengan bersamaan / didahulukan. Sampai berita bahwa tempat wisata makin membeludak di Puncak ataupun rekreasi Pantai di Banten. Bahkan kawan lama di Tembagapura sudah ada yg kontak minta pendapat krn di Merauke sudah ada 1 kasus terinfeksi.
Aku mau membandingkan pola dulu, tertanggal 27 Februari lalu seluruh institusi pendidikan di Lombardy diliburkan 2 minggu sampai 9 Maret 2020 (POLA INI MIRIP DENGAN HIMBAUAN KEPALA DAERAH DI INDONESIA). Ketika pengumuman sampai, saya masih memantau bahkan berdebat dengan mahasiswa lokal di grup angkatan dan mereka selalu beropini, “This is just fucking flu, enjoy your life please, tetap keluar aja seperti biasa, angka kematian rendah, kalian jangan terlalu terbawa anxiety, dan membuat gaduh grup ini dengan obrolan virus tiap hari". Kubu2an pendapat kawan dari China, Iran, Argentina dengan kawan dari Italia pun terjadi, karena mereka di China juga berdasarkan pengalaman genting kondisi keluarga, jadi menganjurkan utk tetap di rumah dan selalu pake masker serta cuci tangan. Ketika itu teman2 Asian masih dianggap dapat info dari 'Bad Media' menurut beberapa teman lokal, meskipun angka terinfeksi di Italia telah mencapai 655 orang. Rentang tanggal 27 Feb - 9 Maret itu saya terus pantau, ketika keluar utk belanja (krn sy memutuskan berdiam diri dikosan saja kecuali keluar belanja, Xenophobia makin parah juga tidak hanya di Italia, kasus rasial terhadap Asian karena dianggap penyebar virus). Situasinya waktu itu banyak sekali warga lokal yg berkeliaran di jalan, seperti biasa seakan tidak ada wabah, bahkan tanpa masker (anjuran Pemerintah awalnya tak perlu menggunakan masker kecuali yg ada symptom atau tenaga medis).
Tapi seiring berjalannya waktu, kenyataan berkata lain, sangat bertolak belakang. Tanggal 7 Maret Pemerintah Italia memutuskan untuk lockdown area Lombardy (regional Italia utara termasuk Milan) beserta 11 provinsi lain termasuk kota saya tinggal (Piacenza), karena kasus semakin parah ekskalasi terinfeksi melonjak DRASTIS ke angka 5.883 orang, dan kematian 17 orang, HANYA DALAM 8 HARI. Sejak itu orang2 dijalan sudah mulai berkurang, tapi tetap saja ketika ketemu orang2 di Supermarket, warga lokal sangat sedikit yang menggunakan masker, padahal di website resmi region Lombardy sudah dianjurkan untuk penggunaan masker atau merevisi peraturan awal (menurut saya pribadi tindakan advice yang ceroboh). Di fase ini pula sekitar 10 ribu warga Lombardy (utara) pulang kampung ke selatan dan berbagai penjuru kota Italia, dengan tanpa bertanggung jawab dan mengindahkan peraturan lockdown.
Puncaknya adalah HANYA DALAM 4 HARI KEMUDIAN, lewat Dekrit keluaran 11 Maret 2020 sekitar pukul 21.40 malam waktu Italia, pemerintah memutuskan Lockdown total seluruh wilayah. Angka ekskalasinya semakin parah yaitu 12.462 orang dengan kematian mencapai 827 orang. Pemerintah melalui dekritnya menyimpulkan untuk mengubah HABIT penduduk Italia yang suka nongkrong, ngopi, cipika-cipiki, dan meremehkan dengan cara ini. Saya hanya ingin mengingatkan dan menegur untuk teman2 merefleksi dari peristiwa kesombongan di Italia, untuk tidak aji mumpung, dan STAY DI RUMAH untuk saling menjaga satu sama lain. Saya tau ini sulit sekali dengan tuntutan pekerjaan, dll, tapi tolong diusahakan semaksimalnya sembari tetap mencari nafkah. Karena mungkin kita bisa kuat dan sehat, tapi belum tentu untuk ayah-ibu kita, anak-anak kecil, kakek-nenek ataupun saudara2 terdekat kita.
Klo ada yg bilang, "Lho kan di Italia faskes kesehatannya bagus. Lha di Indonesia?" Dulur-dulurku saya beri info, memang benar bahwa sistem jaminan kesehatan di Italia adalah salah satu yang terbaik di Eropa dan bahkan dunia. Namun, dengan jumlah penambahan kasus yang terus berlipat sebanyak ribuan kasus setiap harinya, kini semua RS yang ada sudah sangat kewalahan. Ventilator tidak memadai, ruangan pasien khusus suspect penuh, bed juga penuh, pasien untuk kemoterapi bahkan harus tertunda penanganannya. Pemerintah sampai meminta funding hingga sekarang karena dana medis juga makin terbatas, dan bahkan meminta bantuan tenaga medis dari China untuk sama2 menangani kasus di Italia sebagai bentuk solidaritas. Ini belum jika memikirkan bagaimana nasib pasien lain yang bukan terinfeksi virus tapi butuh penanganan darurat. Beberapa teman juga melakukan appointment harus ditunda untuk diterima RS setelah 5 hari. Bahkan yg terbaru, dokter dan perawat sudah sangat depresi karena harus memilih pasien mana yang harus diselamatkan dan tidak, karena fasilitas dan tenaga sudah tidak memadai. Juga ditambah informasi kalau pasien yang sekiranya sudah terlalu tua (di atas 80 tahun) dan/atau yang sudah terlalu kronis sakitnya, tidak akan diterima lagi di RS akibat ketiadaan tempat utk menampung pasien.
Semua kembali lagi ke HABIT DAN KEBIASAAN kita dan lingkungan sekitar kita untuk bisa menghentikan persebaran virus Covid-19 ini. Kalo kita denial, acuh, bahkan sombong dan menyerah dengan keadaan, kebiasaan baru tidak akan tercipta, menggagalkan persebaran virus hanya jadi keniscayaan. Sejauh ini saya bersama 4 teman lain dari Indonesia masih tinggal di momen lockdown dalam kota ini, kami terpaut jarak 1 1/2 jam dengan kereta dari saudara2 Indonesia kami di Milan. Kami mengikuti prosedur pemerintah, WHO dan CDC, serta arahan KBRI.
Seperti menjaga jarak 1 meter, membawa surat jika keluar rumah, tidak bepergian keluar kota, keluar rumah untuk belanja (ada aturan 15 orang maksimal dalam 1 ruangan supermarket), tidak menimbun makanan & keperluan secara berlebihan (keluar hanya 6-7 hari sekali), tidak panic buying, tidak kongkow2 dan berkumpul, keluar rumah untuk alasan medis atau alasan darurat seperti pulang kampung saja. Kita juga mengikuti arahan hasil Kulwap (Kuliah Whatsapp) di grup Mahasiswa di Italia bersama pembicara dari kawan WNI yg studi PhD Microbiology di Radboud University beberapa pekan lalu. Dari situ kita semakin mendapat informasi tentang Virus ini, menjalankan saran untuk makan sehat, menambah imunitas, jahe (karena anti-inflamasi tinggi), reresik, serta cuci tangan selalu dan mengoptimalkan penggunaan masker dimanapun kita berada. Kami semua dalam keadaan sehat, terus kuliah, bekerja dan akan berupaya terus sehat dengan saling menjaga satu sama lain :)
Aku sertakan link dibawah dari website media Italia tentang aturan ketika lockdown untuk sekedar informasi & pertimbangan, bukan untuk dijiplak mentah2, jika mungkin ingin bertanya silahkan saya sangat senang jika bisa berbagi.
https://www.corriere.it/cronache/20_marzo_13/passeggiate-sport-all-aperto-certificati-seconde-case-ecco-regole-governo-7af1adf4-64eb-11ea-ac89-181bb7c2e00e.shtml
Semoga membantu sebagai pengingat dan penegur, serta terima kasih telah meluangkan waktu membaca, jangan lupa berdoa selalu. Salam solidaritas seduluran !
(foto ketika pertama kali tiba di Piacenza, 7 September 2018)












