Ganjil rasanya melihat seseorang meninggalkan tanggung jawab atas pilihannya sendiri, lalu berharap orang lain yang memungut seluruh akibatnya.
Setiap kali perkara itu kusingkap, kau menjawab dengan alasan yang nyaris tak bercela. Semua tertata, semua beralasan, hingga tak tersisa ruang bagi kemungkinan bahwa ada yang patut kau sesali.
Pernahkah kau bertanya apa yang sebenarnya ingin kusampaikan?
Aku tak sedang menagih maaf. Aku juga tak menyimpan murka. Aku hanya lelah mengulang luka yang sama kepada seseorang yang selalu merasa tak pernah melukai.
Barangkali karena itu orang sering keliru memaknai ketahanan. Mereka mengira setiap yang bertahan sedang menunjukkan kekuatan.
Maka sesekali aku membayangkan hal yang amat sederhana. Andaikan pernah terlintas dalam benakmu untuk bertanya bagaimana keadaan kami, bagaimana hari hari kami berjalan setelah semua itu. Bukan menerangkan bagaimana kami semestinya merasa, melainkan mendengar apa yang sungguh kami rasakan.
Orang sering berkata, hargailah selagi ada. Mungkin nasihat itu tak pernah sampai kepadamu. Mungkin pula kau tak pernah merasa perlu mencarinya. Sebab entah sejak kapan kau tampak begitu yakin bahwa kami akan selalu berada di tempat yang sama, menunggu dengan kesabaran tak bertepi.
Andaikan sekali saja kau datang tanpa alasan untuk dimenangkan. Andaikan sekali saja kau meminta maaf tanpa syarat yang mengiringinya. Andaikan sekali saja kau mendengar tanpa tergesa menyusun pembelaan. Mungkin kami tak perlu sampai pada titik; ketika memaafkanmu terasa semakin mirip dengan mengkhianati diri kami sendiri.