sheepfilms
noise dept.
cherry valley forever
Peter Solarz

❣ Chile in a Photography ❣
Xuebing Du

#extradirty
todays bird
trying on a metaphor
Jules of Nature
Mike Driver
One Nice Bug Per Day
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ

blake kathryn

@theartofmadeline
Cosimo Galluzzi

PR's Tumblrdome
ojovivo

⁂

No title available
seen from Germany
seen from Türkiye

seen from United States

seen from Malaysia

seen from Malaysia

seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from Venezuela

seen from Kenya
seen from United States
seen from Kenya

seen from India

seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@disadeid
Surya Sumirat
Meski lahir dari rahim yang sama yakni Mataram, setiap kraton mengalami pasang surut yang berbeda di setiap jaman. Sejenak kita menilik Kadipaten Mangkunegaran. Dengan perjuangan pendiri dan penerusnya, kadipaten ini akhirnya tumbuh menjadi sebuah tatanan yang megah bak sebuah istana.
Beberapa nama besar lahir dari tempat ini seperti Raden Mas Said, sang putra –Mangkunegara II dengan ide korps angkatan bersenjata yang kemudian tersohor dengan nama legiun Mangkunegaran, Mangkunegara IV dengan Serat Wedhatama, Mangkunegara VII dengan SRV, sang mantu yakni Husein Djajadiningrat dengan Java Institut, Partini dengan novelnya ‘Ande – Ande Lumut’, Gusti Nurul dengan idealisme dan penampilan memukaunya di depan Ratu Belanda, bahkan mantan ibu negara di negeri ini pun – Ibu Tien Soeharto pernah tumbuh dan lahir dari tempat ini.
Puing – puing peradaban asing yang pernah menyapa negeri ini masih bisa dilihat pengaruhnya di Mangkunegaran. Tanpa berniat untuk menghilangkan karakter dan kepribadian yang dimiliki, kadipaten yang telah berdiri sejak ratusan tahun yang lalu ini mencoba menyatukan keduanya. Terlepas dari suara sumbang yang seringkali hadir mewarnai, ada keyakinan yang tertancap kuat bahwa setiap pribadi mencoba melakukan yang terbaik untuk negeri ini. Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti, rahayu tumeka pupating wanci!
Gathotkaca dari Kawah Candradimuka
Mengenal Iron Man saat ini, saya seperti diajak berpetualangan ke masa lampau ketika mengenal seorang superhero dari tempat saya sendiri yakni Gathotkaca. Sama – sama memiliki kemampuan bisa terbang tanpa sayap dan memiliki kekuatan yang tak terkalahkan, keduanya mungkin hanya dibedakan dengan punya atau tidaknya alas kaki. Gathotkaca yang sedari kecil telah nyeker memang lebih nyaman berjalan tanpa sandal atau sepatu. Saya rasa saya lebih menyukainya karena ia lebih membumi. Lahir dari seorang ayah yang kuat dan menang tanding layaknya Hulk dari negeri seberang –Bima, Gathotkaca sudah menghebohkan jagad sedari ia lahir. Tali pusarnya yang tidak bisa diputus dengan senjata apapun membuat sang paman –Arjuna, bekerja keras untuk mendapatkan senjata lain agar segera bisa digunakan untuk menyelamatkan ponakannya itu. Mengetahui cerita mengenai superhero nan kemudian tersohor dengan kumis tebalnya ini, selalu menjadi kenangan yang tidak bisa saya lupakan sampai sekarang. Bagaimana ia akhirnya bisa berwujud menjadi Gathotkaca yang kita kenal saat ini adalah bukan hal mudah. Ia harus digembleng di Kawah Candradimuka oleh pemimpin dari para pemimpin yang ada saat itu.
Hari ini saya menemukanmu lagi, wahai superhero yang konon mempunyai otot kawat tulang besi. Bedanya, pada hari ini ia mungkin punya tugas yang lebih berat karena yang ia tumpas tidak lagi kejahatan yang dilakukan oleh pihak Kurawa yang kasat mata namun juga kejahatan Kurawa berdasi yang tak kasat mata.
Hidup harus selesai sebelum berakhir
Syatori Abdurrauf
Zizah & Topik
Namanya Azizah. Ah, ia bukan anak Pak Lurah. Pun ia bukan anak yang setiap hari selalu membantu orang tuanya di sawah. Ia juga tidak melulu menyukai warna merah. Ia adalah perempuan kecil yang seringkali malu – malu tanpa sebab dan mendadak membuat pipinya memerah.
Zizah, ia lahir di dusun tertinggi di lereng gunung di sebuah daerah di Jawa Tengah. Ia hidup sederhana di antara berhektar – hektar perkebunan salak yang memang sudah tersohor kualitasnya negeri ini. Pernah suatu kali ia berujar, bahwa suatu saat nanti ia ingin sekali menjadi guru. Keinginan yang sangat mulia, bukan? Dan sedetik kemudian, ia tersenyum malu ketika ditanya mengenai alasan tentang cita - citanya itu. Ia berujar pelan, bahwa ia hanya ingin. Itu saja.
Ya, seperti pada umumnya anak – anak seusianya, Azizah akan melihat orang – orang di sekeliling untuk menjawab pertanyaan mengenai cita - cita. Di daerah tempat ia tinggal, di antara mayoritas para petani salak, guru adalah profesi yang langka. Jadi tidak heran ketika profesi ini masih menjadi dambaan.
Hampir setiap akhir semester, Azizah selalu mendapatkan juara. Kalau tidak juara 1 ya 2. Posisi rangkingnya selalu berkejar – kejaran dengan seorang lelaki kecil nan sederhana bernama Taufiq.
Agak berbeda dengan Zizah, Taufiq sudah sejak lama ingin menjadi seorang profesor. Ia menemukan cita – citanya secara tdak sadar ketika sedang melakukan sebuah percobaan sederhana untuk tugas sekolah. Taufiq akan menjawab dengan sangat lugas dan jelas tentang alasannya ingin menjadi seorang profesor. Ya, ia sangat menyukai eksperimen ilmiah. Matanya akan seketika berbinar setiap kali membicarakan tentang ilmu alam.
Namun nasib Taufiq tidak seberuntung Zizah, ia hanya tinggal bersama ibu dan adiknya yang masih kecil. Di rumah berukuran kurang lebih 5 x 5 meter itu Taufiq menjalani masa kecilnya. Jika keluar pintu depan rumahnya, akan terlihat puncak Merapi yang berdiri dengan sangat gagah. Jika sepulang sekolah, Zizah masih berkesempatan untuk bermain bersama teman - temannya, tidak begitu halnya yang terjadi pada Taufiq. Selepas bel pulang, ia harus buru – buru pulang karena sang adik sudah menunggunya. Ya, Taufiq punya tugas khusus untuk menjaga adiknya sementara sang ibu akan bekerja. Dalam tugasnya, ia tidak lupa menenteng buku, sekedar untuk mengerjakan PR atau mengulang pelajaran yang ia dapatkan hari ini. Kalaupun ia sangat ingin untuk pergi bermain, ia tidak akan melepas pandangan matanya pada sang adik. Karena itulah yang sejauh ini bisa ia lakukan untuk orang tuanya.
Itu tadi adalah cerita tentang mereka beberapa tahun yang lalu. Saat ini mereka sudah masuk ke sekolah menengah atas. Sebentar lagi, bangku perguruan tinggi sudah menunggu untuk mewujudkan cita – cita yang pernah mereka miliki. Semoga asa itu selalu kau jaga baik – baik di hatimu, Nak. Semesta akan mendukungmu untuk mewujudkanya.
And the Hereafter is better for you than the first [life].
Ad Duhaa:4
Sebut saja ia Lana. Ia sudah berjuang dari sejak ia masih belum mengenal dunia. Namun Lana sangat damai dengan kehidupan yang ia jalani. Tidak ada keluhan. Wajar bila sesekali terdengar tangis dari bibir mungilnya. Mungkin saja ia rindu dengan kedamaian yang lumrah dirasakan oleh pada umumnya anak seusianya.
Kelak ketika kau telah dewasa dan masih mengingat saya, mungkin kita akan bertemu di sebuah persimpangan. Jika demikian yang terjadi, mendekatlah. Barangkali saat itu saya sudah tidak lagi mengenalmu. Kita akan mengingat lagi tentang hari - hari yang telah kamu lalui. Kita akan mungkin sesekali tersenyum dan mensyukurinya.
Terimakasih Lana, hari ini saya belajar banyak darimu tentang bagaimana seharusnya menghadapi dunia.
Baby Lovely Camp #1
Kaswargan
Kemana sebenarnya tempat yang ingin saya tuju? Apa yang sebenarnya saya inginkan? Untuk apa saya melakukan semua ini? Dan berbagai pertanyaan serupa seringkali mengingatkan dan menyadarkan saya tentang intepretasi dari keabadian.
Ya, saya harus kembali kesana. Cepat atau lambat, waktu itu akan datang. Saya ingin kembali kesana, maka saya berusaha melakukan semuanya dengan baik sesuai yang telah tertulis di naskah yang telah saya sepakati sekian ribu taun yang lalu.
Tunggu kami ...
Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikannya, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
Quran 91:8-10
Love is the sunshine and drizzle
Kehidupan adalah sebuah perjalanan yang harus dilalui hingga berujung pada sebuah tujuan. Akan dilalui dengan baik atau tidak, hal itu kembali kepada setiap diri. Seperti apa seorang manusia menjalani kehidupan, itulah yang akan ia dapatkan kelak. Ya, karena kehidupan ini bukan yang abadi. Keabadian akan datang setelah kehidupan dunia ini usai. Dalam banyak sekali tulisan telah disebutkan tentang tugas manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi, dalam ajaran Islam disebut sebagai khalifah fil ardh. Tugas inilah yang mungkin belum banyak disadari oleh manusia. Selaiknya seorang wakil atau utusan, seorang pribadi harus mampu menjalankan perintah yang telah ditetapkan. Ia harus menyelesaikan misi yang ada dan kembali dengan hasil yang memuaskan, hanya jika ia ingin mendapatkan balasan yang baik. Pun sebaliknya, ketika tidak ada niatan untuk itu, ia tidak perlu berpikir tentang apa yang akan terjadi kelak. Adalah lumrah bagi seorang manusia yang tidak luput dari alpa. Ia seringkali lalai dari hakikat penciptaan. Banyak jalan baik yang bisa ia pilih, namun tidak sedikit yang memilih membuat jalan sendiri yang menurut mereka lebih baik. Saya memilih untuk bisa kembali dengan selamat. Saya akan berusaha semampu saya. Saya akan berharap dan optimis bahwa semua akan berakhir pada kebaikan. Terlepas bahwa penentu akhir dari semua bukan diri saya, saya akan pasrahkan. Karena tugas saya, bukan menentukan akhir, namun berusaha untuk mengusahakan dan berpasrah.
Orang kuat dari Jogja, itulah sebutan tersohor dari Ngarsa Dalem yang ke IX atau bapak dari orang nomor 1 di Jogja saat ini. Terlahir dengan nama Raden Mas Dorojatun, HB IX tumbuh dan besar menjadi pribadi yang berbudaya dan nasionalis.
Beliau adalah salah satu raja Kasultanan yang konon bisa mengembalikan kejayaan Mataram seperti ketika jaman Sultan Agung bertahta. Beliau bahkan memilih untuk tidak mengangkat permaisuri dengan tujuan supaya semua istrinya mempunyai kedudukan yang sama. Pribadi yang gemar memasak juga inilah yang kemudian membuat Gubernur Jenderal Belanda pada masa itu galau karena perjanjian antara Indonesia-Belanda tidak juga disepakati. Tahta untuk Rakyat, adalah sepenggal pidato beliau ketika penobatan tahun 1940 yang kekuatan maknanya bisa kita rasakan sampai saat ini sebagai warga Indonesia, dan suku Jawa khususnya.
Saya rasa tidak akan selesai untuk menceritakan sosok beliau di hanya sebuah postingan ini. Akan sangat baik apabila memungkinkan berkunjung ke Kasultanan Yogyakarta. Profil beliau dengan sangat lengkap telah diceritakan di beberapa bangunan khusus.
Semoga engkau baik di sana, wahai orang baik dari Jogja.
Dulu sekali ketika masih SD, ada seorang guru bercerita tentang Abd. Banyak orang berkata bahwa ia adalah ahli ibadah, orang yang suka memberi, dan ia pun baik kepada orang-orang di sekitar. Suatu ketika ia berjalan berkeliling desa. Di tengah perjalanan, ia terganggu dengan adanya slilit (sisa makanan yang menyelinap) di gigi. Tanpa permisi, Abd memangkas sedikit serat bambu yang tidak lain adalah bagian dari pagar bambu milik tetangga. Ukurannya kecil sekali, hanya seukuran tusuk gigi. Lalu ia gunakan serat bambu itu untuk menghilangkan slilit di gigi. Hari berganti, sampailah pada masa ia berada di alam kubur. Pada umumnya orang - orang akan berpikir bahwa Abd akan merasakan kenikmatan di alam kubur. Namun ternyata kondisi yang ada adalah sebalikny. Abd sangat memprihatinkan. Salah satu giginya bercahaya, mengeluarkan api, terbakar. Ketika ditanya, "hai Abd, apa yang membuat orang baik sepertimu menjadi seperti ini?". Ia pun menjawab, "ketika masih hidup, aku pernah menggunakan serat bambu di pagar milik tetanggaku untuk menghilangkan slilit di gigi ini, dan itu kulakukan tanpa seijin sang pemilik". "Hanya sekecil itu?". "Ya hanya sekecil itu, namun ternyata setiap perbuatan itu akan dibalas dengan adil". Apalah arti sedikit dari serat bambu? Bukan tentang wujud fisik atau harga. Namun lebih dari itu, kita tidak akan pernah tahu apa yang akaan terjadi di kehidupan kelal. Yang perlu kita lakukan adalah menjalani dengan berhati - hati. Semua kebaikan itu muncul dari hati. Aturan hidup di bumi sudah diatur jelas, pilihannya adalah mau menjalankannya atau tidak. Lalu, bagaimana dengan kita?
~ mencintaimu tanpa lelah ~
If you judge people, you have no time to love them 💕
Mother Teresa
Raden Mas Malikul Kusno dalam Kenangan
Setiap kali mengingat tentangnya, saya akan sampai pada harapan bahwa beliau akan kembali ke tempat yang baik. Terlepas dari apapun yang ia lakukan selama beberapa puluh tahun tinggal di tanah Kasunanan, ia pernah menjadi sosok yang sangat dicintai oleh sekelilingnya. Dari ejaan setiap kata yang tertulis di berbagai literatur, tidak ada yng memungkiri bahwa Islam dapat diterima dengan baik dan berkembang dengan sangat pesat salah satunya adalah karena peran dari raja yang membawa Kasunanan ke masa keemasan ini.
Ia tahu bahwa pada saatnya nanti, Islam akan berkembang dengan sangat pesat. Ia juga tahu bahwa ilmulah yang akan kekal. Inilah mengapa sampai saat ini, banyak dijumpai lembaga pendidikan berlatar belakang islam di daerah Kasunanan.
Ia, telah berusaha sampai titik akhir hidupnya.
Maturnuwun, Sunan.