Thereâs always a message in the way a person treats you. Listen.
Unknown (via onlinecounsellingcollege)
Monterey Bay Aquarium
tumblr dot com
d e v o n

#extradirty

izzy's playlists!

if i look back, i am lost

Kiana Khansmith

tannertan36
No title available
Peter Solarz
Cosimo Galluzzi
Keni
đŞź
ojovivo

No title available

Origami Around
will byers stan first human second
art blog(derogatory)
Aqua Utopiaď˝ćľˇăŽĺşă§č¨ćśăç´Ąă

Janaina Medeiros
seen from United States
seen from United States

seen from United States

seen from United Kingdom
seen from United Kingdom

seen from Lithuania

seen from United States

seen from CĂ´te dâIvoire

seen from Canada

seen from Malaysia
seen from United States

seen from Germany

seen from Malaysia

seen from United Kingdom
seen from Japan

seen from Malaysia

seen from Germany
seen from United States
seen from United States
seen from United States
@ditanyakkk
Thereâs always a message in the way a person treats you. Listen.
Unknown (via onlinecounsellingcollege)
Lagi dan Lagi...
Hari ini, lagi...dan lagi, digempur pelajaran berarti
Pernah se-percaya itu dengan dia yang baru hadir, lalu hancur udah sekejap saja. Iya, tahu. Harusnya kendali ada di dalam sini untuk menentukan mau jatuh apa tidak. Mau jadi orang yang serba skeptis atau tidak. Orang baru dan lama terasa tak jauh beda.
Tapi, susah ya susah.
Bagi perempuan dengan belasan tahun pengalaman buruk tentang hubungan (baca: hubungan apapun), menemukan yang bisa dipercaya adalah sebuah nikmat dan kejutan luar biasa dalam hidup, ye kan~
Dengan delik inner child dan trust issue ini, betul-betul ya, bikin hidup jadi gak mudah.
Tapi, ya kan hidup cuma sekali
Ayoklah, dibuat mudah aja. Pinter-pinter milih energi mau dihabiskan buat siapa. Masih ada 7 orang dengan pertalian keluarga yang menanti. Menanti cerita bahagiaku, menanti jadi sandaran atau menyandarkan diri mereka padaku, menemukan jalanku tuk membesarkan cita-cita mereka.
Seperti sudah bukan masaku tuk berlari kencang. Kini lebih baik diam dan mengatur nafas, memanjangkan ingatan, mengulurkan tangan sepanjang dan sekuat kubisa.Â
Percaya. Bismillah...
KAGET
Gue sering mendapati diri berhasil healing ketika nyalurin emosi negatif dengan menulis. Gue tunda-tunda untuk ngelakuinnya, sampai hari ini. Cuma bedanya, hari ini kebalikannya. Gue nulis karena udah menelusuri tahap healing dengan metode lain. Karena udah punya energi buat tahap healing, gue butuh dokumentasi untuk refleksi ke depannya, maka memutuskan untuk menuliskannya. Tentang beberapa kejadian yang gue alami belakangan ini (selama masa pandemi) yang serba gak pasti dan membuat gue KAGET.
Banyak orang -bahkan bangsa- yang kocar-kacir karena pandemi kampret ini. Mirisnya, karena ini musibah pandemi pertama (semoga juga terakhir Ya Allah) yang kita alami, alhasil banyak gak tahu harus ngapain. Manusia bisa gak punya persiapan dan bisa dikatakan gak punya modelling mau berlaku kayak apa sekarang dan pasca kejadian ini, termasuk lah gue.
Dapet pengembangan karir di masa pandemi tuh ada tantangannya sendiri. Gue dapet banyak support system positif, encouraging, dan inspiratif buat belajar. Tapi, pada akhirnya, ada batasan yang bikin gue tetap gak bisa berbuat banyak untuk mengaplikasikan ilmu riset yang udah gue pelajari otodidak (dan beberapa mentor dadakan) sekurang-kurangnya 3 tahun belakangan.
Saat batasan ini hadir dan harus gue hadapi, jujur gue kaget. Lalu dilanjut dengan sedih. Ngerasa sia-sia. Gak dihargai. Merasa kecewa karena anggap orang lain bertanggung jawab sama nasib gue. Ngerasa ditinggal gitu aja sama orang yang gue percayai. Gak adil.Â
Dada gue sampe sakit, dalam makna sebenarnya. Dan gue benci keadaan gini.
Sampe suatu malam, saat Ramadan kemaren, lupa tepatnya abis salat Magrib atau Isyaâ...abis salat gue sampe enggan doa panjang-panjang abis salat. Hal yang gue praktekkan adalah doa singkat, mengucap âAamiinâ lalu mengusap wajah. Diem bentar, trus gue sujud. Sejurus kemudian, dalam sujud, gue sampe mejamkan mata.
Pelan-pelan, mata gue mengerut
Ada yang mengalir hangat di ujung mata
Blasssss...pertahanin gue ambruk Gue naaaangis sejadi-jadinya, sajadah bagian depan jadi âbanjirâ air mata gue Saat itu, kata-kata yang keluar dari mulut gue cuma:
âYa Allah, capekâŚâ
Lanjut nangis lagi dan lagi
Abis itu, kerasa pegal punggung
Baru deh gue duduk
Besoknya, gue menjemput lagi âkeseruanâ hidup lainnya Penuh dengan perubahan, sampe gue harus meras otak sedemikian rupa untuk ngatur strategi gue cari nafkah
Tapi bedanya, setelah sujud banjir banjir malam itu, gue ngerasa beban gue keangkat. Lebih punya energi hadapi âkejutanâ selanjutnya. Tentu gue gak pernah menantang Tuhan buat dikasih masalah. Tapi paling tidak, gue jadi punya kemampuan adaptasi lebih baik lah kan.
Mulai mengendurkan ekspektasi dengan menyiapkan plan buat kondisi terburuk
...yang kadang kenyataannya beyond keburukan yang udah gue bayangkan
Setelah gue pikir-pikir, gue makin ke sini, makin mudah beradaptasi dengan kejutan ini...karena apa?
Gue bisa berdamai setelah kaget.
Dari satu perlakuan yang gue dapet, gue sebenernya udah prediksi bakal kena. Gue sebenernya udah siapin langkah mulai dari mitigasi sampe kuratif. Tapi, toh ketika momen itu dateng, teteuuuuuuuuup aja gue down
Se-simpel karena gue kaget.
Kaget karena, menâŚ.kejadian nih ternyata
Kaget karena, kalopun tahu bakal dateng, gak nyangka lebih cepat dari yang gue bayangkan
Kaget karena, datengnya dari orang yang gak gue sangka
Terakhir...kaget karena ngerasa jadi gak punya bargain position dari keadaan yang mampir
Padahal beberapa hari setelahnya, yaaaa gue âdiingetinâ kembali:
âEh lo dah punya backup plan buat ini, tauuuk. Kenapa sedih?â Trus gue yaaaa âIya juga ya. Kalo gak ada kejadian A sekalipun, gue kan emang akan tetap ambil jalan B. Kalo gak ada kejadian C, ya kan gue udah ngerasa D jadi sah untuk ngelakuin Eâ Gitu-gitulah
Intinya, setujulah gue sama siapa itu yang bilang:
Masalah kita adalah seberapa besar/rumit kita memandangnya
Berlaku di gue.
Ya emosi negatif, kalutnya perasaan dan pikiran gue, ya karena kaget aja. Besok-besoknya ketika rasional udah mampir, ya udah lanjutlah hidup ini
âWong kemaren cuma kagetâŚâ
8 Tips for Having a Low Stress Life
1. Simplify â your time, your stuff, your social life.
2. Live in the moment.
3. Practice gratitude.
4. Take control of the thoughts that pull you back into the past.
5. Stop the anxious thoughts about âwhat nextâ, and of your future.
6. Practice getting comfortable with saying ânoâ.
7. Donât worry about others, and what they think of you.
8. Do your best, then relax, and avoid perfectionism.
catatan menuju dini hari
Detak yang Tak Ku Harapkan
Pukul satu kurang 10
Dini hari
Senin
Kamar dan sekeliling sudah sepi daritadi
Hari ini aku di atas kasur
Milik orang
Si kakak pertama
Menampung pengungsi banjir macam aku
Suasana ini
Saking sunyinya
Sampai bisa mendengar detak jam dinding
Malam-malamku banyak kuhabiskan merenung
Seharian sudah ngapain
Sebulan sudah kemana saja
Tiga bulan berbuat apa saja
Tahun lalu membangun apa
Ditambah, barusan ku menghabiskan bacaan setengah buku tentang salah satu teori filosofi yang disebut "Stoa"
Makin jadilah perenunganku tentang diri dan tujuan hidup
Padahal tujuanku membaca sebelum tidur, ya memancing kantuk
Payah memang aku ini.
Hei, jarum jam dinding!
Biasanya aku tidak terganggu dengan suaramu
Tapi malam ini beda
Suara detakmu biasa saja, tapi mendadak terasa menakutkan
Karena menemani isi kepala yang lagi sengkarut ini
Kalau di fotografi, dikenal istilah juxta position, maka malam ini adalah juxta problemo
Ehe, apalagi ini
Juxta position -sepemahamanku- adalah hasil karya foto dimana dua (atau lebih) objek yang tidak saling berhubungan tapi berada di sebuah posisi yang strategis atau presisi atau apalah itu namanya, sehingga memunculkan hasil yang memiliki makna
Contoh simpelnya: sering lihat foto wisatawan 'beraksi' dengan latar patung singa air mancur alias Merlion di Singapura kan? Beberapa dari mereka beraksi dengan menghadap patung dari posisi jauh namun menempatkan diri mereka persis di titik perspektif jatuhnya air. Sehingga seolah mereka tengah meminum air pancuran tersebut.
Begitulah.
Semoga kalian paham.
Sama halnya dengan detak jam ini
Di saat lagi merenung ruwetnya rencana-rencana hidup
Suaramu malah menakutkan karena menyadarkanku bahwa...
Aku masih hidup, tapi waktuku tak banyak
Aku bisa menghabiskan banyak usaha membangun rencana, tapi waktu tidak bisa menunggu
Berdoa mungkin jadi jalan terbaik ya?
Mungkin ini pertanda Sang Khaliq rindu
Rindu yang bukan buatan
Rindu lintas ruang dan waktu
Untuk meredam bagian kecil di dalam sini yang dinyalakan rasa cemas
Saat mendengar...
...Detak yang tak kuharapkan.
Gini Toh Rindu
Saya menerapkan âaturanâ bagi diri sendiri
atau setidaknya, badan/hati saya mengizinkan konsep ini:
bahwasanya, ketika saya pernah dekat dan menghabiskan waktu berkualitas dengan seseorang, pantang bagi saya memutus komunikasi dengannyaÂ
Siapapun itu Saudara, teman, gebetan, mantan pacar, bos, atau apalah itu. Sampai hari ini.
Dan berujung saya memendam rindu yang lumayan hebat karenanya.
Cailah!
Saya masih ingat Seorang pria yang pernah selama 4 bulan menghabiskan waktu bersama dengan saya, tahun lalu.
Di sekitaran bulan ini
Kami, dua manusia dewasa dengan tujuan yang sama namun kendaraan berbeda Tujuan yang sama namun dikelilingi lingkaran yang tak sama Dipertemukan tahun lalu.
Namun tampaknya Tuhan hanya mempertemukan, tidak untuk menyatukan.Â
Kini, hari-hari saya terselip memori baik bersamanya Tak hanya tawa, tapi juga bagaimana saya melihat adanya sisi diri saya yang bertambah baik setelah mengenalnya
Saya kira, Januari 2019
Semuanya sudah benar-benar selesai. Setelah dia mengakhiri hubungan kami. Saya kira benar-benar berakhir dengan baik ...karena setidaknya dia masih memilih bertemu dan menyampaikannya empat mata Bukan sekadar menghilang.
Saya kira ini benar-benar selesai ketika setelahnya saya memilih memutus komunikasi dengannya Saya, kala itu masih berprinsip âAll or Nothingâ memandang hal ini ...yang artinya ketika dia memilih selesai, ya selesai hubungan kita sebagai antar anak manusia Saya tidak bisa (berpura-pura) baik-baik saja di saat di dalam hati hancur karena pernah memberi maaf seluas itu sebelumnya namun berakhir dengan penyelesaian begini darinya.
perasaan saya campur aduk waktu itu
Antara terkejut, lega, menyesal, benci, dan menyalahkan diri sendiri.
Bahkan sempat berpikir kalau rasa itu tidak pernah dia miliki sejak awal Bahkan ketika sebulan setelahnya, dia bilang bahwa
âKita cocok sebenarnya Tapi ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkanâ
Saya merasa sudah selesai. Tapi, tiba-tiba belakangan ini saya merasa butuh ada satu pertemuan lagi.
Satu dan terakhir pun tak apa.
Saya mau bilang, terima kasih.
Saya jadi lebih bisa belajar menghargai, mengapresiasi orang-orang yang saya sayangi. Dari caramu memperlakukan orang yang kamu sayangi dan bagaimana minimnya yang saya lakukan selama ini untuk kamu dan mereka. Saya juga belajar bahwa berdoa dengan perasaan tawakal itu perlu. Saya mengilhami ini ketika menyadari bahwa kamu, yang waktu itu ada di hadapan saya adalah antitesis dari banyak kriteria yang saya cari, yang saya doakan. Tapi membuat saya betah, membantu saya menemukan, maunya diri ini. Membantu saya mengukur kapasitas diri, masalah seperti apa yang bisa saya toleransi
Kamu tahu, setelah Januari 2019, saya sempat bertekad untuk tidak mau punya pasangan baru yang kriterianya ada di kamu. Suku, pekerjaan, usia, bahkan nama.
Ya, sekonyol itu memang.
Tapi, 10 bulan berlalu ya Saya kembali pada diri saya
Saya paham satu hal Waktu itu, hati saya tidak cukup luas Bukan untuk memaafkan kamu Tapi untuk menerima bahwa kenyataan gak selalu sesuai harapan
Kalimat klasik ini, tapi sungguh kuat. Hehehe
Saya waktu itu menjauh karena marah
Saya marah karena memaksa Saya memaksa karena menurut saya, bersama adalah yang paling benar Saya merasa itu benar karena kesan dan harap yang saya bangun sejak awal Saya membangun kesan tersebut karena kurang membuka mata dan hati
Bahwa kita boleh memikirkan akhir terburuk dari suatu cerita Tapi, sekalipun tahu, saya alpa menyiapkan diri untuk itu Saya didorong oleh narasi yang saya munculkan bahwa: lelaki dewasa seperti kamu tidak mungkin mengambil keputusan sekonyol ini. Harap saya setinggi itu memang.
Tapi kembali lagi, saya pelan-pelan mengendurkan ego saya Sekali lagi, demi kebaikan diri sendiri.Â
Akhirnya saya sadari, kamu pun mungkin sudah melalui proses panjang untuk mengambil keputusan ini
Dan saya? Mencoba melihat ke depan sejak masih bersama kamu dan tetap saja, keraguan satu itu sedikit demi sedikit muncul
Saya memang salah, malam itu dengan lancang membuka ponselmu dan menemukan percakapan kalian yang mengejutkan itu. Tapi malam itu jadi pintu bagi keputusan-keputusan besar yang kita ambil setelahnya, kan? ...termasuk untuk melanjutkan hidup bahagia masing-masing
Asal kamu tahu, Beberapa kali saat terbersit rindu, dibandingkan menggerakkan jari mengirim pesan dari aplikasi ponsel hijau, saya malah memilih berdoa.
Jika saya dan kamu direstui bertemu lagi, saya minta dipertemukan dalam momen kebaikan, dengan cara yang baik, dan membawa kebaikan bagi kita setelahnya. Saya berdoa kamu dilindungi, didekatkan dengan kebaikan, tidak mengulangi masa lalu yang buruk, dan dimudahkan rezeki.
Ya, cicilan rumahmu masih sekitar 13 tahun lagi kan?
Hhe~
Sekali lagi, saya mau bilang makasih
Lewat kamu, saya bertumbuh Lewat kamu, saya menemukan sisi lain diri Lewat kamu, saya jadi mendapati teman-teman baik yang mengerti Kita dua manusia baik yang tidak diizinkan bertumbuh menua bersama
Jika nanti sudah ketemu yang baru (atau mungkin sudah), sampaikan padanya, kamu pernah punya waktu baik bersama gadis yang mengenalkanmu pada standup comedy, serta mencintai buku dan galeri seni ya
haha
Asing pada dirimu
Lalu aku jadi asing pada diri sendiri
Sial.
Tok!
âThe greatest gift you can give another is the purity of your attention.â
â Richard Moss
Kalo bisa ambil bagusnya, kenapa fokus sama kurangnya sih?
Ye gak? Ye kan?
Benahi se-rapi-rapinya.
Bersihkan se-bersih-bersihnya.
Sampai satu-satunya yang merasa masih ada tersisa hanya dia yang kau izinkan terusir
Lorong waktu
âActing like you donât care is not letting it go.â
â Penelope Douglas
DYARRRRR !
Teman-temanku
Malam ini 23:00 aku belum hendak tidur
Walau memaksa hidup sehat dengan program tidur di bawah jam 22:00
Aku menatap langit-langit kamar kos sambil senyum-senyum sendiri, mengingat betapa bersyukurnya manusia satu ini dikelilingi orang-orang yang selalu mengarahkanku kembali ke jalur yang benar ketika otakku melenceng
Aliran nasehat yang tidak menggurui
Canda-tawa, dari yang paling sederhana hingga yang paling sarkas
Bahasa tubuh yang membuat benakku yakin bahwa mereka benar-benar hadir di tempat itu, di saat itu, di waktu kami berhadapan
Tapi aku sejenak merenungi,
Se-berarti itukah aku di mata mereka?
Kosong tapi belum siap huni
Idolaque: Bude Sumiyati
...ke Kotamu
Aku mau menambahkan kata 'pulang' pada awal judul
Agar selaras dengan judul lagu kesayangan umat 90'an yang memelihara rindu
Tapi, kali ini kudatangi kota ini
Bukan untuk pulang, karena ini adalah kota kelahiranmu, bukan kota asalku
Bukan pula Jogja, ini Bandung.
Memori itu tidak saya niatkan untuk dibawa. Namun tiap kali muncul, yang saya perbuat sesederhana: memejamkan mata, tersenyum dan berbisik: "I've been there. Yes, I was happy. That's it."
Buka lagi rumus Present Perfect Tense
âNo great mind has ever existed without a touch of madness.â
â Aristotle