Merayakan Puisi pada Punggung Kesayangan
Aku masih punya debar-debar setahun yang lalu. Kadang surut karena sikapmu, egoisku, atau sesederhana karena memang mesti begitu. Tapi seperti yang kau bilang, sayang ibarat iman. Meski sesekali tak tampak, ia tetap ada. Katamu ia selalu ada. Aku tak terlalu sepakat, di masa lalu aku pernah menyayangi orang lain yang bukan kamu, tapi sayang itu kini tak ada lagi. Tinggal sisa kenangan saja. Ah, mengenang pun tak perlu lagi karena aku punya kamu dan debar-debar baru sejak setahun yang lalu.
Malam tadi aku merayakan Halloween dengan rasa takut kehilanganmu, dengan rasa takut akan datang suatu hari ketika kamu tak cinta aku dan kita berdua berhenti saling menyayangi. Seperti penggemar film horror dan thriller, debar-debar ketakutan ini kunikmati. Membuatku mensyukuri yang saat ini kumiliki, membuatku menjaganya agar ketakutan itu tak perlu datang menghantui. Jadi kamu jangan pergi ya, aku tak mau sendiri. Aku tak mau debar-debar jatuh cinta ini diganti gemetar isak karena kehilangan.
Pagi ini aku merayakan tanggal satu dengan kopi dan keinginan menulis, lalu membuatmu suka padaku sekali lagi. Kau tak perlu khawatir bagaimana rasaku, menjatuhcintakan diriku padamu kuanggap sebagai pekerjaan. Selalu kubutuhkan, meski sesekali butuh liburan. Dan tiap kulakukan, akan selalu kupastikan kau tahu aku bersungguh-sungguh agar kau tak perlu bertanya-tanya. Aku tahu bagaimana rasanya khawatir karena ragu dan kau terlalu sibuk untuk meyakinkanku. Tak menyenangkan, aku tahu. Jadi matikan ragu-ragu di dadamu, aku tetap perempuan yang menganggap punggungmu adalah panggung bagi malam puisi.
Kaubilang ragu-raguku tak perlu, yang penting adalah kamu yang tetap bersamaku. Tanggal satu datang berkali-kali dan kamu tetap bersamaku. Tanggal satu atau tiga satu, Januari atau Juli, tahun lalu atau tahun-tahun nanti, bagiku yang terpenting adalah kamu.
Masih kamu, semoga selalu kamu.
Setahun kemudian , 1 November 2016, @nawangrizky
Setahun yang lalu, dan aku masih ingat bagaimana rasanya duduk di belakang punggungmu, berpuisi di dalam hati, lalu mengikrarkan diri hendak jatuh cinta padamu. Dulu aku berharap semoga keputusanku tak salah, semoga kau adalah orang yang pantas. Sekarang aku tahu, aku tak salah dan kau memang pantas.
Semoga kita senantiasa dijatuhcintakan pada satu sama lain, ya.
Setiap hari, setiap kali.