Jatuh cinta dengan tulisan, bertahan dengan suara, tersesat dalam angan-angan, berakhir dengan kebodohan.
Anggaplah ini karangan semata, yang hadir dari imajinasi dan lewah pikir tengah malam. Jangan menebak-nebak, sebab aku hanya pemilik pikiran yang suka bertualang. Dunia tak seindah yang kita lihat, meski tak seburuk itu pula. Seperti yang selalu aku percaya dari kehidupan, akan selalu ada hitam dan putih, abu-abu juga warna lain.
Coba lihat dirimu di cermin malam ini, kamu cantik bukan? Iya, kamu cantik. Kamu pantas untuk siapapun, tapi tidak semua orang layak untukmu. Sebab kamu tak hanya cantik, kamu berempati, kamu baik, kamu pengertian, dan kamu tahu seberapa mengagumkan itu.
Sekarang, beritahu aku, oh tidak perlu, beritahu dirimu sendiri, apa yang membuat kamu yakin dengan cinta yang kamu bangun berdasarkan kata-kata, hanya suara tanpa pernah saling menatap mata? Apa yang membuatmu rela kehilangan akal hanya karena harapan-harapan yang kamu tahu itu maya?
Berhenti, jangan lanjutkan alasanmu, cinta tak pernah jadi alasan untuk menghilangkan nurani.
Aku tahu, hatimu berteriak kebenaran. Dan kamu menolaknya berkali-kali. Menerima semua kekurangan dia seolah itu prestasi. Mencintainya sepenuh hati dengan segala empati dengan kisah sedih yang ia bagi.
Atau kamu membunuh segala hal karena sepi yang menggerogoti. Tak peduli bila ia hanya delusi, cinta membuat kamu memilih jadi bodoh demi sebuah panggilan dini hari. Tunggu, cinta? Sepertinya kita menggunakan kata yang salah, kamu hanya merasa kekosongan dan saat ada yang bersedia mengisi kamu menyerahkan diri tanpa pamrih.
Tapi malam ini, aku ingin kamu melihat dari sudut pandang ini. Bagaimana, jika, apabila, seumpama, bilamana, kekasih yang tak berani menemuimu itu bukan pecundang, ia tak memiliki nyali bertatap wajah denganmu karena satu penjelasan yang masuk akal, yang kamu matikan dari pikiranmu. Bagaimana jika ia sepertimu, sesama pemilik rahim kehidupan?
Ayolah, aku hanya ajak kamu berpikir. Kenapa tidak memungkinkan jika ternyata ia adalah perempuan? Bukankah kamu mengenali perasannya yang lebih sentimental darimu, mengenali seleranya yang lebih feminim, emosinya yang tak stabil seperti perempuan yang datang bulan, kemampuannya menjadi korban dari cinta, dan kau juga sadar bukan, foto yang ia kirimkan, video yang ia kirimkan tak pernah sama, video itu tak pernah dengan suaranya, foto itu memiliki lima mata yang berbeda. Semua tampak jelas tak nyata di hadapanmu.
Sekarang lihat dirimu lagi? Seberapa percaya kamu kepadanya? Jika kamu ingin memakiku saat membacanya, artinya kamu telah sepercaya itu, dan selamat kamu telah berhasil menidurkan nurani. Apa kamu sekarang sedang memakiku karena merasa paling memahami hati? Benar kamu memahaminya, atau kamu sedang mencabik-cabik hatimu dengan segala rasa percaya itu. Mempercayai ketiadaan.
Aku tahu, sebenarnya kamu mengetahui banyak kebohongannya, bahkan membantu ia melancarkan aksi itu. Demi cinta? Cinta tertawa terbahak-bahak melihat kebodohanmu. Ayolah, kamu tak hanya cantik. Tapi kamu berotak, jangan ditidurkan otaknya. Tulisan yang berkeliaran di laman ini saja belum tentu isi otaknya, puisi-puisinya yang membuat kamu tertarik saja mungkin ia ambil dari puisi orang lain.
Eitsss, aku tak menghakimi. Aku sedang ajak kamu melihat sudut pandang lain. Hei, kenapa tidak terima dengan kata-kataku? Karena aku benar bukan, kamu terlalu penakut untuk tahu kebenaran. Bahwa kemungkinan kamu adalah salah satu yang telah menyumbang ketidakseimbangan alam.
Atau sebenarnya, kamu tahu kebenarannya melebihi aku. Tapi kamu memutuskan bertahan sebab kalian sama? Bagaimana kamu mengatakannya, 'apa yang salah dari dua jiwa kesepian yang ingin saling mencinta?' Ah, mungkin tak akan pernah ada yang salah. Kecuali fakta yang dilahirkan oleh ketiadaan.
Jika kamu anggap ini omong kosongku belaka, tidak apa. Teruslah hidup dengan duniamu, sebab aku juga iya. Anggaplah ini hanya kata-kata dari seseorang yang terlalu banyak melihat kehidupan yang pahit hingga begitu skeptis.
Teruslah jatuh cinta dengan bualan, dengan pola kasih sayang yang ia bagi rata untuk banyak orang. Aku juga sepakat segala hal layak dilakukan untuk bertahan. Hanya saja ingat pesan orang yang begitu kamu sayang, aku yakin ibumu tak pernah ingin kamu terluka, apalagi menjemput luka itu sendiri.
Pesanku satu, saat nanti kamu telah lelah dengan segala sandiwara yang ikut kamu perankan demi cinta yang kamu anggap nyata, matilah sendirian. Jangan biarkan orang lain mencaci kebodohanmu, jangan biarkan orang lain tahu akan pilihanmu yang begitu laknat. Hiduplah sendirian dalam penyesalan, sebab dunia yang begitu fana ini terlalu kejam untuk menerima ketidakseimbangan yang pernah kamu sumbang.
Ah, aku berharap aku selalu salah. Agar kamu berbahagia dengan kenyataan. Dan aku lega dengan kesalahan.