Dia terikat di kursi. Kepalanya tertunduk, sepertinya menahan sakit. Wajahnya nampak lebam. Darah segar mengalir dari pelipis dan hujung bibirnya.
Dihadapannya terdapat sebuah meja, tepat di bawah lampu kuning itu. Di seberangnya terlihat sosok pria lain, tinggi, besar. Biru langit dan beberapa bercak merah, warna kemeja pria itu. Tiga kancing atas kemejanya terbuka. Wajahnya tak terlihat. Hanya terlihat kepalan tangannya yang sudah siap untuk mendaratkan godam berikutnya di wajah si pria yang terikat di kursi.
Buk. Buk. Buk.
Tiga tinjuan setidaknya yang membelai wajah si pria itu.
Lampu berpayung itu menerangi sedikit wajah si pria yang terikat. Nampak semakin kacau raut wajahnya. Dengan sedikit kekuatan yang ada dia menatap sang algojo.
Buk.
Satu pukulan keras mendarat lagi di wajah si pria. Pelipis kiri tepatnya.
Si pria di kursi pun jatuh terhuyung ke belakang bersama kurisnya.
Tiba-tiba dia tidak berada di ruang gelap itu. Dia berada di sebuah tempat lain. Di dapur lebih tepatnya. Dapur yang juga sebagai ruang makan. Semua perabot tersusun rapi, didominasi oleh warna oranye pastel. Sangat apik dan nyaman. Tapi ada satu yang tidak nyaman, wajah si anak kecil.
Anak itu tertunduk sambil memegang pipi kirinya. Ocehan tak bersuara keluar dari mulut seorang pria paruh baya yang duduk di sudut meja makan. Pria itu memakai baju berkerah berwarna oranya, sama seperti semua benda di dapur itu. Terlihat seperti gerakan slow motion ocehan pria paruh baya itu. Diangkatnya tangan kanannya, melebar talapak tangannya.
Pak.
Sebuah tamparan keras kembali menemui pipi kiri bocah itu. Tak lama segera itu buka kedua matanya, untuk memastikan apakah pria tadi akan memberikan yang selanjutnya. Tetapi ternyata ia sudah tidak berada di dapur. Dia berada di sebuah ruangan gelap. Ruangan gelap yang tidak asing. Ternyata dia masih berada di ruang gelap semula, masih terikat dan terjatuh.
Sabtu kemarin gua sama 6 orang temen gua melancong ke sarkem Kota Lumpia, Semarang. Ini semua di luar dugaan gua, yang tadinya gua cuma ngajak 1 orang temen gua sebagai pemandu jalan, malah nambah jadi 6 orang yang ikut.
Oke, cerita dimulai dari hari kamis, 10 Oktober. Beberapa temen gua mention-an di twitter soal hari tanpa bra libur Idul Adha. Singkatnya, mereka ngomongin liburan ke Jogja. Terus ada temen gua yg dari Semarang ikut nimbrung. Ya lalu entah kenapa gua jadi pingin aja ke Semarang.
Besoknya, jumat, gua ngajak temen gua yang asli jogja ke Semarang. Seperti di awal tadi gua bilang, kalo dia sebagai penunjuk jalan. Dan alhasil ada beberapa temen gua yang mau tuki kesana.
Niat awal gua ke Semarang sebetulnya mau ketemu sama pahlawan bertopeng temen-temen SMA, sekalian nginep di kosan temen gua disana. Tapi karena berhubung gua bersama 5 orang yang lain, ya apa daya, nggak mungkin kan gua inepin mereka semua di kosan? ada ceweknya pula.
Akhirnya hari H pun tiba. Sabtu jam 7an gua udah otw ke rumah temen gua buat jemput dia. Setelah itu gua sama dia cus lagi ke rumah temen gua yg lain buat ngumpul. Setelah beberapa lama akhirnya udah lengkap orangnya. Nggak pake lama kami langsung otw.
Tapi memang lo mau pergi ke Semarang dengan hati perut hampa?
Soto pun habis. Dan kami lanjut lagi otw.
***
Perjalanan kami tempuh kurang lebih selama 3 jam setengah. Kami lewat jalur Klaten. Dan tentu saja kabupaten yang kami lalui pertama adalah Klaten. Disana sepi banget sesepi hati ini. Dari Klaten gua masih bisa ngeliat gunungnya alm. Mbah Marijan, G. Merapi.
Entah berapa lama kami lewat Klaten tau-tau udah di Boyolali. Masih sama kayak Klaten, sepi. Tapi dari sini gua dikasih hadiah satu lagi sama Tuhan, gua dikasih liat G. Merbabu.
Dan biar gua nggak bete dijalan, gua ide ngajak yang gua boncengin, Ila, buat karaokean di jalan. Seperti biasa, apa yang kepikiran itu yang dinyanyiin. Berbekal lolos 15 besar Idol tahun 2013 sebelum masehi, tentu aja suara kami ngalor-ngidul.
Nggak lama kemudian kami pun sampai di kabupaten berikutnya, Three Wrongs, Salatiga. Masih sama juga kayak 2 kabupaten sebelumnya, flat.
Sekitar 30 menitan kami pun sampai di planet namek Semarang! (baru di pinggir kabupatennya sih).
"Mbak kalo ke simpang lima itu kemana ya?"
"Simpang lima? Masih jauh itu mah dek, adek masih harus lurusss lurusss lagi."
"Oke fine! Ayo kita kemon!"
Ternyata masih jauh, ndes.......
Dan dan dandandandandan dandan dulu cyin akhirnya sampe juga di patung kuda oom Diponegoro! Langsung aja gua telpon temen gua yang notabene berdomisili disana. Dan kami pun dijemput sama doi.
Rumahnya deket banget sama Undip, mungkin kalo mau ke kampus dia cuma perlu guling-guling dan sampai (sampai di sisi-Nya). Masih kayak rumahnya yang di Lampung dulu, rumahnya ada di perumahan. Setelah ya ngobrol-ngorol absurd, akhirnya gua pingin dianterin ke kos temen gua yang lain. Dan itu sekalian gua pamit balik.
Ternyata kos temen gua yang lain ini juga nggak jauh-jauh banget dari Undip. Gua pun masuk ke kostnya dipandu sang naga oom-entah-siapa-namanya. Dan ya gua langsung masuk-masuk aja ke kamar temen gua itu.
"Woy! Bangun woy!."
"Hahhh hahhh?" Masih setengah sadar dia. "Wehhh kampret lo!"
"Haha, apa kabar lo woy? Jadi hina gini lo, jadi gendut!"
Disana ternyata udah ada temen gua yang dari Jogja juga, dia nginep disana. Ya selayaknya teman yang lama tak bersua, gua ngobrol-ngobrol. Dan temen-temen gua yang lain gua tinggal di luar.... . Karena gua udah nggak enak sama temen gua yang diluar dan gua pun pamit.
Karena gua belum puas ngerepotin temen gua yang punya rumah di Semarang tadi, gua pun minta anterin dia ke Simpang Lima! Dan ternyata lumayan juga ndes kalo dari Tembalang.
"Nih coy Simpang Lima."
Yang gua liat cuma lapangan kosong di tengah persimpangan.
"WTF bro, tempat apa ini? Katanya rame?"
"Ya ramenya kalo malem dia disini."
"Yaudahlah, nggak seru disni, anterin ke Lawang Sewu aja deh."
Dan alhasil gua muter-muter 3 kali di Tugu Muda, udah kaya semacam manasik gitu. Tiket masuknya Rp. 10k dewasa, Rp. 5k pelajar Karena gua turis dari Zimbabwe nggak make seragam, gua terhitung dewasa. Sebernenya sih disana nggak ada apa-apa. Cuma bangunan tua yang horor, dah. Dan seperti remaja labil lainnya, temen-temen gua pun berfoto ria (termasuk gua juga sih sebernernya).
***
Tapi rasanya masih ada yang kurang di Semarang ini. Gua masih blm ketemu kance gua yang satu lagi. Gua sms aja dia. Dia malah nelpon gua.
"Jangan bilang lo lagi Semarang! Gila sih udah nggak ngabarin lagi kalo kesini."
"Hahaha, gpp lah.Eh kos lo dimana?"
"Di Tembalang, tapi ini gua lg ada acara. Sekarang lo lagi dimana?"
"Gua lagi di Lawang Sewu ini, cepet kesini."
Setelah lama menunggu kepastian dari kamu dia, akhirnya temen gua sampe juga. Dan dia pun ngajak gua foto di depan Lawang Sewu.
Karena hasrat hewani gua udan mulai bangkit (re: laper), gua minta dianterin ke tempat yang paling enak Lumpianya. Dan dia pun gak tau...
Berbekal nanya sana-sini, kami pun diarahkan ke "Lumpia Ex*pre*ss Nggak Seberapa Yang Harganya Selangit" (gua berharap dia ganti nama jadi kayak gitu). Dan yang paling bikin bulu kuduk merinding adalah setelah gua mendengar harga satu gelas lemon tea-nya, 10k men!
Disana gua ngobrol-ngrobrol sama temen gua itu, kangen banget rasanya, kampret. Kami saling melepas pakaian cerita soal kehidupan baru kami masing-masing. Dia cerita anak kost dia yang nggak yoi, cerita soal tugas yang se-abreg, dll.
"Gila sih, masih kayak ngerasa mimpi gua ngeliat lo disini. Memang lo kesini ngapain?"
"Ya nggak ngapa-ngapain. Main aja. Kangen gua sama kalian disini, haha."
Setelah lumpia-yang-nggak-seberapa itu habis, dan karena kami nggak kenyang. Kami makan lagi di nasi goreng babat di pinggir jalan. Karena kursinya penuh, ya seperti di Jogja biasanya, kami ngemper di trotoar. Alhasil orang-orang ngeliatin, udah lagi kayak ada sirkus aja. Sebelas-duabelas sama lumpia tadi, harga nasgor ini pun laham aguj. Seperti namanya, "Nasi Goreng memBabat uangku". (oke, ini nggak lucu.)
Nasi goreng pun habis. Jam juga sudah menunjuk pukul 8 malam. Ya mau nggak mau gua udah harus balik lagi ke Jogja. Masih pingin banyak lagi sebenernya yang mau di obrolin, ya tapi mau gimana lagi. Tapi untungnya jalan balik gua searah sama dia.
Kami lewat Tembalang. Akhirnya sampai juga di patung oom Diponegoro.
"Yah der, gua harus belok kiri nih disini."
"Yauda der, pokoknya gua tunggu lo di Jogja! Oke?"
"Oke siap! Yauda, see ya der!"
***
Dor!
Perjuangan gua belum selesai untuk meniduri kamu kasur tercinta.
Karena kami memang belum sholat isya, kami berhenti di pom di daerah Ungaran untuk sholat dan istirahat. Dingin banget men! Beda jauh banget sama siangnya. Siang panas banget, malem dingin banget, ckck.
Untuk jalur pulang kami lewat jalur Magelang. Dan ini salah set banget. Ternyata di Magelang jauh lebih dingin lagi dari Ungaran. Berasa hampir hipotermia (udah kayak tau aja apa artinya hipotermia). Tapi karena gua udah minum obat kuat! Gua yakin gua bisa melewati semua cobaan hidup ini. Dan.... gua tetep kedinginan.
Temen gua sampe pelukan, men! Anjrrr! Iri gua! Karena gua nggak mau kalah, akhirnya gua.... senam, dan... dipinggir jalan, dan... sambil teriak-teriak. Tapi senam memberi gua dua manfaat sekaligus, pertama gua terhindar dari perzinaan (pelukan (sebernya sih gua pingin juga)), dan kedua gua jadi nggak kedinginan dan tambah kedot!
Setelah another f*cking tiga setengah jam akhirnya gua sampe di Jombor. Dan hal gaib lainnya pun terjadi.
"Eh, kok banyak ayam ya?"
"Hah ayam?"
Jadi situasinya itu gini. Itu jam satu malem, di jalan raya, dan lagi ada proyek jalan. Dan darimana bisa ada ayam disitu? Dan disitu memang nggak ada ayam sama sekali. SAMA SEKALI!
"Iya ayam, itu lari-lari di jalan."
"Di jalan?"
"Iya, ayamnya warna-warni."
"Wtf La! Lo mabok ya?"
Sekitar jam setengah dua pagi kami udah sampe lagi di kosan tempat kita ngumpul pagi tadi. Langsung ada gua sama temen gua cus balik. Udah nggak terbendung lagi rasanya hasrat meniduri kamu kasur.
Setelah sampe kosan ternyata masih ada satu masalah lagi. Ya, gua masih laper. setelah berkomproni sebentar dengan perut di burjo, dan gua dengan perut mufakat beli indomie rebus.
Daannn..... finally gua bisa sampe dikamar dan berbaring diatas kamu kasur!
Dan cerita tentang seonggok anak adam tentang "Sabtu Ajaib - Semarang"-nya pun berakhir disini. Sampai berjumpa di "Sabtu Ajaib" berikutnya!
Air-air berjatuhan dari langit. Setiap siang menjelang sore hampir selalu turun hujan di kota ini. Bandung? Bogor? Bukan keduanya.
Sudah satu minggu ini saya dan kedua teman saya ada di kota gudeg. Niatannya mau melamar universitas. Tapi ya anak muda. Selalu ada saja yang namanya senang-senang.
Kami bertiga nge-kos di kosan kakak sepupu saya. Letaknya strategis. Di jalan kaliurang. Dekat dengan mana-mana. Pizza hut? Pom bensin? Hokben? Kalimilk? dan lain-lainnya ada di dekat sini. Sangat strategis.
Senin, 27 mei 2013 pukul 16.00. Pengumuman SNMPTN yang sangat mendebarkan. Agar situsnya tidak overload saya sudah mencoba membukanya lebih awal. Setelah beberapa kali refresh muncul laman login. Saya ketik nomor pendaftaran dan tanggal lahir saya. Enter.
"Maaf anda belum diterima di SNMPTN." (saya tidak terlalu ingat tulisannya).
Kedua teman saya pun ikut mencoba melihat hasil. Untung-untung dapat "tembus" nomor pendaftarannya. Tapi setelah mereka mencoba login. Mereka mendapat hasil yang sama seperti saya. "Belum beruntung".
Untuk melepas rasa kecewa, kami memutuskan untuk sedikit bersenang di kota gudeg. Malam itu kami mampir di nasi goreng di dekat SMA 3. Ramai sekali. Ada konser band metal di gedung sebrang. Banyak yang mengamper di trotoar. Tapi tidak apa, itulah seninya. Menikmati nasi goreng sambil mengamper di trotoar Jogja. Tak lama setelah kami duduk, lagi-lagi dari langit. Gerimis rintik-rintik. Karena lama kelamaan basah juga, akhirnya kami memutuskan untuk duduk di tendanya saja. Tetap ramai tentunya.
Setelah beberapa lama kami makan, ada teman dia yang datang. Ingin menghampiri katanya. Melihat keadaan.Teman sebelah rumah dia di kampung halaman. Teman dari kecil katanya. Sudah seperti abang. Saya tidak terlalu tau tentang temannya itu.
Setelah makan, karena dia tidak punya sendal, dan saya tidak membawa perlengkapan mandi, kami putuskan untuk pergi ke supermarket. Ke Mirota kami diajak kakak saya.
"Disini lengkap jualnya. Dari peralatan sekolah sampai baju-baju pun ada. Kebetulan aku ada yang dicari disana."
Saya hanya membeli beberapa alat mandi. Kakak saya membeli parfum ruangan kamarnya. Teman saya membeli rokok dan susu beruang. Dia sendiri ada diluar. Tidak ikut masuk. Menemani temannya yang baru menghampiri kami tadi.
Selasa siang hari kami tidak ada kerjaan. Hanya duduk-duduk di kamar. sibuk dengan kecanggihan masing-masing. Guyonan dikit-dikit kadangan. Terbahak seringnya.Setelah bete dengan dunia kami masing-masing. Teman saya mengajak kami ke Kalimilk.
"Ke Kalimilk yok."
"Tempat apa itu?"
"Nggak tau gua juga. Tapi keliatannya rame terus. Penasaran."
Karena hanya ada 1 motor. Kami pun bergantian pergi kesanaya. Saya yang pertama di drop disana. Lalu teman saya balik lagi ke kos menjemput dia. Tempatnya enak. Cozy. Nyaman untuk berbincang, entah sejoli atau ramai seperti kami. Seperti namanya, Kalimilk, tentu tempat ini menjual olahan susu. Pemiliknya pintar. Mengkombinasikan susu dengan berbagai macam rasa. Membuat yang tadinya nyusu itu "cupu" jadi asik. Ada menu yang seru di tempat ini. Susu porsi gajah. Gajah? Yap. Berhubung gajah adalah mamalia terbesar di darat. Porsi susunya pun besar. Satu setengah lebih besar dari porsi punya saya.
Satu dua jam kami disana. Sedikit obrolan. Tetap sibuk dengan kecanggihan masing-masing. Menjengkelkan.
Setelah beberapa kompromi, akhirnya kami memutuskan untuk duduk-duduk di sekitaran GOR UGM. Banyak yang berolah raga. Lari. Badminton. Skipping. Dan orang-orang yang hanya duduk melihat keramain, sama seperti kami. Dua jam lebih kami duduk disana. Dari matahari malu tebenam di barat sampai bulan angkuh di atas. Teman dia tak datang-datang. Pukul 7 dia janji. Tapi sekarang? sudah lewat beberapa pasang menit. Datang juga akhirnya. Bertiga bersama temannya. Saya dan teman yang satu lagi pisah diri. Kami mau nemui ibu teman saya. Mau mengambil handphone dan beberapa tumpuk buku belajar.
Tak lama. Setengah jam lebih kami sedikit obrol bersama ibu teman saya. Target handphone dan buku tercapai. Sedikit pamit dan kami menyusul dia lagi. Ternyata dia sedang makan steak dekat UNY. Kami janji bertemu di dalam daerah GOR lagi. Sedikit lama tapi datang juga. Saya bertanya beberapa rasa penasaran tentang kuliah ke temannya. Jawabannya cukup meyakinkan. Banyak saya setuju. Tidak sedikit juga tapi berontak.
Esoknya saya janjikan dia ke Prambanan. Kami menyewa dua motor. Tak enak pinjam motor kakak terus. Saya juga tidak tau navigasi kesana. Tapi apa guna punya mulut dan teknologi? Alhamdulillah ternyata jalannya mudah. Tiga puluh menit sekitar dari kos ke kesana.
"Wuuhhhhhhhh candi!"
Senang sekali dia. Senang melihatnya begitu. Antri loket. Untungnya sepi, jadi langsung bisa beli. Masuk. Tak lama berjalan ada tempat peminjaman sarung.
"Wuhh apa itu? Sarung ya? Make yukkk!"
Saya dan teman saya mengiyakan saja maunya. Jalan sedikit kami sudah berada tepat di depan candi.
"Mau foto gak?", saya menawarkan.
"Mauuu!"
"Yasudah sana bergaya,"
Krek. Krek. Krek. Beberapa kali suara shutter terdengar. Dia bergaya asik sekali. Cantik.
"Ayo dong foto bertiga...", dia mengajak kami.
Kebetulan ada turis lokal disitu. Teman saya membantu memotretkan mereka. Sejoli. Dan kami minta di potret juga sama turis lokal itu. Bergaya. Bingung.
"Yak. Satu. Dua. Tiga... Oke mas."
Dua kali dia memotret kami. Gayanya kaku. Kami pun berjalan lagi. Masuk ke komplek candi. Dia melihat-lihat. Sedikit saya beri info-info ala kadarnya. Dia mau masuk ke candi wisnu. Pakai Helm. Wajib. Sunah mungkin sebetulnya. Ke tangga di sebelah timur. Saya tawari lagi dia untuk foto. Wanita. Senang bergaya. Saya suruh dia berada di tengah-tengah tangga.
"Liat sini dong. Satu. Dua. Tiga."
Beberapa kali saya tekan shutter. Satu gaya yang paling saya suka, dijadikan dia gambar tampilan di messenger. Cantik. Manis. Teman saya yang satu lagi tidak mau kalah. Saya bantu fotokan.
Saat saya sedang memotret teman saya, dia hilang. Entah kemana. Saya dan teman putuskan naik. Saya sedikit berteriak memanggil dia. Tidak ada sahutan. Sedikit berputar kami bertemu.
"Tadi ada mbak-mbak. Dia nanyain gua kok sendirian. Baik ya orang-orang disini." cerita dia ke kami.
Kami keluar komplek candi. Sudah puas. Beberapa lama berjalan kami melihat sepeda. Seperti biasa. Dia selalu ingin mencoba. Dia naik sepeda yang sendiri. Saya dan teman saya naik sepeda yang berdua. Dua pria di sepeda yang sama.
"Lhaa kok itu malah mbaknya yang naik sepeda sendiri. Berdua lho sana sama masnya." kental sekali logat jawa pakde itu.
"Gak mau lah pakde. Mau sendiri." Tetap berkeras. Bukan dia kalau tidak keras kepala.
Kami gowes. Ke belakang taman istirahat. Bertemu candi yang tak kunjung rampung di perbaiki. Foto. Sumingrah wajah dia di foto. Gowes lagi. Ada patung yang dulu saya selalu nangis jika bertemu. Kami bertukar sepeda. Saya sendiri. Dia bersama teman saya. Dia yang pegang kendali sepeda. Jago juga. Tak lama kami sampai kembali di penyewaan.
"Nah gitu dong mbaknya. Boncengan sama masnya."
Masih sumingrah wajahnya saya lihat dari jarak.
Selesai dari sana saya bawa mereka ke Malioboro. Tetap bermodal insting dan teknologi. Sampai. Ramai sekali. Tapi kami tidak berhenti di Malioboro. Alun-alun utara awalnya. Suram. Sepi. Saya bawa mereka ke alun-alun selatan. Ramai. Meriah. Banyak sepeda berhias lampu warna-warni. Parkir. Ada beringin kembar.
Kami berjalan. Bertemu jualan. Mereka berdua beli. Saya tidak. Bakso bentuknya. Tapi pedas. Lalu ada penjual baling-baling berlampu.
"Eh itu apa ya? Jualan apa ya?" Dia penasaran.
"Ya samperin sih." saya mendekat ke penjual itu.
Ternyata menjual baling-baling terbang berlampu.
"Mau beli?" tanya saya ke dia.
"Mau!"
Dia pilih yang berwarna biru lampunya. Dia tidak bisa menerbangkannya. Saya coba. Bisa
"Wuuuuu....!" sahut dia.
Dia mau mencoba. Tetap gagal. Tapi bisa setelah beberapa kali coba.
"Gua terbangin terus kalian kejar ya!" Kata dia ke saya dan teman saya.
Kami berlarian kecil mengejarnya.
"Ini ya beringin kembar?" kata dia
"Iya, kenapa? mau nyoba?"
"Wuuu iyaa!"
Seperti biasa. Kekanakan. Lucu tapi.
"Memang kalo bisa lewat sana kenapa ya?"
"Katanya sih apa yang mau terwujud." Timpah saya sok tau.
Di teori dia kalo lewat sana bersama pacar katanya akan langgeng atau apa gitu. Saya iya kan saja.
Setelah agak bosan dia mengajak kami naik sepeda hias.Awalnya kami pilih yang berhias bentuk T-Rex. Dapatnya bentuk ikan. Tak apa. Dia duduk di depan. Saya dan teman yang menggoes. Saya yang pegang stir. Kami berputar 3 putaran. Seru. Menyenangkan. Dia tidak mau gowes. Sudah ditawari. Sudah 3 putaran. Berhenti.
Kami duduk-duduk di pot di trotoar. Ada penjual es krim yang lucu, Nyentrik. Dia memakai mic dan pengeras suara. Dan interaktif dengan pelangganya. Dia mau. Saya temani beli.
"Hay lady." kata penjual.
"Mau beli berapa? Dua? Oke ini dia pesanannya.
Banyak lagi hal yang dia katakan. Tak ingat.
Rasa eskrimnya tak terlalu enak. Saya tidak suka. Dia habis. Dia berjalan ke arah balon-balon. Dia kejar dan pecahkan. Seperti anak kecil. Lucu. Saya ikut. Tak lama lalu kami pulang.
Besoknya. Rabu. Kami ke Malioboro lagi. Kali ini belanja. Oleh-oleh. Sorenya kami bertemu lagi dengan ibu teman saya. Kami diajak ke Raminten. Pertama kali buat kami. Menyenangkan. Enak tempatnya. Tapi baunya. Dupa. Kurang suka. Dia malah tidak mencium apa-apa katanya.
Tidak beda jauh. Besoknya kami juga ke Malionoro lagi. Memuaskan keinginan dia naik delman. Seperti biasa. Antusias. Dalam perjalanan kami beli beberapa makanan. Bakpia dan kerupuk-kerupukan. Setelahnya kami ke selatan lagi. Bersepeda lagi. Tapi ini yang seperti sepeda biasa. Agak sulit kendalinya, Akhirnya teman saya yang pegang kemudi. Saya paling belakang. Setelah 3 putaran kami bertukar. Saya yang pegang kemudi. Tetap kagok. Selesai. Kami sedikit berfoto di sepeda. Lalu berfoto juga di sepeda berhias T-Rex.
Setelahnya kami ke belakang stasiun. Beli kopi Joss. Penasaran. Beli beberapa nasi kucing. Bertemu dengan ibu teman saya lagi. Menemani tante beli kepiting goreng. Lalu pulang.
Jumat dia pergi bersama temannya itu. Mau mengurusi tempat les katanya. Saya dan teman saya berkunjung ke kos kakak kelas kami. Temannya teman saya. Satu tingkat diatas. Kami di ajak ke cafe. Legend namanya. Satu lagi tempat yang cozy. Kami memsan makan dan minum. Main kartu. Dua jam lebih disana lalu pulang. Masih belum bertemu dia dari tadi siang. Kebetulan. Bertemu dia di depan pintu kos.
Kami naik ke atas. Ke kamar. Dia bercerita seru sekali. Katanya dia diajak ke blue outlet. Dia membeli dua baju dan sepasang sepatu. Sambil menunjukkannya ke saya dan sambil bercerita tentang hari itu. Sebel katanya. Tidak bisa pindah tempat les. Senang katanya dia bisa ke blue outlet. Senang melihat dia senang.
Hari ini. Sabtu. Saya dan teman saya tes UPN. Telat datangnya. Cukup percaya diri mengerjakan. Tapi masih belum rejekinya. Kami belum lulus tes. Sorenya dia ingin lihat kakak saya panen jamur. Di dekat UII. Dingin tempatnya. Antusias seperti biasa. Dia bantu kakak saya panen jamurnya. Dicabuti dari mediumnya. Dia juga ingin coba potong-potong jamurnya. Dia juga ternyata tidak takut dengan ulat. Jarang wanita seperti ini.
Malamnya saya ajak mereka ke XXI. Mereka mau. Menonton Fast 6. Saya sudah tonton. Tapi tidak puas. Hari ini dia memakai baju yang kemarin dia beli. Cantik. Manis. Sangat.
Tidak jauh ke theaternya. Lima belas menitan. Kami beli tiket pukul 20.30. Lalu kami makan dulu di sebrang. Ayam goreng. Sambal saya dan teman saya dia santap semua. Setelah selesai kami langsung ke depan theater. Duduk di pinggir.
"Kita theater berapa ya?" tanya dia.
"Theater 8." Kata saya. Dia percaya.
"Loh kok kita disini? Gua kira kita theater 4." Kami berada di daerah theater 1, 2, 3, 4. Benar tempatnya.
"Lo beneran percaya kita thearer 8?"
Lalu dia mengeluarkan mimik khasnya. Cemberut. Lucu. Tak lama kami pun masuk. Mirip blitz set tempat duduknya. Kami dapat bangku nomor 6, 7, 8 di row K. Dia duduk di tengah. Antara saya dan teman saya. Dia serius sekali menyimak.
"Serius banget bu." Tegur saya.
"Ngantuk tau gua ini." Kata dia. Pembelaan mungkin?
Beberapa kali saya tegur dia seperti itu. Seratus tiga puluh menit. Filmnya habis.
"Hannya mati ya?" tanya dia di dalam theater tadi.
"Iya."
"Yahhh hannya mati.."
Beberapa kali dia mengatakan begitu sampai di parkiran.
Kurang beruntung. Kami kehujanan. Berteduh sebentar di halte bus. Reda. Kami berlanjut pulang.
03.13 sekarang. Sedang terlelap dia depan saya. Ada teman saya yang satunya juga. Tertidur juga. Saya masih terjaga. Otak-atik laptop.
Tenang sekali dia tertidur. Mengelindur terkadang. Sedikit. Lucu keliahatannya. Barusan dia terbangun, Tidur lagi tapi. Letih sekali mungkin.
Selamat malam. Selamat malam Jogja. Selamat malam yang sedang tertidur didepan saya.
Hari ini, tanggal 24 mei 2013 salah satu hari yang paling di tunggu anak SMA se-Indonesia. Hari ini kita akan resmi menjadi "Alumni" SMA kita tercinta.
Hahaha, lucu rasanya, singkat sekali 3 tahun itu ternyata.
"Kayaknya baru kemarin ikut MOS, eh tau-tau udah pengumuman kelulusan aja."
Kata-kata ini mungkin sangat familiar, entah kita yang mengatakan, atau kita dengar dari teman. Untuk adik-adik, kalian juga pasti akan sangat familiar dengan ini.
Rata-rata kelulusan di Indonesia menigkat dari tahun lalu, ya mungkin karena tahun ini siswanya "pintar-pintar" hahaha, Di sini sendiri, Lampung, kelulusannya mencapai 99,94%, meningkat dari tahun lalu. Alhadulillah, siswanya "belajar" mungkin dari tahun lalu.
Oh iya, Alhadulillah, Terima kasih Allah swt. karena telah lulus dengan baik. semoga nanti kedepannya kami dapat lebih baik lagi, dapat masuk ke PTN kami masing-masing, yang terbaik tentunya. Dan untuk teman-teman yang tidak seberuntung kami, jangan putus asa teman, "banyak jalan menuju roma" ya kan?
Jangankan dengan sebelah sayap, dengan sepasang sayap kuat pun jika salah satu sayapnya cacat atau terluka, merpati tidak akan bisa menikmati birunya hari.
Ada seorang anak kecil yang sedang mencari bunga yang paling cantik di sebuah kebun. Saat akan masuk ke kebun ia bertemu dengan sang pemilik kebun.
"Halo gadis manis, ingin mencari bunga seperti apa?" ujarnya sambil tersenyum.
"Emm, belum tau. Yang pasti akanku ambil yang terindah."
"Hei gadis kecil, kenapa menangis? Sudah menemukan apa yang kau cari?" lerai si pemilik kebun.
"Tidak, belum, semua bunga indah yang aku inginkan sudah diambil orang lain. Bahkan bunga terindah yang pertamaku lihat."
"Ohh begitu, memang, bunga yang pertama kau lihat adalah yang terindah disini, semua orang menginginkannya, itu adalah bunga terlangka di kebun ini. Jadi untuk lain kali, saranku adalah jangan pernah sia-siakan apa yang kamu anggap istimewa, jangan ingin merasa mendapat yang lebih, atau si istimewa itu akan direbut oleh orang lain dan kamu akan sangat menyesalinya." kata pemilik kebun.
"Tapi bagaimana aku bisa tau yang mana si istimewa itu?" tanya gadis kecil.