Sebagai anak sulung, rasa memiliki tanggung jawab membantu keluarga cukup besar. Sejak lulus kuliah dan bekerja, aku selalu berpikir untuk keluarga. Aku merasa semua ada di pundakku. Aku mulai memikirkan renovasi rumah agar nyaman untuk ditinggali bapak mamak dihari tua kelak. Lalu aku berpikir bagaimana memiliki pasif incoma untuk orang tuaku, impianku adalah mereka nanti ketika tua tua, memiliki pendapatan tanpa harus belerja tanpa harus aku beri jatah tiap bulannya.
Aku biasa memprioritaskan gajiku untuk dikirim ke keluarga. Untuk ku ya asal bisa hidup sampai akhir bulan saja. Bahkan akupun memikirkan bagaimana saudara yang jauh dari kata mapan bisa terangkat derajatnya. Sungguh sejauh itu aku memikirkan mereka. Hingga suatu hari aku melihat diriku sendiri, ada hal yang luput dari pikiranku.
Aku terlalu sibuk memikirkan orang lain, tapi lihat aku seperti lilin yg berusaha menerangi dengan membakar diri. Aku akhirnya memutuskan berhenti. Berhenti memikirkan orang lain, dan coba menyayangi diriku sendiri. Tak akan lagi beban yang bukan milikku ku letakkan di pundakku.
Aku memiliki saudara sepupu, ekonominya sangat kurang. Dia lebih muda dariku, tapi pendidikannya hanya sampai SD. Jika ditanya dia tak mau lanjut sekolah karena kasihan dengan orang tuanya. Ia ingin banti orang tuanya saja bekerja. Well, oke kalau itu keputusannya. Toh adiknya masih bersekolah.
Waktu berlalu, sepupuku remaja. Baru beberapa bulan bekerja, dia menikah. Syoklah aku, mana katanya yg mau bantu ekonomi orang tua?!. Aku saja bertahun-tahun hanya memikirkan ekonomi keluarga rela menunda pernikahan sebelum ekonomi keluargaku membaik. Aku marah bukan karena dia menikah lebih dulu dari aku, aku marah karena omonganya tentang membantu keluarga omong kosong!
Yang lebih membuatku marah, semua biaya pernikahan dia yg menanggung. Laki2 macam apa yg dinikahinua itu? Dan lebih parahnya, untuk pernikahan sederhana itu tanteku meminjam uang ke keluarga ku. Ke adikku tepatnya. Jangan tanya oom ku, dia gak berguna sama sekali sebagai lelaki. Kadang aku kasihan dengan tanteku, tapi untuk apa kasihan pada orang yg memang tidak ada keinginan mengubah hidup menjadi lebih baik?
Oom ku gak ada rasa tanggung jawab menafkahi keluarga. Tanteku yg selalu pontang panting! Laki2 yg pantasnya di gincuin itu! Belum lagi anak-anak tanteku yg tidak tahu diri, sekolah tdk mau, kerja bentaran udah gatel minta nikah, biaya nikah aja gk ada.
Baru beberapa hari menikah, suami sepupuku kabur, dan sepupuku hamil. Woy pengen ku keluarkan semua sumpah serapah se kebun binatang. Jadi nikah buat nanem benih doang, laki kon kaya Babi!
Saat sepupuku hampir melahirkan, lagi-lagi tanteku datang ke rumah mau pinjam uang. Gimana ya, aku ini kesel, marah, tapi juga kasihan. Ya gimana, mereka sekeluarga hidup tapi gak pernah punya keinginan maju. Jadi mau membantu pun udah males. Hutang yg buat nikah aja blm dibayar. Dan kayak mereka gak ada niatan gitu buat bayar, di cicil kek atau apa kek.
Coba bayangin lagi, kalau nanti ternyata sesar, belum lagi biaya merawat anak, nanti anak makin besar makin bertambah tanggungan, apa setiap saat harus minjem duit?
Aku tuh pernah hidup susah, dan dulu aku niat bantuin keluarga, saudara pengen kita semua maju karena aku tahu sakitnya dihina, diremehkan sama orang. Tapi kebayangkan kalau yg mau dibantu maju gak ada niatan, bahkan niat berdiri aja gak ada. Kan beban buat yg mau bantuin maju.
Mungkin aku harus jd orang yg super tega, karena gak mungkin aku hanya kerja buat mereka yg sama sekali gak bisa diajak kompromi. Aku punya masa depan yg harusnya juga ku perjuangkan!













