Ketika saya memutuskan untuk mempunyai seorang partner, pikiran saya adalah: “Jika di dunia ini sudah tidak menyenangkan, pendamping seperti apakah yang sanggup menemani saya saat hari itu tiba?”
Ketika dunia tidak lagi menyenangkan, ketika mereka sibuk dengan diri mereka masing-masing, saya ingin sudah mempunyai seorang pendamping yang menemani saat nanti waktu itu tiba, yang nantinya akan hidup bersama dan merawat anak2 kita tumbuh besar lalu kita semakin menua,
Jika kebahagiaan itu kamu, maka saya rasa tak perlu ada keegoisan diantara kita, kadang sikap kita terlalu tak acuh, tapi saya tau kamu lebih dewasa dari saya, kamu sudah hidup lebih lama dari saya, kamu tau bagaimana cara memperlakukan saya .. Karena kamu adalah berkah yang Allah berikan untuk saya syukuri .. Lebih dari itu Allah telah berikan apa yg saya harapkan..
Sedangkan saya wanita yang masih harus memperbaiki diri, yang masih egois dan masih sulit untuk mengendalikan emosi.. Jika mulai detik ini saya berusaha merubah semuanya, itu karna diri saya sendiri,karena saya sadar sifat itu telah merugikan orang lain, dan menyakiti orang-orang terdekat saya..
Berdiri diatas kaki sendiri emang ga mudah , berjalan dari nol sampe sekarang ini gak lebih dari support orang tua, lalu kepada siapa hati ini akan bersandar nantinya ? Saya tipe orang yg sebisa mungkin berharap dengan hubungan yg serius, Iyalah mana ada sih wanita yang mau dimainin ? :D Saya tipe wanita yg kalau udah mencintai, akan selalu berusaha untuk tidak mengecewakan pasangannya , hingga akhirnya rentan banget buat terluka..
Sampe akhirnya Allah mempertemukan kita, ya aku dan kamu .. Ga ada sama sekali terbayang sebelumnya, semua berjalan begitu aja .. Saya gak mencarinya, namun saya justru menemukannya..
Beberapa waktu lalu tepatnya 24 Juli 2016, untuk pertama kalinya dia kerumah saya ga sendiri namun mengajak keluarganya untuk bersilahturahmi, mengenalkan diri saya dan keluarga saya .. Suatu proses dimana hubungan kita memang terjalin atas sebuah komitmen yang serius.. Yap beneer kita tunangan dihari itu, sebuah cincin melingkar dijari manis sebelah kiri..
Jujur aja tunangan menjadi sesuatu hal yang baru dikeluarga saya, karna sebelumnya ga pernah ada prosesi tunangan2 segala, yang ada lamaran terus langsung nikah.. Tapi kali ini memang beda pihak keluarga pria mau kalau sebaiknya ada prosesi ini, dan kamipun mengiyakan karena dilihat hubungan ini memang sudah cukup serius dan juga masih ada yang harus diselesaikan untuk masuk ketahap selanjutnya.
Beberapa orang banyak menganggap antara tunangan dan lamaran adalah sama, namun nyatanya memang keduanya jauh berbeda.. Dikutip dari sebuah blog menjelaskan makna keduanya..
Pertunangan merupakan sebuah ikatan yang serius sebelum menapaki jenjang yang lebih serius lagi menuju pernikahan. Seperti yang sudah disebutkan, pertunangan diikat oleh cincin yang disematkan pada jari manis tangan kiri.
Dengan ditemani kedua orang tua dan beberapa kolega, seorang pria akan datang ke rumah sang gadis pujaan untuk meminta izin kepada orang tua sang gadis agar dinikahkan. Tentu saja orang tua pihak wanita harus menanyakan kepada puterinya apakah bersedia atau tidak. Apabila setuju, penentuan hari baik untuk melangsungkan pernikahan mulai dibicarakan. Waktu pernikahan pun diusahakan tidak boleh jauh2 dari tanggal lamaran.
Banyak yang pro dan kontra antara tunangan dan lamaran, tergantung kita yang menyikapinya sih menurut saya.. Yang jelas keduanya kearah yang lebih baik untuk menuju pernikahan..
Jika kelak namamu yg tertulis di lauhul mahfudz untuk diriku, niscaya rasa cinta itu akan Allah tanamkan dalam diri kita, tugasku bukan mencari dirimu, jodoh itu rahasia Allah, sekuat apapun kita setia , selama apapun kita menunggu , sekeras apa kita bersabar dan sejujur apa kita menerima pasangan kita, yg jelas saya selalu berusaha untuk melakukan yg terbaik :)
Semoga Allah Menguatkan ^^