Back to November 27, 2014. My mom’s pray does right. And I write this post while sitting in front of my laptop at 5th floor Bina Insani University.
09/03/2021 - Almost 2 months working at my new home, friends, and job desc finally.
trying on a metaphor
Jules of Nature
Stranger Things
Peter Solarz
ojovivo
Aqua Utopia|海の底で記憶を紡ぐ
Show & Tell
No title available
"I'm Dorothy Gale from Kansas"
dirt enthusiast

@theartofmadeline
cherry valley forever

Kaledo Art

tannertan36
No title available
macklin celebrini has autism
AnasAbdin

Janaina Medeiros
todays bird
No title available

seen from United Kingdom
seen from United States

seen from Singapore

seen from Singapore
seen from Türkiye
seen from Paraguay
seen from Paraguay
seen from Brazil

seen from United Kingdom
seen from Paraguay

seen from United Kingdom

seen from United Kingdom

seen from Greece
seen from United States
seen from United States
seen from United States
seen from United States

seen from United States
seen from United States

seen from Netherlands
@dwiip
Back to November 27, 2014. My mom’s pray does right. And I write this post while sitting in front of my laptop at 5th floor Bina Insani University.
09/03/2021 - Almost 2 months working at my new home, friends, and job desc finally.
Iseng
Ga tau kenapa, seperti diarahkan untuk membuka kembali diary digital ini. Dimana jejak kegalauan -ga jelas- diusia yang sudah offside remaja kala itu tersimpan jelas.
Sempat terpikir ingin ku permanent deleted akun ini setelah heboh tumblr ga bisa dibuka lagi nantinya. Sekaligus menghapus semua kenangan yang enggan ku ingat.
Ntah sibuk atau kenapa, ku tinggalkan saja... Terbukti postingan terakhir 2018 silam. Hehe.
Namun, seperti jodoh. Ku kembali lagi disini. Setelah iseng mencari pelarian demi melepas penat sesaat, ditambah perut kelaparan. Kangen juga. Ternyata aku terlambat peduli jika disini sudah bisa kembali disinggahi.
Satu waktu… “Lestri, temenku yang baru nikah satu bulan lalu udah hamil. Kita kok belum juga ya?” “Sabar. Bosnya Mas udah nikah hampir 10 tahun belum punya-punya anak. Temen ibu malah ada yang udah kepala empat belum nikah. Boro-boro punya anak. Temennya temen Mas udah lama nunggu, baru berapa bulan hamil, eh keguguran.”
Waktu lainnya… “Tahu Jamal? Itu loh, temenku yang pernah aku kenalin. Keterima PNS dia! Udah punya mobil juga. Sekarang otw punya rumah sendiri di perumahan gitu. Ambil KPR katanya.” “Ya syukur, berarti rezekinya lancar. Kenal Mba Ikah kan? Suaminya baru aja dipecat, kena dampak pandemi. Mana anaknya satu udah SD, satunya mau masuk TK, yang terakhir baru berapa bulan ya, masih bayi lah pokoknya. Temen sejurusan Mas malah dari lulus belum dapet-dapet kerja, dari tiga tahun lalu. Sekarang ya balik ke orangtua di kampung, ga tahu ngapain.”
Baru kemarin… “Kadang suka insecure deh lihat pencapaian orang lain. Dibandingin sama diri sendiri kok ya kayaknya gini-gini aja ga ada perkembangan.” “Manusiawi itu. Itulah kenapa kita selalu lihat pelangi di atas kepala orang lain. Padahal pelangi di atas kepalamu, juga sama indahnya kalau Mas perhatikan.” Aku membatin, Ibu, Bapak, kayaknya aku terjebak seumur hidup bersama orang yang tepat deh!
#aksarannyta @30haribercerita #30haribercerita #30hbc2104 (at Special Region of Yogyakarta) https://www.instagram.com/p/CJnor5HgQGN/?igshid=1cln3akkzdq2g
Aku kembali.
09.03.2021 | 11.05 AM mendekati makan siang.
menempatkan kepercayaanmu.
©kurniawangunadi
Seseorang begitu tenang dalam menunggu, sebab dalam hatinya ada rasa percaya. Mengapa ada keresahan, kekhawatiran, kegelisahan? Karena tiadanya percaya. Tidak ada satu hal yang pasti memang, tapi rasa percaya mampu meredakan ketidakpastian.
Kau menunggunya, itu ketidakpastian. Kau mau percaya? Tidak ada satupun darinya yang bisa membuatmu percaya bahwa kau harus menunggu sekian lama. Jadi, meletakkan kepercayaan itu harus pada tempatnya.
Allah masih menjadi yang pertama, kan?
<i>Waktu ku terlalu singkat untuk menunggu hal yang aku pun tak tau kapan kau akan berangkat.</i>
Saya mendapatkan pertanyaan menarik. Ada beberapa teman terbaik yang menjadi penyimak perjalanan saya dari sebelum menikah hingga menjadi ayah. Mereka pasti tahu bagaimana perjalanan itu begitu berliku, tidak selurus cerita-cerita di buku-buku yang saya tulis sendiri.
LifeCrisis seperti apa yang menjadi titik balik?
Saya akan berbagi beberapa hal yang bisa dibagi.
1. Terkait Menikah
Tahun 2014 akhir hingga 2016 pertengahan adalah fase dimana saya mengusahakan diri untuk menikah. Semua berjalan dibawah bayang-bayang, alias diam-diam. Saya pernah berdoa sambil memaksa, bahwa harus orang ini, atau dengan orang ini. Saya kekeuh karena saya percaya bahwa segala sesuatu pasti bisa diwujudkan, asal jangan menyerah. Ini adalah salah satu sifat keperfeksionisan saya dalam hal lain.
Ternyata rumusnya tidak begitu dalam hal takdir pasangan hidup. Allah menjatuhkan saya berkali-kali. Dan saya mengulangi lagi dengan cara yang sama, dijatuhkan lagi. Sampai titik akhirnya, saya pasrah. Tidak sampai sebulan saya berpasrah, Allah datangkan seseorang yang kini menjadi istri saya.
2. Fase Stagnan
Pernah tidak, merasa bahwa dalam rentang waktu cukup lama, kita merasa seperti tidak kemana-mana, diam ditempat. Tidak bertumbuh baik secara ilmu, secara fisik, secara apapun.
Saya mengalami itu. Aktivitas usaha saya, alhamdulillah memberikan kecukupan yang menurut saya amat sangat cukup untuk ukuran baru lulus belum lama. Saya pernah sampai dititik, tidak tahu mau apa lagi di dunia ini. Ini mengerikan, seperti depresi. Saat kita benar-benar tidak punya keinginan, analoginya seperti kamu tidak ingin beli apapun karena seolah-olah semuanya telah terbeli, sementara kamu memiliki uang untuk membelinya. Sampai kamu sumbangkan-sumbangkanpun, uangmu justru bertambah.
Saya pernah dititik, tidak ada hal lain yang saya inginkan di dunia ini. Saya seringkali mengendarai mobil tanpa tujuan, berkeliling kemana saja sampai lelah. Menyendiri, sangat introvert padahal saya ENTJ. Itu adalah seperti fase kehilangan tujuan hidup. Saya tahu ada yang keliru dalam hidup saya.
Dan saya terus menerus mencarinya sampai saya menemukannya. Dan yang keliru adalah berkaitan sama poin pertama. Saya pernah membuat dreamlist/dreamboard di tahun 2012 dan semuanya tercapai di tahun 2015, dan semua hal yang saya tulis tersebut bersifat materi :) Disitulah saya mengerti, hidup ini bukan untuk mengejar materi karena itu berisi kehampaan. 3. Restu
Hal yang paling bisa membuatmu tenang dalam menjalani hidup adalah ridha orang tua.
Saya sering berbagi kisah ini ketika mengisi acara bedah buku ketika berbicara tentang perjalanan kepenulisan. Saya tidak linier dengan jurusan-jurusan yang saya ambil, SMA di IPA, kuliah di SeniRupa, dan berkarya di Kepenulisan Fiksi. Dan orang tua, pada waktu itu masih punya harapan sejak lama sekali; anaknya berkarya di instansi, jadi PNS :)
Jalan yang saya tempuh sekarang ini adalah jalan paling menenangkan karena semuanya sudah mendapatkan ridho. Rasanya masih mengganjal, saat kita ingin bekerja, berkarir, berkarya dalam suatu bidang, tapi orang paling dekat dengan kita justru berharap yang lain. Saya khawatir, ibu berdoa berbeda dengan isi doa saya XD
Akhir 2014 saya melakukan diskusi, memediasi impian-impian saya dengan presentasi ke kedua orang tua. Saya membeberkan recana hidup dari waktu itu (2014) hingga beberapa tahun mendatang. Semuanya saya katakan, detail terkait waktunya, mau jadi apa, bisnis apa, berapa potensi ekonominya, mau menikah, kapan menikahnya, dan kesiapan saya sejauh mana (termasuk kesiapan ekonomi karena waktu itu saya ingin memodali nikahan sendiri), tinggal dimana, dsb. Sampai orang tua tidak lagi ada pertanyaan apapun tentang anaknya ini. Hingga lahirnya kalimat ajaib yang intinya; Kami sebagai orang tua ridha sama rencanamu, Nak.
Selepas restu itu turun, semuanya berjalan dengan di luar dugaan, sekaligus saya tenang menjalaninya.
Ada tiga hal yang mungkin bisa saya sampaikan karena yang lainnya rahasia. Life Crisis akan menjadi pengalaman eksklusif masing-masing orang. Tidak sama satu dengan yang lain kasusnya. Dan saya percaya, kita pasti bisa melewatinya. InsyaAllah.
Jangan berhenti melangkah :)
Salam hangat,
Kurniawan Gunadi
Bagaimana caranya aku bisa alpa, melihat wajahmu saja membuatku kembali mengingat harapan yang sempat terlupa.
Sekali lagi, Aku menyandingkan senja dengan kesedihan.
Menyalahkan malam, mengapa rembulan tak menampakkan cahayanya.
Kelam.
Hentikan! Berhentilah mengumpat diantara senja dan malam.
Setidaknya Aku punya secercah cahaya fajar, yang akan bersinar terang. Keesokan hari nya.
Inilah yang terjadi ketika kau patah hati. Kau berjanji tak akan semudah itu membiarkan seseorang masuk dalam hidup dan hatimu. Namun ketika kau bertemu seseorang yang di matanya kau menemukan kedamaian, kau meragu. Sementara itu, hati dan logikamu berperang. Dan kau tak tahu siapa yang harus menjadi pemenang.
Tia Setiawati
Ingin lekas diberi ucapan selamat hari ibu juga. Diberi kecupan dikening, dikirimi seikat bunga dengan catatan kecil yang disematkan dan dengan senangnya disenderkan dipojok meja kerja.
Boleh jadi sebuah pengharapan yang berlebihan. Disaat diri ini pun entah mengetahui siapa jodohnya kelak. Dan hei, padahal sendirinya juga tahu, sebenarnya hari ibu itu tidak hanya tanggal 22 Desember saja. Tapi setiap harinya, Aku pun selalu mengirimkan doa, tidak hanya ibu, tapi kedua orang tua ku.
Apa yang sebenarnya dicari? Apalagi yang dirasa saat ini? Sepertinya ini bukan sekadar pengharapan hari ibu saja.
Semoga diri ini lekas membaik, dan makin baik.
Ia yang tertawa paling keras di siang hari, bisa jadi adalah ia yang menangis paling sesak di malam hari.
Tia Setiawati
Dia lewat begitu saja membawa es vodka. Sayangnya vodka, jadi ga bisa diminum. Coba kalo air es.
@deamahfudz pasti ngerti maksud saya :))
😂
kok sakno yo rum. Dari lama pengennya air es, yang dateng vodka mulu. Jadinya cuman cengo lihat orang lewat.
Mungkin tempat berdirimu salah. Harusnya depan indomaret aja. Jangan jauh-jauh 🙈
(via deamahfudz)
Yaampun Deee, iki lucu banget. :)) Baiklah aku harus berdiri di depan Indomaret ya, jangan di depan Ranch Market mulu. :))
Laki-laki Baik
Baru saja semalam, saya berdiskusi dengan bang @miftahulfikri. Saya tidak tahu mengapa saya tergerak untuk meminta pendapat darinya. Tapi, justru, saya bersyukur, karena berkat dia, saya jadi tersadarkan.
Jadi, ada sebuah pertanyaan yang mengganggu pikiran saya. Inti dari pertanyaan saya adalah: “Apakah default-nya cowok itu memang baik? Kenapa dia harus memperlakukan cewek dengan sangat istimewa, padahal dia tidak menginginkan hubungan yang lebih?”
Kemudian, bang @miftahulfikri menjawab: “Laki-laki yang berlaku baik semestinya tidak boleh dicampuri dengan prasangka lain. Kalo dia baik, ya dia baik saja. Jangan salahkan dia karena dia baik.”
Saya mau protes, tapi seberapa banyak keinginan saya, saya tahu jawabannya benar. Karena terkadang, laki-laki itu ingin dimengerti juga. Dia tentu berhak bersikap baik kepada semua perempuan–apa salahnya bersikap baik? Hanya saja, perempuan yang dianugerahi perasaan lebih, biasanya akan menganggap laki-laki itu jahat. Termasuk saya juga, pernah.
Dan satu kalimat yang sangat membekas di ingatan saya dari bang @miftahulfikri adalah: “Cewek itu tidak masalah kalau cowoknya baik. Tapi cewek bakal mempermasalahkan kalau cowoknya berbuat baik yang kadarnya sama persis ke dia dan ke cewek-cewek lain.” Yap, itu tepat sekali.
Itulah hal yang tidak pernah bisa diungkapkan perempuan ke laki-laki. Karena, perempuan itu akan dianggap sangat berlebihan. Padahal, menahan cemburu butuh tenaga yang banyak. Ya, perempuan memang kadang egois, sering merasa terintimidasi dengan perempuan lain yang rasa-rasanya lebih dari dirinya. Semua karena perempuan pernah setakut itu kehilangan laki-laki yang dia sayang. Seharusnya ya, semuanya berjalan dengan baik. Namun, hubungan manusia memang rumit. Beda dunia ya beda perspektif, beda pandangan, beda pikiran.
Perempuan semestinya belajar mengendalikan ekspektasi yang mungkin tumbuh, agar kelak kalau pun dia mesti kecewa, dia hanya jatuh pada hal-hal yang sepantasnya. Laki-laki, sebaik apapun dia, semoga tidak dengan sengaja menciptakan momen dimana harapan perempuan bisa tumbuh. Ah, saya rasa, yang diperlukan hanyalah dua orang yang sama-sama mau memahami satu sama lain.
Kelihatannya, kedengarannya, dan kebacanya agak susah sih, tapi bukan berarti tidak bisa, kan?
Seharusnya aku membencimu setelah perpisahan kita, tapi nyatanya tak bisa. Sebab aku tau, aku juga tak akan mampu membenci diriku yang mencintaimu saat itu
Ketika manusia menjadikan manusia lain sebagai alasan untuk tetap bertahan, adalah pilihan yang salah. Tangan yang digenggam terlalu erat, terlepas karena kesakitan. Tangan yang sengaja digenggam, bisa terlepas karena merasa diabaikan. Harusnya Ia tidak lupa untuk tidak mengharapkan ketika belum waktunya. Hingga waktunya tiba... #tbt#PuisiMalam (at Pantai Indrayanti Jogja)
ujian dan kesabaran
Di inbox banyak banget pertanyaan tentang gimana caranya sabar nunggu jodoh, gimana caranya sabar dengan IPK jelek, gimana caranya sabar kulah di jurusan yang nggak diminati dan yang lain sebagainya.
Sebagian kita berpikir bahwa kesulitan datang karena kesalahan dalam mengambil keputusan di masa lalu. Padahal apapun keputusan kita, semuanya pasti mengandung ujian. Dan setiap ujian itu pasti nggak gampang.
Dulu pas gue masih di semester 1 Teknik Informatika dan pusing dengan mata kuliah Pemrograman Terstruktur, gue sempet berandai-andai
“Kalo gue masuk ilmu komunikasi, gue nggak perlu pusing dan kerja keras kayak gini“
Tapi pas gue kerja, gue mulai nyadar bahwa kalopun gue ngambil ilmu komunikasi, gue tetep butuh kerja keras. Karena kalo gue nggak kerja keras, gue nggak bakal bisa maju.
Hanya saja mungkin bedanya, kalo gue ambil ilmu komunikasi, gue mencintai kerjaan gue dari awal sementara kalo gue ngambil Teknik Informatika, gue harus ngebangun rasa cinta sama bidang gue. Nggak gampang. Tapi bisa.
Selama kita masih berlabel “manusia” dan “hidup”, kita pasti akan dituntut bekerja keras dalam setiap pilihan-pilihan kita. Nggak ada pilihan yang nggak mengandung kesulitan sama sekali. Hanya saja setiap pilihan punya bentuk kesulitan yang berbeda-beda.
Gue inget kata-kata Dr Gook dalam drama korea Emergency Couple:
The world has no answer. With every decision, the right and wrong answers coexist. Wise people make a decision and work towards making it the right choice. Foolish people make a decision and regret, making it the wrong choice.
Ujian di setiap pilihan itu bukan penghalang dalam menggapai cita-cita. Bapak Aunur Rosyidi (Direktur Semen Indonesia) pernah bilang bahwa ujian adalah tour of duty yang menumbuhkan kita menjadi manusia utuh dengan kepribadian yang kuat.
Seseorang tidak akan mampu menjadi Direktur yang baik sebelum menjadi Manajer. Seorang manajer pun tidak akan mampu menjalankan tugas dengan baik sebelum merasakan bagaimana menjadi karyawan yang baik.
Kita memulai semua hal dari tangga terbawah dan untuk mencapai tangga teratas, dibutuhkan usaha untuk menapaki anak tangga satu persatu.
DR Ali Muhammad Ash Shallabi banyak menjelaskan dalam buku beliau (Fiqih Tamkin, dan Iman kepada Qadar):
bahwa meskipun Allah kuasa memberikan apa yang kita inginkan tanpa sebuah proses, Allah menetapkan sunnatullah bahwa apa yang kita inginkan harus kita perjuangkan melalui ikhtiar.
Pas gue nyimak materi dari pak Aunur Rosyidi dalam Pelatihan Leadership alumni ITS, gue memahami bahwa salah satu hikmah adanya sunnatullah tentang ikhtiar adalah:
Ikhtiar itu membentuk kita menjadi pribadi yang tangguh, sabar, kuat dan kompeten di bidang kita.
Kita nggak akan menjadi engineer yang baik sebelum mengerjakan projek-projek yang sulit. Kita nggak akan menjadi dosen yang baik sebelum diuji dengan tugas Tri Dharma yang banyak sehingga kita lihai mengelola waktu.
Pas banget sama toerinya pak Aunur Rosyid tentang tour of duty.
So kalo ada yang mau nanya gimana cara bersabar di saat-saat sulit, anggep aja kita sekarang lagi menjalankan tour of duty. Ada Allah bersama kita. Allah yang memberi masalah, Allah pula yang memberi solusi. Kalau kita sudah berikhtiar dan pertolongan Allah belum datang, terus perbaiki ikhtiar kita. Bisa jadi kita banyak diuji dengan ujian yang sama karena mental kita memang belum layak lulus dari ujian tersebut :p
Jika kita menjalaninya dengan lapang dada, ujian akan membentuk kita menjadi manusia yang lebih sabar, lebih bertawakkal dan lebih tangguh.
Cheers :)