Aku Tidak Sepi, Aku Hanya Rindu (3)
Cuaca Malang yang dingin membuat aku terbangun dari lelapnya tidur, aku cek jam ternyata baru jam 02.10 WIB, hahh aku kira sudah masuk waktu subuh, ternyata belum. Aku liat Nia, Dewi, dan Ida masih tidur nyenyak dengan selimut tebalnya. Aku mencoba untuk pejamkan mata kembali, namun tidak bisa. Akhirnya aku keluar kamar villa untuk mengambil cemilan di dapur. Saat aku melangkah keluar kamar, terdengar lantunan ayat suci Al-quran yang merdu. Aku pun keluar dan mendekati asal suara itu, aku menengok ke segala sudut, ternyata di mushola dalam villa Adi dan Eza sedang membaca Alquran bersama di tengah malam yang sunyi. Hati ini tersenyum melihat Adi membaca Alquran. Aku melangkah mendekati mereka, seakan ingin menyapa dan bergabung, namun kaki ini terhenti dan tidak ingin mengganggu. Akhirnya aku melanjutkan langkah menuju dapur untuk mencari makan. Aku duduk di ruang Tv sambil mendengar tilawah Adi dan Eza.
Aku melamun di ruang TV dengan cemilan keripik singkong sambil mendengar suara tilawah Adi dan Eza, hati ini merasa tenang mendengar suara ngaji ditambah suasana kota Malang yang sunyi dan sepi semakin membuat aku menikmati suara ngaji mereka. Kalau diingat, sudah lama rasanya Aku tidak mendengar lantunan Alquran, bahkan aku terakhir membaca Alquran 2 bulan yang lalu hehe lama memang Aku terlalu sibuk dengan urusan kantor sehingga untuk baca Alquran tidak sempat.
“Ayuu” teriak Adi sambil mencolek bahu aku dengan botol minum
“Ngapain kalian di sini?” aku yang kaget melihat Adi dan Eza sudah didepan mata
“yee kita yang nanya, kamu ngapain jam segini di ruang tv bukannya di kamar tidur, malah mau tidur disini” ucap Eza yang sudah mengambil keripik singkong di tangan aku.
“Aku kebangun, terus nggak bisa tidur lagi”
“Ya udah cari makan di dapur terus bengong deh depan tv”
“Kamu kenapa sih Ay, aku perhatiin dari kemarin menyendiri terus, kita lagi liburan loh urusan kantor jangan dibawa kesini” muka Adi yang mulai serius seperti seorang ayah menasehati anaknya
“Ya kali urusan kantor aku pikirin pas liburan, nggak kok”
“Udahlah cerita sama kita, Aku perhatiin emang dari kemarin nih anak bengong mulu, kamu nggak kesambet kan Yu? ucap Eza yang mulai meledek.
“nggak kok, sumpah emang mau melamun aja”
“Melamun tuh bikin tenang” kat aku yang masih berusaha menutupi rasa sepi.
“Kamu sholat tahajud dulu gih Ay, masih jam 3 pagi, waktu yang bagus untuk sholat, kamu ceritain apa yang kamu rasain di waktu tahajud karena keutamaan sholat tahajud itu bagus loh, dan berdoa di waktu ini bagaikan anak panah yang tidak melesat”
Lagi dan lagi kata-kata Adi selalu buat tenang, dan hati ini tersenyum senang mendengar nasihat itu. Ah Adi selalu memberikan perhatian yang tidak disangka.
“Sholat tahajud bisa buat hati sepi jadi ramai nggak sih?”
“Bisa menjawab kenapa hati merasa hampa padahal ada ditengah keramaian nggak sih?” tanya aku yang mencari jawaban atas kesunyian hati.
“Jangankan merubah suasana hati, ketika kita meminta kepada Allah dan menjalankan perintahnya selain kita mendapatkan pahala, semua urusan akan Allah mudahkan”
“Sebagaimana firman Allah SWT, (yaitu) Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allahlah hati menjadi tenteram. surah Ar-Ra'd ayat 28”
“Kalau Ayu sedang merasa sepi, sunyi, hampa padahal ditengah keramaian berarti hati Ayu yang kosong, coba diingat kapan terakhir baca Alquran, bangun sholat malam, sholat 5 waktu tepat waktu, dan kapan terakhir sholawat serta dzikir kepada Allah?. Dunia ini penuh tipu daya, kita dibuat sibuk olehnya dan meninggalkan akhirat, padahal kehidupan yang abadi adalah akhirat. kalau Ayu merasa sering sepi dan hampa itu tandanya sinyal dari Allah, agar Ayu kembali mengingatnya walau di dunia banyak urusan yang harus diselesaikan” kata Adi yang serius memberikan aku nasihat.
Aku tidak bisa menjawab nasihatnya, merenung mendengar nasihat dari Adi, apa yang ia katakan benar. Aku terakhir melakukan ibadah sunnah, tahajud itu 4 bulan lalu saat bulan Ramadhan, bahkan membaca Alquran terakhir 2 bulan lalu, sholat wajib pun aku sering di akhir waktu karena harus menyelesaikan tugas kantor.
“Gitu ya di, jadi solat bisa menjawab kesepian hati Aku ya?”
“Iya Ayuu, coba sekarang ambil wudhu terus sholat sebelum Adi memberikan nasihat lagi” ucap Eza seakan meledek Aku.
Lalu, aku mengambil air wudhu dan melakukan sholat malam, di malam yang dingin diatas sajadah aku menceritakan kesunyian yang aku rasakan, kegelisahan, kehampaan dan ketakutan yang terus menghantui aku. Tidak terasa air mata jatuh, aku seperti anak kecil yang sedang menangis mengadu kepada orang tua. Aku membuka lembaran Alquran dan mulai aku baca, aku pahami setiap arti tiap ayat. dan berhentilah aku pada satu surah At-Taubah ayat 40, “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita melalui dukungan dan pertolongan-Nya.”
Aku mulai tersenyum, kesepian dihati seakan terjawab, bahwa aku tidak kesepian dalam keramaian, namun aku yang sudah lama jauh dari Allah. Aku tidak sepi, aku hanya rindu beribadah kepada mu Ya Rabb. Pagi ini aku merasakan suasana yang berbeda, cuaca cerah mendukung suasana hati yang membaik. Tangisan di sepertiga malam tepat diatas sajadah menjawab semua kesunyian yang aku rasakan.